
"Apakah kamu pulang untuknya, Nak?"
Mas Rud tak perlu menjawab. Sang bunda sudah tahu apa yang ada di hati sang putra. Hanya saja beliau ingin mendengar Mas Rud bertutur. Memastikan apakah cinta yang dulu menggebu itu belum luntur.
"Rud pulang untuk membawakan Bunda seorang menantu dan cucu," jawab Mas Rud dengan senyum.
Ada senyum balasan dari sang Bunda. Bahkan kebahagiaan itu turut disaksikan oleh air mata. Tangisan kecil yang membuat wanita itu yakin akan kebesaran cinta putra bungsunya.
Masih teringat jelas bagaimana luka itu sengaja ditoreh demi bahagia tetap melingkupi gadisnya. Jalan hidup yang sudah teratur rela dibuat terbentur, bahkan pekerjaan berbahaya sudi dilakukannya, semua demi cinta. Kini, ia kembali untuk memperjuangkan wanita yang dulu ia lepaskan dengan terpaksa ikhlas.
"Bawalah mereka ke hadapan Bunda secepatnya, Nak!" pinta sang bunda dengan mata yang berkaca-kaca.
Mas Rud kembali memeluk wanita yang melahirkannya. Ada isak yang tertangkap indra pendengar. Bukan duka akan tetapi rasa haru yang menelusup kalbu.
"Bun, bantu Rud untuk membuatnya kembali. Mohonkan pada-Nya agar Rud mampu memeluknya. Hanya dia, Bun. Rosa."
Kristal bening mengalir dari keempat bola mata dua orang yang sedang berpelukan. Agungnya rasa itu benar-benar tersampaikan. "Bunda selalu berdoa untuk kebahagiaanmu bersama Rosa dan putranya, Nak. Semoga Yang Kuasa meridai kebersamaan kalian."
Keharuan itu perlahan menipis. Pelukan pun segera ditepis. Mas Rud kembali menjejakkan kaki. Ia memilih duduk di tepi ranjang. Laci nakas paling atas ia buka perlahan. Mengorek setiap sisi, akan tetapi sepertinya ia kehilangan apa yang ia cari.
"Kunci itu sudah bunda berikan pada gadis ayumu," terang bunda yang paham dengan apa yang ingin Mas Rud temukan.
Seketika wajah bunda menjadi sasaran tatapan. "Kapan Bunda memberikannya?"
Mas Rud tak menyangka jika sang bunda melakukan sesuatu di luar sepengetahuannya. Hatinya menjadi bertanya-tanya. Bagaimana nasib kunci itu sekarang. Apakah sudah dipertemukan dengan pasangannya ataukah dibiarkan sendiri dalam sepi?
"Setelah dia pulih dari rasa trauma setelah kematian suaminya. Kurang dari dua tahun dari sekarang, Nak. Maafkan, Bunda. Mungkin keputusan Bunda ini salah, tetapi rasanya tak tega melihatnya tidak tahu apa-apa. Bukan untuk mengusik sesuatu yang menyakitinya, hanya sekedar membuat gamblang sesuatu yang selama ini ditutup-tutupi."
Mas Rud menunduk. "Bun, apakah Rosa begitu mencintai suaminya? Mengapa Bunda tidak pernah bercerita tentang kabar duka ini?"
Sang Bunda mengusap lengan putra tercinta. "Bunda pikir, kamu sudah melepaskan perasaanmu pada Rosa. Pertunangan dengan Lyca adalah isyarat jika hatimu sudah mulai membuka untuk cinta yang lain."
Mas rud menunduk. Ia meraup wajahnya pelan. "Rud berusaha mengikhlaskan demi kebahagiaannya, Bun. Tetapi hati tetap tak bisa dibohongi. Sekuat mencoba untuk berpaling, nyatanya cinta itu justru tak bergeming."
"Bagaimana dengan Lyca?" selidik bunda hati-hati.
Pikiran Mas Rud menerawang pada nama yang bunda sebutkan. Wanita baik yang tetap tak bisa membuat perasaannya terbalik. Tunangan yang harus ia tinggalkan demi seorang mantan yang tak bisa dia lupakan.
__ADS_1
"Dari awal Rud sudah jujur pada Lyca, Bun. Orang bilang waktu akan menumbuhkan cinta jika terus bersama, nyatanya itu tak berlaku pada Rud."
Bunda tak sanggup lagi berkata-kata. Keagungan cinta sang putra tak bisa lagi beliau anggap sebelah mata. Hanya sebuah usapan lembut pada punggung sang putra ia berikan sebagai bentuk dukungan.
"Semoga kalian berjodoh ya, Nak."
