Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Berharap


__ADS_3

Sanggupkah aku membuatnya bahagia?


"Kamu sudah membahagiakanku, Bang."


Genggaman tangan perlahan membuka mata abang yang terpejam. Netra kedua bersaudara itu bertemu pandang. Saling bicara meskipun tanpa suara.


"Rosa," sebut lirih si abang sembari mengerjapkan mata.


Sang adik melukiskan senyum dari kedua ujung bibir. Sangat manis hingga si abang ikut mengembangkan senyumnya. Berdua saling mengumbar senyuman, sayangnya perlahan wajah ayu itu menghilang.


Si abang terkesiap. Sejenak ia memaku dan sebentar kemudian ia hela napasnya memanjang. Ia memilih beringsut dan terduduk. Menata rasa atas mimpi yang dialaminya. Bunga tidur yang cepat datang dan sirna sekejap kemudian.


"Apa arti dari mimpi tadi?" tanya abang sambil meraup wajahnya perlahan.


Jam dinding yang berada di ruang keluarga itu ditatap si abang. Waktu yang masih menunjukkan pertengahan malam, membuatnya kembali mengembuskan napas kasar.


Tubuh lelahnya kembali ia biarkan merebah. Kedua lengan ia sedekapkan dan pikiran dibawa melayang. Mengingat mimpi singkat yang membuatnya diserbu tanda tanya pekat.


Rupanya sanubari si abang merasa tak tenang. Ia tak bisa bersandiwara untuk segera melelapkan dirinya. Pilihan untuk bangkit sekejap kemudian ia rakit. Meninggalkan peraduan untuk berjalan.


"Belum tidur, Bang?"


Seketika si abang memutar badan. Di hadapan, berdiri adik tersayang dengan wajah bantal. Rambut dibiarkan tergerai sedikit berantakan. Bajunya pun tak rapi.


"Aku terbangun. Kenapa bangun?" kilah si abang yang disempurnakan dengan pertanyaan balik.


"Haus," timpal si adik seraya menuju meja di mana ada segelas air putih tersaji di sana.


Tanpa ragu, gadis ayu meneguk air itu. Entahlah, mengapa ia bisa menjatuhkan pilihan tanpa bertanya gelas itu milik siapa. Beruntung apa yang diminum adalah milik abangnya, yang memang sudah biasa berbagi apa saja.


"Haus banget? Habis mimpi apaan?" tanya si abang seraya mendekat pada adiknya.


Sang adik mengangguk. "Mimpi membangunkan, Abang. Eh, bangun beneran. Bisa begitu, ya?" celoteh gadis ayu.


"Ikatan batin," timpal si abang seraya mengacak rambut adiknya yang memang sudah berantakan.


"Pakai apa ngikatnya, Bang?" gurau gadis ayu seraya menjatuhkan diri di sofa yang kemudian diikuti oleh abangnya.

__ADS_1


"Pakai bakmi," celetuk si abang yang justru menjadi bumerang baginya.


Gadis ayu bergelayut manja di lengan abangnya. "Kita beli bakmi yuk, Bang!"


"Ini sudah tengah malam. Besok, saja." Si abang menolak dengan menjanjikan pergantian waktu pembelian yang nyatanya masih membuat si adik nggak mau terima.


"Yah ... padahal kayaknya enak banget tuh. Pedes-pedes. Uh ... yummy!" si adik ayu memerlihatkan ekspresi ala chef terkenal mencicipi makanan.


Si abang mengacak puncak kepala adik tersayang. "Rosaku kok kayak anak kecil. Ya udah, ayo abang bikinin, aja."


"Emang Abang bisa?" telisik sang adik dengan tatapan penasaran.


"Seharusnya bisa, kan bisa nyontek resep di internet. Tapi ... berhubung lama gak masak, jadi ... rasanya gak dijamin," celetuk si abang dengan senyuman.


"Kalau gak enak, habiskan sendiri ya, Bang?"


"Gak bisa begitu, dong! Kita habiskan bersama apapun rasanya," tawar si abang seraya menyenderkan punggung di sofa.


"Abang pasti bisa masak yang enak," ucap sang adik dengan penuh semangat.


"Jangan memelintir kata kamu, Sa! Nanti aku bakalan jewer telingamu kalau masakanku gak enak terus kamu gak mau tanggung jawab."


