Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Menahan Rasa


__ADS_3

Sang adik menatap abang tersayang. Ada harap yang coba ia sampaikan lewat netra yang melekat. "Boleh nggak, Bang?"


Hati abang yang tak pernah bisa meloloskan penolakan, ingin dipaksa jahat tetapi berkhianat. Selalu kata iya yang akan menjadi jawab atas pertanyaannya adiknya. Namun, kali ini ia memilih untuk menempati posisi awalnya sebelum memberikan kebenaran jawaban.


"Siap menangis? Siap hatimu kembali sakit? Kalau hanya akan membuatmu bersedih, aku tidak akan mengizinkan."


"Bang," rengek gadis ayu seraya melembutkan sentuhan di lengan si abang.


Lelaki matang itu menyandarkan punggungnya. "Kalau air matamu sampai jatuh, kupastikan ini kali terakhir novel ini kamu sentuh."


"Biarkan aku menyelesaikan apa yang sudah kuawali, Bang. Bukankah kenyataan apapun yang kudapatkan tak akan mengubah apapun dalam hidupku. Dia sudah punya hidupnya sendiri."


Si abang menatap adiknya. Mencerna kalimat yang bisa ia lontarkan dengan bijak. Meskipun si abang tak sedikit pun yakin sang adik bisa menepati apa yang telah ia ucapkan. "Setelah selesai ... mulailah membuka lembar baru hidupmu."


Dengan semangat gadis ayu membuka novelnya seraya mengulaskan senyum, meyakinkan si abang bahwa ia bukan adiknya yang lemah. Perlahan lembar itu sampai pada halaman terakhir yang telah ia baca.


Bab. 26 ia tinggalkan. Kini saatnya memulai bab. 27. Judulnya nekat, sama seperti apa yang gadis ayu lakukan. Memaksa untuk terus membaca meskipun ia sendiri tahu akan kembali terlecut lara.


Si abang terus memerhatikan adik tersayang. Apa yang ia khawatirkan, belum menampakkan tanda sesuai kenyataan. Ia menjadi bingung, bagaimana mungkin gadis ayu tak merasa pilu. Sedangkan kemarin saat ia membacanya, luka itu tersampaikan secara nyata.


"Aku kuat, Bang," celetuk gadis itu saat ia merasa perlu memberi jawaban pada kegundahan si abang.


"Rud memperjuangkanmu sebesar itu, Sa. Kamu tidak menyesal kehilangannya?"


Gadis ayu memutar pandangannya sebentar. "Aku mendapatkan pengganti Mas Dion, apa aku kurang beruntung? Toh sekarang dia sudah memperjuangkan hati yang lain. Tidak jodoh itu memang sakit tapi bukankah hidup akan tetap berlanjut?"


Si abang benar-benar merasa tak percaya atas apa yang didengarnya. Dia menegakkan tubuhnya. Memiringkan badan agar raut gadis ayu dapat dilihatnya penuh. Ingin menelisik apakah semua yang ia dengar semua benar ataukah hanya kesedihan yang coba ia samarkan dalam kekuatan.


"Abang masih meragukan hatiku?"


"Baca lagi! Sejauh mana kamu bisa membohongi hati," perintah si abang kemudian.


Dengan kepercayaan diri gadis ayu menata lagi matanya pada serentetan tulisan di novelnya. Bab yang menceritakan tentang kemarahan Mas Rudnya karena lamaran dikacaukan, nyatanya ia tanggapi biasa.


Memasuki bab. 28 dia sedikit merumitkan raut wajahnya. Kata kawin lari yang terucap dari sang mantan sedikit mengusik luka. Rupanya lelaki itu tak berniat meninggalkannya sendiri.


Paragraf awal semakin jauh ia tinggalkan. Nasehat Mas Rendra sedikit meredam emosinya. Jika jodoh tak akan kemana. Namun kenyataan jika jodohnya sudah menepi dan sang lelaki kini dalam perjalanan menyempurnakan jodohnya, menjadikan hatinya sedikit perih.

__ADS_1


Ingatan tentang ancaman si abang, memaksa gadis ayu menyembunyikan sesuatu yang perlahan mendesak di sudut matanya. Sesekali ia mengalihkan pandang pada langit-langit agar bening kristal itu tak menukik. Walaupun ia sadar jika semua tingkahnya tak terlewat dari perhatian si abang, tetap saja ia tak mau dikalahkan perasaan.


"Mas Dion dan Mas Rud ..." sebut lirih gadis ayu yang membuat ia menjeda membaca beberapa waktu lamanya.


"Ada apa?" tanya abang yang mendengar.


Sebenarnya lelaki itu tahu apa yang membuat gadis ayu menyebut dua nama lelaki dari masa lalunya. Pikirannya pasti dijejaki oleh analisa yang sama. Apakah pemilik cinta dari gadis ayu bertemu atas kuasa sang penali hati?


