Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Menuntaskan Perih


__ADS_3

Novel itu berada di tangan gadis ayu. Sekian waktu ditimang-timang dalam keraguan, akhirnya kembali diletakkan. Ingin membaca, tetapi mengingat wanita di samping sang mantan, rasanya ia menjadi enggan.


Dulu ia mengawali membaca karena penasaran. Membuka tabir tentang kisah yang tak jodoh. Kini, saat sang lelaki masa lalunya itu tengah didekatkan dengan jodoh yang lain, ada perasaan yang melintang. Mengganggu kalbu yang tengah ingin bangkit dari rasa sakit.


"Ini hanyalah sequel rasa dalam perjalanan cintamu yang panjang, Mas. Dulu ... waktu ini semua kamu tulis, pasti hatimu sakit. Namun sekarang kamu sedang menulis sequel berikutnya, tentang bahagiamu,.yang berganti menorehkan pahit di hatiku."


Gadis ayu meletakkan lagi novel itu. Ia gamang. Hidup harus terus berlanjut. Namun kenangan harus dituntaskan. Misteri harus diberi waktu untuk menjelaskan diri. Dan itu artinya, novel itu harus selesai dibaca agar ia juga bisa menutup kisah tanpa dipenuhi masalah.


Desah napas, menghias. Melukis dengan pertautan garis membentuk sebait niat untuk menguatkan jemari meraih lembar untuk menuntaskan perih.


Bab. 26 : Tragedi


Pertigaan, sebelum berbelok untuk meneruskan perjalanan, mobil yang kukendarai berhenti sebentar. Ada beberapa mobil dari arah lurus datang dengan kecepatan sedang bahkan ada yang sedang memacu dengan kecepatan tinggi.


"Loh, kok ke kanan, Yah?" tanyaku setelah kendaraan berbelok bukan ke kiri, di mana rumahnya berada.


"Kita melamar ke rumah pak dhenya dulu, baru sama-sama ke rumah calonmu."


"Mengapa tidak langsung ke rumahnya saja, Yah?"


"Rud, papanya sudah meninggal. Jadi wakil orang tuanya yang bisa diajak rembugan untuk mengambil keputusan adalah pak dhenya."


Entah mengapa ada gusar yang tiba-tiba samar mengganggu pikiran. Tak dapat segera kuusir, malah semakin membuat darah berdesir. Sungguh, hatiku benar-benar galau tak menentu.


Jarak yang memang dekat, membuat perjalanan sampai tanpa menghabiskan jam berganti. Pelataran rumah bergaya modern dengan dominasi warna putih itu sudah menampung kedatangan kami.


"Tenanglah, Rud! Berdoa saja semoga semuanya dimudahkan," ujar Om Seno.


Dia adalah Adik ipar Ayah yang memiliki public speaking yang mumpuni sehingga dimintai bantuan sebagai penyampai pesan akan tujuan kedatangan kami nanti. Selain itu dia juga kenal akrab dengan keluarga pak dhe Haryo sehingga kami pikir semua akan sedikit lebih mudah.


Kuulaskan sebuah senyuman untuk penguatan yang diberikan oleh om Seno Nugroho. Walaupun sebenarnya hatiku berdendang tak karuan tetapi sekuat hati kucoba untuk tetap tenang. Terus melafalkan doa agar dia bisa kuperistri secepatnya.


Pintu rumah yang terbuka satu sisi daun pintunya, memudahkan kami untuk tahu bahwa kehadiran kami sudah ditunggu sang pemilik kediaman. Dengan senyum yang tak bisa kusebut ramah, kami dipersilakan masuk ke rumah.


Aku, ayah dan om Seno duduk sejajar di sofa panjang yang berseberangan dengan single sofa milik pak dhe Haryo. Sementara Bunda duduk berdekatan dengan bu dhe Haryo.

__ADS_1


"Jadi ... maksud kedatangan kalian adalah untuk melamar keponakanku?" selidik pak dhe Haryo dengan seringai tawa yang membuat perasaanku tak enak seketika.


"Iya, Mas. Anakku dan keponakan Mas sudah menjalin hubungan beberapa bulan terakhir. Daripada menjadi fitnah lebih baik mereka segera menikah. Bukankah begitu, Mas?" ucap ayah dengan mengembangkan senyum di akhir kalimatnya.


Pak dhe Haryo memperlihatkan senyum miring. Tembakau di jarinya itu ia hisap dan asapnya ia kebulkan ke atas. Kesongongan yang membuat firasatku semakin tak enak.


"Apakah Mas Sasmita tidak pernah mendengar jika anaknya Mas Sastro telah dijodohkan dengan keponakanku?"


Asap itu kembali ia kebulkan dengan gaya sangat menyebalkan. "Aku rasa Mas Sasmita sudah tau semua itu ... jadi ... apa aku masih perlu menjawab untuk menolak?"


"Mas Haryo ... kami tahu soal perjodohan yang diminta oleh keluarga Mas Sastro. Namun ... kami berani melamar keponakan Mas, karena kami tahu jika keponakan Mas telah berkali-kali menolak perjodohan itu. Dan juga putranya Mas Sasmita dan putrinya almarhum Mas Atmadja sudah lama berpacaran," terang Om Seno panjang lebar.


