Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Restu Bunda


__ADS_3

"Kenapa Mas membawaku ke sini?" tanya gadis ayu saat mereka sudah duduk.


"Meminta restu," jawab Mas Rud seraya mengambil remot dan menyalakan televisi. Setelah itu, ia ikut duduk di samping gadis ayu.


"Kita yang meminta restu, tapi kenapa Di-junior yang berbicara dengan beliau?" selidik gadis ayu seraya beringsut. Ia tidak nyaman dengan jarak yang terlibas di antara mereka.


"Restu buat kita pasti sudah turun. Ini hanya formalitas saja," ujar Mas Rud seraya merangkul bahu gadis ayu.


"Kalau begitu sebentar lagi aku bisa pulang, 'kan?"


"Ngapain pulang? Ini kan juga rumahmu, Sayang," jawab Mas Rud seraya merebahkan kepala gadis ayu di bahu tetapi di tolak halus.


"Mas, jangan nakal!"


"Siapa yang nakal?"


"Aku bisa membaca pikiranmu."


"Memang apa bacaannya?"


Gadis ayu memukul paha Mas Rud. "Pokoknya semua gerak-gerikmu sudah terbaca olehku, Mas. Walaupun kita hanya bersama selama tiga bulan, kemudian terpisah bertahun-tahun tetapi naluriku masih kuat terhadapmu. Jangan aneh-aneh!"


"Waw, cintamu padaku ternyata sehebat itu. Kalau begitu kamu bisa menebak apa yang kulakukan selama di London?" selidik Mas Rud.


Gadis ayu melepas rangkulan dan menghadap sang mantan, ah salah ... sang kekasih. Dia amati dengan saksama wajah belahan hatinya. Tangan ia ulurkan untuk digunakan menangkup pipi. Hanya sebentar, kemudian ia menyasar bibir dengan jari paling tinggi.


"Apa hasilnya?" tanya Mas Rud ketika sang gadis hanya berbuat seperti itu dan kembali pada posisi duduk.


"Kamu mesum, Mas. Jadi ..."


"Jadi apa?" Mas Rud terus merunut.


"Lyca itu cantik jadi mana mungkin kamu anggurin?"


"Iya, kamu benar, Sayang."


"Kalian sudah ngapain, aja?"


"Sewajarnya sebagai tunangan, aja."


"Apakah kalian melakukan itu?"


"Iya, tentu saja."


"Yang itu juga?"


"Semuanya kami coba."


"Berarti, kamu ...?"


"Iya, seperti itu."


Gadis ayu diam. Sejenak ia menata rasa. "Kalian sama-sama dewasa. Sebagai tunangan tentu saja itu biasa dilakukan apa lagi di tempat kalian tinggal. Aku terlalu banyak berharap."


"Berharap apa?"


"Berharap jika kamu hanya milikku. Cintamu dan tubuhmu." Gadis ayu menunduk. Ada malu dalam pengakuan yang ia utarakan.

__ADS_1


"Apa kamu mencari perjaka?"


Gadis ayu kembali memukul paha Mas rud. "Bukan itu inti dari pembicaraan ini. Kamu normal aku senang."


"Benarkah seperti itu?"


"Tentu saja. Kalau kamu mengabaikan Lyca itu baru aku curiga. Jangan-jangan!"


"Padahal aku mengabaikannya," terang Mas Rud seraya melepaskan rangkulan dan menegakkan badan.


Gadis ayu masih mencerna kalimat lelaki yang hendak pergi. Ia tidak mau percaya begitu saja dengan apa yang didengarnya. Rasanya mana mungkin itu terjadi walaupun itu yang dia mau.


Lamunan masih berlanjut bahkan sampai Mas Rud kembali duduk. "Rasa perjaka atau bukan itu sama saja."


"Mau coba?" goda Mas Rud karena gadis ayu masih termangu.


"Aku gendong ke kamar, 'nih!"


Tangan Mas Rud langsung ditepis gadis ayu. "Jangan sembarangan, Mas!"


