
Bab. 28 : Terpaksa Menyakiti
Seperti terang yang kudapat di kamar Rosa, ruang keluarga pun lampunya masih menyala. Ayah dan bunda masih terjaga. Berbicara penuh keseriusan yang membuatku penasaran apa yang sedang mereka pertimbangkan.
"Ada apa, Yah, Bun?"
"Duduklah, Nak."
Perintah Bunda kuturuti dengan rasa penasaran yang memenuhi pikiran. Tanpa bertanya, aku menunggu salah satu dari mereka untuk berbicara. Hati sudah dipenuhi perih, meski kenyataan pahit belum kudapati. Aku sudah bisa menerka apa yang terjadi sebenarnya.
"Urungkan niatmu untuk melamar. Ardi sudah mèmbuktikan ancamannya. Perusahaan ayah sedang goyah karena penarikan saham yang dilakukan oleh keluarga Ardi. Jangan sampai Rosa mengalami apa yang kita alami."
Seketika kekuatan tulang penyangga dagingku meluruh. Lunglai. Kenyataan pahit benar-benar harus memaksaku untuk berhenti sampai di sini.
Bunda mendekat. "Pikirkan matang-matang, Nak. Bunda yakin kamu bisa mengambil keputusan yang tepat. Kebahagiaan semua orang ada di tanganmu."
Kutatap lantai dengan hati yang perih. Pikiran ingin memenangkan logika, akan tetapi hati tak bisa dibohongi.
Aku mencintainya ... sangat mencintainya. Masa depan yang kubangun, pondasinya adalah rasa cintaku padanya. Lalu, jika kini aku memilih pergi apakah aku sanggup menata hati? Bisakah aku dan dia hidup tanpa napas cinta untuk kami hirup?
πππππ
Pagi telah menunjukkan tahtanya. Aku masih juga terjaga. Sejak semalam mata tak mau terpejam. Pikiran digoyahkan oleh pilihan akan tetapi hati tak sanggup mencipta perih.
Dering gawai yang bertalu puluhan kali, tak sedikit pun aku pedulikan. Itu pasti dia yang bertanya-tanya mengapa aku tak membalas pesannya. Sungguh, bukan itu niatku.
Ingin tega toh pada akhirnya aku tak bisa. Dengan gelayutan rasa yang entah bagaimana menyebutnya, kuraih benda yang terus meneriakkan diri itu. Menggeser simbol dan kini mataku disuguhkan kalimat-kalimat yang membuatku kelu untuk mengadu.
"Maaf, Sayang. Semalem aku nggak balas WA kamu! Ada apa? Hari ini aku nggak masuk kantor. Aku keluar kota 2 hari."
Aku berbohong. Ini adalah awalan perih yang sengaja kucipta untuk membuatnya terluka. Perlahan akan menghilang tanpa penjelasan. Bukan karena aku tak sayang, akan tetapi justru rasa cinta yang berluberan hingga aku tak mau dia ikut merasakan kesakitan.
Sayang ... maafkan! Aku melanggar janji yang aku ucapkan sendiri. Laramu tak akan seberapa jika aku berhenti sampai di sini.
Biarkan kita menangis sekarang asalkan engkau tertawa kemudian. Meskipun aku ragu, bisakah hidupku bahagia tanpamu. Namun, asalkan kamu bahagia, maka aku rela.
"Hati-hati, Mas! Kita obrolin nanti kalau Mas udah pulang aja," balasnya yang justru membuat air mataku meluruh.
Kamu yang harus hati-hati, Sayang. Tanpaku, bahagiakan hidupmu! Maafkan aku yang tak sanggup memperjuangkanmu lagi.
__ADS_1
Air mata itu meluruh lagi. Biarlah. Jika tangis bisa menghapus luka, membuang semua lara, maka aku akan menangis sampai air mata ini habis.
Tuhan ... aku hanya bisa menjaganya sampai di sini. Kuserahkan kembali bahagianya di tangan-Mu. Gantikan, hadirkan dengan seseorang yang mencintainya sama sepertiku. Jangan biarkan ia kekurangan cinta dan kasih sayang!
_____________________________________________
Gadis ayu kembali menutup novelnya. Namun, lukanya kembali terbuka. Akan tetapi, ia mencoba meredam segala rasa yang menghujam.
Mas ... hati-hati? Hatimu telah mempunyai hati baru. Dan aku pun juga harus begitu. Mungkin rasa itu masih ada, akan tetapi harus kita paksa untuk pergi selamanya. Semoga kita akan bahagia tanpa hati yang dulu kita miliki.
Gadis ayu memejamkan mata. Novel itu sengaja ia gunakan sebagai penutup wajahnya. Berharap ia akan tenggelam dalam lelapnya tidur malam.
πππππ
Lelaki matang yang akrab disapa abang baru saja kembali ke ruang keluarga. Beberapa waktu yang lalu, ia tinggalkan sang adik di sana. Bi Iyah ia minta untuk menemani, sementara dia pergi. Dan kini, saat ia kembali gadis ayu nampak sudah terlelap dalam mimpi.
"Non Rosa ketiduran, Den." Bi Iyah memberi tau dengan suara yang disetel lirih.
Si abang menampakkan senyum ramah. "Tolong siapin kamar tamu, Bi!"
