
"Mengapa kekeh menolakku? Apakah ada lelaki lain yang sudah mencuri hatimu?"
Gadis ayu memalingkan tatapan dari makanan. Ia sasar binar netra Mas Rud, ditusuk tetapi justru ia yang tersangkut dalam rasa takut. Mata teduh itu meminta sebuah kejujuran dari sebuah hati yang pernah ia lukai.
"Apa Mas pikir rasaku ini terlalu bod*h hingga bisa dengan mudah dicuri berulang kali?"
Kalimat sang gadis ingin menunjukkan ketegaran sebuah hati tetapi bulir bening yang mengintip, tentu dengan mudah bisa diberikan arti. Mata adalah jendela. Keakuratan kata kalah oleh sorot yang berbicara.
Mas Rud membawa gadis ayu dalam pelukan. Ia tahu dengan benar, bagaimana gadis ayunya. Wanita yang tak suka dikasihani tetapi tak selalu ingin dimengerti, bukan dengan kata karena sentuhan lebih bermakna baginya.
Dekapan hangat Mas Rud membuat perasaan gadis ayu terhanyut. Sekian detik membuat tak berkutik hingga sebuah dering telepon dari masing-masing handphone, akhirnya membuat gadis ayu sadar telah salah menyandar.
Canggung yang mengungkung, dibuang bersama pengangkatan panggilan. "Ada apa, Bang?"
Suara yang sengaja dibuat lirih, membuat Mas rud ingin mencuri dengar tetapi gagal. Lelaki itu tidak bisa fokus dengan teleponnya sendiri hingga suara dari ujung sana mengulang-ulang panggilan.
"Abang, jangan pulang sebelum aku sampai rumah. Nanti buatin bakmi lagi, ya! Aku kangen masakan Abang," pinta gadis ayu santai seolah tak ada lelaki lain di sisi.
Mendengar nada-nada manja, Mas Rud segera menyelesaikan teleponnya dan mengambil alih gawai sang gadis. "Pulanglah sebelum kami pulang! Nanti mobilmu aku antarkan. Terima kasih, Abang!"
Suara penanda telepon mati, berbunyi. Mas Rud melukiskan keindahan senyuman. Gadis ayu menggerutu.
"Sejak kapan Mas bisa seenaknya memerintah abang? Dia itu abangku bukan abangmu," tegas gadis ayu seraya menggeser tubuh.
"Rupanya kamu belum banyak tahu."
"Apa?" tanya kilat karena pikiran disergap penasaran pekat.
Mas Rud memilih menyuapkan sesendok soto ke dalam mulut. Mengunyah perlahan seolah sengaja membuat gadis di sampingnya untuk terus menahan sabar.
"Aku, Dion dan Aryan sudah bicara dari hati ke hati. Sebenarnya ini rahasia, tetapi karena aku sangat mencintaimu jadi aku beri tahu. Tapi, jangan bilang siapa-siapa, ya! Apalagi sama Rosa. Dia itu sangat mencintaiku tetapi pura-pura benci," ujar Mas Rud panjang lebar.
Kegeraman gadis ayu beralih jadi kegemasan. Dengan cekatan, ia suapkan soto berulang-ulang ke mulut Mas Rud. "Kenyangkan perutmu, Mas! Kalau kamu lapar mulutmu liar."
__ADS_1
"Aku ingin semakin liar agar kamu semakin berusaha untuk menjinakkan," goda Mas Rud seraya mengunyah makanan.
Suapan sebal yang dianggap wujud kasih sayang itu gadis ayu tamatkan. Namun Mas Rud meminta untuk meneruskan hingga akhir suapan. Genggaman di tangan memaksa gadis ayu membuang napas panjang.
"Manja begini bisa jadi bodyguard? Pantas saja dipecat," ejek gadis ayu menyikapi tingkah manja lelaki di hadapannya.
"Kamu belum membaca novelku yang sequel kedua, ya? Tentu saja belum. Itu masih aku simpan. Nanti kita selesaikan membaca yang pertama baru melanjutkannya," ucap yakin Mas Rud runtut.
Gadis ayu mengambilkan gelas yang berisi air putih untuk diminum lelaki yang baru saja banyak berbicara. "Untuk apa aku membaca novelmu, Mas? Membuka luka lama itu sia-sia. Waktu sudah membawa semua cerita. Hidupku dan hidupmu tak sejalan, Mas."
"Aku sedang merintis jalan baru yang menjadi tembusan jalan yang pernah kita lewati bersama." Mas Rud tak pernah kehabisan kata.
"Kamu tidak berubah, Mas. Ngeyel."
"Seperti perasaanku padamu, sama sekali tidak berubah."