"Makanya jangan melamun! Aku tidak menikmati tubuh Lyca. Aku hanya ingin melakukan itu denganmu."


Darah gadis ayu berdesir. Bisikan Mas Rud seperti setrum listrik. "Itu tidak adil bagimu, Mas."


"Beri aku keadilan!" goda Mas Rud seraya memajukan wajah.


Gadis ayu meletakkan telapak tangan hampir tidak berjarak dengan wajah Mas Rud. "Belum halal."


"Kamu lupa kita sudah pernah melakukannya? Kamu lupa aku sudah melihat semuanya? Kamu lupa ... jik--"


"Aku lupa!" potong gadis ayu seraya memilih menjauh.


Di ruang lain dengan waktu yang dibuat sedikit mundur, ada obrolan antara bunda Mas Rud dan Di-junior. Mereka asyik melihat-lihat album foto.


"Om Rud waktu kecil seperti Di-junior ya, Eyang?" celetuk bocah kecil dengan gaya lucu.


Bunda Mas Rud tersenyum seraya membelai surai tebal milik Di-junior. "Kalian mirip."


"Tapi papa Di-junior sudah meninggal, Eyang." Di-junior berucap polos. Alih-alih bersedih, bocah kecil itu justru tersenyum. "Papa sudah bahagia, Eyang. Jadi, Di-junior nggak boleh bersedih."


Langkah gadis ayu terhenti tepat ketika ia mendengar pengakuan sang putra tentang suaminya. Ada sesuatu yang membuat kakinya terantuk. Ia memaku.


"Putramu saja tegar, masa kamu menangis? Dion akan bersedih kalau kamu terus seperti ini. Besok kita akan menemuinya." Mas Rud menghapus air mata gadis ayu.


Ia kemudian menggamit pinggang sang kekasih. Langkah ia tuntun agar menjauh. "Sayang, aku tidak memintamu melupakan Dion. Dia tidak akan tergantikan. Yang kumau, kamu selalu tersenyum. Simpan dia di sini!"


Mas Rud menunjuk dadanya sendiri. "Kenangan tidak akan pernah hilang. Tempatkan ia dalam sudut terindah, maka kamu tidak akan pernah merasa melupakan."


"Maafkan aku selalu mengingatnya, Mas. Kamu dan dia menempati sudut berbeda dalam hatiku. Salahnya aku tidak bisa menghempas salah satu. Apakah aku egois?"


"Tidak. Dion adalah lelaki spesial. Suami tanpa cela. Kami bisa mengenangnya semaumu. Aku bisa menunggu, tak terbatas waktu."


Gadis ayu menunjuk dada Mas Rud. "Apakah ini tidak sakit?"


"Berada di sampingmu adalah obat dari sakitku, Sayang. Mau aku antar pulang sekarang?"


Gadis ayu mengangguk. Ia seka air mata sebelum kembali melangkah. Jejak kaki mereka kembali berhenti di tempat tadi. Gadis ayu menatap Mas Rud ketika dilihat sang putra telah terlelap.

__ADS_1


"Menginaplah malam ini! Bunda akan menjagamu dari khilafku," perintah Mas Rud seraya melihat sang bunda memeluk putra semata wayang dengan raut kebahagiaan.


Sejenak berpikir, akhirnya keluar sebuah kalimat dari bibir. "Aku tidur di sini saja bersama mereka."


"Tidurlah di kamarku! Aku yang akan di sini dengan mereka." Mas Rud memutar kata.


"Kamarmu penuh kenangan, Mas. Aku takut akan semakin tenggelam oleh pesonamu," aku gadis ayu.


"Bagaimana kalau aku temani? Kita akan mengenang bersama. Tenggelam berdua itu rasanya indah jika atas nama cinta," ujar Mas rud seraya memarkir senyum smirk.


"Apa yang berdua, hm?"


