Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Istri?


__ADS_3

Mas Rud dan Kristy saling menatap. Wanita di hadapan mereka membuat was-was. Pingsan itu bukan hal yang beresiko tinggi, akan tetapi jika gadis ayu yang mengalami bisa saja melahirkan khawatir. Apalagi jika itu karena abang, mungkin saja ia sedang merasakan trauma yang dulu pernah dialaminya.


"Mbak," Kristy memanggil saudara satu-satunya itu dengan lembut.


Awalnya gadis ayu hanya diam dengan tatapan kosong. Bengong. Namun, sebentar kemudian tiba-tiba ia turun dari ranjang pasien tempatnya tiduran. "Aku mau melihat abang."


Kaki itu dipaksa berjalan. Mas Rud segera menyusul dan merangkul. "Sayang, pelan-pelan! Kamu baru saja sadarkan diri, jangan berlari!"


"Aku akan berlari mengejar abang. Dia tidak boleh sendirian," timpal gadis ayu tanpa tersenyum sedikit pun.


"Abang tidak akan ke mana-mana. Dia akan selalu bersama kita." Mas Rud terus menghibur.


Langkah mereka berhenti ketika dari lorong di mana ruangan abang berada, sedang melaju brankar dengan pasien yang tertutup kain putih di sekujur tubuh. Pikiran ingin positif, tetapi kaki tiba-tiba saja rasanya melunglai. Gadis ayu menyebut dengan lirih, "Abang."


"Dia bukan abang," jawab Mas Rud tetapi tidak didengar gadis ayu.


Adik yang begitu menyayangi abang itu memaksa kakinya untuk berlari walaupun pada kenyataannya ia hanya bisa menempuh jarak dengan terseok-seok.


"Abang, jangan jahat padaku, Bang!"


Kalimat itu berkali-kali diucap. Linangan air mata yang menyertainya, seolah menelan suara. Namun, rasa tetap terapung di kalbu. Pintu ruangan tempat abang di rawat ia putar dengan kuat. "Abang!"


Suara itu menggema. Bagaikan di tingginya puncak gunung, ia berseru dengan sekuat tenaga. Lelaki yang tidak ingin ia lihat pergi, dipanggil dengan penuh rasa kasih.


🍁🍁🍁


Kristy masih terpaku menatap kepergian sang kakak dan mas Rud. Ia menyeka air mata yang tiba-tiba menerobos pipi. Mata itu ia sapukan pada atap ruangan, mencoba menepis rasa yang membuncah tidak terarah.


"Bisakah aku mengejar tingginya perasaan kalian? Kupikir kisah Romeo-Juliet itu kisah teromantis, ternyata aku salah. Cinta di antara kalian akan menjadi sejarah, tentang rasa yang tidak dapat digantikan kata."


Ucapan lirih Kristy terdengar oleh seseorang yang sedari tadi berdiri di sisi. Kresna, lelaki itu mencoba memberi damai pada hati yang tengah lara. Wanita yang telah lama dikaguminya itu, baru kali ini menunjukkan kerapuhan kalbu.


"Jangan menangis di sini. Ayo, ke ruanganku!" ajak Kresna meninggalkan ruangan IGD.


Langkah ragu-ragu akhirnya mengayun juga pada ruangan yang tertulis nama dr. Kresna Megantoro, Sp.S pada pintunya.

__ADS_1


"Kris, sampai kapan kamu akan bertahan mencintai dalam diam?" Kresna bertanya sebagai seorang teman.


"Sampai aku jenuh," jawab Kristy dengan gaya santai.


"Jangan ikuti Mas Aryan-mu itu! Kamu perlu lelaki yang bisa menjagamu. Setelah aku menikah, tidak akan ada yang bisa kamu jadikan tempat berbagi sebebas ini lagi. Jadi, rebut hatinya atau cari pengganti!" nasihat Kresna dengan menjaga nada bicara, agar Kristy tidak kembali bersedih.


"Lelaki lain itu sama aja kayak kamu. Katanya cinta, tapi perjuangannya segitu aja. Beruntung sekali Mbak Rosa, diperjuangkan sekuat tenaga oleh ketiga lelaki yang mencintainya," keluh Kristy seraya menghela napas untuk membuat rasa irinya terbebas.


"Kamu memang tidak pernah melihat perjuanganku, Kris. Aku memang sudah menyerah sebelum sepuluh tahun perjuangan seperti mas Dion dan juga bukan mas Rud yang bisa kembali setelah memutuskan pergi. Tapi, aku seperti Mas Aryan, tetap menjadi teman yang berharap kamu selalu mendapatkan kebahagiaan." Kresna justru mengungkapkan perasaan.


