
Kenyataan yang dibuka oleh sang bunda sedikit mengusik perasaan Mas Rud. Amarah belum seutuhnya bisa ia olah. Membuang sakit tak semudah telapak tangan yang dibalik. Rasa bukan benda mati yang bisa hilang saat detik berganti.
"Ngapain pakai kaca mata hitam di mobil?" selidik abang ketika dalam perjalanan menuju makam suami adik tersayang.
"Biar nggak silau," jawab Mas Rud asal.
"Kirain habis nangis semalam," ejek abang dengan tenang.
Seketika kaca mata itu lepas dari netra. "Lihatlah ketampananku yang paripurna! Mana ada mata sembab? Yang ada pancaran pesona."
"Rud, narsismu akut."
Kaca mata hitam itu dipakai kembali. "Justru narsisku ini yang membuat Rosa tak bisa berpaling."
"Itu dulu," timpal si abang seraya memutar stir bundar.
Perjalanan mereka telah sampai pada tujuan. Parkiran pemakaman menghentikan laju kendaraan. Dua lelaki tampan turun dengan kaca mata hitam bertengger pada netra salah satunya.
Abang membawa sebuket bunga forget-me-not, sedangkan Mas Rud membawa sekeranjang bunga untuk ditaburkan di pusara. Dengan berjalan sejajar dua lelaki itu menyusuri jalan setapak menuju peristirahatan suami wanita yang bertahta indah di hati mereka.
"Aku kembali," sapa pertama abang seraya meletakkan bunga yang ia bawa.
"Kali ini aku bukan mengantarkan istrimu, tetapi lelaki yang pernah kamu cemburui."
__ADS_1
Mas Rud yang memahami isyarat yang diberikan si abang segera menaburkan bunga di pusara suami gadis ayunya. Sambutan pertama yang ia lakukan adalah memberikan senyuman. Lantas mengusap nisannya.
"Maafkan, aku baru datang!"
Kalimat Mas Rud terjeda lama. Bahkan ia mulai membuka kaca mata hitamnya. "Dion, aku kembali."
Terjeda lagi kalimat untuk mantan rivalnya. "Aku tidak akan bermain licik di belakangmu lagi. Niatku ke sini, untuk meminta izin darimu. Kepulanganku adalah untuk kembali memperjuangkan hatinya."
Abang hanya diam mendengarkan. Obrolan dua lelaki pemilik hati sang adik jika saja dapat didengar oleh orang lain pasti akan sangat menyayat hati. Sayangnya, sepertinya hanya dia yang akan memahaminya.
Sekiranya beginilah apa yang diucapkan Dion sebagai balasan yang berkeliaran di hati si abang. "Rud, dia memang seharusnya milikmu. Aku hanya lebih beruntung berjodoh dengannya terlebih dahulu. Bisa jadi aku yang licik, karena mengambilnya saat lara kau cipta dengan sengaja. Padahal aku sendiri tahu bagaimana hatinya tetap untukmu meskipun raganya ada di sisiku. Kita hanya saling bertukar posisi."
Saat abang menjadi penerjemah obrolan beda dunia itu, ia sendiri tak bisa menolak untuk tak berkomentar. Suara hatinya berbicara, bercerita tentang rumitnya rasa di antara mereka diambil dari sudut pandangnya.
Aku hanya lelaki yang datang sebagai penengah cerita. Bukan tokoh protagonis ataupun antagonis yang memperebutkan cinta tokoh utama wanita. Bagiku, cinta kalian tidak ada yang salah. Hanya saja Tuhan sengaja menuliskan sedikit rumit. Bukan mempermainkan perasaan, hanya ingin menunjukkan bahwasanya cinta tak dapat dipaksa.
Tiba-tiba, langit cerah berubah sendu. Mendung seolah ikut mengungkung, merasakan pergulatan perasaan tiga lelaki yang dinaungi. Mengupas rumitnya rasa, pencinta beda dunia jujur dengan hatinya.
Rintik bening yang mengalir, membuat Mas Rud dan abang bergeming. Mereka menolak berlari seperti rasa yang mereka miliki. Karena sejauh apapun menjauh, jika memang tak bisa melupakan justru siksa batin yang akan merayap tanpa derap, menelusup menyulut kalut.
"Ketika hujan turun saat matahari bersinar katanya kita akan dapat melihat pelangi. Apakah aku boleh menyamakan dengan kisah kita?" ucap Mas Rud entah ditujukan untuk siapa.
