
"Apa nih?" Mas rud mengambil amplop putih berukuran jumbo yang diletakkan abang di atas meja.
"Buka saja!" perintah abang seraya kembali menyandarkan punggung di sofa.
Lelaki yang kini terjebak dalam hubungan yang sulit dijelaskan antara kakak ipar atau adik ipar itu, perlahan membuka kertas tertutup. Dengan menyobek ujung amplop Mas Rud tampak tidak menyangka dengan isi di dalamnya.
"Buat kami?" yakin Mas Rud lagi.
"Buat adikku tersayang."
"Hei, Bro! Pengakuanmu bisa membuat istri kecilmu itu cemburu. Hati-hati!"
"Begitukah? Apakah bukan dirimu yang cemburu?" tanya balik abang dengan tenang.
"Aku lelaki normal. Tapi ... aku juga sadar jika istriku terlalu mencintaiku. Tidak akan ada yang bisa membuatnya berpaling. Hatinya hanya punya satu rute, semua tertuju padaku."
Mas Rud tidak pernah kehilangan rasa percaya diri. Apalagi jika itu berkaitan dengan gadis ayu, maka binar bahagia dalam cinta itu benar-benar nyata. Itu adalah napas hidupnya.
"Uncle, mana hadiah buatku? Masa cuma PaRud yang dikasih?" Di-junior yang ikut bergabung dalam obrolan dua lelaki dewasa itu menyela.
"Hadiah apa?" tanya abang dengan lembut.
Di-junior menunjuk amplop putih milik Mas Rud. Bocah cilik itu mendekat pada sang papa ketika isi dari benda yang membuatnya ingin memiliki itu dibuka.
"Kok hanya dua? Mana buat putraku?" tanya Mas Rud begitu mendapati dua tiket pesawat atas nama dia dan gadis ayu.
"Dia akan pergi bersamaku. Kalian nikmati saja waktu berdua!" jawab abang segera membawa bocah cilik dalam pangkuan.
"Aku tidak akan pergi tanpa putraku." Mas Rud memasukkan tiket perjalanan ke dalam amplop dan kembali menyodorkan pada abang.
"Ambil, PaRud! Di-junior mau ikut uncle."
Dahi mulus Mas Rud membentuk barisan tiga garis lurus. "Boy ... kita pergi bertiga, yuk! Jangan ganggu uncle dan aunty!"
"Sama uncle aja, ya! Nanti kita bisa ke manapun yang kamu mau, Sayang." Abang tidak mau kalah memberikan bujukan.
"Sama PaRud dan mama saja, Boy."
"Uncle n aunty aja, oke!"
"PaRud."
"Uncle."
Dua lelaki itu terus berdebat. Mereka tidak sadar jika Di-junior telah beredar. Bocah cilik itu telah pergi. Sekelebat bayang yangti menarik perhatian saat ia diperebutkan dua lelaki dewasa yang disayangi.
Kembali fokus pada perdebatan Mas Rud dan abang. Mereka terus saja beradu mulut. Bahkan, gadis ayu berdiri memaku, karena tidak habis pikir dengan kelakuan dua lelaki di hadapannya.
__ADS_1
"Bang, ditunggu Kristy di kamar, tuh."
Mendengar suara sang adik menyebut nama sang istri, abang segera menghentikan perlawanan. Ia menoleh. Senyum manis ia kembangkan sempurna kemudian. "Kamu juga ditunggu suami bucinmu, nih."
"Dia terbiasa menungguku sepanjang waktunya, Bang," jawab gadis ayu sengaja menggoda Mas Rud.
"Tapi ... kurasa dia tidak sabar menunggu malam pertama kalian. Belum, 'kan?" goda abang seraya mengerling manja.
Gadis ayu sengaja memanas-manasi sang suami. Ia mendekat pada abang dan berbisik, "Kok tahu sih, Bang?"
"Tau, lah. Wajahnya polos. Kelihatan banget belum nyobain surga dunia. Ajakin nyari pahala!" ucap abang sambil mengacak puncak rambut gadis ayu.
"Hei-hei! Tangan-tangan! Dilarang masuk area terlarang!" Mas Rud mulai posesif.
