Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Kencan Mesra


__ADS_3

Bab 20. Malam Minggu Pertama


Sehabis magrib yang harusnya mengaji, aku malah sibuk merapikan diri. Mencoba beberapa setelan hingga berantakan di ranjang. Persis wanita-wanita galau saat akan kencan yang pernah aku tonton di film-film percintaan.


Kaos berbagai warna, kemeja, segala model celana sudah silih berganti membalut diri. Dan akhirnya keputusan jatuh pada pilihan pertama. Ya ... begitulah ternyata rumitnya bersiap untuk kencan pertama. Aku yang jelas terlihat tampan dengan pakaian apapun, nyatanya masih merasa kebingungan.


Cinta membuatku merasa semakin tampan. Namun level pesona itu selalu diragukan kembali setiap akan bertemu lagi. Hingga mata akan terus mematut diri setiap detik berganti. Pakaian diperhatikan, wangi harus selalu menemani. Sempurna tanpa cela begitulah diri akan dihadirkan di sisinya.


"Bun, Rud pergi dulu!" pamitku sambil mencium punggung tangan wanita yang akan menuntunku ke surga itu.


"Akhirnya anak Bunda malam Minggunya gak sama Rendra," goda Bunda dengan senyumnya.


Aku tersenyum, tersipu malu. Ah, sudah seperti anak gadis saja. Rasanya bahagia bisa lepas dari kejombloan yang terskenario. Sendiri itu aku nikmati. Namun punya kekasih itu ternyata menyenangkan sekali. Hati selalu dipenuhi wangi bunga yang manja. Pantas saja Rendra tak pernah bisa sendiri tanpa wanita.


"Buruan lamarin, Bun. Biar gak ngapel aja tapi bikinin cucu buat Bunda," gurauku yang mendapatkan teguran darinya.


"Awas kamu macam-macam! Jangan sembarangan menyentuh calon menantu Bunda!"


"Cie, calon menantu," godaku sambil berlalu.


Meninggalkan Bunda yang geleng-geleng melihat putra bungsunya yang tampan ini terus-terusan menggoda. Segera kutinggalkan kediaman untuk menjemput cinta masa depan. Perjalanan tak memakan waktu karena memang jarak tak begitu jauh. Tahu-tahu mobilku sudah parkir di halaman rumahnya. Dan aku kini sudah duduk manis di ruang tamu kediaman Atmadja.


"Nak Rud, tunggu dulu, ya! Rosa masih di kamar."


"Baik, Ma."

__ADS_1


Seperti Bunda yang meminta Rosa menyapanya sama seperti aku memanggilnya, Mama pun meminta hal yang tak berbeda. Jadilah kata sapaan tante itu minggir dan sebutan Mama menjadi akrab di telinga dan bibir. Terdengar sangat manis dan membuatku semakin senang. Semesta menunjukkan jalan pada langkah kami menuju masa depan yang suci.


"Mas, maaf ya lama," ucapnya saat baru saja datang dengan senyum manis.


Kukembangkan senyum untuk menutupi bibirku yang kelu. Susah mengutarakan kata karena terpesona oleh penampilannya. Pakaian tak mengumbar aurat tetapi sanggup membuat mataku terjerat. Make up-nya tipis, malah membuatnya semakin manis. Jatuh cinta entah untuk kali keberapa. Karena rasanya aku selalu terjatuh pada lubang yang sama, cintanya.


"Mas," sapanya lagi karena aku terpaku.


"A-Ah iya," ucapku terbata yang membuatnya semakin meningkatkan kadar kemanisan senyum.


Aku meleleh.


"Aku memang cantik, Mas. Namun Mas juga sangat tampan malam ini. Gak rugi aku jadiin calon suami," rayunya semakin membuatku merasa gemas tak bertepi.


"Kok aku yang digombalin, sih? Harusnya kan aku yang gombalin kamu."


Akhirnya bibirku mulai melemaskan diri. Berbalik jadi perayu ulung yang biasanya memang menghujaninya dengan rayuan gombal. "Karena kamu sangat cantik malam ini."


"Kalau gak cantik, mana mungkin Mas mau?"


"Kamu pikir cintaku sepicik itu? Tidak, Sayang! Cintaku padamu adalah hal paling misteri di hidupku. Rumus matematika tak bisa menjabarkan. Ilmu Psikologi tak menangani. Bahkan Sastra Indonesia pun tak bisa mewakilkan perasaan yang kumiliku padamu. Cinta ini tak terdeteksi bahkan oleh alat mutakhir abad ini. Rasa ini langsung dijatuhkan Sang Maha Cinta tepat di hatiku dan diarahkan langsung ke hatimu. Hanya kita berdua yang mampu merasakan betapa hebatnya."


