Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Obrolan Kakak Adik


__ADS_3

"Dia selalu bilang akan segera menghalalkanku, Bang. Bagaimana bisa aku tidak menangkap maksudnya?" gumam gadis ayu dengan lamunan liarnya. Merutuki ketidakpekaannya terhadap kalimat yang berulangkali diucap sang mantan tetapi tak ia anggap sebagai kejutan.


"Dia ingin mengejutkanmu, tetapi kurasa dia yang terkejut sendiri."


Kalimat si Abang membuat gadis itu berpikir sedikit lebih keras. Mungkin yang dibilang lelaki penjaganya itu seutuhnya benar. Ada sesuatu yang membuat mantannya itu kaget hingga ia minggat. Meninggalkan semua rencana indah yang telah ia canangkan. Menoreh luka untuk dua hati yang saling mencinta, dirinya sendiri dan gadis ayu yang ia cintai.


"Bukankah kisah kami sangat miris, Bang?"


"Sepertinya dia sengaja membiarkan Dion untuk menggantikan posisinya untuk menjagamu."


Kutolehkan kepala pada lelaki manis yang baru saja mengutarakan pendapatnya. "Apakah mereka saling mengenal?"


"Coba kamu telaah! Rud dan Rendra sahabat dekat. Rendra dan Dion adalah sepupu yang tinggal di apartemen yang berseberangan. Jika Dion dan Rendra tinggal di sini dalam kurun waktu bersamaan, maka kemungkinan kedua lelakimu itu saling mengenal lebih besar."


Sang Gadis mencerna dengan baik apa yang disampaikan Abang tersayangnya. "Apakah itu berarti jika Mas Rendra adalah kunci semua rasa penasaranku, Bang?"


"Tepat," timpal Abang Aryan dengan menjentikkan jempol dan jari tengahnya.


Pikiran gadis ayu itu sepertinya sedang dilabuhkan pada nama seseorang. Sahabat sekaligus saudaranya yang menjadi petunjuk teka-teki masa silamnya. Namun, ada gamang yang menerawang.


"Aku tak bisa mengintrogasi Mas Rendra, Bang. Itu hanya akan mengungkit dukanya saja. Mengingat sepupunya yang telah tiada sekaligus sahabatnya yang entah ada di mana."


"Serahkan semua padaku! Jika benar tebakan kita bahwa Dion diserahi mandat untuk menjagamu ketika Rud pergi, maka dua lelaki ini memang malaikat penjagamu. Terlepas dari cinta yang memang sudah dia simpan untukmu jauh sebelum Rud datang, suamimu sudah mengemban amanatnya dengan sangat baik. Maka, saat Dion gantian memintaku untuk menjagamu saat dia tak bisa melakukan tugasnya, aku akan berusaha membuatmu menemukan bahagia bersama cinta pertama. Ini seperti lingkaran penjagaan malaikat cintamu, Sa."


"Apakah aku selemah itu hingga kalian bergantian menjagaku?" ucap gadis ayu dengan menundukkan kepala.


"Kamu bukan lemah, tetapi kamu terlalu berharga untuk dibiarkan menangis sendirian."


"Bang, aku jahat banget, ya? Semua orang rela mengorbankan dirinya agar aku bahagia. Namun, aku tak peka."


Abang meraih tubuh adik ke dalam pelukannya. Mengusap punggung wanita itu dengan belas kasih yang ia punya, tulus untuknya. Tanpa mengharap balas atas cinta yang ia rasa, hanya berdoa semoga sang gadis bahagia.


"Abang tidak perlu menepati janji pada Mas Dion. Aku bisa menjaga diri. Menikahlah!"


Gadis ayu menatap lelaki itu dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu bagaimana hati Abangnya. Namun selalu ia mencoba menutup mata karena permintaan lelaki di hadapannya.

__ADS_1


"Sa, hatiku benar-benar telah menyayangimu seperti adikku sendiri. Memang benar dulu bernama cinta, tetapi semenjak melihat Dion aku sadar bahwasanya aku hanya boleh menganggapmu sebatas adik tersayang. Apalagi saat sekarang, aku semakin yakin jika aku adalah Abang yang akan membahagiakan adik semata wayang."


Gadis itu mengeratkan pelukan. "Bang, kamu terlalu baik untuk sendirian."


"Aku punya keluarga Atmadja. Dan yang pasti aku adalah uncle buat Satya."


"Abang butuh istri."


Lelaki itu tersenyum. Ia mengacak puncak rambut gadisnya yang kali ini sangat cerewet. Perlahan melepaskan rengkuhan dan mengusap air mata yang jatuh tak terhanan di pipi adiknya. "Ada kamu, aku tak butuh istri."