"Ngomong apa, sih? Adik abang gak boleh ngomong sembarangan. Itu gak sopan," peringat si abang yang membuat sang adik jadi tersenyum canggung.


"Maaf, Bang. Gara-gara bakmi, nih."


Acakan di rambut kembali didapatkan adik tersayang. "Jangan memfitnah!"


"Abang marah mulu, aku tidur lagi aja, ah."


Gadis ayu mulai beringsut dari duduk. Belum sepenuhnya berdiri, lengannya tertawan oleh genggaman si abang. Seketika ia bergeming seraya menatap sayu. "Apa?"


Tanpa menjawab, abang berdiri dan merangkul pundak. "Temani aku masak bakmi!"


Gadis ayu melempar senyum manisnya. "Aku tau Abang selalu baik. Makasih ya, Bang. Mumpung Abang belum menikah, aku mau manja-manja dulu."


"Manjalah selama yang kamu mau," timpal si abang seraya menarik tangan adiknya untuk segera menuju tempat memasak.

__ADS_1


Tanpa canggung, sang adik memeluk si abang. Pelukan itu pun dibalas juga dengan tulusnya.


"Makasih ya, Bang. Karenamu aku bisa merasakan kasih sayang seorang kakak yang dari dulu aku idamkan."


"Aku juga makasih, karena mengenalmu, aku mendapatkan adik yang bisa aku manjakan. Menjadi anak tunggal itu kesepian. Oleh karenanya, Satyaku harus punya saudara secepatnya. Jangan sampai ia sepertiku!"


Abang mendudukkan adik di kursi. Sementara ia memilih beranjak mendekati kulkas. Membuka lemari pendingin itu dan memeriksa isinya.


"Mau seberapa pedas? Pakai sayuran apa? Ayam? Telur?" cerca si abang pada adiknya yang terpaku dengan kebawelan kakak lelakinya.


"Abang lebih tau apa yang aku mau," timpal gadis ayu dengan senyum lembut.


"Memangnya aku tau apa?" timpal si abang seraya mulai menyiapkan bahan untuk membuat bakmi.


Sang adik bangkit dari kursi. Mendekati abangnya yang berdiri menghadap berbagai macam sayuran dan bumbu dapur. Pisau tajam yang berada di tangan siap ia mainkan.


"Aku bantuin apa, Bang?"


"Duduk, aja!" perintah si abang seraya mengambil bawang putih.


Sang adik mengambil sesiung bawang di tangan abang seraya memamerkan cengiran senyuman. "Biar aku aja, Bang! Seharusnya urusan begini tuh yang ngelakuin wanita."


Si abang membiarkan adiknya ikut memasak. Sebentar kemudian ia mengambil sebuah karet gelang yang kebetulan berada di deket mereka. Dengan lembut ia mengikat rambut sang adik dengan benda tersebut.


"Memasak itu rambut jangan digerai!"


"Di televisi, chef seksi rambutnya digerai," celetuk sang adik dengan santai.


"Jangan mengikuti hal yang tidak baik!"


Kedua kakak beradik itu terus saja mengobrol tanpa jeda. Tangan bekerja mulut berbicara. Bahkan seringkali sang adik usil mengganggu abangnya hingga gelak tawa pun tercipta.


Dari jauh sepasang mata milik sang papa, sedari tadi memerhatikan tingkah putra-putrinya. "Aryan ... Aryan ..."


Lelaki paruh baya itu menggelengkan kepala. Merasa tidak habis pikir dengan cara mencintai yang dimiliki putranya. "Setulus itu kamu mencintainya, Aryan."


Kesetiaan dalam mencinta, sang papa juga punya. Sekian tahun ditinggalkan sang istri, tak ada niat untuk menikah lagi. Padahal jika ia mau, akan banyak sekali wanita yang mau menjadi pengganti. Akan tetapi itu tak terjadi. Sungguh warisan hati yang membuat iri.

__ADS_1


Tuhan ... Aku bahagia menanam setia untuk istri. Rela sendiri menghabiskan hari. Namun ... berilah jodoh untuk Aryanku. Jangan Kau biarkan dia menua tanpa cinta. Kalau aku boleh memohon, berikan hati Rosa padanya. Karena hanya dia yang membuatnya bahagia. Jika memang hati lain yang Engkau kirimkan, semoga putra-putriku tetap bahagia.


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2