
Ketika hati gadis ayu sedang dibelenggu kecemasan, tiba-tiba gawainya berdering kencang. Tanpa menunggu, ia langsung mengangkat karena si penelepon adalah abang yang membuatnya sekarat karena was-was.
"Bang, kenapa pulang? Aku 'kan sudah bilang agar menungguku," omel gadis ayu dengan bibirnya yang mengerucut. Kekhawatiran sudah hilang digantikan oleh kemarahan.
"Bukankah tadi kamu melihatku di teras? Siapa yang masuk kamar nggak keluar-keluar?" tanya balik abang dengan sangat tenang.
"Seharusnya abang mencariku," gadis ayu tak mau mengalah.
"Istirahatlah! Sepertinya seminggu ini aku agak sibuk, jaga diri baik-baik. Nanti, weekend aku ke rumah lagi," ucap abang yang membuat gadis ayu merasa sedih.
"Abang akhir-akhir ini makin sibuk, kejar setoran, ya?" celetuk gadis ayu.
"Iya, Satyaku kan udah sekolah minggu depan, jadi harus kerja lebih keras. Kecuali ..." Abang menjeda kalimatnya.
"Kecuali?" tanya gadis ayu mengulang kata yang abang jeda.
Abang tidak menanggapi pertanyaan adik tersayang. Ia justru membelokkan topik pembahasan. "Novelmu aku letakkan di meja rias. Selama aku nggak ada, kamu bisa membacanya ditemani yang menulisnya."
"Siapa juga yang mau membacanya lagi, Bang?"
"Mungkin lebih baik kamu tanya langsung sama Rud daripada membaca novelnya. Kalau ada yang nggak jelas 'kan bisa minta penjelasan langsung sama orangnya," saran abang.
"Udah, Bang. Aku nggak mau bahas dia lagi." Gadis ayu menghentikan pembicaraan tentang Mas Rud.
Abang yang selalu mengerti dengan sifat sang adik, tidak lagi membahas seseorang yang datang dari masa silam. "Baiklah. Masih kangen, nggak? Aku mau mandi dulu."
"Kangen. Tapi ... nanti aja telepon lagi. Mandilah, Bang!"
Pengakuan gadis ayu sebenarnya memberatkan si abang untuk menutup telepon tetapi kerelaan sang adik menjadikan persetujuan itu terbit. Panggilan segera ia matikan. Namun, bukan buru-buru tenggelam dalam kamar mandi, ia justru merebahkan tubuh dengan senyum terukir di bibir.
Rosa ... Rosa ... Hadirmu benar-benar mewarnai hidupku yang dulu monokrom.
Abang meraih gawai yang tadi ia hempaskan di ranjang. Tersimpan rapi dalam galeri, banyak foto menjadi saksi kebersamaan abang dan adik tersayang. Mulai dari awal pertemuan saat dia terlambat mencintai, karena gadis ayu telah menjatuhkan pilihan pada Dion, sampai ia kembali menjadi jalan pulang sang mantan dari adik tersayang. Tak terbatas pada sang adik, foto Satya kecilnya pun memenuhi galeri.
"Kamu harus bahagia agar aku juga ikut bahagia."
__ADS_1
"Lalu ... kapan kamu juga akan bahagia dengan keluarga kecilmu?"
Kehadiran sang papa yang tiba-tiba berada di kamar si abang ternyata tidak begitu mengejutkan. Itu bukan pertama kalinya. Tak jarang abang membiarkan pintu kamarnya terbuka sehingga sang papa bebas keluar masuk.
Abang menampakkan senyuman termanisnya. "Dalam perjalanan, Pa."
"Aryan, usiamu sudah lebih dari cukup untuk menikah. Papa sempat berharap Rosa akan menjadi jodohmu, tetapi saat kamu justru membawa Rud kembali, papa pesimis. Kapan kamu memikirkan dirimu sendiri?"
Abang beranjak dari ranjang. Dia berjalan menuju balkon dan mengeratkan genggaman jemari pada pagar pembatas. "Jika kebahagiaan sempurnanya bersama Rud, mana mungkin Aryan akan memaksa dia berbahagia tanpanya."
"Selama ini, bukankah dia berbahagia dengan kebersamaan kalian?" selidik papa yang mengekor keberadaan putra semata wayangnya.
"Aryan hanya membantu merapikan hatinya yang hancur berkeping-keping saat ia ditinggalkan sang suami. Sementara Rud, dia akan membentuk hatinya kembali utuh."
Papa menjeda kalimatnya. Ia seperti ikut menepikan pedih yang tidak ingin ditampakkan sang anak. Napas mendalam ia hela memanjang. Netra menjauh, menempuh pemandangan untuk membasuh rasa yang membuat hati bergemuruh.
"Papa jangan mengasihani Aryan! Seharusnya, rasa terima kasihlah yang kita ucapkan. Dengan mengenalnya, Aryan mendapatkan keluarga yang utuh. Ada mama yang menyayangi Aryan seperti putra kandungnya. Bersama Kristy dan Rosa, rasa memiliki sebagai saudara itu ada. Apalagi dengan kehadiran Satya, Aryan merasa bisa memberikan kasih sayang sempurna, bukan sekadar sebagai uncle, tetapi seperti seorang ayah kepada putranya. Nikmat mencintai apa lagi yang bisa membuat Aryan bersedih?"
