Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Siapa Yang Pantas?


__ADS_3

Monica Young, nama wanita berbahagia yang tersemat pada undangan itu adalah seorang model internasional yang kariernya cemerlang. Terlibat skandal asmara dengan seorang Tuan Alexander Kemal Malik semakin membuatnya dikenal oleh publik. Kini, dia akan menikahi seorang lelaki yang tak kenal fenomenal bernama Kenzo Murouka. Bodyguard-nya sendiri yang baru diketahui jika ia ternyata pewaris tunggal keluarga kaya raya.


"Yang mengundang Monica atau Ken, Bang?" selidik gadis itu pada lelaki yang memberinya undangan.


"Ken," jawab singkat sang lelaki sambil menempelkan benda pipih ke telinganya. Sebuah panggilan masuk, entah dari siapapun tak pernah membuat lelaki itu berlalu dari hadapan sang gadis. Tak ada sesuatu yang ia sembunyikan. Karena memang ia selalu apa adanya di hadapan gadisnya itu. Bukan hanya tentang perasaan yang mereka berdua sama-sama abaikan bahkan masalah pribadi lainnya pun sudah menjadi konsumsi bersama.


Begitu teleponnya usai, ada senyum kecil yang ia kembangkan. "Tiga hari ke depan, aku harus ke Malaysia. Baik-baik di sini tanpaku. Kalau baca novel jangan sampai terbawa perasaan."


"Hati-hati!" pesan gadis itu pada lelaki yang sukses merangsek dalam kehidupannya sebagai Abang tersayang itu.


"Aku baru berangkat nanti malam," jelas sang lelaki itu seraya menunjuk kembali undangan yang ada ditangan sang gadis.


"Tentu saja kita akan datang."


Jawaban gadis itu membuat senyum kecil lawan bicaranya melebar. Sebuah uluran tangan kembali datang untuk mengacak rambut yang tergerai itu. Pemandangan indah sepasang kakak adik yang akur. "Aku senang kamu mulai kembali menjadi Rosa yang bersemangat lagi."


"Karena aku gak mau dikasihanin, Bang."


"Itu yang kumaksud kamu telah kembali. Mungkin sebentar lagi ketusmu itu akan datang untuk mengusirku," sindir lelaki itu.


"Jika itu bisa membuatmu menikahi seorang gadis, maka akan kulakukan."


"Sebelum aku menikahi seorang gadis, akan kupastikan kamu dinikahi seseorang yang benar-benar kamu cintai," tohok sang Abang yang membuat gadis itu tak berkutik.


"Abang istirahat aja, sepertinya kelelahan sudah membuat pikiran Abang oleng," ejek gadis itu yang justru mendapatkan acakan rambut untuk kali kedua.


"Ayo, aku temani baca novel! Aku mau menyeleksi apakah dia masuk kriteria untuk menjadi pengganti terbaik."


Gadis itu menatap sang Abang dengan tatapan meminta penjelasan. Namun justru diabaikan. Lantaran lelaki itu masuk kamar dan mengambil novel yang tergeletak di ranjang. Segera kembali dan mengajak sang gadis untuk duduk di ayunan yang berada di balkon itu.


Bab. 12 : Panggilan Sayang


Lebih dari dua belas jam menghabiskan waktu bersama, rasanya tak ada cukupnya jika cinta sedang melanda. Jatuh yang seharusnya sakit bila itu karena cinta maka rasanya nikmat luar biasa. Tidak membuat kapok justru menjadi kebutuhan pokok. Makan terlupakan karena kenyang itu datang hanya dengan menatap wajahnya dengan lekat. Bahkan dahaga serasa menghilang jika dia ada di hadapan.

__ADS_1


Rasa ini sungguh-sungguh telah menjeratku. Daya pikatnya begitu tinggi hingga aku tak sanggup berpindah ke lain hati. Apa yang ada pada dirinya semua kusuka. Bahkan buruknya pun terlihat sebagai suatu yang istimewa. Tak ada cela dalam cinta.


Baru dua jam yang lalu aku mengantarnya pulang. Namun rasanya kangen itu sudah kembali datang. Membumbung tinggi hingga ingin segera diobati. Dan obat yang paling mujarab hanyalah dia yang ingin kudekap erat. Sayangnya status menjadi hal utama yang harus segera kuurus.


