
"Hei, boy! Hari ini kamu keren banget. Siapa yang milihin baju?" Mas Rud mengajak Di-junior berbicara selama dalam perjalanan.
"Pilih sendiri dong, Om. Matching 'kan baju kita?" timpal Di-junior seraya mengamati bergantian baju yang mereka kenakan.
Memilih pakaian casual, mereka bergaya ala Korea. Kaos pendek warna putih dan celana selutut warna hitam, kompak mereka kenakan. Tidak lupa sneakers warna putih menjadi pemanis gaya berpakaian. Hanya sesederhana itu, tetapi ketampanan dua insan itu tak terbantahkan.
Mas Rud pun ikut membandingkan. Rupanya, tanpa disengaja pikiran mereka sama. Telepati rasa di antara mereka sepertinya mulai terasah.
"Kita sudah seperti papa dan anak, ya?" celetuk Mas Rud yang segera disangkal oleh Di-junior.
"Uncle Aryan bilang sampai kapan pun papa Di-junior adalah papa Dion."
Mas Rud terkejut dengan apa yang terucap dari putra sang gadis ayu. namun ia terkesiap karena Aryan menanamkan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia pikirkan. Kebanyakan lelaki akan memberi keyakinan jika ia adalah pengganti tetapi abang justru membenamkan dalam bahwa sang papa tak akan terganti. Sungguh sebuah sikap mahal yang tidak akan pernah bisa dinilai dengan uang.
Mas Rud mengulurkan lengan. Jemarinya mengusap pelan puncak surai bocah kecil. Senyum ia kembangkan penuh ketulusan. "Uncle Aryan benar, Boy. Sampai kapan pun papa Dion tidak tergantikan."
"Papa Di-junior cuma satu. Tapi Di-junior bisa punya papi, daddy, ayah, atau bapak."
Mas Rud mengernyitkan dahi. Lelaki kecil itu sungguh ajaib. Pemikirannya benar-benar jauh diatas usianya.
"Uncle Aryan yang bilang," timpal Di-junior seakan tahu apa yang ada di pikiran Mas Rud.
Lagi-lagi semua adalah buah dari pemahaman yang diajarkan si abang. Mas Rud semakin salut dengan lelaki bijaksana yang ia tahu juga menanam rasa untuk gadis ayunya.
"Uncle-mu keren sekali!" puji Mas Rud seraya mengacungkan jari jempol.
Di-junior mengembangkan senyumnya dengan sangat lebar. "Uncle adalah pahlawan, Om. Mama bilang Di-junior harus selalu sayang sama uncle Aryan, karena tanpa dia mama dan Di-junior tidak akan bisa seperti sekarang."
__ADS_1
Ucapan penuh makna yang terlontar dari putra gadis ayunya menghadirkan penasaran dalam kadar besar tentang peran abang dalam kehidupan wanita yang selalu dicintainya tanpa jeda. Mas Rud merasa jika ia pun harus tahu semuanya.
"Benar kata mama, Boy! Kamu harus menyayangi uncle-mu karena papamu dulu juga sangat menyayanginya."
Mas Rud tahu benar bagaimana Dion memberikan kepercayaan kepada Aryan untuk menjadi abang, padahal ia tahu jika lelaki itu juga memiliki rasa pada kekasihnya. Mungkin ketulusanlah yang menumbuhkan benih kepercayaan. Atau memang kedua lelaki itu mempunyai ikatan kedekatan, Tuhan sendirilah yang telah menuliskan. Rahasia takdir agar rasa sakit tidak mengukir di hidup gadis ayu.
"Lalu, apakah papa dulu juga menyayangi Om Rud?" telisik Di-junior yang membuat Mas Rud tak berkutik.
Jawaban yang ingin dia katakan seketika terhambat. Jujur ataukah bohong? Ia terseret dalam gelombang kegamangan. Kisah antara dia dan kedua orang tuanya terlalu rumit untuk dimengerti anak sekecil itu.
"Tentu saja. Apakah mama tidak pernah bercerita?" Jawaban cerdas Mas Rud akhirnya merunut jawaban lagi. Memang ia sengaja untuk mengobati rasa penasaran. Bagaimana rasa gadis ayu padanya, itulah yang ingin dia tahu.
Sayangnya, Di-junior membuat sebuah gelengan. "Om Rud baru kukenal. Tetapi rasanya aku sudah sayang sejak lama. Kenapa begitu ya, Om?"
