Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Perjuangan Awal Mendapatkan Hatimu


__ADS_3

Bab. 9 : Merayu Cintamu


Senin, awal hari yang menjadi saksiku memperjuangkan cinta. Tak ingin menyerah begitu saja menghadapi saingan dari seorang lelaki yang masih terikat tali persaudaraan. Aku tak rela cinta pertamaku kandas begitu saja. Cinta ini harus menemui pemiliknya. Keyakinanku terpatri kuat, bahwasanya seorang Rosa hanya tercipta untuk Rud saja. Siap menghadapi segala halangan dan rintangan yang akan terbentang di sepanjang jalan.


Ketika waktu belum menyentuh angka tujuh pagi, aku sudah standby di ruang tamu kediaman Sasmita Dinata. Menjemput putri sulungnya, itulah yang sedang kulakukan. Aku memang datang tanpa pemberitahuan, sengaja mengejutkan.


"Kok, di sini? Nyari siapa?" tanyanya saat baru saja menemuiku.


"Nona Rosa ada, Mbak?" gayaku mengikuti alur yang dia buat.


"Sepertinya Anda salah alamat, Tuan. Silakan undur diri! Karena Saya akan segera pergi," pintanya dengan gaya ramah yang dibuatnya.


Aku ikuti langkahnya yang beranjak keluar melalui pintu utama. Berjalan ke arah parkiran dan meraih pergelangan tangannya. Membelokkan arah menuju mobilku berada. Membuka pintu dengan menekan sebuah tombol dari benda kecil yang kupegang. "Silakan masuk, Nona!"


"Kamu sopir baruku?" celetuknya santai.


"Iya, sopir hatimu," timpalku dengan kerlingan manja.


Dari lirikan di sudut mata, kudapati ia tengah menahan senyumnya. Skakmat, Rud. Rayuan kecilmu memperlihatkan hasil. Lanjutkan! Buat dia semakin klepek-klepek dengan cintamu. Bertekuk lutut dalam buaian kasih dan belaian sayang.


"Udah sarapan, belum?" tanyaku mengawali trik pedekate.


"Aku udah kenyang makan rayuan kecilmu barusan, Mas," balasnya dengan senyum menggoda.


"Aku belum kenyang, rayu aku dong!"


Dia memicingkan penglihatannya. Sedikit memutar tubuh ke arahku. "Mas, kamu meriang? Jablay?" sindirnya tanpa ragu.


"Aku menunggu belaian kasih sayangmu," ucapku to the point.


"Gak malu, Mas? Ganteng-ganteng tapi gak jual mahal," tohoknya yang membuatku justru dilambungkan. Tak apa jual murah jika itu di hadapannya. Biar segera disambar. Satu poin penting lagi, dia mengakui kegantenganku. Ah, senangnya.


"Gak boleh jaim kalau di depan pacar, itu," ucapku yang lagi-lagi meronakan pipinya.

__ADS_1


Belum nembak udah berani bilang pacar. Rud ... Rud ... gilamu semakin akut! Nyatanya dibilang begitu dia juga suka. Bukankah itu berarti jika dia juga memiliki perasaan yang sama?


"Pacar apa 'an, 'sih?"


"Kuraih jemarinya dan menautkan erat dengan jemariku. "Aku dan kamu seperti ini."


"Kayak mau nyebrang, ya, Mas?"


Menoleh dengan menyunggingkan senyuman penuh rayuan maut. "Memang, kita akan menyeberangi lautan percintaan bersama. Bergandeng tangan, menyatukan hati dalam janji yang akan kita patri sebelum janji suci menjadi ikrar abadi."


Jemariku masih rapi dalam genggamannya. Bukan melonggar tapi justru semakin erat. "Gombal banget 'sih, Mas?"


Rosa ... Rosa ... Rosa ... aku gombalin kamu juga suka. Wanita itu munafik, lelaki bermulut manis dibilang modus. Namun percayalah jika kaum hawa menyukainya, lebih dari itu mereka mendambanya. Memiliki seorang lelaki sepertiku dijamin tidak rugi. Wajah menawan dan mulut selalu menebarkan pujian.


Tak terasa perjalanan panjang melewati kemacetan sudah berhasil kami lewati. Mobilku sudah terparkir manis di halaman kantor. Tangannya berusaha menekan tombol untuk melepaskan seat belt-nya. Sebelum keluar, dia memutar tubuh ke arahku.


"Makasih ya udah jadi sopirku pagi ini. Gratis, kan?" ucapnya sambil melambaikan tangan dan turun begitu saja.


"Emang kuat bayar aku?" ejekku melangkah mendahuluinya masuk ke dalam lift.