Bukannya menciut, nyali gadis ayu semakin terpacu. Ia malah sengaja menggoda. "Biarkan saja, Bang. Ia bilang asal bisa menikahiku itu sudah bahagia. Ehm ehm tidak masuk dalam prioritas utama."
Tanpa disangka, tiba-tiba Mas Rud mendekat dan membuat gadis ayu jatuh dalam gendongan yang erat. Ia membopong sang istri tanpa permisi. Rasa sungkan ia abaikan. Bahkan berontak yang dilakukan gadis ayu tidak ia acuhkan.
"Malu tahu, Mas."
"Malu sama siapa?" tanya balik Mas Rud tetap fokus untuk membawa gadis ayu meninggalkan lantai satu. Satuan anak tangga ia tinggalkan hingga lantai dua ada di depan mata. Kamar mereka menjadi tujuan berikutnya.
"Jangan menggodaku! Aku bisa lebih sabar dari air yang mengikis batu, tetapi bisa lebih buas dari singa yang mencabik mangsanya."
Gadis ayu memukul dada Mas Rud yang membaringkannya. "Jangan menakutiku!"
"Takut?" tanya gadis ayu.
Mas Rud duduk di tepi ranjang. Ia merapikan surai panjang yang bermain nakal di wajah sang istri tersayang. Tatapan lembut merunut pada netra gadis ayu. "Sayang ..."
Gadis ayu yang bisa membaca hati sang suami, perlahan bangun dari posisi rebahan. Ia memegang pipi kiri sang suami dengan senyum tersungging. "Mas, sentuh aku! Lakukan kewajibanmu untuk menafkahi batinku!"
Mas Rud terhenyak dengan kalimat permintaan yang ia dengar. Gadis ayu berinisiatif, padahal seharusnya dia yang agresif. Ada apa ini?
Terlalu lama tiada jawaban, gadis ayu justru mulai memberikan sentuhan. Ia mendekatkan wajah pada lelakinya. Semakin jarak menghilang, semakin debar itu meminta dimanjakan. Ia menepis jarak.
Namun belum sempat menghilangkan batas, Mas Rud memupus terlebih dahulu. Ia mengecup bibir yang pernah ia nikmati malam jahan*m itu. Tautan lembut itu bersambut. Tidak berlanjut. Mas Rud melepas kenikmatan yang baru ia tawarkan.
"Jangan mendahuluiku, Sayang. Aku adalah imammu. Penguasamu adalah aku."
Gadis ayu hendak membuka kata, tetapi kembali disela. Mas Rud mengusap bibir gadis ayu dengan lembut. "Aku yang memulai membuat jejak di sini. Mulai sekarang, aku yang akan kembali menyusuri tanpa henti. Dahulu, detik ini, dan nanti kamu adalah milikku. Hanya milikku."
Mas Rud kembali mencium gadis ayu. Ini seperti deja vu kala ia menorehkan kesan pertama pada bibir istrinya.
Mereka tenggelam dalam buaian. Kelembutan itu terus mencari kenikmatan. Ia mulai bersilat lidah, meliuk indah, dan membelit hingga tiada lagi rasa ingin mengakhiri. Napas yang semakin habis, tidak memupus hasrat untuk terus merunut gairah yang semakin memuncak.
Kedua insan yang disatukan oleh cinta yang sangat besar itu saling memandang. Sorot mata mereka berbicara. Dalam, sangat dalam hingga akhirnya air mata perlahan berlinang. Itu bukan kesedihan, akan tetapi lonjakan kebahagiaan yang mencapai batas tertinggi.
__ADS_1
Mas Rud menyeka linangan kristal bening di pipi gadis ayu yang sangat ia cintai. "Jangan menangis, Sayang! Tidak! Aku yang pertama menyentuhmu. Aku yang akan selalu menyentuhmu. Aku menerimamu sebagai yang pertama dan terakhir dalam hidupku. Jangan katakan apa pun! Bagiku, kamu adalah gadisku. Wanitaku yang belum tersentuh kecuali olehku."
Mas Rud seolah bisa membaca pikiran gadis ayu. Ia lelaki pertama dan akan menjadi yang pertama walaupun telah ada yang mendahuluinya. Itu menurut gadis ayu. Namun, bagi Mas Rud tidak ada kata itu.
