Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Jangan sentuh aku, Bang!


__ADS_3

Setelah menyelesaikan administrasi, akhirnya abang bisa meninggalkan rumah sakit dengan hati senang. Perasaan itu berbanding terbalik dengan yang dirasakan semua orang. Tentu saja mereka bukan berharap abang akan berlama-lama mendapatkan perawatan, akan tetapi situasi bisa tidak terkendali.


Mobil yang melaju dalam kecepatan sedang, membawa empat penumpang. Mas Rud duduk di balik kemudi sementara papa berada di sebelah kirinya. Di bangku belakang ada sepasang suami istri yang hanya diakui oleh abang Aryan seorang.


"Sayang, mengapa kita tidak tinggal di rumah Papa saja?" tanya abang setelah tadi sempat mencari tahu kemana akan pulang.


Gadis ayu bingung untuk memilih kata yang akan disusun sebagai jawaban. Ia terdiam beberapa waktu hingga abang kembali memberinya pertanyaan lanjutan.


"Padahal, dalam ingatanku kamu terlelap di kamarku." Abang mengulaskan senyuman. Ingatan itu sepertinya adalah patokan utama yang meyakinkannya bahwa wanita di hadapannya adalah istrinya.


"Itu ... kebetulan menginap di sana, Bang." Gadis ayu akhirnya menemukan jawaban yang tepat. Kejadian itu memang terjadi tanpa diprediksi.


"Malam ini menginap di rumah Papa, yuk!"ajak abang bersemangat.


"Jangan!" Mas Rud menimpali dengan kecepatan maksimal.


Abang yang merasa janggal dengan larangan yang berasal dari lelaki yang seharusnya tidak berhak ikut campur, mencari alasan mengapa keinginannya digempur. Namun, abang tetaplah abang. Dia masih Aryan yang bijaksana, walaupuj amnesia. Kecelakaan hanya mengusik ingatan tentang status, bukan menghapus kebaikan yang selama ini melekat pada diri. "Memangnya kenapa, Rud?"


"Karena Di-junior ada di rumah mama, jadi kalian harus menjemputnya. Bukankah kamu bilang sangat merindukannya?" Mas Rud selalu bisa menemukan jawaban ampuh.


"Kalau begitu, kita jemput putra kita dan kembali ke rumah Papa."


Pilihan yang diputuskan abang belum mendapatkan sanggahan. Semua masih memutar otak untuk menolak. Mereka percaya bahwa ide pasti akan datang pada saat yang tepat.


Berlainan tempat, ada Di-junior yang sedang bermain mobil-mobilan aki yang bisa dikendarai di halaman depan rumahnyangti. Bocah kecil itu telah lihai memutar stir bundar, kaki memainkan pedal gas, dan tangan sigap mengganti tombol maju mundur.


"Sayang, udahan ya? Panas." Yangti menawarkan mengakhiri acara bermain.


"Sebentar, Yangti. Masih seru," tolak Di-junior.


"Jangan lama-lama, ya! Sebentar lagi uncle pulang," ingat yangti bertepatan dengan suara mesin mobil yang berhenti di depan pagar.


Tidak lama, gerbang setinggi dua meter itu dibuka dari luar. Akses keluar masuk itu memang sengaja tidak digembok begitu tahu abang akan pulang.


Seketika, Di-junior menghentikan laju mobil-mobilan. Ia mendekat pada yangti untuk menyambut kedatangan orang-orang yang dia sayangi.

__ADS_1


Yangti mengangkat tubuh kecil sang cucu. "Jangan lupa yang yangti bilang, ya!"


"Siap, Yang! Serahkan semua pada Di-junior," balas bocah kecil dengan mengacungkan ibu jari.


Senyum dari putra kecil dan sang mama dari gadis ayu dibalas oleh abang yang membuka kaca mobil belakang. Lelaki yang sedang tersesat dalam ingatan itu melambaikan tangan. "Hai, Sayang!"


Gadis ayu yang duduk di sebelah abang mencuri pandang pada sang kekasih yang duduk di balik kemudi. Pada waktu yang sama, Mas Rud pun melakukan hal yang sama. Tatapan mereka bertemu di spion yang terletak di atas dashboard. Beberapa detik, mereka saling mencurahkan cemas di hati.


"Sayang, ayo turun!"


Ajakan abang membuyarkan tatapan gadis ayu dan Mas Rud. Kedua insan itu terpaksa melepas pertautan pandangan. Meskipun rasanya berat, tetapi demi misi mengembalikan ingatan abang, semua akan mereka lakukan.


Gadis ayu tersenyum canggung. "Ayo, Bang."


Pintu belakang sebelah kiri terbuka. Abang mengulurkan tangan untuk membantu pengisi hati keluar mobil. Mereka kemudian berjalan sejajar dan mendekat pada Di-junior yang telah berlari mengadang.


"Uncle Aryan," seru Di-junior dengan riang.


"Hai, Satya uncle!" sapa balik abang seraya melipat lutut agar bisa sama tinggi dengan sang putra kecil. "Mana pelukannya?"


Kedua tangan abang yang dibuka hingga terentang, membuat sang putra tunggal menghambur dalam dekapan abang. Mereka saling memeluk seolah sudah sangat lama tidak bersua.


Tangan wanita paruh baya itu mengulur pada surai hitam gadis ayu. "Sabar ya, Nak! Kita bicarakan pelan-pelan. Abangmu tidak tahu jika ia sedang tersesat dengan status yang ia anggap."


