Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Abang, jangan!


__ADS_3

"Ada apa?" tanya gadis ayu yang baru saja turun dan merasa ada hal yang terjadi, ketika melihat Mas Rud dan Kristy.


Kristy mengangkat bahu tanda tidak tahu. Memang begitulah yang terjadi. Mereka sama-sama menunggu kabar dari Mas Rud.


"Ada apa, Mas?" tanya gadis ayu lagi ketika Mas Rud baru saja mematikan telepon.


Lelaki yang biasa bercanda itu kali ini melipat senyumnya. Ia menghela napas sesaat sebelum berucap. "Aryan kecelakaan."


Gadis ayu terkesiap hebat. Seketika tulang-belulangnya seakan hilang kekuatan. Ia terjatuh ke lantai. Dalam lirih ia memanggil, "Abang."


Mas Rud cekatan ikut melipat lutut. Punggung gadis ayu ia usap dengan lembut. "Aku akan ke rumah sakit. Apakah kamu mau ikut?"


Sejujurnya, Mas Rud lebih memilih gadis ayu menunggu di rumah. Namun, ia tahu pasti jika itu tidak akan mungkin disetujui. Oleh karenanya, ia tetap mengajak walaupun keadaan sang gadis benar-benar masih tersentak.


"Aku ikut, Mas," jawab lemah sang gadis.


"Kalian pergilah! Aku akan menjaga Di-junior. Jangan lupa kabari!" pesan Kristy pada akhir kalimatnya.


🍁🍁🍁


"Bagaimana keadaan abang, Mas?" tanya itu entah sudah berapa puluh kali diucapkan oleh gadis ayu sejak berangkat dan kini berdiri di ruang tunggu IGD.


"Abang akan baik-baik saja. Tenanglah," balas Mas Rud menghibur gadis ayu.


Kata-kata Mas Rud tidak sanggup membuat rasa khawatir melarut. Gadis ayu tidak bisa duduk. Langkahnya terus mendorong untuk berjalan bolak-balik. Ia mondar-mandir.


Papa yang ikut merasakan was-was yang meremas kalbu gadis ayu, perlahan mendekat. "Nak, percayalah kalau abangmu akan baik-baik saja. Sekarang, lebih baik kamu pulang. Istirahatkan badanmu! Besok pagi, kamu ke sini lagi! Dia akan marah kalau kamu mengabaikan kesehatan."


"Tidak, Pa. Rosa akan tetap di sini."


"Papa tidak mengizinkanmu sepanjang malam di sini. Apa kamu mau kalau abang marah sama papa karena membiarkanmu menunggunya?"


"Abang tidak akan marah sama Papa. Pokoknya Rosa akan tetap di sini," gadis ayu tidak mau menurut. Hatinya tidak akan tenang jika tidak mengetahui kabar abang.


"Sayang, benar yang Om bilang. Kita tunggu abang di rumah saja. Aku janji besok pagi-pagi sekali akan mengantarmu ke sini lagi," bujuk Mas Rud.

__ADS_1


"Nggak, Mas. Aku akan menunggu abang seperti dia yang selalu menjagaku. Tidak sedetik pun aku akan meninggalkannya saat dia sedang seperti ini."


"Nak, doakan abangmu di sepertiga malam terakhir!" pinta papa itu justru melenturkan kekakuan pikir sang gadis. Ia seperti dibukakan jalan untuk meminta kesembuhan abang.


Ditatapnya dua lelaki itu oleh gadis ayu. Raut lelah bercampur khawatir yang disembunyikan dalam ketenangan yang dipaksakan, membuat kata, tidak lagi ingin dilontarkan untuk sebuah pembantahan. "Baiklah, Pa. Rosa akan mendoakan abang dari rumah. Besok pagi, Rosa pasti akan kembali."


"Iya, Nak. Hati-hati!" pesan papa melepas kepergian putri dan calon putranya dengan lega. Sungguh, beliau tidak sanggup melihat gadis ayu dibelenggu cemas akut.


Papa sadar jika antara Aryan dan Rosa memiliki kedekatan rasa yang tidak terbantahkan. Sebuah kasih sayang yang lebih dalam daripada sekadar cinta antara seorang pria dan wanita.


🍁🍁🍁


Suasana di kediaman gadis ayu tidak jauh berbeda dengan situasi di rumah sakit. Mama dan Kristy masih mengobrol di ruang keluarga membahas putra sulung di keluarga mereka.


"Papa bilang apa, Ma?" selidik Kristy mencari informasi.


"Dari saksi yang membawa ke rumah sakit, katanya abangmu tidak sadarkan diri dan ada luka di kepalanya."


"Bagaimana kejadiannya, Ma?" Kristy terus mencecar.