Dagu yang menunduk itu Mas Rud angkat dengan lembut. Kening mulus ia sambut dengan kecupan tulus. "Aku mencintaimu sejak kita pertama berpapasan."
"Aku semakin mencintaimu ketika melihatmu di kantor baruku," aku Mas Rud setelah mencium pipi kanan dan kiri gadis ayu.
Kecupan itu terus berlanjut. Kedua kelopak mata menjadi titik sentuhan berikutnya. "Kamu membuatku gila. Setiap detik kuhabiskan untuk melihat senyummu walaupun dirimu tidak ada di hadapanku."
Hidung mancung gadis ayu pun tak luput direnggut. "Napasku adalah kamu. Bahkan saat aku harus memilih bahagiaku atau bahagiamu, maka kamu adalah pilihan terakhirku."
Mas Rud tidak membiarkan gadis ayu bernapas dengan bebas. Ia menjadi bar-bar dengan kecupan-kecupan yang tiada habis ia berikan.
Mata itu menambah kadar kelembutan. Kepala ia miringkan. Bibir menggoda itu kembali ia manjakan dengan sentuhan manja. Surga dunia perlahan ia buka pintunya. Kehangatan kembali ditawarkan oleh cinta yang bergejolak.
Mas Rud mulai nakal. Sentuhannya meliar. Leher jenjang yang tiada sedikit pun goresan, ia susuri dengan meninggalkan tanda kasih. Deru napas yang semakin kasar terdengar, menjadi saksi bahwasanya permainan akan dimulai.
"Aku mencintaimu, Mas." Gadis ayu hanya sanggup mengaku. Bahkan ketika atasannya mulai tanggal ia hanya diam. Jemari yang mulai menari di bagian tubuhnya yang sensitif, begitu lihai hingga ia hanya bisa mendesah lirih. "Mas ..."
Lelaki yang dikuasai pikir untuk menyempurnakan nafkah batin itu hanya tersenyum, kemudian mengecup bibir sang istri. "Nikmatilah cintaku, Sayang."
Pipi gadis ayu merona. Ia malu tetapi mau. Bukan hanya ingin, tetapi memang inilah yang ia tunggu. Bermain di surga kenikmatan bersama lelaki yang pertama memahatkan nama di hati. Cinta pertama yang akan menemaninya menua.
Sebuah kecupan kecil di bibir menyadarkan gadis ayu dari khayalnya yang melanglang buana. Ia kembali menatap Mas Rud.
"Sayang," ucap lirih Mas Rud seraya tersenyum. Ia kembali melincahkan jemari. Sapuan demi sapuan yang menghanyutkan membuat gadis ayu menggeliat dalam nikmat.
Perlahan, kecupan itu melandai. Bibir telah disisir. Leher mulus berselimut tanda kecup. Dua yang membuat bahagia telah tersentuh sempurna.
"Mas," lirih gadis ayu ketika Mas Rud mulai bermain nakal di bawah sana.
Desir itu memenuhi seluruh centi dalam tubuh gadis ayu. Rasanya seperti baru pertama kali merasakan sensasi. Mas Rud terlalu lihai bermain. Peluh keringat berbalut nikmat menjadi saksi saat pertautan itu menyatu dalam dekap erat. Dua lelehan yang akan berubah menjadi nyawa sedang bertaruh rasa. Mas Rud dan gadis ayu berpadu.
"Aku mencintaimu."Kata itu bersamaan terucap dari masing-masing bibir mereka. Tatapan itu melembut sempurna. Cinta ... semoga selamanya menyatukan mereka.
💗💗💗💗💗💗💗💗
Alhamdulillah, lega. Akhirnya bisa ngasih bonchap juga.🥰🥰🥰🥰
Maaf bila sangat-sangat telat.🙏🙏
Depe sedang menyiapkan novel baru. Bagi yang ingin membaca, tunggu launchingnya ya! Nanti akan di kabarkan di sini. Sementara dikasih bocoran ini ya.
Masih ada yang ingin cerita Mas Rud berlanjut? 🥰🥰🥰
__ADS_1