Abang yang mengaku sebagai hot uncle itu mendapatkan pelototan dari adiknya. Bukannya marah, ia justru membuat puncak kepala gadis itu semakin acak-acakan. Si gadis menggerutu tetapi si Abang justru tersenyum dengan sangat manisnya. Entahlah, laki-laki itu selalu begitu.


"Bang, menua sendirian itu bukan pilihan yang benar," gadis ayu terus menebarkan racun agar si Abang berubah pikiran. Berhenti menjaganya dan memilih seorang wanita sebagai istrinya.


"Iya, makanya aku ingin kamu menemukan lelaki yang mencintaimu tulus agar bisa menemanimu menua bersama."


"Aku ngomongin Abang, mengapa justru Abang ngomingin aku?" gadis itu membentuk sebuah huruf U besar dengan bibirnya.


"Aku memiliki Di-junior untuk menemani hari tuaku," seru gadis itu menyebutkan nama yang selalu mengingatkan pada lelaki halalnya yang telah kembali pada Sang Khaliq.


"Mengapa aku bisa bertemu Abang ngeyel sepertimu?" gerutu gadis itu yang disambut tawa si Abang.


"Karena Tuhan tahu jika aku membutuhkan adik keras kepala sepertimu untuk menguji kesabaranku," celetuk Abang tanpa dipikirkan secara matang, mengalir begitu saja.


Sang Adik mencebik, Abangnya selalu bisa berkelit dari omelannya. Tak pernah sekalipun marah menanggapi tingkahnya yang membuat orang lain mungkin merasa jengah. Sang lelaki selalu meluangkan waktu untuk mengajak berbicara sang adik tercinta, mengabaikan rasa lelah yang mungkin menderanya.


Lelaki itu tahu sekali jika sang gadis membutuhkan seseorang yang bisa mencurahkan segala rasa. Terlebih setelah dia lepas dari masa trauma. Kehilangan lelaki halal membuatnya harus terapi berbulan-bulan. Sekarang saat dia sembuh, maka yang harus diwujudkan si Abang adalah memberi bahagia untuk gadisnya. Lantaran ia tak mau gadisnya kembali ke masa suram, ingatan yang membuatnya sedih tak berkesudahan.


"Bang, boleh gak aku meminta?"


Si Abang mengernyitkan dahi. Merasa tak biasa sang gadis meminta. "Jangan mahal-mahal, aku sekarang pengangguran!"


Selepas gadis ayu itu ditinggalkan sang suami, Abang memutuskan keluar dari pekerjaan yang dulu membuat mereka bertambah dekat. Dan entah apa kegiatannya sekarang, setiap ditanya pasti jawabnya adalah pengangguran. Namun mana ada orang tak punya pekerjaan tetapi penampilannya tetap menawan.


"Makanya cari kerja, sana!"

__ADS_1


"Tabunganku masih cukuplah kalau hanya untuk membelikanmu bakmi jogja setiap hari," aku si Abang dengan senyum super manisnya.


"Tega sekali Abang menyuruhku makan mie setiap hari. Kayak anak kosan aja," gerutu gadis itu lagi.


"Makanya aku cariin laki-laki yang bisa mengenyangkanmu. Bukan hanya soal perut tetapi perasaan pun turut."


"Abang tidak mau mengenyangkanmu?" goda gadis itu.


"Aku mau tetapi aku tak mampu. Perasaanmu tak terjamah oleh hatiku. Jadi aku akan mencarikanmu yang bisa melakukan dua-duanya. Kamu harus bahagia sempurna."


"Kalau gitu aku cukup makan bakmi aja deh,"


"Jangan, itu tidak sehat!"


"Bang, aku menyayangimu. Terimakasih sudah menghabiskan waktu untuk membuatku bahagia," ungkap gadis itu yang dibalas belaian pada rambut panjangnya.


"Aku juga sangat menyayangimu, adik Abang tersayang. Jangan mengucapkan terimakasih lagi, aku tak mau mendengarnya."


"Lalu, kamu mau mendengarku bilang apa?" goda gadis itu kemudian. Mengambyarkan perasaan haru yang tercipta sebentar. Lelaki itu tak pernah mau jika air mata tumpah melimpah di pipi gadis ayu yang selalu ia jaga bahagianya.


"Bang, belikan aku bakmi!" ejek si Abang menirukan gaya adiknya meminta setiap kali ia hendak datang.


Mereka berdua sama-sama tersenyum. Kekonyolan dua manusia kesepian yang menghilang saat mereka larut dalam candaan. Keakraban dari saudara tanpa ikatan darah. Rasa saling sayang yang membuat mereka dekat dan saling menguatkan.


💗💗💗💗💗


Mampir yuk ke novel Trio Somplak n The Gank!





__ADS_1



__ADS_2