Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Di antara Abang dan Mantan


__ADS_3

"Abang!" Lagi-lagi gadis ayu memanggil Aryan.


Mas Rud memicingkan mata. Pikirannya mulai berputar, menemukan kejanggalan. "Siapa abang?"


Saat kedua insan yang pernah seiring jalan dengan saling menggenggam itu sibuk menemukan si abang, Kristy tak dapat menahan sesuatu yang sedari tadi dia tahan. Tawa itu akhirnya pecah. Membuat gadis ayu menyadari kehadiran orang lain di kamarnya. Sementara Mas Rud hanya mengulas senyum tipisnya.


"Mbak Rosa aneh, ada abang galau mikirin Mas Rud, sekarang yang dicari ada di hadapan, eh ... malah teriak-teriak nyari abang. Dia nggak ada. Lagi jemput mama. Oh ya, jangan berisik! Di-junior sedang bobok di bawah!"


Gadis ayu mengerucutkan bibir mendengar penuturan sang adik. "Kalian berdua bersekongkol?"


Kristy meletakkan baju di meja rias gadis ayu. "Mbak yang sudah membuat kami khawatir. Dikira pingsan ternyata ketiduran. Jadi jangan marah dengan keputusan kami untuk mendobrak pintu dan mengangkat dari bathtub."


Seketika gadis ayu kembali ingat dengan polosnya tubuh yang pasti dilihat oleh lelaki di sampingnya. Kristy diabaikan, dan tatapan tajam langsung dia tujukan pada sang mantan.


Namun sebelum gadis ayu mengeluarkan kata-kata, Kristy kembali menjeda amarah sang kakak. "Mas Rud seharusnya mendapatkan ucapan terima kasih, bukan kamu marahi, Mbak."


"Aku tidak butuh ucapan apapun," timpal Mas Rud untuk menghentikan perdebatan dua saudara yang ada di hadapannya.


"Jelas saja kamu tidak membutuhkan apapun, karena sudah mendapatkan semuanya," ujar gadis ayu seraya membalut tubuhnya sedemikian rupa dengan selimut putihnya. Perlahan ia duduk dengan memeluk lutut yang ia tekuk.


"Aku keluar dulu! Takut keponakanku yang polos teracuni omelan mamanya," ucap Kristy santai sambil mengerling pada Mas Rud.


Sepeninggal sang adik, gadis ayu menggeser tubuhnya. Menjauhkan posisi dari sang mantan yang topless. Amarah boleh menjalar lewat aliran darah tetapi melihat pemandangan indah, manusiawi jika ia merasa risih.


"Mengapa masih ada di sini? Keluarlah! Aku mau memakai pakaian," terang gadis ayu tak berani melihat ke arah lelaki yang sudah melihat tubuh polosnya.


"Pakai saja! Baru nanti kita keluar bersama. Aku mau memastikan kamu baik-baik, saja."


"Mas, keluarlah!" perintah gadis ayu yang merendahkan sedikit suaranya. Kata kamu pun, sudah diganti sapaan mas seperti dulu.


"Kamu malu? Bahkan aku sudah melihat semuanya," celetuk Mas Rud dengan senyum menggoda.


Gadis ayu ingin marah, tetapi akhirnya ia hanya sanggup untuk memejamkan mata. Menahan geram terhadap sang mantan. "Mas, lupakan apa yang pernah kamu lihat! Anggap itu tak pernah terjadi."


"Mana mungkin aku bisa melupakan?"

__ADS_1


Geram yang dipendam sudah terlalu dalam. Jika saja keadaan tak menghalangi, lelaki itu pasti sudah ia buat pergi. Sayangnya, ia hanya bisa mengusir dengan teriakan.


"Ya sudah, ingat saja! Kuyakin itu akan menyiksamu, Mas," Seketus-ketusnya gadis ayu menggerutu, sapaan Mas tetap tersemat. Kehangatan yang mengalir tanpa disadari.


"Siksaan berat yang indah, bukan?" Mas Rud tak henti menggoda gadis ayunya.


Gemas yang semakin meremas-remas, berakhir dengan berbagai jurus pukulan di tubuh Mas Rud. Kekuatan satu tangan tak berakibat fatal. Bukan tersakiti, malah menikmati.


"Pukulannya boleh pakai cinta, nggak?" pinta Mas Rud dengan senyum menggoda.


Semakin dibuat kesal, tangan pun berganti dengan tendangan kaki. Namun, balutan selimut tebal menjadi penghalang. Bukan seperti adegan amukan, lebih seperti pergulatan gaya bebas di atas ranjang.


"Hei, kalian sedang apa?" suara tenang si abang menghentikan aksi anarkis gadis ayu.


