Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Jodoh Tidak Akan Tertukar


__ADS_3

Mas Rud mengambil alih putra kecil. "Sayang, ayo ke dapur! Kita masak dan makan berdua!"


Gadis ayu melongo. Secara tidak sadar, ia melepaskan Di-junior. Ia merasa telah salah sangka. "Jadi, Sayang itu bukan untukku?"


Gadis ayu mengentak kaki. Ia tidak terima. "Mas Rud!"


Lelaki yang dipanggil dengan seru tidak kunjung memutar tubuh. Jangankan berbalik arah, berdeham sebagai jawaban saja tidak. Mas Rud justru bercanda dengan putra gadis ayu sepanjang jalan menuju dapur.


Langkah yang dipercepat, membuat gadis ayu sanggup menyusul Mas Rud. Ia mendahului dan kemudian berhenti. Bermaksud merayu Di-junior agar berpindah si penggendong, ternyata ia kalah pamor. Sang putra menolak dengan tegas.


"Mama, kenapa meninggalkan Di-junior?"


Pertanyaan itu menampar keras hati sang mama. Ia seolah sedang dibawa untuk menentukan pilihan, antara sang putra ataukah cinta yang menghidupkan dunianya. "Mama tidak bermaksud meninggalkanmu, Sayang. Hanya saja, tadi kamu masih bobok. Mana mungkin mama bisa hidup jauh darimu?"


Gadis ayu membelai surai putra kecil. Air bening, mengalir tanpa ia sadari. Perasaan halusnya sedang dirayu. "Sayang, ayo mama gendong?"


Bukannya melonggarkan pelukan pada Mas Rud, Di-junior justru semakin mengeratkan lingkaran lengan. Ia enggan untuk jatuh pada pelukan yang ditawarkan sang mama.


"Sayang."


"Di-junior marah sama mama."


"Mama minta maaf, Sayang. Ayo, kita jalan-jalan!" Ajak gadis ayu untuk meluluhkan kemarahan sang putra kesayangan.


Di-junior membuang pandang dari sang mama. "Nggak mau."


"Bagaimana caranya agar kesalahan mama dimaafkan?" tanya gadis ayu dengan suara lembut.


Di-junior tampak tersenyum. Ada rahasia yang tergantung pada relung kalbu, disinkronkan dengan pikiran, dan kemudian terwujud dalam tarikan sudut bibir yang melengkung.


"Mama bisa apa biar Di-junior bisa memaafkan?" tantang sang putra.


Gadis ayu mencerna kalimat dengan menjeda sedikit waktu. Di-junior terlalu senior untuk masalah yang berkaitan dengan hati resah dan gundah. Hal biasa tidak akan mempan untuk membujuknya. Ia suka sesuatu yang berbeda.


"Sayang, bagaimana kalau kita menemui uncle?" tawar gadis ayu yang tiba-tiba saja ingat jika sang putra begitu menurut dengan abangnya.


"Uncle sedang istirahat, Ma. Jangan diganggu! Apa Mama tidak mau uncle segera sehat?" Bocah kecil itu justru memberikan nasihat ala dokter cilik.


Mas Rud sama sekali tidak ikut campur urusan anak dan ibu. Ia hanya memperhatikan tanpa melepaskan gendongan pada sang putra kesayangan.


Gadis ayu sudah menerka akan mendapatkan penolakan. Ia membuang napas berat, tetapi dengan menyembunyikan rasa kesal. Sabar, itulah kata kunci untuk membuat hati sang putra luluh.


"Sayang, katakan mama harus melakukan apa? Pokoknya semua akan mama lakukan agar Di-junior bisa memberikan maaf," tutur gadis ayu merayu.


"Masakin Di-junior, Ma!"


"Kalau hanya memasak, kenapa tidak bilang dari tadi, Sayang?" gadis ayu tersenyum lega. Setidaknya sang putra tidak meminta melakukan hal yang aneh-aneh. Padahal ia sudah membayangkan diminta untuk menyatakan sayang pada Mas Rud, ah ... itu sepertinya khayalan gadis ayu.


"Tapi ..." Di-junior menjeda kata hingga menimbulkan rasa curiga bagi yang mendengarnya.


Mas Rud menahan senyuman. Ia paham ke arah mana kalimat itu akan bermuara. Pikiran sang putra telah berhasil ia baca. Hanya saja, ia tidak ingin membuka suara.


"Tapi?" Gadis ayu mengulang bermaksud mencari jawaban gamblang.


