
Si abang melepaskan pandang dari novel yang dibacanya. Rupanya rasa sesak ikut menjejaki hatinya. Kisah yang ia baca begitu dalam menceritakan kepedihan. Hingga, ia yang hanya orang luar ikut merasakan perih dan hatinya merintih.
Sa ... kamu beruntung. Dikelilingi oleh lelaki-lelaki tangguh yang meskipun harus terluka ia rela asalkan bahagiamu tetap tercipta. Kupikir hanya Dion malaikat cintamu, ternyata Rud pun tak kalah menjadi pejuang sejati.
Pengorbanan hatiku tak ada apa-apanya dibanding mereka berdua. Aku malu.
"Mas Aryan ... melamun?" tegur Kristy yang kebetulan lewat di ruang santai.
"Aku membaca ini, Kris," jelas lelaki bertubuh tinggi itu seraya mengangkat novel yang ada di tangannya.
Adik kedua dari si abang memilih mendudukkan diri. Sofa di sebelah Mas keduanya, di sanalah ia berada. "Ada cerita apa? Mengapa Mas Aryan sepertinya sampai tercengang begitu?"
"Kris, aku pikir seharusnya Rosa dan Rud itu berjodoh."
Kristy menghela napas sebentar. "Jodoh itu yang seperti apa, Mas? Adakah jodoh kedua dalam satu fase kehidupan?"
"Entahlah, Kris. Jodoh itu misteri," si abang memberikan jawaban dalam keraguan.
Sepasang kakak beradik itu, tak lagi meneruskan pembicaraan tentang jodoh. Karena mereka juga belum merasakan sendiri bagaimana ajaibnya Tuhan mempertemukan mereka dengan seseorang yang dikatakan sebagai tulang rusuknya.
💐💐💐💐💐
"Sa ... ngebakmi, yuk!" ajak si abang seolah gadis itu tak dirundung pilu, berbicara seperti biasa agar gadis ayu bisa kembali ceria.
Sang adik yang tak menjawab, sedikit pun tak mematahkan asa si abang untuk terus membuat gadis ayu kembali tersenyum. Ia goda adik tersayangnya dengan keusilan. Meski tawa belum tercipta, akan tetapi ajakan itu mengusik kediamannya.
"Bang, jangan berantakin rambutku!" omel gadis ayu seraya merapikan puncak rambutnya yang diacak pelan oleh si abang.
"Masih peduli sama penampilan?" goda si abang kembali membuat rambut adiknya berantakan.
Sang adik memukul paha si abang. "Bang!"
"Apa, sih? Jangan mukul-mukul! Kalau dilihat Satyaku nanti jadi contoh buruk," ujar si abang dengan tenang.
"Mumpung dia gak ada," timpal gadis ayu seraya melayangkan lagi satu tinjunya di tempat yang sama.
Akhirnya, tujuan si abang sampai pada hal yang dia inginkan. Sang adik bisa mengubah ekspresinya. Raut sedih itu sudah beralih menjadi kesal.
"Mama," panggil bocah kecil yang baru saja mereka bicarakan.
__ADS_1
Berdiri di pintu yang terbuka, Satya kecil memamerkan senyumnya. "Mama marah sama uncle?"
Bukannya menjawab, gadis ayu justru menolehkan pandang. Menelisik raut dari si abang yang memerlihatkan senyum yang ditahan setelah ketahuan gadis tersayang. Sekali lagi, dia memukul paha abangnya dengan geram.
"Uncle-mu nakal, Sayang."
"Mama harus minta maaf sama uncle!" perintah Di-junior dengan tegas.
"Uncle yang harusnya minta maaf sama mama, Sayang," Gadis ayu memutar kalimat sang putra.
"Yang memukul siapa, Mama?" tanya bocah cilik itu yang membuat gadis ayu tak berkutik.
"Anaknya aja pinter, Mamanya ..." sela si abang seraya tersenyum mengejek.
Gadis ayu melirik tajam si abang. Paha itu kembali mendapatkan sentuhan dengan kekuatan. Si abang meringis tapi tetap memerlihatkan senyuman.
"Kok mukul lagi sih, Ma? Ayo, minta maaf!" perintah terulang untuk kali kedua.
Gadis ayu menghela napasnya kasar. Putranya begitu pintar. Hingga dia tak kuasa untuk melawan karena permintaan itu sepenuhnya benar.
