
"Mama, mana Om Lud?" tanya Di-junior begitu gadis ayu membuka pintu ruang tamu.
Satya kecil itu tengah bersantai bersama sang uncle dan aunty. Duduk satu sofa bertiga, persis keluarga kecil yang bahagia. Gadis ayu menghela napas untuk membuang rasa yang tadi mengikat kuat. Perasaan terdalam yang dibangkitkan hingga sesuatu yang telah lama terendap seketika mencuat.
Sebuah lengkungan senyuman, coba ia kembangkan. Langkah ia ringankan untuk mendekat pada sang putra yang cerdas. Mengabaikan getir yang menyisir, ia berusaha kuat untuk terlihat bahagia di depan buah hatinya.
"Om Rud di sini, Sayang."
Gadis ayu seketika membalik badan saat kalimat yang akan dia ucap, didahului oleh suara yang sangat ia kenal. Lelaki yang masih berdiri di pintu itu melempar senyum termanisnya. Melahirkan gejolak rasa yang sukar dieja oleh tatapan nanar gadis ayu. Ia terpaku.
Ayunan langkah Mas Rud membuat gadis ayu semakin kalut. Bayangan kenekatan yang dilakukan lelaki itu pada masa lalu melahirkan sebuah pikiran yang tidak-tidak. Kata jangan-jangan meliar di khayalan.
"Om Lud, Di-juniol kangen banget."
"Om juga kangen kamu, Sayang."
Pemandangan di hadapan sangat jauh dari kelebatan adegan di pikiran. Gadis ayu melepaskan keresahan. Ia memilih meninggalkan ruangan untuk membuat hatinya semakin tenang. Membiarkan putra tersayang terlarut dalam bahagia bersama orang yang telah lama dirindukannya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Dalam bathtub, gadis ayu menenggelamkan diri dari segala perasaan yang membuncah. Ia berusaha menetralkan sesuatu yang melebihi kadar seharusnya. Dua rasa yang sedang ia coba letakkan pada tempatnya, menggugat dengan erat.
Mas Dion ... lihatlah putramu! Bagaimana bisa ia dekat dengan mereka. Jika uncle, wajar karena dia memang yang mengurusnya sejak terlahir ke dunia. Bahkan semenjak di rahimku pun sudah diakui sebagai keponakannya.
Mas Rud? Ikatan apa yang bisa membuat mereka seakrab itu? Padahal baru pertama bertemu. Apakah ini ada campur tanganmu? Mengapa aku selalu berpikir jika semua yang ada di sekitarku sudah kamu rencanakan sebelumnya?
Resah yang bergelayut membuat gadis ayu memejamkan mata dan tak sadar terlelap dalam waktu yang lama. Sepertinya kenangan telah mengikat mimpinya terlalu dalam. Hingga ia terjatuh bahkan tenggelam oleh perasaan yang sangat sukar dia kendalikan.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
"Mbak, makan malam, yuk!" ajak Kristy seraya mengetuk pintu kamar sang kakak.
Sekali, diketuk kali kedua, ketiga dan hasilnya sama. Tak ada jawaban. Kristy yang awalnya biasa, lama-lama khawatir juga.
Sekali lagi dia memanggil nama kakaknya tanpa memberikan suara ketukan. Memasang telinga dengan seksama, agar bisa menangkap suara yang ada, berapapun tingkat kekerasannya. Sayang, tak ada apapun yang bisa ia dengar.
Kristy segera berlalu dari tempatnya. Langkah dipercepat hingga mencapai ruang keluarga. Ia membuka laci kecil di bawah meja televisi.
"Ada apa, Kris?" tanya Mas Rud yang menangkap kegelisahan adik dari gadis ayunya.
"Mbak Rosa aku panggil-panggil gak ada jawaban, Mas. Aku lagi nyari kunci cadangan."
Mas Rud beringsut dari duduk. Segera berlari ke lantai dua di mana kamar gadis ayu berada. Sekian tahun berlalu, tak membuat lelaki itu lupa dengan segala hal yang berkaitan dengan gadis ayunya. Termasuk letak kamar yang belum pernah ia masuki sebelumnya. Namun, feeling yang kuat membuat ia bisa menemukan keberadaan tempat itu dengan sangat cepat.
"Kunci cadangannya nggak ada, Mas. Aku udah telepon Mama, beliau bilang kuncinya kebawa Mas Aryan."
