Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Harus Dijawab Apa?


__ADS_3

Panggilan abang membuat Kristy menghentikan jejak yang akan ia buat. Tatapannya mengarah pada seseorang yang ia percayakan sebagai pemilik hati. Dahi mengernyit, karena ia melihat kakak sulungnya bangkit.


"Mas tidak perlu mengantar. Aku bisa pulang sendiri. Istirahat saja!" ucap Kristy seraya menyulam benang-benang senyuman.


"Maukah kamu membantuku?" permintaan abang membuat Kristy didera rasa penasaran.


"Bantuan apa, Mas?" telisik Kristy menghapus rasa haus akan sebuah pemecahan sebuah kasus.


Abang menyibak selimut yang masih menutup bagian bawah tubuh. Perlahan ia beranjak dari ranjang. Lelaki dengan tinggi dua sentimeter di atas Mas Rud itu, berjalan meninggalkan kamar menuju balkon.


Kristy mengekor. Ia bisa membaca jika sepertinya ada sesuatu yang harus ia tahu, oleh karena itu ia menurut. Berdiri bersebelahan, mereka kompak memandang kejauhan.


"Kris, apakah benar sesuatu yang kudengar di rumah sakit?" pertanyaan abang langsung bertitik pada tujuan.


"Memangnya, Mas Aryan mendengar apa?" tanya Kristy santai.


Abang membawa badan pada arah jam sembilan. Kristy yang tepat berada pada sisi kiri, belum bergeming. "Tentang perasaanmu padaku."


Seketika, Kristy menghadap abang. Ia terkesiap, tetapi sigap menata hatinya dengan cepat sehingga ketenangan bisa ia tunjukkan. "Perasaan?"


"Ketika ingatanku salah, telingaku tetap bisa mendengar, dan otakku menyimpan walaupun dalam tahap kebingungan. Namun, saat ingatanku kembali, aku yakin untuk menanyakan ini. Benarkah kamu mencintaiku?"


Kristy tergagap. Ia tidak menyangka jika semua doa yang dia panjatkan dapat tertangkap oleh indra pendengaran abang. "Bagaimana mungkin abang bisa mendengar? Bukankah saat itu abang belum sadar?"


"Aku sudah sadar, hanya saja tertidur. Suaramu membangunkanku. Akan tetapi aku tetap memejamkan mata, karena ingin mendengar kejujuran yang selama ini kuanggap hanya sebagai gurauan," jelas abang dengan sangat gamblang.


"Tetap abaikan apa yang Mas Aryan dengar!" perintah Kristy bersikap seolah santai padahal hati berdegup kuat sekali.


"Aku tidak ingin mengabaikan perasaan seorang wanita yang tulus mencintaiku, Kris."

__ADS_1


Pengakuan abang membuat Kristy tidak berkutik. Jujur ia senang dengan kejutan ini, akan tetapi ia tidak ingin berharap lebih. Ia tahu bagaimana perasaan lelaki yang ia cintai. Dalam keadaan amnesia pun ia mengingat sang kakak sebagai istrinya. Padahal jelas-jelas itu belum terjadi dan bahkan tidak akan sampai terjadi. Namun adanya pembelokan kenyataan cukup menjadi bukti bahwa itu adalah mimpi tertinggi.


"Lebih baik terabai daripada dibalas dengan rasa tidak ikhlas, Mas."


Ada kegetiran yang bersemayam dalam jawaban yang Kristy lontarkan. Ia seolah berbicara jika mencintai sendiri itu lebih baik daripada diberi status palsu.


"Apakah kamu percaya jika obat dari hati yang mencintai sendiri adalah hati yang sama?" tanya abang dengan melembutkan pandang pada adik bungsu dari keluarga Atmadja.


"Aku tidak butuh obat, Mas. Bagiku cinta ini bukan penyakit." Kristy mementahkan kalimat abang.


Abang memerlukan waktu untuk kembali mengetuk kalbu adik bungsu. Wanita satu itu setipe dengan abang, kuat bertahan dalam diam. Bisa menampakkan senyuman dalam segala suasana.


"Lalu, apa yang kamu butuhkan, Kris? Bisakah aku membantumu?"


"Mas yakin?" tanya Kristy memastikan.


"Sangat yakin. Sama seperti saat kamu memintaku bangun untuk mbakmu walaupun sebenarnya aku tahu kamulah yang menginginkanku untuk hidup."


