
Kata sakit yang terucap dari bibir sang adik, membuat abang tak kuasa menahan bulir bening yang sedari tadi berdesakan di balik sudut matanya. Lelaki itu menangis, meratapi kesedihan sang adik. Mereka tenggelam dalam kesakitan perasaan. Gadis ayu melayu dalam kenyataan yang kejam. Sementara si abang merasakan sakitnya perasaan melihat sang adik yang selalu ingin ia lihat tawanya, kini justru mendera lara.
Gadis ayu dan lelaki pemilik senyum manis itu kini larut dalam pelukan untuk menepikan kalut. Hanya usapan lembut si abang yang menghangatkan punggung sang adik, menjadi saksi bahwa lelaki itu sedikit lebih kuat hati.
"Ayo kita cari obat dari sakitmu!" tawar si abang setelah melepaskan pelukan dan meletakkan kedua tangan di bahu adik tersayang.
Gadis ayu hanya menggeleng. Matanya tetap ia lekatkan pada tatapan si abang. Hanya saja binar yang biasanya berpijar, kini tenggelam oleh kepedihan yang membayang.
"Sakit ini tak perlu diobati, Bang. Biarkan sembuh sendiri," balas gadis ayu sambil menundukkan kepala.
"Keras kepalamu ini yang membuatku gemas, Sa. Sudah tau sakit tapi masih saja menantang perih. Jangan sok kuat kalau pada kenyataannya kamu tahu akan tersayat. Ini hati bukan bakmi, yang bisa kamu tarik ulur dengan lentur. Dia bisa patah."
Gadis ayu melepaskan pelukan si abang. Dia menunjuk meja riasnya. Lelaki yang baru saja memeluknya itu tahu apa yang dimaksud sang adik. Dia beringsut dari duduk.
Melangkah menuju lokasi yang ditunjuk sang adik. Meraih novel itu dengan tangannya dan menimangnya sebentar. "Novel ini aku sita!"
Sebelum sang adik menjawab, si abang memilih pergi. Meninggalkan gadis ayunya sendiri. Keluar dari kamar dengan novel di genggaman. Ancaman abang kali ini ia wujudkan. Membawa pergi sumber masalah yang membuat adiknya merasa perih. Tersakiti oleh cinta yang tak berpihak kepadanya.
🍓🍓🍓🍓🍓
"Ma ... sepertinya Rosa benar-benar terpukul dengan kenyataan yang baru saja ia baca. Aryan bingung harus berbuat apa. Dia ngotot akan kuat padahal jelas sekali jika hatinya rapuh."
Si abang meraup wajahnya dan mengakhirkan tangkupan kedua telapak tangan itu untuk menghimpit hidungnya. Ia embuskan napas panjang dalam mata yang terpejam. Memutar otak agar ia bisa bertindak tepat.
"Mama tahu ... dia pasti sangat kecewa. Ternyata bukan Rud yang tega tetapi pak dhe Haryolah biang keroknya."
Dua orang yang tengah terpaku dalam pikiran itu, saling terdiam. Tak ada yang berniat untuk bicara. Hal pahit yang menimpa kesayangan mereka terasa sangat menghimpit. Ada perih yang memutar kembali, mengiris dalam dan percuma diobati.
"Kalau masih di sini ... dia pasti akan tetap seperti ini," ucap mama dengan raut sendu.
__ADS_1
"Dia ingin pergi setelah menyelesaikan membaca novelnya, Ma. Tapi Aryan gak yakin dia akan sanggup melakukannya. Sekarang saja dia shock, apalagi jika ia semakin mengetahui kenyataan yang selama ini Rud tutupi."
Mama menundukkan pandangan. Pikirannya melayang. "Takdir Rosa terlalu berliku. Cintanya seperti dipermainkan. Mama kasihan tetapi tak bisa melakukan hal yang memberinya kebahagiaan."
"Mama jangan memikirkannya terlalu dalam. Aryan yang akan membuat Rosa kembali tersenyum bahagia."
Obrolan itu pun akhirnya berakhir dengan senyuman walaupun masing-masing hati menyimpan kekhawatiran. Mama segera bangkit, meniti langkah di mana sang cucu berada. Sementara si abang masih bergeming.
🍂🍂🍂🍂🍂
Dalam kamar, sang gadis ayu duduk bersandar pada punggung ranjang. Sorot matanya kosong. Pandangannya hampa. Bekas air mata itu kembali teraliri. Tangis mencair lagi.
Dari pintu kamar yang sedikit terbuka, si abang melihat kepedihan yang dirasakan adik tersayang. Bukan hanya batin gadis ayu yang terbelenggu sendu, rasa lelaki bijak itu pun serasa diacak-acak.
Mencintai tanpa memiliki itu sakit. Namun melihat wanitanya mendendangkan perih, hati lebih teriris. Mungkin itulah yang namanya ketulusan. Cinta abang Aryan yang sudah bermetamorfosis menjadi bentukan kasih sayang.