"Kecelakaan beruntun di tol. Ada sejumlah kendaraan yang menjadi korban. Situasi jalan sedikit padat, jadi laju kendaraan sebenarnya tidak terlalu cepat. Hanya saja, benturan tidak terhindarkan. Abangmu ada di kursi belakang tanpa seat belt." Mama bercerita panjang lebar.


"Abangmu akan baik-baik saja. Tenanglah!"


Penghiburan sang mama tak cukup membuat putri bungsu menjauhkan belenggu di kalbu. Rasa tidak tenang terus saja merajam. Pikiran bercabang membawa segala kemungkinan.


"Istirahatlah! Ini sudah malam. Temani keponakanmu! Sebentar lagi mama juga akan tidur," terang mama berusaha menguatkan hati agar Kristy tidak semakin menangis.


Adik dari gadis ayu itu pun perlahan beringsut. Ia membawa langkah menuju kamar untuk menemani Di-junior yang terlelap.


Sementara itu, mama membuang napas penuh rasa was-was. "Ya Allah, jagalah malaikat putriku. Jangan biarkan ia kembali kehilangan sandaran. Rud bukan pengganti, tetapi ia adalah tiang utama sedangkan Aryan adalah penopang kedua. Mereka harus terus bersama."


Tepat ketika mama selesai berucap, ada suara mobil yang memasuki halaman. Pintu yang sudah dikunci akhirnya dibuka lagi. Nampak sepasang kekasih turun dari mobil dengan ekspresi sedih. Tidak ada kata yang terlontar dari bibir gadis ayu.


"Ma," sapa Mas Rud seraya menciun punggung tangan sang calon mertua.

__ADS_1


"Masuklah! Malam ini menginaplah di sini! Hanya kamu yang bisa memberinya ketenangan," ucap Mama setelah melihat sang putri masuk rumah tanpa permisi.


Tanpa membantah, Mas Rud ikut melangkah. Mama pun mengikuti jejak putri sulungnya. Di ruang keluarga, mereka melihat gadis ayu merebahkan badannya di sofa.


"Biarkan saja dia tidur di situ! Dia terbiasa tidur di luar kamar ketika merasa perasaannya sedang tidak nyaman. Mama ambilkan bantal dan selimut. Maaf ya, Nak Rud!" ujar Mama dengan sedikit mengukir senyum tipis.


Ketika mama berjalan ke lantai dua, Mas Rud mendekat pada gadis ayunya. Ia merapikan helaian rambut yang bermain nakal di wajah sendu gadis ayu. Bekas linangan air mata, ia seka. "Sayang, dia akan baik-baik saja."


"Jangan bersimpuh! Mama ambilkan kasur lipat dulu," pinta mama ketika kembali ke ruang keluarga dan mendapati Mas Rud menekuk lutut di sisi sofa yang digunakan gadis ayu untuk tidur.


"Tidak usah, Ma. Rud bisa tidur di sofa atau malah di karpet. Mama istirahat saja," balas Mas Rud menolak kenyamanan yang ditawarkan sang calon mertua.


"Kamu bisa tidur sembarangan?" selidik mama mencari kepastian.


"Rud kan mantan bodyguard, Ma. Seperti ini sudah biasa."


Senyuman yang dilengkungkan indah oleh Mas Rud, memberikan mama ketenangan. Beliau pun kemudian meninggalkan ruangan.


Mas Rud kemudian meletakkan bantal di bawah kepala gadis ayunya. Selimut pun digunakan untuk melindungi tubuh gadis ayu dari dinginnya udara. Sebuah kecupan, ia berikan kemudian sebagai pengantar menuju dunia impian.


🍁🍁🍁


"Bang," gadis ayu memanggil lelaki yang terbaring di ranjang pasien.


"Abang, bangun! Katanya mau menjagaku, kenapa aku yang malah menjagamu?" Butiran berwarna bening perlahan mengalir di pipi.


Jemari yang digenggam sang gadis, bergerak kecil. Seketika gadis ayu menatap wajah si abang. Sebuah senyuman tersulam.


"Bang ... abang mendengarku? Ayo buka matamu, Bang!" Gadis ayu nampak mengulas senyuman di antara rasa tidak percaya dan percampuran raut senang.


Mata yang sedari tadi menutup sempurna, perlahan terbuka. Tatapan teduh melurus pada netra gadis ayu. Senyuman khas kembali menghias. "Rosaku."


Tiba-tiba mata itu kembali mengatupkan kelopaknya. Senyum itu pupus. Bunyi alat yang menampakkan garis lurus, membuat kalbu terlarut pikiran keruh.


"Abang!" seru gadis ayu seraya mengguncang tubuh lelaki yang terbaring diam.

__ADS_1


"Abang, bangun!"


"Bang!"


__ADS_2