Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Seru, enggak, sih?


__ADS_3

Maaf, ya ... aku up lagi untuk meracuni kebucinan kalianπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


🍁🍁🍁


"Dasar laki-laki! Bilangnya cinta mati, tapi bullshit," omel Rosa di sela umpatan. Ia yang duduk di balik kemudi mobil, terus mengomel semenjak dari parkiran pemakaman hingga lampu merah menjeda aksi sedikit ngebutnya.


Sementara itu, di mobil yang tepat berada di belakangnya, dua lelaki berbeda generasi tengah memperhatikan mobil di depannya.


"PaRud, Mama pasti mengomel, tuh. Memang, enggak, masalah kalau sampai di rumah? Bisa-bisa nanti enggak dibolehin masuk kamar," telisik Di-junior khawatir. Ia tahu benar tabiat sang mama. Wanita yang tak lagi muda itu masih suka berbuat sesukanya. Terlebih jika sang papa menggodanya, menjailinya, atau bahkan membuatnya emosi. Kedua orang tuanya, mesra dalam pertikaian kata. Lucu, menggemaskan, tetapi itu akan sering terulang.


Mas Rud mengambil handphone dan memilih nomor Rosa. Sebuah panggilan berulang ia lakukan, tetapi berakhir dengan sia-sia.


"Ini adalah pupuk cinta agar bertahan lama," tutur Mas Rud pada Di-junior yang kali ini menjadi sopir. "Menggoda mamamu itu menggemaskan, Boy. Apakah kamu tidak menyadari jika semakin ia marah, maka kecantikannya akan semakin bertambah? Kulitnya mengencang seperti dua puluh tahun silam. Amarahnya seperti anggur yang memabukkan. Melihatnya bak candu yang harus terus kumasukkan dalam tubuh." Mas Rud membayangkan wajah sang istri yang terus membuatnya jatuh hati.


"Pantas saja mama tidak suka Di seperti kalian. Bucinnya akut," celetuk Di-junior dengan tetap lurus menatap jalanan di depannya.


"Mamamu juga suka dibucinin," timpal Mas Rud dengan menyulam senyum smirk. "Bohong banget kalau wanita itu lebih memilih lelaki dingin. Itu hanya ada di novel online. Percaya sama PaRud. Di mana pun, wanita itu suka dimanja, dicinta, dan satu lagi dicukupi kebutuhannya. Bucin dan piti di rekening. Catat!"


Di-junior yang awalnya tidak menganggap penting ocehan Mas Rud, mulai sedikit tertarik. Ia menoleh sebentar pada suami sang mama.


"Apakah itu artinya jika laki-laki yang baik adalah yang bermulut manis, berduit, dan tidak pelit?"


"Susah mendefinisakan kata-kata, lebih mudahnya lihat contoh nyatanya saja." Mas Rud mengubah posisi duduk menjadi lebih tegak sekaligus merapikan lengan kemeja yang ia gulung. "Lihatlah PaRud ini!"


Mas Rud sengaja menunggu Di-junior untuk melihatnya. Tepat ketika mata mereka saling menatap, ia menyulam senyuman penuh kesombongan. "Bagaimana? Pemikiranmu sudah tercerahkan?"


Di-junior memilih mengembalikan pandangan pada titik awal dan menggeleng berulang. Ia terlalu paham dengan kenarsisan sang papa.


"Sepertinya belum," jawab Mas Rud untuk pertanyaan yang ia tujukan pada Di-junior. "Nanti, PaRud kasih trik jitu. Tenang saja."

__ADS_1


"Di-junior bisa sendiri, PaRud. Percayalah, jika putra tampanmu ini juga punya pesona yang tidak perlu diasah karena telah terasuh semenjak dari rahim mama."


"Aku suka gayamu, Boy. Memang kita ini satu server. Garis keturunan yang tidak perlu diragukan. PaRud tunggu kamu membawa gadismu!"


Obrolan itu pun berakhir ketika perjalanan mereka telah memasuki pelataran rumah. Mas Rud segera turun untuk menyusul Rosa yang telah masuk terlebih dahulu.


Ia segera ke kamar. Benar yang diperkirakan Di-junior, pintu itu terkunci.


"Sayang, bukain pintunya, dong," pinta lembut Mas Rud.


Tak ada jawaban dari dalam. Namun, tidak membuat Mas Rud patah arah. Ia justru semakin terpacu untuk mengeluarkan jurus rayuan. Sebuah dehaman menjadi awalan, seperti seorang penyanyi yang akan take vocal.


Mas Rud sedikit mengeraskan suara, seolah berbicara dengan jarak yang cukup jauh. "Bunda, siapa gadis bar-bar yang ada di depan? Apakah ia salah satu kandidat calon menantuku?"