Seringai tawa memecah suasana yang makin memanas. Aku menatap Bunda, dengan tatapan teduhnya beliau memintaku bersabar. Kuhela napas mendalam ketika pandangan sengaja kutundukkan.


Ya Allah ... luluhkan hati pak dhe Haryo. Mudahkan niat hamba untuk menghalalkannya. Hanya ini saja permohonanku, Ya Allah. Jadikan dia milikku.


Lagi-lagi, tawa sinis terus menggelontor dari bibir lelaki paruh baya itu. "Pacaran? Putuskan!"


"Mas ... kami ke sini untuk meminta izin melamar karena menghormati pa**njenengan sebagai wakil dari almarhum Mas Atmadja. Namun ... jika Mas tidak memberikan restu, maka kami akan datang langsung ke keluarga Atmadja," ucap ayah dengan tegas.


Suara lantang yang berasal dari luar itu datang dengan ancaman. Kami semua menyambut kedatangannya dengan geram. Rasanya ingin kuhajar tetapi aku masih bisa menahan sabar.


Lelaki itu duduk di sisi kanan pak dhe Haryo. Dengan gaya bos besarnya, dia silangkan kaki dan mengulurkan tangan di sandaran sofa. Sangat mengesalkan melihat semua yang dia pertontonkan.


"Gentle-lah sebagai lelaki, Di! Jangan mengancam dengan kekuasaan. Kita perebutkan hati Rosa tanpa kecurangan!" ucapku tegas penuh penekanan.


"Berani kamu mengaturku? Hei, Rud! Apa kamu sudah bosan hidup enak? Menentangku berarti sudah siap kehilangan kesenanganmu!" balas Ardi sambil berdiri dan mengarahkan jari telunjuknya padaku.


Hati yang sudah memanas, membuat amarahku menguasai lebih dalam. Segera kuberanjak berdiri dan mendekat ke arahnya. Menunjukkan jika aku berani memberikan perlawanan.


"Lakukan semaumu, tapi akan kupastikan jika malam ini juga kamu akan kehilangan semuanya!"


Om Seno mendekatiku. Menahan tangan yang sudah siap kulayangkan. Hatiku geram.


"Ardi ... masalah hati tidak akan bisa kamu paksa. Kekuasanmu dan hartamu mungkin bisa membeli semuanya, tapi tidak dengan cinta. Ambil semua harta kami, tapi Ayah akan tetap melamar Nak Rosa untuk Rud. Tidak apa Ayah kehilangam semuanya, asalkan anak Ayah bahagia."

__ADS_1


Hatiku berdenyut mendengar penjelasan ayah. Lelaki yang kupikir tidak merestui sepenuhnya itu justru rela berkorban tanpa batas.


Maafkan Rud, Yah karena sudah berburuk sangka.


"Silakan itu Om lakukan! Besok pagi jangan shock jika perusahaan Om, sudah Ardi ambil alih."


"Lakukan saja! Sekarang juga kami akan melamar langsung ke kediaman keluarga Atmadja," ucap Ayah tanpa mengenal kata gentar.


"Hentikan niat kalian!" perintah pak dhe Haryo seraya ikut berdiri setelah sedari tadi duduk santai dengan lintingan yang disesapnya tanpa henti.


"Ardi akan menghancurkanmu dan aku pastikan akan mengambil alih aset keponakanku jika kalian tetap melamarnya."


Seketika aku melemah. Kehilangan harta, ayah rela, tetapi aku tak akan bisa jika dia yang menderita. Benar-benar kekuatan yang kurang ajar. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan segalanya.


Ayah berusaha menjaga ketenangan emosinya. "Mas Haryo ... pikirkan sekali lagi ancaman yang sudah pa**njenengan ucapkan. Rosa itu ibaratnya putri jenengan sendiri. Menghancurkan dia sama saja adalah kehancuran masa depan panjenengan."


"Kamu tidak usah mengajariku! Pulanglah dan jangan berani punya niatan lagi untuk melamar keponakanku. Jika kalian bersikeras, aku akan segera bertindak."


"Yah," panggilku lirih.


"Kita pulang dulu, Rud. Kita akan membicarakannya di rumah."


Permintaan ayah mau tak mau kuturuti. Demi ketenangan semua orang, kami memilih mengalah untuk memikirkan langkah selanjutnya yang akan kami ambil. Sebelum melangkah kutajamkan pandangan pada Ardi. Raut wajah kemenangan yang ia tunjukkan, membuat emosiku kembali mendidih.


"Terimalah Rud, Rosa akan menjadi milikku! Gadis yang sempat kau belai itu akan aku nikmati sebentar lagi," ucapnya sambil tersenyum miring.


Amarahku tak lagi dapat kubendung. Sebuah pukulan kuberikan pada wajahnya yang sangat menjengkelkan. Bukan sekali tetapi dua bahkan tiga kali. Terpaksa kuhentikan ketika ayah dan om Seno menahan.


"Sedikit saja kau sentuh dia, maka aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri!"


❣❣❣❣❣


Mampir yuk ke novel anggota gank somplak!


__ADS_1


__ADS_2