"Maaf, Den. AC kamar tamu waktunya dibersihkan. Tuan bilang, freon-nya juga habis. Kasihan Non Rosa kalau harus kepanasan."
"Di kamarmu saja!" perintah sang papa yang tiba-tiba sudah berdiri tak jauh dari mereka.
Si abang mengernyitkan dahi. Saran sang papa mengusik pikirannya. Ide lelaki yang memberinya nama belakang Dharma itu sungguh sangat diluar penalaran. Bagaimana bisa ia meminta sang putra untuk membawa seorang gadis untuk tidur di kawasan pribadinya.
"Rosa di ranjang, kamu di sofa situ. Jangan mikir yang macam-macam!" celetuk sang papa berikutnya dengan senyum nakalnya.
"Papa yang pikirannya kejauhan."
"Masa? Jangan-jangan anak papa gak normal!" timpal papa seraya pergi menjauh secepatnya sebelum sang putra menghujaninya dengan kalimat-kalimat balasan.
Si abang memilih tak menggubris ejekan papanya. Ia memilih untuk bersiap membopong sang adik ke dalam kamarnya. Rasanya tak tega melihat ia tertidur dengan posisi setengah terduduk.
Dengan tenang, abang membawa sang adik dalam rengkuhan. Sekuat tenaga ia kerahkan untuk mampu mencapai kamarnya yang berada di lantai dua. Melewati luasnya lantai pertama dan banyaknya anak tangga.
Kini, pintu yang menghalangi telah terlewati. Dengan hati-hati ia membungkukkan badan. Perlahan melepaskan pelukan hingga gadis ayu mendapatkan posisi ternyaman di ranjang.
Si abang mendudukkan diri di tepi ranjang. Mengusap keringat yang ada di dahi adiknya. Beberapa helai rambut yang bermain nakal di wajah sang adik tak luput untuk ia rapikan.
__ADS_1
"Mengapa kamu bisa membuatku begitu menyayangimu, Sa?" tanya si abang pada diri sendiri seraya mengusap rambut gadis ayu itu.
Abang mengangkat pandang dari wajah adiknya. Membuang tatap pada lain arah seraya mengembus napas mendalam. Sebentar kemudian, ia beringsut dari duduk.
Menatap lagi wajah ayu itu, angan si abang meraih selimut dan menariknya hingga menutupi lebih dari setengah tubuh gadis ayu. Badan tegap lelaki bijak itu sedikit condong ke arah kening sang adik. Tinggal sejengkal jarak, tetapi tubuh kembali ia angkat.
Lelaki itu memilih untuk pergi. Meninggalkan gadis ayu dalam lelap tidurnya. Si abang berhenti sebentar setelah menutup pintu kamar.
"Segera tidurlah! Sepertinya kamu kelelahan," perintah sang papa yang kebetulan akan masuk ke kamar yang bersebelahan dengan ruangan si abang.
"Ini Aryan mau tidur di sofa bawah, Yah," balas si abang dengan senyuman.
"Katanya sayang ... tapi adiknya dibiarkan tidur sendirian," goda sang papa dengan senyum nakalnya.
"Papa mau Aryan hamilin anak orang?" timpal si abang seraya melangkah menuju arah tangga berada.
"Papa akan bangga jika kamu bisa melakukan itu," seloroh sang papa seraya memutar handle pintu kamarnya.
Abang memilih tetap melangkah pergi. Dalam ayunan kaki yang semakin menjauh dia senyapkan hati. Pikiran liar ia buang untuk mengusir bisikan-bisikan nakal. Ia tak boleh egois. Tidak.
Langkah lelaki yang bertubuh tinggi itu berhenti di depan dispenser. Air putih dingin yang ia ambil, segera ia teguk setelah memilih duduk di kursi. Terlihat jelas ada galau yang sedang meraja di hatinya.
"Belum tidur, Den?" Bi Iyah datang menghampiri tuan mudanya.
Senyum yang tadi menghilang kini ia kembangkan. "Haus, Bi."
"Apakah ada yang perlu Bibi bantu?" tawar Bi Iyah dengan sopan.
"Tidak, Bi. Istirahat saja!" tolak si abang dengan ramah, sengaja tak menampakkan kegalauan hatinya.
Wanita yang setia bekerja pada keluarga Dharma selama puluhan tahun itu pun, mengundurkan diri dari hadapan si abang. Bergegas menuju ke belakang di mana kamar tidurnya berada. Malam yang sudah larut, waktunya raga diserang kantuk. Biarkan diri terlelap dalam persembunyian malam yang gelap.
Si abang memilih berjalan ke ruang keluarga. Merebahkan diri dengan menjadikan tangan kanan sebagai tumpuan kepala. Mata coba ia pejamkan meskipun pikiran masih terganggu dengan kabar tentang Rud.
Jika Rud benar-benar menikah ... lalu bagaimana dengan Rosa? Wanita itu bukan tipe pemaksa cinta. Kalau saat itu bukan Dion yang menyembuhkan lukanya, kurasa sampai sekarang ia masih tenggelam dalam kesakitan.
Sanggupkah aku membuatnya bahagia?
"Kamu sudah membahagiakanku, Bang."
__ADS_1
Genggaman tangan perlahan membuka mata abang yang terpejam. Netra kedua bersaudara itu bertemu pandang. Saling bicara meskipun tanpa suara.