
Usapan lembut di punggung, Mas Rud berikan sebagai penguatan. "Cinta tak pernah salah, Sayang. Dia selalu datang pada hati dan waktu yang tepat."
"Kamu benar, Rud. Adikku datang saat kamu meninggalkannya. Dan kini kamu datang lagi saat dia pergi. Itu tepat atau L*knat?"
Kata-kata pedas Mbak Sharika membuat gadis ayu kembali terkesiap. Pertahanannya yang mulai kokoh kini kembali terdobrak hingga hatinya sedikit terkoyak. Ia tak kuasa menahan rasa.
Mas Rud membawa gadis ayu ke dalam pelukan. "Kamu tidak salah, Sayang."
Seketika tatapan tajam Mas Rud hunjamkan pada Mbak Sharika. "Shar, kata-katamu tidak pantas didengar. Kamu tidak berhak ikut campur masalah perasaannya. Benar dia adalah istri dari adikmu, tetapi setelah suaminya pergi, kamu tidak bisa menahannya untuk tetap sendiri. Hidupnya masih panjang."
Emosi Mas Rud tersulut. Dia tetap menahan nada tingginya agar tidak menarik perhatian sekitar. "Aku sudah memberi tahu niatan kami. Masalah kamu mau merestui atau tidak, itu bukan menjadi penghalang untukku mengucap akad."
Mbak Sharika berdiri. "Baiklah kalau memang begitu. Tanpa restuku kalian akan tetap menemui penghulu. Jadi, pembicaraan ini sudah tidak perlu lagi."
Kakak ipar gadis ayu mulai mengayun kaki. Ia meninggalkan kedua sejoli dengan sikap dingin. Belum juga genap lima langkah berjalan, Mas Rud sudah menghadang.
"Shar, jangan seperti anak kecil! Kita tuntaskan pembicaraan kita. Lihatlah Rosa! Kamu egois jika hanya memikirkan Dion. Kamu lupa atau memang tidak menganggapnya? Dia bisa seperti sekarang setelah kepergian adikmu itu tidaklah mudah. Banyak waktu ia lalui dengan terapi karena shock kehilangan Dion," terang Mas Rud serius.
Mbak Sharika membuang napas kasar. "Apakah kamu juga tidak egois? Siapa yang menemaninya melewati masa sulit? Kamu? Bukan, 'kan? Aku tahu Aryan yang melakukannya. Lalu, bagaimana nasibnya sekarang, ha?"
Kalimat Mbak Sharika sungguh menohok. Kali ini Mas Rud yang tersudut. Namun ia segera bisa menguasai perasaan kalut hingga tidak jatuh pada kubangan galau.
"Jangan membelokkan pembicaraan, Shar! Aryan itu urusan kami. Sekarang yang kami minta adalah restu darimu."
"Lalu, jika aku tidak memberikannya?" tanya Mbak Sharika.
"Kami akan ke Jogja. Aku akan sungkem sama Eyang," jelas Mas Rud dengan sangat tegas.
Tanpa menunggu jawaban Mbak Sharika, Mas Rud kembali mendekat pada gadis ayunya yang masih terduduk. "Sayang, jangan sedih! Kalau Sharika merasa keberatan maka kita akan meminta restu pada Eyang dan mertuamu."
Gadis ayu terkesiap. Spontan dia mendongak. Melalui bulatan hitam pada netra Mas Rud, ia menelusuri kebenaran yang baru saja ia dengar. "Kita ke Jogja?"
Sebuah anggukan yang dibalut senyuman, Mas Rud jadikan sebagai jawaban. Kemudian ia menggenggam jemari sang kekasih. "Ayo!"
Baru melangkah, mereka terhalang jalan oleh Mbak Sharika yang masih setia dengan posisinya. Wanita itu tidak berniat menggeser tubuh sehingga Mas Rud dan gadis ayu terpaksa ikut memaku. Dalam beberapa waktu ketiga insan itu terdiam saling menunggu pembicaraan.
"Shar, kami di sini karena menghormatimu sebagai kakak ipar Rosa sekaligus sahabatku. Tapi, jika kamu merasa belum ikhlas, kami tidak akan memaksa. Permisi!"
__ADS_1
Itulah pembicaraan terakhir diantara mereka bertiga. Mbak Sharika tidak memberikan pernyataan apapun. Bahkan menjawab salam perpisahan saja, tidak.
🌵🌵🌵
Pagi hari berikutnya kembali menyapa. Di halaman rumah gadis ayu, sebuah mobil dengan penampakan siap mudik, terdengar suara mesin dipanasi. Di-junior terlihat begitu senang. Bocah kecil itu sudah bersiap di kursi tengah yang diubah seperti tempat tidur dengan penempatan kasur.