Jemariku rasanya gatal ketika gambar telepon berwarna hijau itu bebas tak tersentuh. Menjadi trenyuh karena melihatnya seolah sendiri dan rapuh. Aku si peduli segera berinisiatif untuk menghampiri. Tak tega membiarkannya tersingkir karena tak ada yang mampir.


Dari sekian banyak nama yang menjadi penghuni kontak, yang kucari adalah si gadis ayu yang berhasil membuat jantungku terus berdetak. Dengan senyuman yang terukir kupilih deretan angka-angka cantik itu. Sambil menunggu video call-ku diangkat, kurapikan penampilanku yang sebenarnya sudah memikat.


"Ada apa?" tanyanya begitu wajahnya nampak di pandangan. Sayangnya fokusnya bukan padaku tetapi monitor yang tertangkap tengah menayangkan film action dengan aktor cantik sebagai pemainnya.


"Kangen," ujarku berharap wajahnya mau menatap. Sayangnya dia bergeming. Tetap fokus pada cerita yang ditontonnya. Kerinduanku dia abaikan. Rasanya gemas sekali. Coba saja dia dekat pasti akan segera kuserang.


"Sayang, kangen!" godaku yang sebenarnya bukan hanya rayuan semata tetapi kejujuran yang langsung tersembul dari dasar hati.


"Mas gak salah video call, kan?" ingatnya yang semakin membuatku gemas.


"Lihat, aku! Apakah aku seperti orang yang baik-baik, saja?"


Rupanya perintahku yang menyebutkan kondisi diri justru berhasil membuatnya lepas dari benda di depannya. Memperhatikanku dengan seksama dan kemudian mengintrogasi. "Apanya yang sakit, Mas?"


Rosa mengernyitkan dahi. "Apakah aku yang menjadi penyebabnya?"


"Iya," jujurku seraya menampakkan raut muka memelas.


"Aku tak merasa menyakitimu, Mas. Bagaimana bisa kamu merasa aku sakiti?"


"Kamu menyakitiku tanpa sengaja."


Melihatnya begitu bingung dengan penuturanku, rasanya aku tak tega. Tetapi keusilan yang sebenarnya terlahir karena kerinduan untuk menikmati raut lucunya itu sekuat tenaga membuatku untuk menjadi sedikit jahat. Maafkan, Sayang!


"Maafkan aku, Mas."


Akulah yang seharusnya meminta maaf itu. Membohongi hanya untuk memuaskan hasrat hati yang sedang jatuh dalam pusara cinta sendiri. Semua kulakukan agar dia merasa bahwa sebenarnya cinta itu juga tertebar di hatinya. Kalau perlu dia mengaku bahkan meminta untuk kujadikan kekasihnya. Tanpa berpikir pasti akan kuiyakan permintaan itu.

__ADS_1


"Aku bisa memaafkanmu tapi dengan satu syarat."


"Kalau gitu, aku gak jadi minta maaf ya, Mas. Sepertinya kamu modus," ucapnya mengalihkan kembali pandangan pada laptop.


"Sayang."


"Jangan sembarangan panggil sayang, Mas! Aku gak mau dilabrak sama deretan fansmu."


"Nanti aku akan konferensi pers, mengumumkan jika kamu adalah kekasihku."


Gadisku itu bergeming. Membiarkanku bicara sendiri tanpa ia tanggapi. Namun aku tak kekurangan akal. Otak cerdasku mencari jalan agar dia mau kembali menatapku. Karena aku selalu ingin melihatnya.


"Mas, tidurlah! Lanjutkan mimpimu!"


Dia bilang aku sedang menebar bunga tidur. Memang iya, mimpi yang tinggal menunggu waktu untuk menjadi kenyataan. "Baiklah aku akan tidur. Kamu juga, ya! Nanti kita tidur bersama," selorohku sambil tersenyum smirk.


"Mas Rud, Sayang. Mimpi indah, ya!"


Gelap. Video call-ku dia matikan. Bukan geram tapi aku malah merasa senang. Panggilan sayangnya membuat malamku menjadi cerah. Tak menyangka jika gadis ketusku bisa mengucap kata menggoda. Ah, rasanya aku melayang. Senyum terkembang dan bertingkah seperti ABG jatuh cinta. Geli tetapi aku tak bisa menguasai diri. Hatiku bahagia mendengar rangkaian kalimat-kalimatnya. Ketus bercampur modus yang jauh dari kata tulus itu juga sanggup membuat kangenku terhapus.


🥰🥰🥰🥰🥰


Mampir yuk dinovel Trio Somplak n The Gank!






__ADS_1




__ADS_2