Kalimat papa tercekat. Ia benar-benar tak habis pikir bagaimana sang putra bisa mengolah getir hingga bisa menyingkir. Menata hati hingga bisa berkata bijaksana di atas cinta yang tidak sempurna.
Abang memutar badan sambil menyunggingkan sebuah senyuman. "Aryan tahu papa menginginkan anak perempuan dan cucu. Bukankah Rosa dan Satya adalah jawabannya? Jangan pedulikan siapa yang menghalalkannya! Mau Rud atapun Aryan sama saja, Pa."
"Aamiin, Pa."
Kedua lelaki itu memandang langit yang mulai berubah warna menjadi kuning kunyit. Hamparan awan putih yang diterpa cahaya sore membawa angin sepoi menelusup jiwa yang memilih sendiri tetapi jauh dari kata sepi.
🍒🍒🍒🍒🍒
Malam telah menjemput impian datang. Seorang lelaki berdiri di balkon dengan menggenggam pagar. Bukan abang melainkan Mas Rud sang mantan bodyguard.
"Liku-liku hidupku."
Kalimat tidak lengkap itu Mas Rud ungkap saat melihat langit gelap. Tiadanya cahaya yang berpijar dari sang bulan dan bintang menjadikan hamparan langit terlihat suram, seperti hatinya yang pernah kelam tanpa adanya cinta yang bersemayam.
Helaan napas ia lepas. Namun, keadaan justru menariknya dalam kenangan beberapa tahun silam.
__ADS_1
Kala ia harus kehilangan semuanya, harta dan cintanya, hidupnya mengalami titik balik. Pekerjaan yang terpaksa ia tinggalkan, membawanya menjadi seorang bodyguard di keluarga Tuan Alexander Kemal Malik.
Masih hangat di ingatan, bagaimana ia harus melepas kekasih yang teramat ia cintai dengan cara tragis. Demi kebahagiaan sebelah hatinya, ia rela pergi. Tidak bisa lagi menjaga wanita yang seharusnya ia lindungi dengan segenap jiwa dan raga. Garis hidup justru membuat ia harus mempertaruhkan nyawa untuk seseorang yang tidak ia cinta.
Seketika ingatan dihentikan pada masa di mana ia ditugaskan untuk mengawal istri dari Tuan Alex. Kehadiran mereka di acara lelang amal justru membawanya bertemu dengan gadis ayunya.
Saat itu, Mas Rud sedang berbincang dengan sahabatnya sesama bodyguard yang bernama Zeno.
"Rud, gimana kabar hatimu?"
"Aku menyesal meninggalkannya, Zen."
Mas Rud berusaha membekukan kristal yang mulai menggelinding di balik netra, hanya dengan mengingat gadis ayunya. Ia buang pandang ke arah sembarang. Namun ia justru melihat apa yang tak mungkin lagi dia dekap.
Gadis ayunya berdiri dengan jarak yang tidak terlampau jauh. Netra mereka saling memaku. Beningnya mata yang berwarna putih mulai memerah. Manik hitam berkaca-kaca tak tertahan. Kedua insan terbawa dalam kedalaman perasaan tak terungkapkan.
Seolah terhipnotis, Mas Rud berjalan mendekat pada gadis ayunya. Dengan penuh kelembutan, jemarinya menggandeng lengan sang mantan. Kedua insan itu berduaan di sudut ruangan.
Bibir seolah tersihir. Tiada sepatah kata pun yang terukir. Hanya saja, bulir air mata perlahan mengalir. Menjadi wakil yang tampil menjelaskan rasa yang masih menyempil.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Mas Rud untuk memecah kebisuan yang terjadi.
"Apa kamu bahagia, tanpaku?" tanyanya kagi sambil membelai pipi gadis ayu yang basah oleh air mata.
"Maafkan, aku! ucap Mas Rud sambil menarik gadis ayu ke dalam pelukannya.
Tiada penolakan, membuat Mas Rud yakin jika sang gadis pujaan masih mencintainya dengan sangat mendalam.
Keduanya terhanyut dengan perasaan masing-masing. Sampai tiba-tiba saja terdengar suara tembakan. Keadaan tiba-tiba tidak terkendali, terjadi baku tembak di mana-mana. Para tamu pun sudah kocar-kacir berlari kesana kemari.
Mas Rud melindungi tubuh gadis ayu yang masih dalam pelukannya. Dengan pistol sebagai senjata, ia ikut menembak membabi buta. Tak jelas siapa lawan dan siapa kawan. Tiba-tiba saja, peluru itu menembus dada kanan Mas Rud.
"Mas Rud ...." teriak gadis ayu sambil mendekap tubuh lelakinya.
Saat itu yang ditakutkan Mas Rud bukan kehilangan nyawa, akan tetapi itu adalah kali terakhir ia memeluk dan menjaga gadis ayunya. Air mata mengalir, bukan hanya saat itu tetapi saat khayalan kembali ke dunia nyata, air mata itu menembus masa.
__ADS_1
"Sayang ... saat Tuhan mengembalikan nyawaku, maka tak akan lagi kusiakan dirimu untuk kedua kali. Sekarang aku kembali untuk memelukmu tanpa henti. Tak akan kuizinkan air mata luruh di pipimu," janji Mas Rud seraya menyeka air mata yang mengalir di pipinya.
"Rosa, rasaku padamu menembus dimensi waktu dan status. Aku mencintaimu tanpa batas. Karena kamu adalah nyawa hidupku."