Seketika gadis ayu mengulurkan tangan pada si abang. Tanpa memandang ia mengucap kata maaf. Senyum dia tujukan pada sang putra bukan pada si abang tersayang.
Dengan ogah-ogahan, sang adik memasrahkan wajah pada si abang. "Uncle ... maaf. Aku sengaja," ujar sang adek dengan melirihkan suara.
"Apa?" si abang sengaja menggoda. Padahal ia tau jika sang adik melakukan itu karena sebal dan agar Di-junior tidak mendengar.
Gadis ayu nampak makin geram. Namun si abang justru tersenyum lebar. "Uncle ... uncle yang baik tapi jomblo ... maaf."
Si abang sengaja tak segera memberikan jawaban. Ia sedang mengulur waktu agar sang adik semakin menggerutu. Itu lebih baik daripada melihat wanita di depannya itu terdiam dalam kesedihan.
Di-junior yang merasa jika kedua orang dewasa di hadapannya tak serius melakukan perintahnya, memilih masuk dan mendekati mereka. Ia ambil tangan mamanya dan menautkan dengan tangan sang uncle. Bocah cilik itu tersenyum dan kemudian kembali ke posisi semula.
Dua orang yang dikuasai oleh bocah cilik itu akhirnya saling mengulum senyum.
"Dia tak seperti anak balita," celetuk si abang dengan senyumnya.
"Bakmi ... bakmi ... bakmi ... uncle, ayo makan bakmi!" teriak Di-junior dengan gaya bocahnya.
Gadis ayu menunjuk sang putra tetapi tatapannya menghujam si abang. "Kalau kayak gitu, baru ... balita beneran."
__ADS_1
"Kalian nyetakinnya pakai ramuan apa sih bisa sengegemesin itu?" timpal si abang.
"Rahasia. Nanti abang curi resepku. Pusing aku punya ponakan semodel sama Di-junior," celetuk sang adik yang dibalas acakan rambut oleh si abang.
"Pelit."
"Biar aja, pelit asal tetep cantik."
"Pede banget bilang cantik."
"Aku emang can--" Pengakuan sang mama dipotong oleh putra tersayangnya.
"Mama ... uncle ... jangan kayak anak kecil! Ayo, kita kemon!" teriak Di-junior dengan tak sabar.
"Anak kecil teriak anak kecil," goda sang uncle seraya mendekat ke arah sang keponakan dan menggendongnya dengan penuh kegemasan.
Gadis ayu memerhatikan dua Satya-nya yang sedang bercengkerama. Senyumnya tersungging sempurna menampakkan bahagia yang mencuat dengan tulusnya. Lupalah ia akan lara yang beberapa waktu kebelakang menyiksanya.
Tuhan ... terimakasih. Engkau hadirkan abang untuk membuat putraku bahagia secara sempurna. Tanpa Papa dia tetap tercukupi cinta dari uncle-nya. Bahagiakan dia juga.
💟💟💟💟💟
"Yangti ... Di-juniol mau jalan-jalan dulu, ya. Assalamualaikum," pamit bocah cilik yang kini tengah duduk manis di motor yang dikendarai oleh sang uncle dan sang mama yang duduk di jok belakang.
Eyang dan aunty-nya ikut tertawa bahagia melihat tingkah lucu bocah kecil itu. Kabut pekat kesedihan yang tadinya menyelimuti kakak perempuan sulung keluarga itu, sepertinya juga telah memudar. Semua karena Duo Satya.
"Mereka seperti keluarga kecil yang bahagia ya, Ma?" celetuk sang aunty.
"Jika tidak hanya seperti, kita juga akan sangat bahagia ya, Kris?" timpal sang mama yang kini lebih akrab disapa yangti.
"Mas Aryan kok bisa setulus itu ya Ma sama mbak Rosa?" selidik Kristy tak habis pikir dengan cinta si abang yang berubah jadi kasih sayang.
"Mama juga gak habis pikir, Kris. Anak itu terlalu baik. Demi mbakmu dan keponakanmu, dia rela menunda kebahagiannya."
"Semoga mereka berjodoh, Ma."
Sang mama terdiam sebentar. "Aryan ingin mempersatukan mbakmu dan Rud."
Kristy yang nampak terkesiap sontak mengernyitkan dahinya. "Mama serius?"
__ADS_1