"Tapi ... masaknya berdua sama papa."

__ADS_1


Gadis ayu sedikit bergetar mendengar kata yang baru saja putranya katakan. Papa bagi Di-junior tentu saja adalah suaminya yang telah sekian waktu berpulang. Jika kini ia meminta agar memasak dengan lelaki itu, maka pertanda apa?


"Mana mungkin mama memasak bersama papamu, Sayang?"


"Mungkin sekali, Ma. Kalau Mama sayang sama Di-junior maka akan melakukannya tanpa beralasan."


Ucapan panjang itu rasanya tidak pas diucapkan oleh anak yang sebentar lagi akan berulang tahun ke-empat. Terlalu dewasa.


Gadis ayu berniat membujuk sang putra tunggal. "Sayang, Papa kan berada di tempat yang jauh. Mama tidak bisa memanggilnya untuk kembali."


"Mama, Papa ada di dekat kita."


Pernyataan itu membuat kalbu gadis ayu terasa teriris sembilu. Ia merasa tertohok oleh Di-junior. Pikirannya kemudian menebak, jikalau sang putra sedang mengingatkannya untuk tidak mengutamakan perasaan. Ada kewajiban lain yang harus ia utamakan, sang putra dari seorang suami yang telah pergi.


"Sayang, Papa memang selalu ada di hati kita. Tapi ..." Kalimat itu terhenti karena bulir bening mengalir memecah perih. Gadis ayu tidak sanggup untuk menutup sendu.


"Tapi ... apa, Ma?" tanya Di-junior polos.


"Tapi, Papa tidak bisa menemani mama memasak, Sayang."


"Bisa Mama." Di-junior kokoh dengan keyakinannya yang jauh dari kata roboh.


Gadis ayu menghela napas mendalam. Ia sedang mencari cara bagaimana untuk menjelaskan kepada sang putra.


"Baiklah, mama akan memasak bersama papa. Kita pulang sekarang?" ucap gadis ayu seraya tangan mengulur untuk mengambil alih sang putra dari gendongan Mas Rud.


"Mama masak sama papa di sini."


"Di rumah saja, Sayang. Tidak enak mengotori dapur rumah Om Rud," kilah gadis ayu.


Di-junior cemberut. Ia bergaya marah seraya menyilangkan kedua lengan di depan dada. "Kalau Mama tidak mau, malam ini Di-junior menginap di rumah PaRud."


"Papa Rud, Ma. Ini dia!" jelas Di-junior seraya mencium pipi kiri lelaki yang ia panggil sebagai Papa Rud.


"Papa? Dia Papa yang kamu maksud, Sayang?" Sang mama mulai bisa memahami apa maksud putra kecil.


Tatapan penuh tanda tanya, dibalas Mas Rud dengan mengangkat kedua alisnya secara bersamaan. Dia bahkan menampakkan ekspresi cuek yang membuat gadis ayu merasa sebal.


"Iya, Ma. Perkenalkan ini Papa Rud. Tugas Mama kali ini memasak dengan Papa."


Dengan riang, Di-junior meminta turun dari gendongan. Ia berjalan mendekat pada bunda Mas Rud yang kebetulan memperhatikan semua adegan mereka bertiga.


"Eyang, temani Di-junior nonton kartun," ajak bocah kecil sambil menggandeng lengan bunda Mas Rud.


"Ma, Pa, masak yang enak! Jangan berantem, ya!" pesan Di-junior sebelum beranjak dari tempat.


Gadis ayu mengekor kepergian Di-junior. "Apakah dia salah pergaulan?"


Mas Rud tidak menggubris gadis ayu yang berbicara sendiri. Ia memilih untuk pergi. Sepertinya, wanita itu juga tidak sadar jika telah ditinggalkan.


"Putra lucuku sepertinya terkontaminasi virusmu, Mas. Ini berbahaya," ucap lirih gadis ayu seraya menoleh pada Mas Rud, tetapi ia menjadi bingung karena lelaki itu tidak ada di dekatnya lagi.


Gadis ayu mengentak kaki. Ia merasa kesal karena sedari tadi hanya berbicara sendiri. "Mas Rud awas, ya!"


Dengan menahan geram, gadis ayu menyeret langkah mencari lelakinya yang menyebalkan. Ia menuju dapur. Entah mengapa, gadis ayu yakin jika Mas Rud berada di tempat itu.

__ADS_1


"Bener 'kan dia di sini?" gumam gadis ayu begitu melihat Mas Rud tengah berdiri membelakanginya.