Kulihat pipinya merona. Senyumnya malu-malu terangkat dari kedua sudut bibirnya. "Mas, ternyata kamu adalah tukang gombal paling andal yang pernah aku kenal."


"Hei, Sayang. Aku tidak sedang menggombal. Aku jujur," akuku penuh penekanan.

__ADS_1


"Ini karena kita baru berkencan pertama kali, Mas. Jadi cinta Mas masih lebay. Tunggu beberapa bulan, pasti Mas juga mulai bosan," ujarnya dengan senyum nakal.


Aku beralih dari posisiku. Mendekati duduknya yang memilih berada di seberang meja. Kududukkan diri tepat di sisinya. Mengabaikan jika saja Mama datang tiba-tiba. Rasanya sangat gemas mendengar penuturannnya yang selalu menganggap remeh perasaanku yang dalam ini. Pikirannya hanya percaya jika aku mencintainya penuh dalam waktu sementara.


"Rosa, Sayang. Dengarkan aku! Cintaku padamu adalah racun yang sudah terlanjur menyebar dalam tubuhku. Mematikan semua rasa yang lain dan hanya fokus pada cintamu. Jika aku tersakiti, sendiri, dan kehilangan semua ingatan, maka tidak akan bisa menghilangkanmu, rasa cintaku dan segala tentangmu dari pikiranku. Karena kamu adalah napas. Cintaku akan selalu mengembuskan namamu sebagai penguasa hatiku. Tak kuizinkan nama lain mengganti. Tidak sekarang bahkan sampai nanti aku mati."


Rosa meletakkan jari telunjuknya di bibirku. Kepalanya menggeleng. "Jangan membicarakan kematian jika kamu mencintaiku, Mas. Aku paling benci ditinggalkan. Sendiri adalah sakit paling perih. Cintai aku setinggi yang kamu mau, tapi jangan pernah sakiti aku dengan kepergianmu!"


Air mata itu mulai menampakkan tanda-tanda akan bergulir. Segera kucegah dengan mengambil jemarinya dan membawanya dalam ciuman penuh ketulusan. "Cintaku akan selalu hidup untukmu. Bahkan saat takdir memisahkan, aku akan memaksa untuk disatukan."


Kristal itu akhirnya menjatuhkan diri. Bukan membawa nama kesedihan tetapi mentasbihkan diri sebagai bahagia. Kami larut dalam rasa. Kencan pertama kami mesra, bukan terwakilkan lewat bunga, tetapi bening air mata. Pengakuan indah, bahwasanya cinta kami akan terus berjalan pada satu titik di mana kebahagiaan berdua itu adalah sudut bertemunya, suatu hari nanti.


"Loh, kok malah nangis?" selidik Mama yang baru saja datang membawa nampan berisi minuman hangat dan beberapa toples camilan.


Aku sedikit canggung. Posisi kami yang saling berdekatan, takut jika menimbulkan salah paham. Dihakimi telah memutuskan cinta saat pertama kali kencan atau telah bertengkar padahal cinta baru saja mekar. Namun Mama sepertinya mengetahui mengapa anak gadisnya melelehkan kristal kesedihan.


"Nak Rud mencintaimu, Mama juga tahu kalau kamu mencintainya. Mengapa malah menangis?" selidik Mama sambil duduk di hadapan kami.


"Mama, kenapa buka kartu?"


"Siapa yang buka kartu? Nak Rud juga bisa membaca jika kamu menyukainya. Walaupun ketus, tetap tak bisa menyembunyikan perasaanmu yang tulus."


Mama benar, aku jelas bisa membaca perasaan Rosa terhadapku. Bahkan sejak bertemu pandang kala itu. Aku telah memiliki keyakinan jika kami sama-sama dijatuhi perasaan yang selaras. Cinta.


Kukembangkan senyum, Mama ikut mengulas senyum. Rosa cemberut. Sepertinya dia merasa sedang diserang secara berkelompok. Membuatnya kagok. Ia berdiri dan beringsut pergi.

__ADS_1


"Ayo, Mas! Katanya mau jalan. Keburu malam."


Lucu sekali gadis ayu ini jika sedang tak enak hati. Membuatku semakin gemas. Hingga aku tak sabar untuk membuatnya lemas. Eits! Kugoda sampai lemas. Ah, kenapa kalimatku jadi serba salah. Kugoda sampai dia tertawa, dan lemas karenanya. Begitu ... ya, seperti itu!


__ADS_2