"Kok bisa sama Aryan?"
"Mas Rud nanti akan tahu sendiri. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana bisa masuk untuk mengetahui keadaan Mbak Rosa."
Menyadari telah membuang waktu dengan kecemburuan yang tidak perlu, Mas Rud segera mendobrak pintu. Skill yang ia dapat selama menjadi bodyguard sangat bermanfaat. Dalam beberapa kali tendangan, pintu itu akhirnya bisa terbuka.
Keduanya masuk dan tak mendapati keberadaan gadis ayu. Kristy berlari ke balkon tetapi kosong. Mas Rud mendekat ke kamar mandi yang ada di ruangan itu. Ia ragu untuk menerobos masuk.
"Kris, sepertinya mbakmu ada di dalam sana. Masuklah!"
Gadis yang kini sedang koas itu segera membuka pintu kamar mandi yang kebetulan tak terkunci. "Mas, Mbak Rosa pingsan di bathtub."
Tanpa berpikir panjang, Mas Rud segera masuk dan menggulung lengan panjang kaos yang dipakainya. Perlakuan yang sama ia tujukan pada celananya juga.
__ADS_1
"Kris, maafkan aku harus melakukan ini!" ucap Mas Rud sebelum masuk bathtub dan berusaha mengangkat tubuh polos mantan kekasihnya.
Kristy tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menyiapkan handuk untuk segera menyelimuti tubuh kakaknya setelah berhasil di angkat dari air yang membenamkan tubuhnya. Tak ada lelaki lain di rumah ini. Kalaupun ada si abang, dia juga tak boleh melihat kakaknya dalam keadaan seperti ini.
Keadaan darurat, akhirnya membuat Kristy mengizinkan Mas Rud untuk menolong sang kakak. Tak ada pilihan. Nyawa lebih utama, toh Mas Rud bisa dipercaya. Tak akan mungkin memanfaatkan keadaan.
Gadis ayu segera di baringkan di ranjang. Sementara Kristy mencari pakaian ganti, Mas Rud menyelimuti tubuh gadis ayu. Tiba-tiba matanya terbuka. Terkesiap dengan keberadaan Mas Rud di kamarnya. ia berteriak. Semakin keras saat ia menyadari bahwa tubuhnya sama sekali tak tertutup sehelai benang, gadis ayu kemudian berang.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Kamu baik-baik, saja?" tanya Mas Rud bahagia sekaligus bingung dengan keadaan gadisnya.
"Bagaimana mungkin aku baik-baik saja jika keadaanku seperti ini. Dan Kamu ..." gadis ayu menunjuk tubuhnya dan kemudian tubuh Mas Rud dengan amarah yang tak teredam.
Tubuh atas Mas Rud yang tak terbungkus, rupanya menghadirkan kesalahpahaman. "Bajuku basah, Sa. Makanya aku melepasnya."
Gadis ayu memukul-mukul paha lelaki di hadapannya dengan sangat kesal. Posisi tidur membuat tenaganya tak seberapa. Yang ada bukannya membuat sakit, melainkan menjadi terasa manja.
Mas Rud sengaja menggoda. "Makanya jangan tidur, lupa kan kita berbuat apa?"
Gadis ayu makin geram. Sementara di sisi lain kamar, Kristy menahan tawa hingga perutnya sakit. Ia sengaja membiarkan kesalahpahaman itu terjadi.
"Abang!" teriak gadis ayu dengan lantang.
"Sejak kapan kamu memanggilku abang? Panggil aku, Mas!" ujar Mas Rud serius. Dia benar-benar tidak tahu jika yang dimaksud abang bukan dirinya melainkan Aryan. Mungkin itu lebih baik. Karena bilasaja tahu yang sebenarnya, pasti cemburu itu akan kembali menggebu.
"Siapa yang memanggilmu? Keluar kamu dari kamarku! Aku tak sudi melihatmu, lagi!"
"Setelah membuat tenagaku habis, lalu sekarang kamu mengusirku?" Mas Rud kembali menggoda dengan senyum smirk menghias bibirnya.
__ADS_1
"Abang!" Lagi-lagi gadis ayu memanggil Aryan.
Mas Rud memicingkan mata. Pikirannya mulai berputar, menemukan kejanggalan. "Siapa abang?"