Mas Rud tersenyum. Meskipun awalnya terdengar pahit karena gadis ayu tak menganggapnya berharga untuk diceritakan tetapi pada akhirnya ia tak bisa menahan rasa senang setelah mendengar sang putra tersayang. Setidaknya begitulah Mas rud menganggap Di-junior, terdengar terlalu percaya diri tetapi seperti itulah hatinya berbicara.
Mas Rud tak ingin banyak berkata sayang. Ia hanya mengusap puncak kepala putra gadis ayu dengan menyempurnakan sunggingan senyum. "Kita akan saling mengenal perlahan-lahan. Oke!"
Di-junior mengacungkan kedua ibu jari. Itu adalah balasan atas permintaan persetujuan yang Mas Rud ajukan. Senyum yang melengkung pun semakin menguatkan jawaban bahwasanya setuju itu tak perlu diberi label ragu.
"Om Rud udah lama kenal sama uncle Aryan?" tanya Di-junior berikutnya.
"Mama Rosa, papa Dion, uncle Aryan dan om Rud sudah lama saling mengenal, Boy."
"Berarti Om Rud kenal papa Dion? Papaku seperti apa, Om?"
Pertanyaan balita pintar itu membuat hati Mas Rud berkecamuk. Dia harus menilai rival dihadapan sang putra kesayangan dari lelaki yang jelas-jelas berada pada segitiga cinta dengannya. Rumit.
__ADS_1
Napas penuh riak-riak luka coba Mas Rud tepikan di sisi paling luar hati yang perih. Dalam kepedihan yang disembunyikan, ia menghela napas panjang. "Papamu seperti malaikat bersayap. Mama selalu bahagia karena ada papa."
"Pantas saja mama sering menangis setelah papa pergi," ungkap Di-junior polos tanpa dia bisa memahami rasa yang bergejolak begitu hebat telah mendera batin sang mama.
"Mungkin mama sedang kangen sama papa Dion, makanya menangis. Berarti sekarang tugas kamu adalah membuat mama bahagia. Paham, anak pintar?"
"Omongan Om Rud sama kayak uncle Aryan. Kalian sekolahnya sama, ya?"
Mas Rud sungguh tertohok oleh pertanyaan-pertanyaan ringan yang Di-junior ajukan. Hanya berupa rangkaian kata sederhana akan tetapi membidik tepat pada sasaran. Kisah rumit yang terjadi di antara dia dan orangtua sang bocah penanya kali ini sedang dikuliti.
"Uncle Aryan bilang apa, Boy?" Kini ganti Mas Rud yang menguliti.
"Uncle selalu bilang agar Di-junior mewarisi sifat baik papa. Selalu menjadi sumber bahagia untuk semua, kapan saja dan di mana saja."
Di-junior berbicara dengan begitu ringan seolah kalimat itu tertanam dengan akar yang sudah kokoh menghunjam.
Mas Rud benar-benar terharu. Niat untuk bercerita kecil justru dihamparkan kisah yang menyentil. Ia seperti buih diluasnya samudra cinta gadis ayunya. Narsis yang ia lukis sedikit terkikis. Ia dibalut ragu apakah rasanya sungguh-sungguh sanggup membahagiakan gadis ayu. Ia melukai begitu dalam sementara dua pria di sisi sang gadis adalah obat mujarab yang dihisap tanpa pernah tersekat.
"Benar kata uncle, Boy."
Hanya pernyataan itu yang bisa Mas rud katakan. Ia merasa sangat egois kali ini. Ia menggaungkan jika cintanya begitu besar hingga gadis ayu pasti bahagia bila bersamanya. Namun ia baru menyadari sebuah fakta bahwa selama ia meninggalkan gadis ayu ada dua pria yang berusaha membahagiakan dengan banyak berkorban.
"Tapi uncle Aryan bisa bikin mama tertawa setelah menangis karena mengingat papa," celetuk Di-junior tiba-tiba.
Helaan napas Mas Rud kali ini disertai mata yang sekejap memejam. Mengingat Dionlah pengobat luka gadisnya, ia sangat merasa bersalah. Penyebutan nama Aryan semakin mengecilkan perannya dalam kebahagiaan sang gadis ayunya.
Apakah ia harus rela menepi untuk membiarkan lelaki itu membahagiakan gadis ayu selamanya?
__ADS_1