Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Kejujuran dalam Keruwetan


__ADS_3

Pandangan mereka semakin menjauh. Namun Mas Rud justru menarik lembut tengkuk. Seperti sebuah deja vu, gadis ayu memaku. Mas Rud mengangkat tubuh. Wajah semakin merujuk pada satu arah. Kepala memutar mèmbentuk sudut dengan benar.


Pikiran gadis ayu meliar. Jantung semakin berdebar bar-bar. Bibir digigit seraya netra dibuat menyipit.


Sebuah kecupan bersandar sebentar. Sengaja menggoda, Mas Rud kemudian menghindar. Gadis ayu ia biarkan memejam. "Bukalah matamu atau aku akan melakukan lebih dari itu!"


Seketika mata gadis ayu membuka. Ia pikir Mas Rud sudah menyingkir. Namun rupanya ia masih berada tepat di hadapannya.


Sesaat netra keduanya kembali beradu manja. Wajah gadis ayu maju. "Cium aku!"


Perintah gadis ayu membuat kening Mas Rud mengernyit. Ia takut hanya dibuai permintaan palsu. Seketika ia ikut memajukan wajahnya.


Netra mereka semakin menatap lekat. Masing-masing saling membatin.


"Sayang, ulangi kalimatmu! Benarkah tangkapan telingaku? Sungguhkah kamu ingin kucium?"


"Ayo, Mas! Maju ... maju ... dan akan kuberikan sesuatu yang spesial padamu!"


Mas Rud semakin membuat jarak menipis. Gadis ayu menunggu dengan rasa memburu. Saat bibir semakin melipir, gadis ayu mengulur tangan hingga menyentuh pipi kanan. Perlahan diusap penuh kelembutan dan kemudian berakhir pada sebuah suara.


Plak!


Sentuhan keras membuat Mas Rud terkesiap. Seketika ia menawan tubuh gadis ayu. "Mengapa kamu menamparku?"


Tatapan penuh geram terekam. Gadis ayu membalut manik hitam dengan sendu dalam gerutu. Ia ingin marah tetapi cinta membuatnya tidak kuasa melakukannya. "Tamparan itu karena Mas telah lancang mengambil sesuatu yang seharusnya milik suamiku. Ciuman pertamaku ..."


Ada jeda yang diucap seorang Rosa. Matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. "Mas mencuri ciuman pertamaku dan ..."


Lagi-lagi gadis ayu terserang kelu. Ia tak mampu untuk membuat kalimatnya berlanjut. Hanya bulir bening yang perlahan mengalir menjadi saksi bahwa hati tak lagi bisa dibohongi. Cinta itu masih ada. Bukan sekadar sisa akan tetapi bongkahan rasa yang dulu terendap dan kini kembali bergejolak.


Mas Rud beringsut. Ia bawa dirinya duduk sejajar dengan gadisnya. Tubuh dengan jiwa rapuh itu ia peluk. "Iya, aku memang pencuri yang pantas kamu benci."


Gadis ayu menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. Gelengan yang dibalut dengan tatapan penuh perasaan kalut, melahirkan bulir bening yang berlari tanpa mengenal kata surut. "Mas jahat."


Kristal kesedihan, Mas Rud hapuskan dengan sentuhan tangan. "Hukumlah aku atas kejahatanku pada masa lalu!"


"Masa berlaku kasus kejahatanmu sudah kadaluarsa. Mas bebas untuk melakukan kejahatan pada korban lain. Biarkan aku hidup nyaman tanpa bayang-bayang kelam." Gadis ayu memelintirkan perasaan dengan membuat sebuah pengakuan palsu.


Mas Rud diam. Ia membiarkan gadis ayu mengeluarkan unek-unek yang selama ini membuat dadanya sesak. Ia jelas tahu bahwasanya sang gadis sedang butuh tempat untuk curhat. Dan ia bahagia dipercaya sebagai pendengar meskipun terus dihantam kalimat-kalimat geram dan penuh tindak pengusiran.


"Baiklah jika itu maumu. Tapi jangan kembali menangis saat aku pergi! Janji!" Mas Rud mengacungkan jari kelingking sebagai saksi atas apa yang ingin ia kaji.


Gadis ayu belum juga menyambut uluran jari Mas Rud. "Pergilah! Aku tidak akan menangisimu, Mas. Air mata ini terlalu berharga jika kuhabiskan lagi untuk orang yang sama."


Lelaki yang diusir perlahan menggeser diri. Pelukan dilepaskan dan ayunan rotan ia tinggalkan. Tanpa berkata ia melangkah, akan tetapi seketika berbalik dan membuang napas lelah.


Kaki ia bawa lagi mendekati sang gadis. Tanpa disangka, tiba-tiba ia mencium bibir gadis ayu. Hanya sebuah kecupan yang kemudian ia lepaskan. "Berhentilah menyuruhku pergi. Aku akan tetap di sini untuk memaksamu mengaku jika kamu masih mencintaiku. Jangan berontak kalau tidak ingin aku berbuat yang lebih nekat."

__ADS_1


Mas Rud memeluk gadis ayu. Ada balasan sentuhan yang dieratkan. Kedua insan itu tak lagi saling beradu, justru mereka kini sedang memadu.