Mas Rud selalu punya celah untuk mengumbar rayuan. Mengisahkan perasaan yang ia simpan tanpa lekang di makan zaman, itulah yang terus ia lakukan. Karena ia percaya jika gadis ayunya memiliki apa yang dia yakini, cinta yang tersimpan rapi di hati.
"Aku akan ganti menyuapimu!"
"Melihatmu, nafsu makanku hilang."
"Mungkin jaraknya terlalu jauh. Kalau begini?" Tiba-tiba Mas Rud mendekat hingga hanya menyisakan sedikit jarak.
Gadis ayu terkesiap. Spontan memukul tanpa memperhatikan sasaran. Seketika matanya semakin membulat saat yang dia pegang adalah sesuatu yang bisa membuat tegang. Secepat kilat ia menarik tangan dan membuang pandangan.
"Kenapa, Sayang?" bisik Mas Rud membuat bulu kuduk merengut.
Gadis ayu sekuat tenaga menata rasa. Belum usai tangan ternodai, kini telinga diperdengarkan suara yang membuat pikiran melayang. Sungguh, situasi yang tidak sehat untuk hati.
"Mengapa kamu setegang itu? Aku saja yang melihat semuanya biasa," tutur Mas Rud yang membuat gadis ayu menutup mulutnya dengan telunjuk.
"Diamlah, Mas! Atau aku akan membungkammu," ujar kasar gadis ayu.
__ADS_1
Mas rud tersenyum. Melihat gadis ayunya salah tingkah, nyatanya hatinya justru berbunga. Kegemasan yang terlahir kemudian, menjadikan Mas Rud menggenggam pergelangan tangan wanita di sampingnya.
"Bungkam aku di mobil saja!"
Langkah yang hendak diayun dalam suka terhenti karena ucapan ambigu. "Jangan macam-macam, Mas! Mobil abang ada kameranya, kalau kamu berbuat asusila sudah pasti abang akan membawamu ke penjara."
Tidak ada jawaban yang terlontar dari bibir sang mantan. Hanya langkah yang tetap dilajukan seraya menggenggam pergelangan tangan. Terjeda membayar di kasir, kali ini mereka sudah berada di mobil.
"Bungkam aku sekarang!" perintah Mas Rud dengan senyum menantang.
Gadis ayu yang tahu letak kamera di mobil abang segera mengambil posisi tepat di hadapan. Membuat ekspresi dalam kondisi tertekan, ia lambaikan tangan. "Abang, help me, please!"
Seketika hp Mas Rud berbunyi. Gadis ayu tersenyum miring karena ia tahu bahwa itu adalah sang abang yang akan membelanya.
Dengan tenang Mas Rud mengangkat panggilan. "Aku akan menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Abang mulailah sesuatu agar kita bertemu pada satu titik kebahagiaan."
Tidak perlu menunggu abang memberikan jawaban, telepon itu langsung dimatikan. Bukan hanya menghitamkan layar tetapi benar-benar menonaktifkan. Gawai itu pun dibiarkan tergeletak kemudian.
"Ayo, bungkam aku?" tantang Mas Rud tanpa rasa takut.
"Aku berubah pikiran," tegas gadis ayu seraya mengalihkan tatapan.
"Aku membiarkanmu berubah pikiran, akan tetapi cinta jangan pernah engkau coba bohongi. Sa, akuilah jika kamu masih mencintaiku ... menginginkanku dan berharap bersamaku seperti dulu."
Gadis ayu melepas napas. Sejenak terdiam untuk meredam perasaan yang mengapungkan endapan kisah kelam. Ia sandarkan punggung perlahan dan mata lurus menatap ke depan.
"Mas, waktu sudah membawa rasaku. Pergimu menghadirkan Mas Dion sebagai pengganti. Dan sekarang aku tak berniat menggantinya dengan siapapun. Seperti ia yang selalu menjaga rasanya, maka sekarang ganti aku yang akan setia menjaga cintaku hanya untuknya."
"Dia sudah pergi, tak bisa menjagamu lagi. Kamu bisa sendiri, tetapi Di-junior tidak. Dia tetap membutuhkan sosok papa dalam hidupnya. Berpikirlah untuknya, jangan hanya untuk dirimu sendiri!"
"Ada abang sebagai pengganti Mas Dion," ujar gadis ayu yang terus dikejar penjelasan.
Mas rud memutar tubuh. Bahu gadis ayu ia sentuh. Perlahan, ia membuat mereka saling berhadapan. Mata dijadikan satu tatapan. Hati ditata lewat sorot netra. "Apakah kamu akan menjadikan Aryan sebagai suami?"
__ADS_1