Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Telepati Rasa


__ADS_3

Cinta adalah rasa. Sedalam bibir menyangkal jika hati masih menyimpan maka alam bawah sadar akan membongkar. Waktu tidak akan menghapus cinta yang tulus.


Eratnya pelukan antara gadis ayu dan sang mantan adalah perwujudan jika cinta itu tak lekang dimakan waktu. Siapa yang memandang pasti tau bagaimana rasa di antara mereka itu sangat luar biasa.


Di ujung sana, tiga nyawa sedang memperhatikan dua insan yang belum juga melepaskan pelukan. Seperti adegan dalam drama romantis, mereka larut dalam rasa dan mengabaikan sekitarnya.


"Kita pulang dulu aja," ajak si abang kepada sang adik dan keponakan tersayang.


Kristy mengiyakan seraya mengambil alih sang keponakan dari gendongan si abang. Ketiga insan itu berjalan menuju parkiran. Meninggalkan gadis ayu yang masih tergulung dalam rindu.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Bagaimana kabarmu?" tanya sang lelaki yang tak lain adalah Mas Rud, ketika gadis ayu melepaskan pelukan secara perlahan.


Sentuhan yang belum sepenuhnya dilepaskan, masih menyisakan jemari dalam genggaman. Tatapan lembut yang saling bertautan, seolah memutar cerita tanpa harus berbicara. Dua insan itu kembali membisu.


Gadis ayu tersadar dari ketidakkuasaannya bermain di alam bawah sadar dalam waktu yang panjang. Ia menepis jemari Mas Rudnya. Dalam tatap yang ia ulur kemudian dilepas, langkah kaki gadis ayu melaju. Meninggalkan lelakinya yang masih menatap dengan lekat.


"Jangan tinggalkan aku sendiri!" Tiba-tiba saja Mas Rud sudah berjalan menyejajari dan jemari gadis ayu ia genggam lagi.


Tepisan, kembali gadis ayu lakukan. "Jangan kembali!"


"Kali ini aku akan memaksa kembali."


"Kembalilah pada Lyca! Jangan sembarangan meninggalkan wanita! Sakit itu tak bisa diobati dalam waktu sebentar," tegas gadis ayu dengan tatapannya yang berubah tajam menghujam.

__ADS_1


Tak ingin memaksa, Mas Rud melepaskan genggamannya. Sejenak ia biarkan milik yang pernah ia tinggalkan. Namun itu tak berlangsung dalam waktu yang lama. Kembali ia kejar gadisnya.


Pintu taksi sebelah kiri yang baru saja ditutup gadis ayu, bertepatan dengan pintu sebelah kanan yang dibuka sang mantan. Perintah untuk jalan membuat mereka akhirnya lagi-lagi bersama. Keinginan gadis ayu untuk turun terhalang hujan yang tiba-tiba saja datang. Mungkin Tuhan tak mengizinkan mereka berpisah.


Gadis ayu membelokkan tatapan pada jendela kaca di sisi kirinya. Menjatuhkan pikiran dalam lamunan hingga tak sadar jika jemarinya kembali dalam genggaman lelaki di samping kanan. Entahlah, bagaimana gejolak rasa yang sedang menyerang mereka berdua.


Sepanjang jalan tak ada kata yang terucap. Hanya saja genggaman terus melekat. Gadis ayu tak sedikit pun menatap. Sementara Mas Rud tiada henti memandang dengan pekat.


Khayal mereka sama-sama melayang. Bertemu di suatu tempat yang tak bisa ditemukan otak. Dalam kuatnya telepati, mereka saling menimpali.


"Maafkan, aku!" Kata pertama yang keluar dari bibir Mas Rud, gadis ayu tak menyambut.


Terlalu dalam luka, meskipun jelas terlihat bahwa cinta itu lebih pekat. Ada pertahanan yang coba ia dirikan mengingat seseorang yang jauh di ujung sana adalah pemilik lelaki yang kini di sampingnya.


"Aku akan membawamu kembali."


Mas Rud tahu betul apa maksud gadis ayu. Ia sadar jika kesalahannya telah membuat cintanya menjadi semu di hati gadis itu. Meskipun semua orang melihat bahwasanya rasa itu ia endapkan di dasar relung kalbu.