"Bibirmu penuh kebohongan. Tapi air matamu jujur, Sayang," ucap Mas Rud seraya menyeka air mata gadis ayunya.


Dikalahkan oleh perasaan yang telah lama mengakar, gadis ayu menelusupkan kepala pada dada bidang Mas Rud. Ada gemuruh yang tak bisa ia sentuh. Ia mencintai lelaki di hadapannya, akan tetapi rasa pada suaminya tak mungkin ditepikan begitu saja. "Mas Dion, maaf."


Kalimat lirih gadis ayu tertangkap oleh indra pendengar Mas Rud. Ia tidak lagi cemburu, justru mengusir ragu pada hati gadis ayu. "Nanti kita akan menemuinya. Aku akan meminta menggantikan kewajibannya untuk menjagamu dan putra kita."


"Diozza putra Dion-Rosa," terang gadis ayu seraya menarik diri dari pelukan Mas Rud.


"Sebentar lagi akan menjadi putraku juga. Bahkan dari pertama bertemu aku sudah menganggapnya sebagai darah dagingku."


Pengakuan Mas Rud membuat mata kembali berkaca-kaca. "Mas yakin mau menerimaku dan Di-junior?"


"Kalau tidak yakin, untuk apa aku jauh-jauh pulang ke sini? Kutinggalkan Lyca demi kamu. Apa itu masih belum meyakinkanmu?" tanya Mas Rud pada ujung penjelasan yang ia berikan penuh keyakinan.


"Aku janda."


"Lalu?"


"Aku punya anak."


"Terus?"


"Aku pengangguran."


"Aku sudah tua."


"Kemudian?"


"Aku jelek."


"Lanjut."


"Kamu tampan."


"Memang."


"Kamu masih muda."


"Tentu saja."


"Kamu bodyguard."


"Mantan."


"Kamu belum punya anak."

__ADS_1


"OTW"


"Kamu perjaka."


"Pasti."


"Aku mencintaimu."


"Hmmm."


"Perjaka tampanku yang masih muda, maukah kamu menjadi bodyguard untukku dan anak-anak kita?"


"Nggak mau," ucap Mas Rud tanpa ragu.


Seketika gadis ayu cemberut. Ia merasa dipermainkan. Bibirnya mengerucut tanda kesal.


"Aku tampan, kamu jelek."


Gadis ayu tambah sebal karena Mas Rud mengatakan ia jelek. Padahal yang ia mau, lelaki itu memujinya tetap cantik seperti dulu.


"Aku muda, kamu tua."


Sudut kerucut semakin membuat wajah nampak kusut. Gadis ayu memilih menunduk. Ia menyesal telah membuat pengakuan.


"Aku mantan bodyguard, kamu pengangguran."


Diam. Gadis ayu hanya mendengar apa yang akan terus Mas rud katakan.


"Aku perjaka, kamu janda satu putra."


Kenyataan itu membuat gadis ayu bungkam. Ia pasrah. Sepertinya Mas Rud baru tersadar setelah ia menunjukkan perbedaan di antara mereka.


Mas Rud melepaskan pelukan. Ia beranjak dari ayunan rotan. Pagar pembatas balkon, di sanalah ia menghentikan langkahnya.


"Kamu lihat langit senja itu?" Mas Rud menunjuk pada langit sore yang berwarna oranye.


Seketika pandang mata gadis ayu menitik pada langit. Ia lihat rona jingga membayang jelas di ujung langit senja. Warna yang mengingatkan pada sesuatu yang dulu pernah menghadirkan kenangan indah.


"Lima tahun lalu, senja menjadi kenangan terakhir cinta kita. Kali ini, aku memutuskan hal yang sama. Jika dulu aku pergi tanpa permisi, maka sekarang aku akan berbicara panjang lebar. Dengarkan!" ucap Mas Rud dengan menatap lekat langit yang berwarna pekat.


Dari ayunan rotan, gadis ayu mengangkat badan. Ia melangkah dan menghentikan kaki tepat di belakang Mas Rud berdiri.


"Biarkan aku yang berbicara terlebih dahulu, Mas!" pinta gadis ayu seraya memeluk, melekatkan bagian depan badannya dengan punggung sang mantan. "Aku nggak mau senja ini menjadi senja kedua yang memisahkan kita. Dulu aku sanggup bernapas kembali setelah kamu pergi, tapi aku tidak yakin akan bisa bertahan bila sekarang lagi-lagi kamu tinggalkan. Mas, aku kalah. Aku menyerah. Aku tidak bisa lagi berbohong jika aku mampu tanpamu. Jika kamu bilang aku adalah nyawa hidupmu maka sesungguhnya kita adalah satu nyawa yang terperangkap dalam dua raga. Aku tanpamu tak utuh. Kamu tanpaku meluruh. Kita adalah cinta."


Kalimat berbalut air mata pekat membuat Mas rud ikut dibelenggu haru. Ia tak sanggup berkata-kata. Sekian waktu terjeda tanpa ada yang berbicara.


Senja mulai tenggelam tetapi pelukan tak kunjung dilepaskan justru semakin dieratkan. Tetap dalam kediaman, mereka setia pada posisi hingga tak sadar jika waktu telah lama berputar.

__ADS_1


"Om Rud sama Mama lagi ngapain?"


__ADS_2