Ada anggukan kecil yang dilakukan gadis ayu. "Rosa takut, Ma. Bagaimana jika abang meminta ..."


Mama tersenyum. Beliau tahu ke mana arah pembicaraan gadis ayu. "Jangan berpikir sejauh itu. Abangmu bermasalah dengan ingatannya, tetapi tidak dengan kebijaksanaannya."


Gadis ayu mengucap lirih, "Tapi itu kan kewajiban istri, Ma."


"Kita masuk dulu!"ajak mama untuk menghentikan kekhawatiran sang putri sulung.


Ibu dan anak itu terlebih dahulu memasuki area rumah. Meskipun dengan langkah berat, gadis ayu mencoba untuk membiarkan kekhawatiran yang berlebihan tidak menderanya dengan pekat. Sang mama membawa putrinya ke dapur. Beliau sengaja mengajak gadis ayu untuk menyiapkan minum agar pikiranya tidak terfokus pada masalah yang kini mereka hadapi.


Sementara itu, mas Rud dan papa belum beranjak dari duduk. Mereka masih berada di mobil, kompak melihat abang yang sedang bercengkerama dengan bocah kecil.

__ADS_1


"Om, boleh saya bertanya?" Mas Rud memecah keheningan.


Lelaki berumur lebih dari setengah abad itu menengok ke arah mas Rud. Beliau tahu, jika pria di sampingnya tengah dilanda dilema. Situasi yang kini dia hadapi memang bukan masalah kecil. Tidak sekadar hati yang harus merelakan menahan cemburu, akan tetapi juga pikiran tidak tenang tentang pelepasan kewajiban.


"Apakah kamu ingin bertanya tentang amnesia aneh yang diderita Aryan?" Papa menebak pikiran calon suami gadis ayu.


"Iya, Om. Rasanya kok tidak masuk akal. Aryan mengingat semuanya, tetapi hanya status yang melenceng dari kenyataan."


papa menghela napas. Tampak jelas, jika beliau merasa berat untuk menjawab. Sekali lagi, sang putra ia tatap sebelum berbicara. "Kamu tahu Rud, perasaannya pada Rosa begitu dalam semenjak dia pertama berkenalan. Namun, kenyataan jika ia mencintai milik orang, membuatnya ikhlas jika cintanya tidak berbalas. Ia rela menjadi penjaga hati. Sementara bagaimana perasaannya sendiri, hanya dia yang bisa memahami. Dengan kejadian ini, Om sadar bahwasanya ia hanyalah manusia biasa yang berusaha menjelma menjadi malaikat. Meletakkan rasa agar tidak memiliki nafsu untuk merusak."


Jeda kalimat yang diucap sang papa dimanfaatkan mas Rud untuk kembali bertanya. "Apa kata dokter, Om?"


"Dokter bilang, kedekatan mereka sebelumnya seperti terpatri dengan jelas di ingatan Aryan. Itu yang sepertinya membelokkan ingatannya." Papa menjeda lagi penjelasannya. "Ini salah, Om."


Mas Rud mengernyitkan dahi. Namun ia berusaha tidak menyela, karena ia tahu penjelasan itu belum penuh.


"Aryan bilang jika ia yakin bahwa Rosa adalah istrinya. Dia ingat dengan benar ketika menggendong Rosa ke ranjang di kamarnya. Tak mungkin ia melakukan hal tersebut jika bukan suaminya." Papa bercerita dengan berat karena isi dari kalimatnya pasti akan memantik rasa di hati lelaki di sebelahnya.


Mas Rud tampak memejamkan mata untuk meredam rasa. Kata menggendong dan ranjang telah membuat cemburunya bangkit tidak terelak. Hatinya lebih perih daripada mendengar sebutan istri yang diucapkan abang. Ia lelaki normal, terang saja ia merasa kesal.


"Tenang, Rud! Mereka tidak melakukan apapun di kamar Aryan. Rosa tertidur di sofa dan Papa meminta Aryan untuk memindahkannya ke kamar." Papa menjelaskan agar tidak timbul salah paham.


"Tapi, Rud takut salah paham sekarang, Om."


Papa mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"


Mas rud melepaskan seat belt yang sedari tadi ia biarkan membelit badannya. "Rud takut mereka ngapa-ngapain di kamar sekarang, Om"


Tepat ketika selesai mengucap kalimat, Mas Rud meninggalkan papa sendirian di mobil. Tanpa mematikan mesin, ia terburu-buru keluar agar pikiran yang resah tidak berakhir menjadi penyesalan.


Langkah besar ia tegaskan untuk mengejar waktu. Keberadaan Aryan yang menghilang dari pandangan dan Di-junior yang kembali ditemani yangti, tentu saja membuka penasaran tentang apa yang dilakukan abang dan kekasih yang sangat ia cintai.


Kekhawatiran mas Rud sepertinya adalah bukti ketajaman sebuah telepati hati. Gadis ayu yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa terkejut melihat abang tengah berdiri di kamarnya tanpa sulaman benang yang membalut tubuhnya. Badan bagian atas yang tegap dan perut rata bersekat menjadi anugerah yang membuat mata seketika dibuang arah. "Abang ngapain di sini?"


Dengan senyum merekah, abang mendekat pada sang istri yang ia yakini. "Mengapa kamu terkejut melihatku?"

__ADS_1


"Karena ... karena abang di sini dengan bertelanjang dada. Abang mau ngapain?"


Langkah itu semakin mendekat. Gemuruh semakin riuh di kalbu gadis ayu. Ia membawa langkahnya mundur. "Bang, jangan sentuh aku!"


__ADS_2