Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Pengorbanan Besar


__ADS_3

Bab. 28 : Aneh


Kerapuhanku seketika sirna. Penyebutan namanya membuatku sadar jika ada hati yang harus aku bahagiakan. Namun, bagaimana caranya aku belum mendapatkan jawaban.


"Ren ... apa kami kawin lari, saja?" Ide gila itu meliar begitu saja.


"Jangan ngawur, Rud. Apakah lu pikir semua akan selesai jika kalian kabur? Ingat keluarga lu dan keluarganya? Gue rasa Ardi dan pak dhe Haryo tetap membuktikan ancamannya jika keputusan itu yang lu pilih."


Aku beranjak dari duduk. Berjalan mondar-mandir sambil berpikir. Mencari solusi terbaik untuk masalah pelik.


"Haruskah gue meninggalkannya?" gumaman berpadu pertanyaan itu seperti keluar tanpa kesadaran.


"Jika itu adalah keharusan, elu sanggup?" selidik Rendra hati-hati.


"Jika gue bisa, saat ini gue gak ada di sini."


Sekali lagi kuraup wajah dengan kasar. Otakku benar-benar tak bisa kupaksa untuk mencari jalan keluar. Buntu.


Seliweran kebahagiaan yang baru kami rasakan terhapus ketika ingatan tentang penolakan dan ancaman itu membayang. Pahit yang menggigit, melekuk dalam kekuatan yang dipaksa untuk bertekuk lutut. Sanggupkah cinta kugadaikan demi masa depan orang-orang yang kusayang?


"Rud ... lu percaya takdir?" Tiba-tiba Rendra melapangkan pikiranku yang sempit karena ketakutan harus meninggalkannya dengan penuh rasa sakit.


"Lu bisa memilih jodoh, akan tetapi tetaplah Tuhan yang menentukan. Sekeras apapun elu kejar, jika dia jodoh orang akan tetap lepas juga. Sebaliknya, jika memang dia jodoh lu, sejauh apapun kalian dipisahkan, akan tetap ada jalan untuk dipersatukan."


"Tidak jodoh itu sakit, Ren."


"Gue tau, tapi ... Rud yang gue kenal bukan lelaki yang gampang menyerah. Dia juga bukan seorang yang egois. Rud adalah pemilik cinta yang membahagiakan," ujar Rendra sambil menepuk bahuku.


"Ren ..." Kupeluk sahabat lelakiku dengan erat. Dia adalah penasihat yang selalu aku dengar arahannya.


"Lebih baik lu pulang. Kasihan ayah dan bunda. Mereka pasti khawatir."


"Malam ini gue mau nginep sini."

__ADS_1


"Maaf ... aku gak tau lagi ada temen kamu, Ren," ucap lelaki bertubuh tinggi yang tiba-tiba masuk ke ruangan di mana aku dan Rendra baru saja melepas pelukan.


"Ini, Rud." Rendra mengenalkan namaku pada seseorang yang baru saja datang.


Lelaki itu mendekat dengan senyumnya. Mengulurkan tangan dan berganti menyebutkan namanya. Sekuat hati, kuberusaha menormalkan segala rasa dan raut muka. Membalas senyum dan menyambut uluran tangannya.


"Dion ini sepupuku, Rud. Dia tinggal di apartemen depan."


Kami saling mengakrabkan diri. Sepertinya dia memiliki kepribadian yang humble seperti Rendra. Mudah bergaul dan ramah pastinya. Tipe penyayang, tergambar dari hangatnya tutur sapa dan lembut sikapnya.


"Sepertinya kalian sedang ada hal penting yang dibicarakan, aku balik aja, dulu. Rud, sesekali mampirlah ke tempatku!" ujar Dion sambil memutar tubuhnya pergi.


Kami terdiam sampai Dion menghilang dari pandangan. Rendra meneguk air mineral yang ada di meja. Aku memilih untuk kembali duduk.


"Elu tau sepupuku itu? Dia adalah salah satu dari pejuang cinta sejati. Perjuangan mendapatkan cinta wanitanya, berakhir sia-sia. Penolakan demi penolakan tak membuatnya menyerah. Ia percaya jika wanita itu jodohnya, padahal nyata-nyata wanita itu sekarang punya pacar. Gue rasa, elu harus mencontohnya."


"Kalau hanya pacar, gue tak akan gentar, Ren. Yang gue hadapi adalah ancaman, kekuasaan dan kehilangan," tuturku seraya membaringkan diri.


"Elu dan Rosa saling mencintai, Rud. Dion? Dia mencintai seorang diri. Kalau dia aja percaya jodoh wanita itu adalah dia, ngapain elu pesimis? Mungkin ini adalah perjalanan panjang sebelum kalian dipersatukan," terang Rendra gamblang yang perlahan membuka kungkungan pikiranku.


