
"Rud, maafkan aku!"
"Menurutmu, bisakah aku memberi maaf?" Mas Rud bertanya balik.
"Kesalahanku memang tak termaafkan, Rud. Aku sadar itu. Akan tetapi, setidaknya aku meringankan beban batinku sendiri. Tak apa kamu tidak memberiku maaf. Bisa melihat kalian kembali bersama, rasanya aku bisa lega. Setidaknya rasa bersalahku sedikit terobati."
"Kamu benar, aku tidak bisa ..." jelas Mas Rud terjeda.
"Aku mengerti. Nggak akan ada yang bisa menerima berpisah dengan orang yang dicintai karena cara licik. Apalagi jika pada akhirnya wanita itu menjadi jodoh lelaki lain."
Percakapan mereka terbata-bata. Kisah kelam tentang taktik kotor karena perjodohan yang berakibat pada hilangnya cinta sepasang insan menyemai sesal berkepanjangan.
"Semua sudah terjadi. Yang sudah pergi tidak mungkin lagi kembali. Apa guna sesal jika sudah seperti ini?" Mas Rud seolah berbicara sendiri.
"Semua itu karenaku. Ambisi, keegoisan, kecurangan dan pemaksaan telah membuatku jatuh. Dosaku berlimpah hingga Tuhan mulai memberikan pembalasan," Ardi seperti sedang curhat tanpa diminta. Ia mengaku tanpa dipaksa.
"Sebelum kamu jatuh, aku dan segala hal yang berkaitan dengan kebahagiaanku kau tenggelamkan tanpa ampun. Itu 'kan yang akan kamu bilang?"
Lelaki itu mengembus napas penuh penyesalan. Sorot matanya masih menyasar gadis ayu, bukan lagi karena cinta tetapi rasa bersalah. "Aku bukan hanya menghancurkanmu yang mencintainya, akan tetapi aku juga membuat wanita yang kucintai menderita."
"Apakah menurutmu itu cinta?" selidik Mas Rud berikutnya.
"Aku mencintainya dengan cara yang salah. Kupikir uangku bisa membuatnya menerimaku, ternyata dia bukan wanita seperti itu."
Mas Rud membiarkan punggungnya berlekatan dengan bangku taman. Tangan ia lekatkan di depan dada. "Dia wanita istimewa. Hatinya tidak tersentuh oleh sembarang rasa yang tidak tulus. Hanya dia yang bisa memutuskan pada siapa cinta itu akan ia berikan."
"Dan kamu adalah lelaki istimewa baginya."
Sebuah senyuman tersungging begitu kalimat itu terucap dari bibir sang lelaki yang tak lain adalah Ardi. Lelaki berhati licik dan berpikiran picik yang menjadi tonggak awal kandasnya Mas Rud dan gadis ayu beberapa tahun yang lalu. "Cinta kami istimewa. Sampai-sampai ketika perasaan kami dibuat kalang-kabut karena ada cinta lain yang ingin merebut, kami harus berpisah dengan rasa cambukan rasa yang menyesakkan dada. Menjadi jodoh kedua padahal seharusnya kami menjadi pertama dan selamanya itu rasanya luar biasa. Aku seperti hidup kembali setelah lama mati."
__ADS_1
Ardi ikut melepaskan sebuah senyuman setelah sedari tadi wajahnya hanya berekspresi datar. "Aku salut dengan perjalanan cinta kalian. Jaga dia! Jangan pernah melepaskannya lagi dengan alasan apa pun! Ardi-Ardi lain pasti ada, tetapi jangan sampai membuat kalian kembali berpisah. Hanya kamu yang bisa menjaga dan memberinya cinta yang membahagiakannya secara sempurna Dan hanya dia wanita yang bisa membuat duniamu berwarna."
"Tentu saja. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kali."
"Rud," Ardi nampak ragu dengan sapaannya.
Mas Rud bangkit dari duduk. Ia dekati lelaki yang telah mengacak hidupnya itu dengan senyum. Tidak berselang lama, keduanya sudah memenuhi bangku yang sama. Mas Rud memutar badan hingga Ardi tepat berada di hadapan. "Mari kita menjadi saudara kembali!"
Lengkungan sempurna dari kedua ujung bibir Mas Rud disambut dengan mata yang berkaca-kaca. Ada haru yang menelusup kalbu. Meskipun awalnya ragu, pada akhirnya Ardi menyambut pelukan Mas Rud. Dua lelaki yang sempat tersiksa batin itu bisa membuat amarah tersingkir. Tiada guna memendam dendam karena sesungguhnya bahagianya hidup itu karena sebuah senyuman.
Menyeberang dimensi ruang dan waktu, ada seorang lelaki lain yang tengah berbicara melalui panggilan benda pintar.