"Bang, dia kurang ajar!"


Dengan santai, si abang mendekati sang adik. Masih dengan posisi berdiri, ia melayangkan pandang silih berganti. Lelaki topless itu hanya dipandang sekilas. Sang adiklah yang kemudian menjadi fokus utama.


"Mana bajumu?" tanya si abang seraya merapikan rambut si adik yang berantakan.


"Dia abangku."


Si abang melepaskan sentuhan dan menatap Mas Rud dengan lembut. "Kamu ketinggalan banyak cerita, Rud. Santai!"


"Bang, suruh dia keluar! Aku mau pakai baju," pinta gadis ayu seraya bergelayut di lengan si abang.


"Sayang, jangan sembarang bergelayutan seperti itu!" ingat Mas Rud seraya berusaha melepas tautan jemari gadis ayu di lengan si abang.


"Mas Rud yang jangan sembarangan! Panggil-panggil sayang," gerutu gadis ayu semakin mengeratkan genggaman.


Tangan kiri si abang mengacak puncak rambut adik tersayang. "Pakai bajumu! Kami akan keluar."


🍁🍁🍁🍁🍁


"Langsung ke meja makan aja, Mas berdua!" perintah Kristy begitu Mas Rud dan si abang berjalan ke ruang keluarga.

__ADS_1


Bukannya menuju tempat yang diperintahkan, mereka berdua justru kompak mendekat pada putra lucu sang gadis ayu. Duduk berseberangan dan tatapan menjurus pada satu sudut. Wajah imut rupanya membuat dua pria jatuh cinta. Secara bergantian pipi tembem itu dicium, kanan dan kiri masing-masing oleh sang lelaki.


"Ayo, makan! Nanti Di-junior bangun, mamanya ngamuk," seloroh Kristy dari pintu yang menyambungkan ruangan itu dengan dapur.


"Aku yang akan menjinakkan mamanya," ujar Mas Rud dengan senyumnya.


"Sebuas itulah adikku? Hingga pawangnya harus datang jauh-jauh dari London," timpal si abang dengan senyuman.


"Buas sih enggak, yang ada malah galak menggemaskan," celetuk Mas Rud yang berjalan sejajar dengan si abang.


Kedua lelaki itu nampak berbagi bahagia. Tulus, tanpa ada lara yang ikut. Semenjak dahulu mereka memang tak pernah konflik. Meskipun Mas Rud tahu jika si abang memiliki rasa pada Rosanya, akan tetapi dia juga paham bagaimana cinta yang lelaki itu pasrahkan.


"Mas berdua akrab sekali?" goda Kristy ketika Mas Rud dan si abang duduk bersebelahan.


"Kan memang sudah kenal lama, Kris," timpal si abang dengan senyuman.


"Udah pernah ketemu?" selidik Kristy penasaran hingga gawai yang sedari tadi ia mainkan segera diletakkan.


Calon dokter itu sebatas tahu jika abang dan calon kakak ipar yang gagal hanya mengenal lewat cerita. Rupanya ia lupa jika sewaktu di Jogja dulu mereka saling bertemu. Bahkan tanpa ia tahu mereka saling bicara empat mata.


Obrolan itu terhenti saat gadis ayu datang. Tak ikut terlibat dalam obrolan, dia hanya mengambil piring. Mengisi dengan nasi dan semua teman makan, tak lupa membawa segelas air bening. Tanpa pamit ia meninggalkan 3 insan yang sedari tadi memperhatikannya.


"Aku heran kenapa banyak yang mencintai mbakku, padahal modelnya begitu," celetuk Kristy santai.


Tak ada yang menanggapi kalimat Kristy. Abang sedang meneguk air bening. Sementara Mas Rud beranjak berdiri. Seperti gadis ayu, lelaki yang pernah menjadi bodyguard itu pun pergi tanpa ada kata yang terucap.


"Pantas kan kalau mereka saling mencintai?" ucap si abang dengan senyuman dan dibalas anggukan oleh adik bungsu.


"Yang lain, mana?" tanya mama yang baru saja datang dari pintu belakang.


"Entahlah, Ma. Pada pergi tanpa permisi," balas Kristy seraya menaikkan kedua bahunya bersamaan.


"Ya sudah, kita makan bertiga saja."


Tanpa gadis ayu, makan malam itu tetap mengasyikkan. Abang selalu menghadirkan bahagia di setiap keberadaannya. Meskipun tanpa sang adik tersayang, ia tetap memberi riang.

__ADS_1


"Jadi, kamu nyusul Rud?" tanya mama di sela kunyahannya.


__ADS_2