"Kamu adalah alasan mengapa aku masih hidup sampai sekarang. Bagaimana mungkin aku akan melepaskan napas yang harus terus kuhirup? Apa masih perlu oksigen buatan, jika aku bisa menemukan udara yang bebas kuhela selama yang aku bisa? Sa, berilah aku kesempatan!"


Rapuh. Air mata gadis ayu meluruh. Kalimat lelaki itu membuka ingatan tentang novel yang belum lengkap ia baca. Namun, kenyataan tentang status, membuat rasa itu sedalam mungkin ia pupus.


Sebelum sang mantan menemukan kristal beningnya, gadis ayu menyeka dengan tangan kiri. Suara ia buat tegar seolah hatinya sekuat batu karang yang tiada henti diterjang ombak yang selalu datang. Ia tak mau larut dalam kalut sehingga hati yang sudah ia tata rapi akan berserakan lagi.


Cukup!

__ADS_1


Mas Rud pernah melambungkan asanya. Namun kemudian menghilang tanpa jejak. Jangan sampai itu menjadi cerita berulang dalam sejarah hidupnya. Mengingat ada Lyca, wanita yang kini harus ia jaga hatinya.


"Aku dan kamu, bukan Mas Rud dan Rosa lima tahun yang lalu. Waktu sudah membawa cinta yang lain di hati kita. Jangan sampai keegoisan membuat semakin banyak orang yang terluka."


Mas Rud membawa tautan jemari mereka ke dada. "Rasakan!"


Gadis ayu mencoba menarik jemari. Namun lelaki itu tetap menahan. Ia justru mengeratkan sentuhan.


Debaran yang menggantung pada jantung sang lelaki masih ia kenali. Sama seperti dulu. Di mana cinta indah itu menjadi milik mereka seutuhnya. Degup yang meletup-letup, membuka katub dari bilik-bilik yang tak mampu menyembunyikan luar biasanya cinta yang menggelora.


Degup liar itu tak sedikit pun menjinak. Kecepatannya justru semakin kencang. Seolah ia tetap mengejar waktu yang sudah jauh meninggalkan.


Kedalaman rasa yang masih gadis ayu kenali lewat bersatunya jemari mereka, mengalir juga di jantungnya. Saling berpacu yang tak akan bisa ia abaikan jika itu hanya sekedar kepalsuan.


Helaan napas panjang gadis ayu buang. Membiarkan waktu lama terjeda sebelum ia memulai berbicara. "Mas ... jangan mengusik rasa yang sudah kuletakkan pada tempatnya. Suamiku adalah pemilik yang tak akan terganti. Ia akan terus bertahta di hati sampai aku mati."


Mas Rud sengaja membiarkan gadis ayu meluapkan rasa yang bersemayam di hatinya. Kebersamaan mereka yang hanya sekejap bukan berarti ia tak bisa memahami bagaimana sifat gadis ayu. Wanitanya itu berhati lembut walaupun sekilas nampak ketus.


"Jagalah juga hati Lyca. Kembali padanya! Kita adalah rasa yang harus berhenti sebelum tujuan di hadapan."


Mas Rud perlahan melepaskan apa yang ada di genggaman. Ia menggeser tubuhnya hingga mereka berdua sama-sama menempati ujung kursi. Mata saling dijatuhkan pada hujan yang berapa pada titik berseberangan.


Air mata langit itu membuka pikiran gadis ayu. Ingatan masa lalu dibangunkan tentang hujan yang menjadi titik balik rasa yang akhirnya menghujam tajam. Sesungguhnya ada kecewa saat lelaki itu memilih menjauh.


Wanita memang selalu ingin dimengerti. Bahasa kalbunya harus dipelajari lewat telepati cinta.

__ADS_1


Dua insan itu tetap bertahan dalam kediaman hingga taksi berhenti di depan gerbang rumah gadis ayu. Mas Rud mengulurkan beberapa lembar alat pembayaran dengan nilai tertinggi sebelum gadis ayu melakukan terlebih dahulu.


Hujan seolah ikut menyempurnakan keadaan. Derai yang sudah terlerai, membuat gadis ayu keluar tanpa takut kebasahan. Tak ada kata perpisahan. Mata pun tak mau saling memandang. Hanya hati yang tak bisa dibaca sedang berkata apa.


__ADS_2