"Aamiin, terima kasih Bunda untuk doanya."
Bunda kembali mengusap punggung sang putra. "Istirahatlah, dulu! Kamu pasti lelah setelah penerbangan yang panjang."
Lengkungan indah di kedua sudut bibir mengukir. Haru di kalbu menjadi bahagia yang meraja. "Rud sudah dapat suntikan semangat, Bunda."
Kerutan dahi menjadi tanda jika Bunda sedang menelisik apa yang ada di pikiran sang putra. "Apakah Bunda menjadi orang kedua yang kamu temui, Rud?"
Tawa kecil menyempil di antara senyum yang mengulum. "Tuhan yang menuliskan, Bun."
"Pantas saja anak bunda terlihat sangat bahagia," goda bunda yang mulai beranjak dari duduknya.
"Bun," panggil Mas Rud dengan senyum lembut.
"Bunda tahu kamu mau bilang kalau bunda tetap kamu sayang. Tidurlah! Besok pagi pasti mau pergi lagi, kan?" goda bunda tanpa henti.
Tak berselang waktu, sang bunda segera bergegas keluar. Meninggalkan putranya yang masih tertegun memandang seisi ruangan yang penuh kenangan. Saksi segala rasa yang ia tinggalkan.
Perlahan tubuh ia rebahkan. Lengan ia jadikan tumpuan kepala. Netra tak putus melekat pada foto besar yang tergantung di dinding kamarnya.
"Sayang, kamu tetap menggemaskan. Lima tahun lalu ataupun sekarang, rasaku tidak berkurang, malah semakin bertambah. Gadismu aku tunggu, jandamu aku rindu. Ah, gilanya cintaku untukmu!"
🍁🍁🍁🍁🍁
Di sana ada yang menggenggam asa cinta, di sini ada lelaki lain yang menimang novel cinta milik lelaki di ujunga sana.
"Setahun kusimpan, apakah benda ini seharusnya kukembalikan sekarang?"
Abang, lelaki yang sedang berbicara sendiri itu berusaha mencari sebuah jalan yang lebih baik. Kisah pilu dalam cerita sedang diperjuangkan kembali untuk menutup lara. Hanya Tuhan yang kuasa atas segala rasa.
Dering nyaring memecah hening. Tanpa ragu segera diangkat telepon itu. "Aku Aryan bukan Rosa."
__ADS_1
"Cintaku bisa membedakan mana pacar mana calon ipar," timpal Mas Rud dengan sebuah godaan.
"Yakin sekali kamu bakalan diterima Rosa?" goda balik si abang.
"Bukan Rud namanya kalau pesimis," ujar Mas Rud dengan santai.
"Aku tahu kamu nekat, Rud. Jangankan sekarang, dulu aja waktu Rosa sudah jelas menjadi milik Dion kamu berani menciumnya."
Ada tawa kecil yang usil. "Siapa yang memberitahumu?"
"Aku tahu semua yang kamu lakukan," balas abang menjelaskan.
Dua lelaki itu saling bicara tentang satu wanita yang spesial di hati mereka. Kisah masa lalu yang kini masih menjadi cerita seru. Waktu boleh berganti, tetapi rasa tetap bertahta.
"Apakah kamu juga tahu tentang novelku?" selidik Mas Rud dipenuhi rasa penasaran dan harapan.
"Novelmu sedang kupegang sekarang," jawab abang memberikan kejujuran.
"Kok bisa kamu bawa?"
Abang sengaja menjeda kalimatnya. Dia tahu jika lelaki di ujung sana menunggu jawabannya. "Dia meninggalkannya sewaktu menginap di sini."
Kecemburuan Mas Rud mulai terlecut. "Rosa tidur di rumahmu?"
"Bahkan di kamarku?" terang abang tak membuat suatu kebohongan.
"Kalian?"
Api cemburu semakin menggebu. Berkobar bar-bar hingga jantungnya seakan hendak keluar. Hatinya memanas dan pikirannya menjadi buas. Tak terima jika gadis ayunya telah terjamah oleh lelaki yang diajaknya berbicara.
"Kami sedekat itu," timpal abang lagi ambigu.
"Kalian melakukan itu?" Keingintahuan Mas Rud semakin menjadi.
Abang masih tetap tenang. "Yang lebih dari itu pernah juga."
Mas Rud kehilangan ketenangan. "Aryan, apa yang telah kamu lakukan padanya?"
__ADS_1
"Kami sudah pernah melakukan semuanya." Abang semakin membuat Mas Rud geram.
Emosi lelaki itu terpancing. "Aryan, kita harus membuat perhitungan!"