"Dion, kepergianmu seperti hujan badai yang meninggalkan lara yang perih. Aku tahu dia sangat kehilanganmu. Saat hatinya tengah tersandera kepedihan, beruntung ada Aryan. Walaupun aku tak tahu seberapa besar dia berkorban, tetapi aku yakin jika hadirnya adalah penguat Rosa hingga bisa bertahan sampai sekarang. Dia seperti mentari yang bersinar, membuat rona bahagia Rosa kembali berpendar. Dan aku yang datang saat semua sudah terlambat, izinkan aku melaknat, keparat bejat yang berharap menjadi pelangi yang akan membuat indah pada pandangan kalian."
__ADS_1
Mas Rud menghela napas mendalam setelah mengucapkan kalimat yang begitu panjang. Si abang mendengarkan tanpa berkomentar.
"Semua kerumitan rasa ini aku yang memulai dan biarkan aku juga yang membuatnya selesai. Jika semua berawal dari rasaku dan rasanya, izinkan aku yang menutup kembali hatinya dengan cinta yang kami punya."
Batin abang menyuarakan perasaan yang ia simpan. "Kamu bilang aku matahari, Rud? Kamu salah. Aku tak ingin kamu sebut sebagai raja siang yang akan tenggelam saat senja datang. Cukup kamu katakan aku sebagai lilin kecil yang meneranginya saat gulita menyapa. Tak peduli siang atau malam, aku bersedia melelehkan diri asalkan ia diterangi cahaya terang. Itulah aku."
Dari jauh, sayup-sayup suara menyela gumaman si abang. "Aryan, kamu adalah abang. Bagiku dan bagi Rosa. Dan sepertinya, juga bagi Rud kedepannya. Apakah kamu rela?"
Si abang tidak menjawab suara yang hanya dia dengar, akan tetapi justru menatap lelaki di sampingnya yang ingin menjadi pelangi bagi Rosanya. "Dion merestuimu menjadi pelangi."
Seketika Mas Rud menoleh. Menelisik kebenaran jawaban dari seseorang yang berikutnya harus ia panggil abang. Senyum yang ia temukan, belum sepenuhnya menjawab pertanyaan.
"Dari mana kamu tahu?"
"Sudah kubilang, aku tahu apapun tentang kalian," timpal abang dengan penuh keyakinan. Sebentar mengambil napas dan kemudian kembali berucap, "Kamu tahu? Aku adalah si terlambat."
Abang menjeda kalimat. Mas Rud hanya diam tanpa ada maksud untuk bertanya lebih lanjut. Karena dia tahu lelaki itu akan menjelaskannya setelah ini.
"Aku mencintai Rosa saat dia sudah memberi keputusan untuk hatinya, memberi kesempatan untuk Dion setelah tiba-tiba kau tinggalkan. Aku mencoba ikhlas, dan semakin ikhlas saat kejadian di Jogja. Aku tahu bagaimana keruwetan rasa diantara kita. Bahkan Dion pun sempat mau menyerah saat kamu amnesia dan yang kamu ingat hanya istrinya."
Kisah yang dibuka sang abang membuat Mas Rud tercengang. Dia tidak habis pikir bagaimana lelaki yang kini telah pergi memiliki hati yang sungguh-sungguh suci. "Dion, kamu adalah malaikat. Tidak salah jika pada akhirnya Rosa memilihmu sebagai penggantiku yang keparat."
Abang mengusap punggung lelaki di sampingnya. "Jangan menyebut dirimu seperti itu. Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga kamu melakukan semuanya. Dion pun kuyakin tahu sebesar apa rasa yang kalian punya. Dia pasti bahagia jika melihat Rosa bahagia denganmu, seperti dulu."
__ADS_1
Dua lelaki itu menitikkan air mata haru. Di sana, seorang pencinta berhati malaikat ikut merasakan keharuan yang pekat. Bulatan perasaan terhadap Rosa adalah pemicu hingga syahdu menderu. Semoga sucinya cinta akan membuat semua bahagia.
Dion tetap berbahagia meskipun kekasih halalnya dijaga oleh lelaki lain yang jelas bukan dirinya. Tidak hanya satu, tetapi dua. Mereka bertiga adalah pencinta dengan gaya yang berbeda tetapi tertuju pada satu fokus, kebahagian Rosa dan sang putra sekaligus.