"Aku tahu semua itu. Terima kasih, Kres. Semoga kamu juga bahagia dengan wanita yang dijodohkan denganmu."


Kresna mengulas senyuman. "Kalau kamu sudah tidak kuat, datanglah padaku! Aku masih punya slot kosong untuk istri kedua."


"Kamu bisa poligami? Siap dicakar sama dr. Boyke."


Kresna melemparkan kertas yang sudah diremas pada Kristy. "Kamu pikir aku melenceng? Kenapa dokter Boyke?"


"Emang bukan dr. Boyke?" celetuk Kristy seolah tidak merasa bersalah.


Kristy mengembalikan remasan kertas yang tadi jatuh ke lantai. "Cie, segitu cintanya sama dr. Adit. Cinta mati rupanya."


"Iya, ini gara-gara kamu, Kris. Coba aja nggak kamu tolak, pasti aku sama dr. Ryan." Kresna terus bergurau.


"Kenapa harus ngomongin dokter terus, sih? Percuma punya banyak kenalan dokter, temen juga dokter, aku sendiri calon dokter, tapi sakit begini aja nggak ada obatnya," ujar Kristy getir.


Kresna beranjak dari duduknya. Ia mendekat pada Kristy dan duduk di tepi meja. "Karena obat sakitmu bukan dari dokter, tapi dari CEO. Dasar penyakit aneh. Enyahlah dari diri Kristy!"


Adik dari gadis ayu menepis tangan Kresna yang menempel pada dahinya. "Kamu pikir aku kesurupan?"


"Emang apa namanya kalau nggak kesurupan? Bisa tergila-gila sama Mas Aryan sampai cintaku nggak dianggap.


"Jangan curhat!"


Kresna memperlihatkan cengiran senyuman. "Kita kan teman curhat."

__ADS_1


"Masa, sih? Aku lupa. Bagiku kamu pemujaku," Kristy berucap tanpa basa-basi."


"Itu dulu, sebelum aku menemukan jodohku."


Apa yang Kresna katakan adalah sebuah kebenaran. Sebelum menerima perjodohan yang direncanakan oleh keluarganya, hari-hari lelaki itu dihabiskan untuk mengejar Kristy. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah perjuangan. Sayangnya, ia dipaksa mundur teratur.


"Kres, gimana ya caranya move on?" Tiba-tiba sang adik dari gadis ayu mengubah raut menjadi sendu. Entah mengapa, dia menjadi gentar untuk terus bersabar berjuang demi cinta yang tidak pernah terbilang.


"Jangan tanya tentang move on sekarang! Bisa-bisa aku yang nantinya oleng," timpal Kresna.


"Pelit amat."


Kresna menepuk pundak Kristy sekali. "Ini bukan masalah pelit. Tapi, pernikahanku tinggal selangkah lagi. Kalau kamu move on dari Mas Aryan, itu artinya aku harus mengejarmu lagi. Bagaimana dengan perasaan calon istriku? Jangan mengajariku menjadi lelaki tidak bertanggung jawab!"


Kristy meninju perut lelaki di hadapannya. "Siapa yang dulu menyuruhku untuk move on? Lagian, walaupun aku nggak lagi mencintai Mas Aryan, kamu juga nggak bakalan aku lirik kali."


"Aku yang nggak kuat untuk tidak melirikmu, Kris."


Kristy menyulam senyum dan memilih beringsut dari duduk. Ia berdiri dan kemudian memandang sang lelaki. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Kelamaan di sini, takutnya kamu tidak bisa menjaga hati."


Kresna hanya tersenyum memandang kepergian gadis yang pernah ia puja. Mungkin sampai sekarang rasa itu masih ada, hanya saja tinggal kepingan kecil yang dibiarkan menjadi kenangan manis.


🍁🍁🍁


Ruang perawatan abang menjadi hening ketika gadis ayu masuk dengan histeris. Tidak, bukan karena lelaki itu telah pergi untuk selamanya, melainkan karena sang abang telah membuka mata.


Bukankah itu kabar bahagia? Seharusnya begitu, tetapi ada hal yang membuat gadis ayu terbelenggu rasa terkejut. Ia tidak ingin mendengar apa yang diucapkan abang, tetapi itu selalu diulang-ulang. Hingga lebih dari sepuluh menit, keduanya terus saja mereka adegan.


"Istriku." Kalimat abang itu yang membuat gadis ayu termangu.


🍁🍁🍁



Kristy

__ADS_1


__ADS_2