Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Memori Dua Lelaki


__ADS_3

Gadis ayu menimbun senyum yang dari tadi ia simpan. Rangkaian kalimat yang terbagi dalam banyak paragraf membuatnya ingin tertawa. Hanya saja, ia tak mau seolah sedang meronta dari luka dan ingin mengulang lagi bahagia dengan lain pria. Ini hanyalah mengenang bukan berarti ingin kembali menjalin sesuatu yang sudah termakan waktu.


Saat Abang belum pulang, sekuat diri ia menjaga hati. Segala yang terjadi, biarlah waktu yang menjadi jawaban pasti. Elakan dengan kata tidak, jika takdir berbicara iya, maka manusia tak punya kuasa. Cinta punya jalannya sendiri untuk sampai pada tujuannya. Bisa bahagia tetapi duka pun bisa terjadi. Dan saat pilihan telah menjadi keputusan, maka takdir Tuhan tak dapat diganggu gugat.


Pernyataan cinta yang begitu mudah ia terima, membangkitkan ingatan tentang kisah silam antara dia dan seseorang yang kini telah terbaring di bawah batu nisan. Gadis itu meruntut penyesalan karena telah mengabaikan lelakinya begitu lama. Jika saja waktu dapat dia putar kembali, ia memilih untuk memberi tawa pada Dion, pencintanya yang kini telah bahagia.


Gadis itu ragu untuk membaca lagi novelnya. Ia tutup, buka dan tutup lagi. Hatinya tak bisa menerima dua lelaki dengan suasana penyerta rasa yang berbeda. Bahagia untuk Mas Rud dan duka untuk Dion Wijaya. Ia memilih untuk duduk di ayunan rotan yang terletak di balkon kamarnya. Menatap langit yang seolah menghadirkan wajah penuh senyum dari lelaki halalnya yang telah tiada. Dengan isyarat tangan ia mempersilakan sang gadis untuk membaca lagi novel yang masih berada dalam genggamannya.


Keraguan tetap menyergap meskipun sang pemilik statusnya telah memberikan izin untuk meneruskan. Ia bimbang. Mengapa Dionnya terlihat bahagia jika ia meneruskan membaca kisah lelaki masa lalunya? Padahal dulu, Mas Rudlah yang membuatnya diserbu oleh cemburu.


Sekali lagi, gadis itu menatap ke arah yang tadi memberinya jawaban atas kegundahannya. Masih di sana dengan posisi yang sama. Gambaran itu semakin mengisyaratkan untuk sang gadis mulai membuka novel di tangannya.


Hati masih meragu tetapi tangan mulai membuka lembaran.


****Bab. 17**** : Obrolan lelaki


Malam menjelang pertengahan. Obrolanku dan Rendra baru saja diawali. Bukan berdekatan tetapi hanya lewat sebuah saluran media sosial. Memanfaatkan fasilitas video call, kami sudah seperti sepasang kekasih yang sedang berbagi.


"Tadi siang lanjut gak tuh ciuman?" goda Rendra karena telah menggagalkan enak-enak yang hampir beranak-pinak.


"Menurut, Lu?"


"Gagal pasti. Aku tahu Rosa itu gimana," kekeh Rendra dalam nada mengejek yang membuatku terpancing untuk membejek-bejek.


"Hm."


"Sabar, Bro! Baru jadian juga udah nyosor, aja."


Seenak kata saja Rendra berbicara. Sedikit ciuman itu adalah perwujudan cinta dalam konteks kasih sayang. Siapa yang bisa menahan saat gejolak memanah diri yang sedang dilingkupi jatuh hati? Berada di dekatnya adalah godaan iman yang amat dahsyat.


"Gue tutup aja, ya? Lu makin rese," ucapku sembari mematikan panggilan.

__ADS_1


Sayangnya dia tidak menyerah begitu saja. Panggilan kembali datang. Dan anehnya kembali aku angkat tanpa banyak pemikiran. Terlihat wajah penuh ejekan itu sedang tersenyum smirk. Aku tahu setelah ini dia akan kembali melancarkan aksi.


"Kalau mau gak terganggu jangan di kantor, Bos! Hotel," usul Rendra memberikan nasehat sesat.


"Lu pikir gue sejahan*m itu, apa?" timpalku ngegas.


"Emang, gak jahan*m?"