Jika jalan cinta bisa seperti yang aku mau, aku rela melepasnya sekarang. Namun, jika pada akhirnya jodoh itu tetap tak mempersatukan apakah aku tidak menyesal karena tak berjuang sampai titik terakhir? Tuhan ... aku harus bagaimana?


Dalam terawangan, pikirku dibawa berkelana. Bersinggungan dengan banyak kemungkinan. Jika aku memaksa atau akhirnya menyerah maka apa saja yang akan aku terima. Sakit. Semua pilihan akan berujung perih. Aku bersamanya atau merelakannya bahagia, akan tetap ada luka.


Kupejamkan mata. Napas kuulur begitu panjang. Sesesak yang kurasakan, apa yang kini sedang ia lakukan? Apakah ia sudah terlelap ataukah terusik juga oleh galau yang membelengguku?


Sayang ... aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Cinta yang membuatku ragu melepasmu karena aku tak yakin ada seseorang yang akan bisa mencintaimu sepertiku. Setulus rasa yang kupunya dan sedalam kasih yang berakar hingga merantingkan sayang yang tiada ujungnya.


Perlahan kubuka netra. Aku tak punya banyak waktu untui terus layu. Keputusan harus kuambil meskipun rasanya aku tak akan mampu.


"Ren, gue pulang!" ucapku setelah membangunkan diri dan bergegas mengambil kunci yang tergeletak di meja.


"Perlu gue antar?"

__ADS_1


Langkah mulai kuayun menuju pintu keluar. "Gue bukan lelaki cemen yang butuh dianter," ujarku mengejek padahal sebenarnya sebagai penyemangat diri semata.


"Gue tau, tapi jangan lupa jaga tuh hati, jangan sampai bikin elu bunuh diri," terang Rendra yang hanya kubalas dengan memutar badan sebentar dan menepuk dadaku. Melebarkan senyum meskipun getir.


Kami tau apa yang bersarang di masing-masing pikiran. Oleh karena itu, saat ini, aku hanya butuh kehadiran bukan nasihat berlebihan. Keberadaan teman itu adalah penyemangat yang tak bisa digantikan dengan apapun.


Menutup pintu apartemen Rendra, entah mengapa langkahku berhenti seketika. Pandangan tertuju pada nomor kamar yang berada tepat dihadapanku. Lelaki yang tadi baru saja kukenal bernama Dion itu entah mengapa melintas di pikiranku. Ada sesuatu tetapi aku tak bisa menjabarkan apa itu.


"Dion ..." gumamku lirih.


Beberapa waktu aku terpaku. Sungguh, Ini terasa sangat aneh. Aku tak bisa mengendalikan diri sendiri. Bahkan ketika tiba-tiba mengingatnya, seperti ada kekuatan yang menggerakkannya.


"Dion," kata itu terus aku ulang. Bahkan setelah aku mulai berjalan dan di sepanjang perjalanan pulang.


Kubuang napas lelah. Hati yang masih dipenuhi gelisah, dan belenggu nama baru membuatku melupakan kegeraman sementara waktu. Yang ada justru ada selipan ketenangan meskipun harus terpaksa ikhlas melepas.


Apa ini Tuhan? Mengapa nama Dion terus saja mengembara? Siapa dia?


Mobil yang kupacu perlahan, sebentar lagi mendekati kediamannya. Sengaja makin kupelankan dan kemudian menepi di depan gerbang yang menjulang tinggi itu. Lampu yang menyala di lantai dua, yang kuyakin itu kamarnya membuat hatiku kembali bertanya-tanya.


"Sayang ... apakah kamu masih terjaga?"


Kugerakkan jemari untuk mencari benda pipih. Mulai saku kemeja, dashboard mobil, kursi sebelah semua tak ada. Seketika aku ingat, jika benda yang kucari itu kugeletakkan sembarang di ranjang kamar.


"Sayang ... sanggupkah kita berpisah? Aku tau kamu mencintaiku seperti bagaimana aku mencintaimu. Bisakah kita melepaskan perasaan ini?


Airmata meleleh lagi. Aku benar-benar tak bisa menguasai diri jika itu berhubungan dengan wanita yang kucintai. Diriku lemah.


Terpaksa kulepas tatap dari ruangan yang masih menyala terang itu. Kembali melajukan kendaraan untuk pulang. Karena aku sadar, jika tetap terfokus padanya luka akan semakin menganga. Aku tak akan mampu melepasnya agar bahagia. Walaupun aku tak tau apakah dia bisa bahagia tanpa aku.


🍂🍂🍂🍂🍂


Seperti terang yang kudapat di kamar Rosa, ruang keluarga pun lampunya masih menyala. Ayah dan bunda masih terjaga. Berbicara penuh keseriusan yang membuatku penasaran apa yang sedang mereka pertimbangkan.

__ADS_1


"Ada apa, Yah, Bun?"


__ADS_2