"Kapan kamu pulang? Bukankah urusanmu sudah selesai?"
"Aryan masih betah di sini, Pa. Mungkin weekend pulang."
Nampak senyum kecil mengukir di bibir si abang. "Pa, Aryan baik-baik saja. Tidak perlu cemas. Justru Aryan sedang menyusun rencana untuk membahagiakan mereka tanpa menjadikan Aryan sebagai ganjalan. Kira-kira apa Aryan perlu menikah duluan agar mereka merasa tenang?"
"Kamu bukan anak kecil lagi. Papa tidak bisa mengekang pilihanmu. Hanya saja sebagai sesama lelaki, Papa hanya mengingatkan, jangan sampai kamu menyakiti wanita lain demi untuk membahagiakan wanita yang kamu cintai."
"Aryan tidak mungkin bisa melakukan itu, Pa."
"Papa mengenalmu dengan baik, Nak. Kalau kamu bisa menyakiti wanita, tentu Rud tidak mungkin kembali ke sisi Rosa. Tapi, kamu justru menyatukan mereka. Jangan kamu pikir Papa sama sekali nggak tahu tentang apa saja yang telah kamu lakukan untuk kebersamaan mereka. Papa tahu semuanya."
"Ini rahasia kita, Pa." Abang membuat perjanjian dengan sang papa.
Sesungguhnya tanpa ada kesepakatan, semua itu tidak akan tersebar ke mana-mana. Dua lelaki itu saling tahu. Mereka adalah pencinta setia yang halus perasaannya.
Telepon itu pun akhirnya diakhiri dengan peti rahasia yang telah dikunci. Digembok rapi oleh abang tetapi dibuka perlahan oleh sang papa dan mama.
__ADS_1
"Mas, bagaimana caranya agar kita bisa membahagiakan putra dan putri kita?" Mama bertanya pada sang papa setelah mendengar percakapan melalui telepon.
Ya, kedua orang tua bagi gadis ayu dan abang itu sengaja meluangkan waktu untuk bertemu. Putra dan putri mereka menjadi alasannya. Kenyataan bahwa gadis ayu telah kembali pada Mas Rud mengusik ketenangan akan kebahagiaan si abang. Oleh karenanya, mereka ingin berdikusi untuk membuat abang memperoleh kebahagiaan yang setara dengan adiknya.
"Bagaimana kalau kita jodohkan saja Aryan dengan seorang wanita?" Papa mengusulkan sebuah ide brilian.
"Aku tidak yakin dia akan menerimanya, Mas. Bukankah kita tahu bagaimana putra kita yang satu itu?" timpal sang mama.
"Dia memang sepertiku, Dik. Lelaki yang bisa bertahan mencintai satu wanita walaupun sudah tidak mungkin lagi bersama."
Papa menjeda kalimat. Sebentar kemudian kembali berucap, "Tapi, aku bisa nyaman dekat denganmu, Dik. Walaupun kita hanya berteman tetapi ada rasa bahagia yang sebelumnya tidak bisa kurasakan setelah kehilangannya. Jadi ..."
Mama mengerti ke mana arah pembicaraan papa. "Jadi, bagaimana kalau ..."
"Iya, aku setuju." Papa mengangguk untuk memberikan petunjuk bahwa usul sang mama perlu dicoba.
Kedua insan berusia paruh baya itu kompak melayangkan angan. Mereka sama-sama terjun bebas pada khayalan. Bongkar pasang adegan agar cocok dengan ide brilian sedang mereka lakukan.
Sang Mama menggeleng ketika ia belum bisa menemukan puzzle yang tepat. Ia membuka mata dan melihat hingga titik terjauh dari jangkauan netranya. Mata berkeliaran untuk menemukan sebuah kecocokan pikiran.
Sementara sang mama berpikir, sang papa pun melakukan hal yang sama. Lelaki itu ingin memberikan kebahagiaan terbaik untuk sang putra. "Aryan, kamu tidak boleh selalu berkorban. Kini saatnya kamu bahagia dengan limpahan cinta bukan melimpahkan cinta."
Tiba-tiba, sang Mama tersenyum. Sebuah ide menyelinap dalam pikirnya. Ya, sepertinya inilah jalan terbaik untuk seorang Aryan.
Seirama dengan sang mama, sang papa pun melebarkan senyumnya. Ada pijaran ide brilian yang juga datang.
Secara bersamaan, keduanya saling meluruskan sorot netra. "Apakah kita memiliki pemikiran yang sama?"
Sang mama dan papa sepakat mengangguk. Penasaran, apakah yang ada di otak mereka? Kira-kira apa, ya?
__ADS_1