Dalam keraguan, ia mengayun langkahnya pergi. Sengaja membiarkan gadis ayu lelap dalam cinta yang lenyap karena ulah jahat keluarga dekat. Langkahnya menuruni tangga, berharap gadis itu bisa berdamai dengan hatinya. Memuaskan sesal dan akan bisa menerimanya sebagai takdir Tuhan kemudian.
Satyaku ... aku melihatmu bukan sebagai buah cinta antara Rosa dan Dion. Namun, kamu adalah Dion yang terlahir kembali sebagai Di-junior. Reinkarnasi manusia berhati malaikat yang hadir untuk menepiskan segala rasa getir.
Jika dulu kamu menyelamatkan hati Rosa setelah kepergian Rud, bisakah engkau selamatkan lagi setelah kehadiran lelaki itu kembali? Adaku hanya bisa memberi penguatan untuk Rosamu. Aku tak bisa menyentuh hatinya agar bahagia seperti apa yang dulu kau lakukan padanya. Bagaimana aku harus membahagiakannya?
Ketika abang berkutat dengan lamunan, dering benda pintarnya mengganggu khayal liar itu. Tanpa menunggu waktu, ia mengangkatnya begitu saja. Tak berpindah tempat ataupun melirihkan suara. Ia begitu santai ketika berbicara.
"Apakah kalian yakin tentang apa yang kalian sampaikan?" tanya si abang dengan raut serius.
"Mereka tinggal bersama?" tanya si abang berikutnya.
Helaan napas panjang ia keluarkan. Matanya ia pejamkan, meredam perasaan yang menyiratkan sesuatu yang tidak menyenangkan. Wajah yang tenang itu berusaha tetap ia normalkan meskipun sedang terguncang.
__ADS_1
"Terus pantau! Laporkan padaku sekecil apapun informasi yang kalian dapatkan!" perintah lelaki itu sebelum menutup teleponnya.
Benda pintar itu ia letakkan begitu saja di meja. Netranya lagi-lagi tersudut pada bocah kecil itu. Tawanya yang terus merenyah, justru membuat hati uncle membuncah.
Satyaku ... apakah misi kita akan berhasil? Ataukah kalah oleh tulisan takdir? Uncle ingin mamamu bahagia, sama seperti apa yang kamu inginkan.
"Mas ... tumben ngelamun?" Kristy tiba-tiba saja sudah duduk di kursi seberang meja yang membatasi keberadaan mereka.
Si abang, lelaki dengan penguasaan emosi sangat matang itu cepat sekali bisa membuat dirinya terlihat tenang. "Aku hanya memikirkan mbakmu, Kris."
"Aku takut mbak Rosa akan kembali trauma seperti saat ditinggalkan Mas Dion dulu, Mas."
"Aku juga mengkhawatirkan itu. Tapi sepertinya sekarang ia lebih kuat, hanya masih terguncang saja," terang si abang menenangkan padahal sejatinya hatinya juga gamang.
"Uncle ... antelin ke kamal mama," pinta bocah cilik itu dalam rengekannya.
Seketika lelaki kembaran itu mengayun langkah meninggalkan sang aunty. Menyusuri tangga yang membawa mereka ke lantai dua di mana kamar sang mama dari bocah kecil itu berada. Dari sisi pintu yang terbuka, mereka berdua berdiri di sana. Sama seperti tadi yang dilakukan abang sebelum meninggalkan penghuni kamar itu menangis sendirian.
"Mama," panggil bocah kecil seraya berlari menghamburkan diri.
Gadis ayu meraih sang buah hati ke dalam pelukannya. Tak sanggup berkata, ia hanya menitikkan air mata. Mendekap erat dengan buncahan perasaan yang membuatnya sekarat.
Ia tak ingin menyakiti hati bocah kecilnya. Namun ia juga tak bisa bohong jika hatinya tidak lara mendapati kenyataan menyesakkan tentang cinta yang tiba-tiba menghilang. Dirinya sedang dihadapkan pada langkah yang sulit diputuskan. Karena sejatinya ia gamang.
Si abang memilih berlalu. Membiarkan sepasang ibu dan anak itu menyalurkan kasih sayang yang tulus. Dia kembali ke kamar yang biasa ia gunakan di rumah keluarga keduanya itu. Meraih novel sang gadis ayu di meja yang tadi ia sita.
Di ranjang, ia menimang benda yang sudah membuat hati semua orang terluka. Hatinya ragu, apakah akan ikut membaca ataukah membiarkan saja ia menjadi cerita. Beberapa waktu berlalu, jemarinya mulai tergoda untuk membuka.
🦄🦄🦄🦄🦄
__ADS_1
Mampir yuk di novel kece Syala yaya yang welas asih!