
Dengan setelan batik dan celana bahan, sudah kupatut diri puluhan kali tanpa henti. Mungkin cermin di hadapanku ini sudah bosan dengan ketampanan yang aku pamerkan. Namun nyatanya aku tak juga jera, ingin terlihat sempurna.
Sebenarnya, semua kulakukan untuk menutupi kegugupan. Baru begini saja, jantungku sudah berdegup kencang. Apalagi nanti jika aku di posisi mengikrar janji suci, pasti tambah menggila lagi. Walaupun begitu aku sudah tak sabar menanti saat itu. Waktu di mana seorang Rosalia Citra Atmadja telah sah menjadi istri dari Rud Dinata.
Ah ... kenapa aku jadi senyum-senyum sendiri? Lewati dulu malam ini, baru berpikir sejauh itu. Bukankah itu tak akan lama lagi?
"Sayang, rasanya aku benar-benar sudah gila karena mencintaimu."
"Jadi berangkat gak, nih? Udah tampan maksimal, ayo buruan!"
_______________________________________________
"Novelnya disimpan dulu, adik. Kita harus masuk," perintah si abang ketika penumpang sudah diingatkan oleh pengeras suara yang ada di bandara.
Mereka pun bergegas memasuki area yang menjadi jalan menuju tujuan perjalanan. Bandara Soekarno Hatta akan menjadi titik awal dari berakhirnya penerbangan di Hongkong International Airport. Lima jam perjalanan tanpa transit menjadi waktu sempit bagi sang gadis untuk menata hati yang mungkin akan terasa kembali sakit jika takdir menuliskan sang mantan hadir di pernikahan.
Napas yang dihela berulang seolah mengisyaratkan suasana kalbu yang sedang diserbu oleh galau yang meracau. Tak bisa dipungkiri bahwa hati akan tetap menyimpan memori. Tawa dan lara hanyalah rasa. Sejatinya itu adalah bagian dari cinta yang masih tetap bertahta.
"Hatinya sudah disiapkan?" goda si abang saat mereka sudah menginjakkan kaki di negara beton itu.
"Hm," gumam sang gadis tak ingin banyak berbicara, takut jika pada akhirnya hanya akan menjadi dusta.
"Sepertinya aku yang harus menyiapkan dada dan bahu sebagai sandaran."
"Yang jelas siapkan uang, Bang! Aku kalau gamang yang sanggup meredakan hanyalah belanja gila-gilaan," celetuk sang gadis coba mengalihkan pikiran.
"Kapan kamu seperti itu? Aku selalu siapkan tapi nyatanya kau sia-siakan," ujar si abang sambil memakai kaca mata yang sedari tadi hanya menjadi accesories di kaosnya.
"Nanti aku ambilnya belakangan, Bang. Biar banyak sekalian. Lumayan buat menopang hidup di masa depan."
"Masa depanmu adalah urusan suamimu. Mengapa harus aku juga yang menanggungnya?"
"Abang kan bisa menjelma jadi apa saja,"
Lelaki yang sekarang lebih intens dipanggil Abang daripada Pak itu mengacak puncak kepala gadis ayunya. "Aku bisa menjadi apa saja tapi tidak bisa menjadi suamimu."
"Mau?" goda gadis itu sambil membuka tawa.
"Yang hatimu mau bukan aku," timpal lelaki itu dengan merangkul bahu gadis itu.
__ADS_1
"Kalau hatiku mau?"
"Aku yang gak mau."
"Kamu menolakku, Bang?"
"Tentu saja. Seleraku tinggi. Kamu, cuma segini!" ucap si Abang sambil membandingkan tinggi sang gadis yang hanya di bawah telinganya.
"Awas ya, Bang! Nanti aku pakai heels segini," ujar sang gadis membentuk tangannya dengan jarak sekitar dua puluh senti meter.
"Itu bukan heels, tapi pengganjal kaki."
"Biarin."
"Pendek ya pendek aja!"
"Aku tinggi."
"Tinggian, aku."
Kedua manusia usia matang itu terus saja berdebat, tak peduli dengan mata lain yang melihat. Mereka memang sangat akrab, melebihi dekatnya sahabat atau mungkin sudah seperti suami istri yang saling mencintai. Orang lain pasti akan berpikir demikian jika tak mengetahui kisah perjalanan yang telah mereka lewati beberapa tahun ini.
"Sa, kamu yakin kita akan masuk?" tanya si abang kesekian kali sebelum memasuki tempat berlangsungnya pernikahan Anton dan Monica.
Menautkan telapak tangan kanan gadis itu pada lengan kiri sang lelaki, gadis ayu menyempurnakan tarikan kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan yang sempurna. "Untuk apa aku di sini, secantik ini, kalau hanya untuk berbalik arah?"