Dia berdiri menyejajariku. "Kamu lelaki bayaran?" balasnya bikin aku semakin gemes ingin memakannya.


Berharap terus berdebat tapi dia malah terjerat dengan pesona Maya dan Rendra, sahabatku yang keparat.


"Cie ... udah berangkat berdua aja, kapan ke KUA?" ejek Rendra dengan senyum nakalnya.


"Sekarang juga bisa," timpalku seraya meliriknya yang bodo amat dengan candaan kami.


Gadis ayuku memang benar-benar berbeda. Biasanya aku yang mengabaikan rayuan kaum hawa sepertinya sekarang aku kena batunya. Namun itu tidak kupermasalahkan. Takluk. Aku yakin sebentar lagi dia akan bertekuk lutut. Sama sepertiku yang sudah terjatuh dalam cinta yang sebentar lagi akan menjadi milik kami berdua.


Menyadari tak mendapatkan tanggapan, Rendra menggunakan matanya untuk mengode Maya. Seperti diikatkan telepati, gadis incaran itu mendekati Rosa dan menepuk bahunya. Yang mendapatkan sentuhan mengangkat pandangan dari benda pintarnya.


"Kalian mau ke KUA? Nanti aku antar!" celetuknya dengan senyum tanpa dosa.

__ADS_1


Kuusap kepalanya dengan gemas. Tubuhnya kudekatkan dan meraih dalam pelukan. "Kita yang akan ke KUA, Sayang."


Tatapan tajamnya langsung menghujam. Kernyitan keningnya melukiskan dengan jelas bagaimana sebuah tanda tanya besar tengah bergelayut manja di otak cerdasnya. Terfokus mencari sebuah jawaban hingga ia tidak sadar masih tenggelam dalan pelukan. Kunikmati detik ini, kesempatan dalam ketidaksadaran itu jangan dilewatkan. Sayang.


"Mas, perlu aku tampar biar sadar?" ucap jahatnya yang sungguh membuatku semakin sayang.


Maya dan Rendra yang mendengarnya terbahak dengan kepuasan sempurna. Aku? Tetap berada pada posisi yang sama. "Tampar aku dengan bibirmu, Sayang."


"Tutup mata ... tutup mata!" seloroh Maya yang kemudian ditimpali sindiran oleh lelaki gombalnya itu.


"Mau nampar tapi tenang banget tuh dalam pelukan."


Sindiran sudah dilayangkan tapi gadisku itu tak juga tersadar. Benar-benar sebuah keberuntungan. Nikmat mana lagi yang bisa aku elakkan? Sanggupkah aku menolak pemikiran jika Tuhan sengaja menuliskan ini tanpa cela? Indahnya jatuh cinta itu nyata.


Pintu lift yang terbuka akhirnya mengakhiri pelukanku di tubuhnya. Ia melenggang pertama meninggalkan kami bertiga. Tak apa, pagi ini asupan vitaminku sudah cukup lengkap. Sehat jiwa raga.


__________________________________________________


"Kurasa kamu yang sekarang makin gak sehat, Sa?" ujar lelaki tampan yang sedang menyerahkan sebutir benda kecil disertai segelas air putih.


"Vitamin ini membuatku sehat," balas sang gadis ayu setelah meminum butiran yang tadi diterimanya.


"Perlu aku bawakan vitamin yang lebih menyehatkan?" tawar lelaki itu dalam tawa.


"Vitamin yang kamu maksud sudah kadaluarsa, Pak."


"Tak ada kata kadaluarsa untuk sebuah rasa. Apalagi rasa itu milik Rud dan Rosa. Bukankah begitu, adik Abang?" ujar lelaki dengan pemikiran sangat matang itu.


Mungkin memang benar begitu. Namun untuk mengakuinya bukan hal yang mudah. Ada hati lain yang ingin ia jaga. Hati dari seorang lelaki yang memiliki status resmi. Meskipun telah terpisah dunia, tapi keindahan kebersamaan bersamanya tak akan bisa dilupakan begitu saja. Cinta itu masih bertahta.


"Menerima cinta yang baru bukan berarti kamu melupakan yang sudah tiada. Naluri manusia, selalu ingin dicinta dan mencinta. Dan itu tidak dosa."


"Tidak sekarang dan mungkin tidak untuk selamanya," tegas gadis ayu itu dengan tatapan yang susah diartikan. Kejujuran yang disembunyikan. Kerapuhan yang dikamuflasekan dengan sebuah senyuman. Gadis itu tak pernah berubah, selalu pintar membohongi perasaan.

__ADS_1


__ADS_2