Lagi-lagi sahabat menjengkelkan itu berbuat sesuatu yang ingin kubalas dengan sebuah pukulan pakai tongkat. Laki-laki mesum itu biasa. Asalkan tahu batasan kurasa itu sangatlah wajar. Toh, kuyakin bukan hanya aku saja yang begitu, pasangan di luar sana pasti juga banyak yang melakukannya. Lelaki normal mana yang bisa tahan bila ada makhluk hawa di hadapan?


"Lu godain si Maya aja, sana! Ngapain gangguin gue?"


"Maya udah Rendra bobokin."


"Lu apain si Maya? Gue curiga," selidikku dengan sok penasaran padahal sama sekali tidak.


Aku sudah hafal dengan kelakuan Rendra. Bibirnya sok sebagai Don Juan tetapi sebenarnya hatinya seperti buaya. Hanya setia pada satu wanita. Dan saat ini dia benar-benar sedang menimang Maya apakah dia adalah yang terbaik untuknya.


"Buruan kawinin, anak orang diobok-obok!"


"Lu kata gue Joshua."


"Bukanlah, lu Rendra. Ingatanku masih sehat bisa bedain mana tukang main air mana tukang main ...," tak kulanjutkan kalimatku. Sengaja menggodanya agar tersindir dan segera menyingkir.


Namun, bukan Rendra namanya kalau baperan. Sejahat apapun aku berkata dia hanya akan mengembangkan senyumnya. Tak akan mudah memantik emosinya. Yang ada malah aku yang emosi sendiri.


"Lu sendiri suka main apa, Bro?" goda Rendra yang justru balik menyerangku.


"Main liur," jawabku asal.


"Gue gak nyangka lu semesum itu, Bro. Kalem-kalem taunya dalem," sindir Rendra sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ileran maksud gue. Lu sih pikirannya ke sana aja. Udah ah, gue mau tidur. Kebanyakan ngobrol sama lu, takutnya meracuni mimpiku."


"Aku doain mimpiin Rendra yang tampan paripurna."


Tak menunggu Rendra menambah kata, segera kuhitamkan layar benda pintar. Mengabaikan kata pamit karena hanya akan membuat masalah semakin rumit. Berkawan dengannya sopan santun itu menghilang. Disembunyikan sementara waktu agar tak dijadikan korban melulu.


Waktu sudah tinggal sepuluh menit lagi menuju tengah malam. Kucoba melihat apakah kekasihku sudah terlelap ataukah masih asyik dengan gawainya yang bercasing gelap.


Online.


Sayang, waktunya tidur. Jangan begadang!


Pesanku tercentang dua tetapi tak segera ia baca. Mungkinkah ia sudah bermain di alam mimpi?


Tak kukirim pesan lagi. Takut jika malah akan mengganggu lelap tidurnya. Benda pintar pun segera kuletakkan di nakas. Mengekor kepergiannya meninggalkan alam nyata. Berdoa semoga mimpi bisa menjadi setting tempat untuk bertemu lagi menyalurkan hasrat. Bermesraan meski hanya dalam buaian angan dari alam bawah sadar.


_______________________________________________


Gadis ayu kembali menerawangkan pikiran. Hujan di luar sana seolah ikut membangkitkan kenangan tentang masa-masa bahagia yang pernah ia lewati bersama kekasih dalam novelnya. Namun, senyum yang ia ukir terasa getir. Panggilan sayang pada novel itu mengingatkan ia pada lelakinya. Bukan penulis novel tetapi pelukis tanda tangan di buku nikahnya.


Ya, kedua lelaki yang bergantian bahkan pernah bersamaan hadir dalam hidupnya itu memiliki panggilan yang sama. Sayang.


Mengapa tak ada beda? Padahal banyak kata yang bisa ia jadikan pilihan. Mungkin Cinta, Dinda, Beb, Sweetheart, Honey, Dear, Bee, Bunny atau apalah. Ternyata satu kata itu dipilih mereka untuk menyapa gadis yang sama. Mungkinkah itu karena mereka sangat sayang pada gadisnya?


Entahlah.


Gadis itu menghela napas. Merasa senang atau bukan, tetapi satu kenyataan yang ia dapatkan bahwasanya dua lelaki itu memang sungguh-sungguh mencintainya. Sangat besar sehingga membuat mereka seolah tergila-gila karenanya.


🐠🐠🐠🐠🐠


Jangan lupa ya kepoin novel baru yang pasti bikin ngakak gak berkesudahan.

__ADS_1



__ADS_2