Abang memberikan usapan lembut pada puncak kepala adiknya. "Aku tahu, adik cantikku ini jagonya membohongi rasa. Awas ya kalau nanti hatinya terhimpit!"
Dengan saling memamerkan senyuman, sepasang saudara itu melangkah pasti, menguji nyali.
Ya, di dalam sana mungkin akan ada cerita yang berulang. Beberapa tahun yang lalu, saat sang gadis menghadiri acara lelang amal dengan si abang, yang kala itu berstatus sebagai bosnya, takdir membawa mereka kembali berjumpa. Seorang lelaki yang memiliki tahta tertinggi di hatinya meskipun nama lain tengah terstempel sebagai pemilik statusnya.
Kini, akankah ada deja vu rasa? Lilitan cinta yang sempat mengikat masihkah bersisa? Entahlah, Tuhan selalu memiliki jalan yang tak tersentuh pikiran.
Mengitarkan pandangan pada kemewahan pesta, gadis ayu menemukan seraut wajah yang baru saja terlintas di benak. Mas Rud, tengah berada satu lintasan pandang dengan manik matanya. Netra teduh itu, seperti sedang berbicara. Bercerita tentang rasa yang telah terkubur bertahun-tahun.
Tak bisa ia bohongi, jika saat ini, hatinya seolah sedang dibawa kembali pada masa lalu. Menerjang masa, melewati satu periode dengan lelaki halalnya, dan berhenti pada saat bahagia bersamanya itu menjadi cerita. Cinta yang terendap itu seperti diusik untuk dibangkitkan kembali.
Namun, gadis ayu mencoba menepiskan perasaan. Waktu yang bergulir, akan mematahkan sesuatu yang dalam tersimpan. Bila dulu statusnya menghalangi perasaan yang mereka miliki, maka sekarang wanita di sisi sang mantanlah yang akan memaksa rasa yang mungkin masih ada untuk kembali mengokohkan tahtanya.
__ADS_1
Sang gadis membuang pandangan saat seorang wanita cantik mendekati lelaki yang dulu ada di hatinya itu. Tangkapan matanya pada gamitan yang sang mantan berikan pada pinggang wanita itu, membuatnya menyadari jika waktu memang sudah mengubah segalanya.
Takdir cinta telah membawa rasa pada pemilik yang seharusnya.
Gadis itu memejamkan mata selaras dengan tarikan napas yang berbalut kalut.
Gadis ayu memasrahkan diri pada pelukan seseorang yang tiba-tiba membawanya pada sebuah rengkuhan. Usapan punggung sedikit memberikan ketenangan pada buncahan rasa yang terpencar. Kristal bening itu, lolos begitu saja dari kedua sudut matanya.
Melihat lelaki yang datang dari masa silam, hatinya seolah kembali dikuliti. Perasaan yang kembali datang setelah sekian lama menghilang, menepikan kebohongan bahwa cinta itu tak ada lagi. Apakah gadis ayu kembali terjebak dalam jerat luka?
🍂🍂🍂🍂🍂
"Mas," sebut lirih gadis ayu pada bayangannya sendiri yang tergambar di cermin.
Wajah ayu itu dihiasi butir kristal bening yang mengalir. Melukiskan rasa karena pertemuan dalam diam yang terjadi meski sudah diprediksi. Rupanya ia tak bisa menguasai hatinya. Pikiran tak sejalan dengan perasaan.
Sebuah tarikan napas panjang ia lakukan untuk meredam perasaannya yang gamang. Rupanya cinta pada lelaki pertamanya itu bercokol dengan begitu kuatnya. Tak tumbang oleh terpaan angin besar yang seharusnya menghempaskan segala yang ia terjang.
Tak ingin terus tergerus perih, sang gadis menghapus air mata dan mengayunkan kaki meninggalkan toilet.
Belum jauh melangkah, manik hitamnya mendapati pemandangan yang menggugah kembali perasaannya. Di-juniornya sedang berbicara dengan lelaki yang baru saja merebakkan kembali memori berkasih. Ada tawa yang tercipta di antara keduanya.
Langkah gadis ayu yang sempat terhenti, kembali menapaki lantai. Satu demi satu dan berhenti kembali tepat di dekat dua lelaki yang sedang bercanda itu.
"Mama ..." sapa anak lelaki yang berusia sekitar dua setengah tahun itu begitu melihat gadis ayu.
Lelaki yang bersama anak kecil itu menoleh. Menyatukan mata dalam satu titik pandang dengan wanita yang dipanggil Mama oleh lawan bicaranya.
Diam. Mereka terhanyut dalam tautan mata yang melukiskan cerita lara bagi yang bisa merasakannya. Bukan hanya mereka berdua tetapi ada lelaki lain yang berdiri tak jauh dari keduanya. Dialah si abang, saksi pertemuan sepasang mantan yang masih menyimpan perasaan mendalam.
💓💓💓💓💓
__ADS_1