"Bang, apakah Mas Rud dan Mas Dion menjagaku bergantian? Ini rencana Tuhan?" telisik gadis ayu.


"Sepertinya begitu. Dan sekarang mungkin Dion mengembalikan penjagaanmu pada Rud."


"Dia ada hati lain yang ia jaga, Bang. Aku bisa menjaga hatiku sendiri," kilah gadis ayu.


"Itu yang bilang rasa cemburumu atau sikap sok kuatmu?" goda si abang bermaksud memberikan sindiran.


"Aku kuat, Bang."


Si abang tak menanggapi pengakuan sang adik. Ia memilih beringsut dan berjalan menuju area dapur. Meninggalkan adiknya yang tak bertanya ia ke mana.


Masing-masing dari jiwa itu sedang bertaruh atas sebuah rasa. Di sana gadis ayu meluruhkan kristal yang sedari tadi mati-matian ia tahan. Tak ingin tertangkap oleh netra si abang, lekas ia hapus dengan tisu.


"Den," panggil Bi Iyah karena melihat putra tunggal itu melamun dalam duduknya.


Si abang memberi pertanda agar bibinya melirihkan suara. "Aku hanya memberi waktu dia menangis, Bi."


"Aden juga menangis?" telisik bi Iyah lantaran menemukan aliran di pipi lelaki di hadapannya.


"Sedikit," jujur si abang dengan mengukirkan senyuman.


"Bibi pengen lihat Aden dan Non menjadi orang tua dari Den Satya," ujar bi Iyah yang lagi-lagi hanya dibalas lengkungan senyuman.


"Aku sudah menjadi orang tuanya bahkan sebelum dia lahir, Bi."


"Bibi hanya ingin Aden bahagia," ujar wanita yang sejak kecil telah bekerja di keluarga si abang itu.


Si abang menepuk bahu bibinya. "Aku selalu bahagia asalkan mereka bahagia Bi."

__ADS_1


Lelaki yang telah menghapus airmatanya itu kembali melangkah mendekati sang adik dengan membawa dua gelas air putih di masing-masing tangannya. Dalam langkah yang ditinggalkan, bi Iyah menatap nanar tuan mudanya. Dalam diam ia berdoa semoga lelaki itu akan mendapatkan cinta dari wanita yang mencintai dan ia cintai setulus hati.


Tak ubahnya doa yang dipanjatkan bi Iyah, si abang juga memohon agar adik tersayangnya kembali tersenyum saat ia kembali. Pura-pura bahagia itu biarlah menjadi cerita yang tak perlu diungkap. Cukup tau sama tau, bahwasanya cinta tetaplah cinta. Tetap bertahta meskipun mencipta lara.


"Minumlah!" perintah si abang seraya menyodorkan segelas air putih yang berada di tangan sebelah kanan.


"Di rumah orang kaya hanya ada air putih, ya?" sindir sang adik dengan santainya.


Si abang kembali duduk di sebelah sang adik tersayang. "Masa di rumah sendiri minta dilayanin? Aku yang seharusnya kamu ambilin minum."


"Ih Abang ... katanya sayang? Masa gak ikhlas?" timpal sang adik seraya menggoda dengan cengiran senyumnya.


"Bikinin aku mi instan, dong!" perintah si abang setelah mengacak rambut adiknya karena saking gemasnya.


"Masa jam segini makan mi? Nanti malem baru enak. Dingin-dingin bikin mi kuah yang pedes, uh ... yummy," ujar sang adik dengan gaya menikmati.


"Nanti malam bikinin, ya!"


"Mana bisa? Aku kan harus pulang,"


"Nginep sini ajalah! Lagian kan di rumah nggak ada orang. Mereka baru balik lusa, kan?" ingat abang setelah apa yang ia perintahkan.


"Iya, sih. Tapi ..."


"Aku tidak akan membiarkanmu di rumah sendiri. Lebih baik di sini, banyak orang."


"Bang, aku bukan anak kecil. Bahkan aku udah bisa bikin anak kecil. Masih aja kamu khawatirkan aku seperti itu," gerutu gadis ayu.


"Bagiku kamu akan selalu jadi adik kecil."


"Aku sudah dua puluh tujuh tahun, Bang. Kecil dari mana?" ujar gadis ayu.


"Pokoknya kamu selalu jadi adik kecilku."


Sang adik tak lagi mendebat si abang. Ia memilih untuk menyandarkan punggungnya. Dan abang pun melakukan hal yang sama. Bahkan tangannya ia ulurkan di belakang badan adik tersayang.


Kamera ia arahkan dan terambilah foto mereka berdua. Gadis ayu yang baru menyadari, merebut gawai untuk melihat penampakan diri. Ia menggerutu karena posenya tak cantik.

__ADS_1


"Fotoin aku pas cantik napa sih, Bang!"


Si abang menarik gadis ayu dalam pelukan dan kemudian memaksa mengukir senyuman. Satu, dua dan banyak foto ia abadikan. "Tuh, cantik, kan?"


__ADS_2