"Kalian yakin melakukan ini?" tanya mama sekali lagi ketika Mas Rud dan gadis ayu pamit.
"Saya ingin semua merestui pernikahan kami, Ma," jelas Mas Rud seraya mencium punggung tangan mama gadis ayu.
Sebuah senyuman mengiringi kepergian mereka. "Semoga niat tulus kalian dimudahkan, Nak."
Kata Aamiin yang serentak terucap menjadi harapan agar dikabulkan. Lambaian tangan setelah mobil dijalankan memulai langkah menuju restu.
Mas Rud menoleh pada wanita di sebelahnya yang memangku putra mereka. "Aku akan memberikan keluarga yang utuh buat kalian. Cinta dan kasih sayang melimpah dari seorang suami dan juga orang tua lelaki."
🍁🍁🍁
"Aryan," sebut Rendra begitu netra sulit percaya jika yang berdiri di hadapannya adalah mantan atasan sekaligus sahabatnya.
"Entahlah. Aku juga lupa," timpal Rendra seraya memeluk lelaki di hadapannya.
"Papap," panggil gadis kecil cantik yang menarik-narik celana Rendra.
Mendengar suara lucu, abang segera melepaskan pelukan. Ia menekuk lutut dan melengkungkan senyuman. "Hai, cantik!"
"Aryan, jangan rayu putriku!"
Mengabaikan ancaman Rendra, abang justru semakin semangat mengajak mengobrol. "Mau kenalan sama Om?"
"Dia Pak Dhe, Sayang. Umurnya terlalu matang jika kamu panggil om," timpal Rendra masih juga setia dengan candaan khasnya.
"Pak Aryan," sapaan yang membuat telinga abang sensitif jika diucapkan oleh seorang wanita, seketika membuatnya memutar kepala.
Senyum yang ingin dilebarkan maksimal, seketika diturunkan ukuran. Dalam memori dan keinginan, yang diharapkan itu adalah gadis ayu. Akan tetapi, pada kenyataannya yang menyapa adalah Maya.
"Ada yang kecewa kayaknya?" goda Rendra ketika menyadari perubahan kecil pada ekspresi.
__ADS_1
"Saya Maya Pak, bukan Rosa." Istri Rendra justru semakin menerangkan sindiran sang suami.
Abang yang terus diguyur gurau hanya tersenyum. "Aku masih mengenalimu dengan baik, May."
"Sama seperti hatinya yang masih baik mengenali Rosa sebagai cintanya, Sayang."
"Jangan asal sebut nama Rosa sekarang!" ingat abang dengan ukiran senyuman yang tidak sedetik pun lekang.
"Pak Aryan posesif," timpal Maya seraya menggendong putri kecilnya.
"Iya posesif, bukan aku tapi Rud."
Penyebutan nama Mas Rud membuat dahi Rendra dan Maya berkerut. Secara bersamaan mereka mengulang nama yang baru saja disebutkan abang.
"Rud/Mas Rud?"
Abang memperhatikan ekspresi terkejut dari sepasang suami istri itu. Sebentar kemudian ia membuat senyum tipis mengukir di bibir. "Rud sudah kembali."
"Maksud kamu? Kembali ke sini? Kembali pada Rosa? Kembali seperti apa?" Rendra mencerca abang.
"Apakah kalian lupa kalau aku adalah tamu?" sindir abang dengan senyum mengembang.
Rendra dan Maya baru menyadari jika sejak tadi mereka mengobrol sambil berdiri. Seketika mereka ikut menebarkan senyuman dan mempersilakan abang untuk masuk ke ruang tamu.
"Jadi ... apa yang belum aku tahu?" Rendra tidak sabar untuk mendengar semuanya.
"Rud dan Rosa kembali bersama."
Maya nampak belum percaya dengan sesuatu yang didengarnya. Rendra yang biasa bercanda, seketika tercekat kata. Mereka seperti ter-pause, melongo.
"Mereka sebentar lagi akan menikah," tambah abang mendetailkan penjelasan.
Rendra dan Maya semakin terkesiap. Sama sekali tidak menyangka jika sahabat mereka memiliki skenario cinta yang sungguh tidak tertebak. Ada bahagia dalam bingkai rasa yang susah dijelaskan.
"Siapa yang akan menikah?"
Suara yang bertanya tiba-tiba, membuat ketiga insan dewasa itu menoleh seketika. Dari arah pintu, berjalan seseorang dengan raut penasaran ingin mendapatkan penjelasan.
__ADS_1