Kristy tersenyum. Ia ingin memastikan sesuatu yang sedari tadi ia yakini tetapi tidak mau mengambil keputusan sendiri. "Mas Aryan sudah ingat semuanya?"


Senyum itu dibalas dengan senyum juga. " Iya, aku ingat jika telah laknat mengakui Rosa sebagai istri. Amnesia aneh. Ini tidak masuk akal. Pantas jika Rud memukul, mungkin dia berpikir aku sedang bersandiwara."


"Ini membuktikan jika Mas Aryan adalah manusia normal. Bibir bisa menyangkal, akan tetapi alam bawah sadar tidak bisa Mas suap." Kristy menepuk pundak lelaki di hadapannya dengan lembut. "Amnesia Mas sangat masuk akal. Jangan takut dimarahi Mas Rud. Calon suami adik abang itu memang cemburuan."


"Kris ... aku malu bertemu dengan Rosa. Aku merasa telah mencederai janji kami. Apakah lebih baik jika aku pergi? Dia tidak akan bimbang dan aku pun bisa merasa tenang."


Dengan cepat Kristy menjawab, "Tidak. Mas Aryan tidak boleh ke mana-mana. Aku akan kehilangan panutan jika Mas menghilang. Mari kita menikmati hati mencintai sendiri."


"Mengapa kalian tidak belajar untuk saling membahagiakan?" papa yang baru saja masuk menyela obrolan dua bersaudara tanpa ikatan darah.

__ADS_1


Dua insan dewasa itu menoleh bersamaan. Mereka kompak menyulam senyuman dan tanpa sadar memberikan jawaban yang sama, "Kami bukan lagi murid, mengapa harus belajar?"


"Karena kalian berdua masih tingkat S, sementara papa adalah profesor cinta."


"Profesor kok jomlo?" sindir abang seraya menaikkan kedua belah alis bersamaan. Ia menatap Kristy untuk mencari dukungan.


"Sepertinya kita seangkatan deh, Pa?" celetuk Kristy untuk menyindir.


Lelaki yang tidak berselisih usia jauh dari sang mama itu memajukan langkah. Beliau meraih masing-masing tangan kanan dari putra-putrinya. Tanpa ragu, dua telapak tangan itu disusun atas bawah. "Kris, Papa melamarmu untuk putra papa yang kurang greget ini. Bersediakah kamu menj-"


Kalimat papa dipotong abang dengan segera. Ia mengulang apa yang baru saja sang papa katakan. "Kris, kita sama-sama tahu bahwa hati kita tidak menyatu. Namun, aku meminta izin padamu untuk memasuki ruang yang kamu tulis atas namaku. Walaupun jujur rasaku padamu belum tersemai, tetapi aku akan menumbuhkannya secara perlahan. Kita hanya butuh waktu. Jadi ... bolehlah aku menganggu waktumu?"


Kristy merasa kehabisan kata. Ditodong cinta oleh kakak sekaligus sang papa adalah hal yang tidak pernah berani dikhayalkannya. Sehingga ketika hal itu terjadi, ia hanya bergeming.


🍁🍁🍁


Berbeda tempat, Mas Rud yang berkeras melangkah walaupun terasa berat, seketika membatu kala ada teriakan yang memanggil.


"Om Rud, tunggu! Di-junior mau ikut."


Perasaannya ingin membatu, tetapi hati kecil tidak sanggup untuk mengabaikan sang putra yang ia cintai. Perlahan ia memutar badan dan berjalan mendekat dengan mendaratkan senyuman. Setelah jarak ia pangkas, lutut ia jatuhkan pada lantai dan lelaki kecil ia peluk dengan penuh kasih.


"Boy ... kenapa terbangun? Om lihat tadi kamu tertidur pulas," ucap Mas Rud seraya menahan gemuruh rasa yang mengikat hatinya.


"Di-junior mimpi kalau Om Rud mau pergi. Jangan, Om!" Kristal bening menitik pada pakaian Mas Rud tanpa henti. Sang putra menangis.


Mas Rud mengusap lembut punggung milik putra sang gadis ayu. Ada gejolak rasa luar biasa yang sedang merebak di hatinya. Bocah kecil membuatnya bergeming. Ada ikatan batin yang terjalin tanpa mereka sadari.


"Sayang, Om mau pulang dulu," balas Mas Rud setelah sekian waktu membisu.

__ADS_1


"Tidak, Papa harus di sini!" timpal Di-junior dengan mengeratkan pelukan.


"Papa?" Mas Rud mengulang panggilan putra kecilnya.


__ADS_2