"Mas," panggil gadis ayu dengan nada manja seraya memeluk Mas Rud dari belakang.


Yang dipeluk hanya bergeming. Tetap fokus memotong sayuran dan mengabaikan keberadaan gadis ayu. Jangankan menjawab sapaan, sekadar dehaman pun tidak ia berikan.


Sadar tidak ditanggapi, gadis ayu justru semakin mengeratkan lingkaran lengan. Bahkan, ia menyandarkan kepala pada punggung lelakinya yang tegap. "Mas, maafkan aku!"


Mas Rud belum juga luluh. Ia setia dengan kediamannya. Perlahan, ia justru melepaskan pelukan dan bergerak ke sana ke mari untuk mempersiapkan bahan masakan. Gadis ayu benar-benar tidak dipedulikan.


Tidak kehabisan akal, gadis ayu segera menyusup di depan Mas Rud. Rongga di antara tubuh lelakinya dan meja, ia sela. Badan bagian depan itu kemudia ia dekap penuh rasa sayang. "PaRud, mama cinta sama PaRud."


"Nomorsatukan putramu!"


Kalimat yang tadi gadis ayu ucap, sekarang dikembalikan oleh Mas Rud dengan cepat. "Bagaimana kalau kita bersatu untuk menomorsatukan Di-junior? Seperti sepatu yang kupakai ini?"


"Mengapa kamu mencuri sepatu milikku?" Sedikit demi sedikit Mas Rud mulai berbicara walaupun sangat irit kata.


"Karena aku ingin mencuri hatimu, PaRud," jelas gadis ayu seraya mengangkat wajah sehingga wajah mereka berada pada satu garis lurus karena wajah Mas Rud yang menunduk.


"Aku tidak suka pencuri yang berganti target operandi."


Tanpa malu-malu, gadis ayu mengecup bibir Mas Rud. "Pencuri cantik ini hanya akan mencuri hatimu, PaRud."


"Hatiku sudah disegel. Tidak ada yang bisa mencurinya," aku Mas Rud seraya terus mempersiapkan olahan masakan untuk putra tersayang.


"PaRud, ai lop yu." Gadis ayu tersenyum menggoda seraya kembali mengecup bibir Mas Rud.


"Sejak kapan kamu agresif? Nggak malu apa kalau dilihat orang lain? Di mana harga dirimu sebagai wanita?"


Gadis ayu mengabaikan kalimat-kalimat sindiran Mas Rud. Ia fokus untuk mendapatkan hati sang kekasihnya lagi. "Aku tidak peduli. Pokoknya, aku harus berhasil menjadi pencuri hatimu, PaRud."


"Jangan ngeyel!"


"Bagaimana kalau aku terus ngeyel?" Gadis ayu tidak juga jera menggoda. Ia akan terus mengganggu sampai Mas Rud yakin untuk membuat hatinya kembali berlabuh.


"Terserah."


"PaRud, yakin kamu menolakku?" tanya gadis ayu seraya mendekatkan bibir.


"Hm."


"Benarkah?" selidik gadis ayu seraya semakin mendekatkan bibir.


"Hm."


"Aku bisa memaksamu untuk menerimaku loh, PaRud."


Gadis ayu semakin berani. Ia benar-benar tidak merasa takut. Dua benda kenyal itu kini bertaut. Bukan lagi kecupan sekilas, akan tetapi kelembutan yang dipermainkan.


"Jangan bohong, PaRud! Kamu menikmati, bukan?"


Gadis ayu kembali berbuat nakal. Namun, ia harus merelakan kekecewaan, ketika Mas Rud melepaskan tautan.


Jemari yang awalnya tiada henti memangkas bentuk sayuran, kini melembut di tengkuk gadis ayu. Mata yang saling menatap teduh, menyiratkan cinta yang menggelora tiada terkira. "Kamu bertanya apa bisa mencuri hatiku? Ini jawabannya."

__ADS_1


Dua katub lembut menyusup dalam mulut. Meliuk indah, memainkan gairah. Cinta membara menjadi tanda bahwasanya keduanya tidak akan pernah bisa dipisah. Hati akan selalu menjadi saksi bahwa gadis ayu dan Mas Rud adalah jodoh yang tidak akan pernah tertukar.


__________šŸ’—šŸ’—šŸ’—šŸ’—šŸ’—NšŸ’—šŸ’—šŸ’—šŸ’—šŸ’—šŸ’—_________


__ADS_2