"Kenapa aku harus mengecilkan suara, Bun? Aku tidak mempermasalahkannya. Sepertinya putraku cocok dengan gadis yang penuh semangat dan punya inisiatif duluan," cerocos Mas Rud berturut-turut.


"Di-junior, stop!" seru Rosa dari dalam kamar. Ia berteriak tepat setelah Mas Rud mengeluarkan perintah. Tak lama, pintu yang terkunci itu pun terbuka. "Di, masuk kamar! Biar mama yang menemui para penguntitmu itu. Anak gadis sekarang tidak tahu malu."


Rosa mengomel seraya berjalan. Ia melewati Mas Rud tanpa sedikit pun memedulikan. Ia hanya melambaikan tangan pada Di-junior--isyarat agar sang putra menuruti perintahnya.


Bukan Mas Rud namanya jika tidak membuat geleng-geleng kepala. Tidak dipedulikan, tak lantas membuatnya meletupkan amarah. Ia justru mengekor dengan melenturkan senyuman.


Suara dentum kaki menuruni tangga bergema beranak-pinak. Rosa menyadari jika diikuti. Tanpa berhenti, ia menyindir, "Aku bisa meng-handle gadis itu sendiri. Jangan sampai ia naksir putraku dan kepincut juga sama lelaki di belakangku."


Mas Rud semakin melebarluaskan kekuasaan senyum yang menghias benda kenyalnya. "Aku sepertinya mulai puber kedua. Haus dipuja oleh wanita."


"Bang Aryan masih menerima pendaftaran istri kedua, enggak, ya?" celetuk Rosa mengeluarkan jurus andalan. Abang selalu dijadikan kambing hitam jika ia merasa butuh bantuan untuk mematikan kenarsisan dan ulah menggemaskan sang suami.


"Dia tidak akan kuat dengan dua wanita," timpal Mas Rud, ia selalu punya cara untuk mengalahkan Rosa. "Beda denganku, walaupun kuat dengan beribu wanita, tetapi yang kumau hanya kamu."

__ADS_1


Di-junior yang masih bergeming di puncak tangga, terus memperhatikan gerak-gerik kedua orang tuanya. Ia suka melakukannya. Mereka seperti buku yang dapat dipelajari. "Ada, 'gitu, ya pasangan unik romantis seperti mereka?"


"Ada, 'tuh. Mama sama Papa yang bucin," celetuk Cherriya yang baru saja naik tangga. "Jangan sampai begitu nanti kalau punya pacar, aku geli."


"Kamu pikir aku tidak?"


"Entahlah, tapi ... seperti iya." Cherriya asal berkata sambil berjalan menuju ke kamarnya. "Turunlah! Saksikan mereka romantis dalam pertikaian. Mama enggak sadar jika dibohongi Papa. Gadis bar-bar itu, 'kan, ya Mama. Masa enggak paham juga."


Di-junior ternyata juga baru menyadari kelihaian lidah Mas Rud dan arti dari kerlingan mata padanya tadi. Ia pun menghela napas dan mulai beranjak.


Pintu kamar Cherriya yang hampir tertutup, Di-junior tahan dengan cekatan. Ia ikut masuk dan menghempaskan badan ke ranjang sang adik. "Cherr, keluar, yuk! Kelamaan nonton drakor dunia nyata, aku takut kena toksik mematikan."


"Ogah. Aku malas harus berurusan dengan para fansmu."


"Aku akan melindungimu. Kita menyamar, bagaimana?" Di-junior menawarkan ide brilian. "Pakai masker dan topi. Aman, enggak akan dikenali."


"Kakak lupa? Sudah berapa kali kita melakukannya dan gagal? Untung saja aku selalu diselamatkan oleh para pacarku yang kebetulan datang bak pahlawan," cerocos Cherriya, ia mengingat momen hang out dengan sang kakak yang selalu membuatnya menjadi korban keganasan barisan pengagum Di-junior. Namun, ia terdiam sebentar. "Cherri berubah pikiran, Kak. Rasanya kangen juga dengan kehadiran para bucinku."


Di-junior memicing. Ia menelaah perkataan sang adik. Analisisnya cepat menemukan hasil. "Sepertinya, aku juga berubah pikiran."


"Maksud, Kakak?" telisik Cherriya.


"Aku tidak mau terpapar pubertas."


"Apa'an, sih?" Cherriya semakin tidak mengerti.


"PaRud puber kedua, kamu puber pertama, aku? Harus bebas pubertas," terang Di-junior seraya bangun dari rebahan. Ia kemudian meninggalkan kamar sang adik dengan gaya dingin.


"Kakak menyebalkan!"

__ADS_1


__ADS_2