Pertanyaan bunda membuat sepasang kekasih itu memutar badan. Masing-masing bibir memperlihatkan sebuah lengkungan di kedua sisi. Perbedaannya, jika gadis ayu tersenyum kikuk, Mas Rud justru memancarkan kekecewaan.


"Bunda kok sudah bangun?"


"Firasat bunda tidak enak," jawab bunda bermaksud menggoda.


"Bunda kebanyakan firasat. Seharusnya bisa tidur pulas memeluk cucu. Biarkan anakmu ini menikmati waktu berdua," gerutu Mas Rud seraya merangkul gadis ayu.


"Kalian belum sah, jangan dekat-dekat! Anak Bunda ini pandai memanipulasi. Bilang khilaf padahal emang niat. Hayo, lepaskan rangkulan! Kamu temani putramu tidur! Ayo, Nak! Kita tidur di kamar bunda saja."


"Yah, Bunda."


"Jangan kebanyakan protes!" timpal bunda seraya menggandeng gadis ayu untuk segera berlalu.


Bunda sengaja memisahkan sementara kedua sejoli yang baru saja kembali menjalin kasih itu. Masalah kehalalan bukan hal utama karena sebenarnya beliau ingin berbicara berdua dengan calon putrinya.


Langkah tidak terlalu jauh diayun karena kamar bunda berada di lantai satu. Mereka langsung naik ke ranjang dan merebahkan badan. Selimut ditarik menutup lebih dari setengah tubuh. Bantal yang sengaja ditumpuk membuat posisi tidak langsung menuju lelap tetapi bersiap untuk saling bercerita.


"Nak, bagaimana kabarmu?" Bunda mengawali bicara dengan menanyakan sesuatu yang sudah jelas apa jawabannya.


"Mas Rud membuat Rosa tidak baik-baik saja, Bun.


Bunda sedikit memiringkan badan sehingga gadis ayu yang meluruskan anggota gerak berada jelas dalam tatapan. "Rud juga tidak baik-baik saja tanpamu, Nak."


Gadis ayu ikut memiringkan badan. Ia penasaran dengan penjelasan Bunda. Walaupun dengan membaca novel ia tahu semua, akan tetapi ia ingin mendengar langsung. "Apakah Mas Rud mencintai Rosa sebesar itu, Bun?"


"Ketika amnesia yang diingat hanya kamu, Nak. Namamu yang selalu dia sebut. Fotomu tak jera ia lihat setiap saat. Hanya kamu yang bisa membuatnya pulih."


Bunda bercerita dengan netra yang dibawa menerawang. Nampak jelas jika ia mengusik ingatan masa lalunya. Kenangan perih yang kini coba diingat kembali.


"Maafkan Rosa, Bun! Waktu itu tidak bisa menjenguk Mas Rud."


"Tidak apa-apa, Nak. Bunda memahami yang terjadi di antara kalian. Jangan dipikirkan! Semua sudah berlalu. Sekarang, Bunda ingin melihat kalian berdua baik-baik saja karena sudah kembali bersama," ujar Bunda yang menerbitkan senyum gadis ayu.


"Bunda merestui?"


Tangan penuh doa tulus itu melembut pada surai gadis ayu. "Bunda merestui kalian sejak lima tahun lalu karena Rud benar-benar mencintaimu. Kedalaman perasaannya dapat dirasakan oleh semua orang. Oleh karena itu Bunda yakin jika hanya kamu yang bisa membahagiakannya."


Gadis ayu menunduk. "Tapi Rosa tidak sama dengan lima tahun lalu, Bun."


"Cinta tidak melihat status, Nak. Rud tulus. Ia menganggap putramu sebagai putra kandungnya."


Gadis ayu diam. Semua yang dikatakan Bunda sama dengan yang diakui Mas Rud.


"Jangan merasa berbeda, karena Rud melihatmu masih sama dan akan terus sama, Nak. Bunda mengenalnya dengan baik. Percayalah akan besarnya cinta yang dia miliki untukmu!"

__ADS_1


"Rosa percaya, Bunda."


__ADS_2