
"Ngapain ke sini?" tanyanya setelah mobilku memasuki area parkir sebuah butik.
Kupilih untuk diam. Hanya mengulas senyum seraya bersiap untuk keluar mobil. "Ayo!"
Kulangkahkan kaki mendahuluinya. Bukan bermaksud meninggalkan, aku hanya menjaga pandangan. Jika aku disampingnya sekarang, kuyakin tangannya tak kubiarkan lepas dari genggaman. Bahkan pinggang rampingnya itu kupastikan tak terbebas dari gamitan lengan. Kenapa aku gak berjalan di belakangnya? Karena mata lelakiku terlalu berselimut nafsu. Aku tak mau dirinya menjadi korban pikiran kotorku.
"Mbak, carikan kebaya dan kemeja batik yang semotif ya!" perintahku begitu masuk butik dan menemui seorang Mbak berpakaian seragam.
"Couple-an, Pak?" tanya mbak-mbak itu dengan ramah.
Kubenarkan pertanyaan Mbak-Mbak itu sambil melihat calon pemilik batik couple-ku sekilas. Senyumku dibalas wajahnya yang penuh tanya.
"Batik couple buat siapa, Pak?" telisiknya penuh curiga.
"Kita akan memakainya untuk acara pertunangan sahabatmu."
"Saya rasa ini berlebihan, Pak, Saya sudah punya kebaya," tolaknya.
"Tapi aku belum punya kemeja batik yang semotif dengan kebayamu."
Dia memutar bola mata jengah. Pasti dia lelah dan malas harus berdebat denganku. Karena hanya akan membuang energi percuma. Dan memang itu kusengaja. Membuat dia terpaksa menerima semua yang kumau. Sebuah trik, dari terpaksa menjadi suka, cinta dan tak ingin berpisah.
"Sa, berhenti panggil aku Bapak! Apa kamu senang dilihat orang-orang sedang jalan dengan bapak-bapak?" perintahku seraya memberi sedikit kata ejekan.
"Iya, nanti aku Panggil Opa, biar kayak orang-orang, tuh," celetuknya tanpa menolehku.
"Rud Oppa? Bagus juga. Wajahku juga gak kalah kok kayak Ji Chang Wook Oppa," analisaku dengan bangga.
"Iya, Opa Rud, kakek Rud, Eyang kakung Rud," selorohnya dengan senyum mengejek.
Caranya menggoda membuatku pengen mencium bibirnya itu. Kalimatnya saja menggemaskan bagaimana dengan sebentuk benda kenyal, pasti sangat menggiyurkan. Jika saja?
Saat pikiran mesumku datang tiba-tiba, Mbak-Mbak tadi juga mendekat dengan dua pasang kebaya couple dengan warna berbeda.
"Jangan memilih warna pink!" ingatku saat dia lebih tertarik kepada kebaya yang berada di tangan sebelah kiri Mbak-Mbak tadi.
"Aku akan sangat cantik dengan warna ini," timpalnya.
"Kamu akan selalu cantik di mataku. Aku sebenarnya juga akan selalu tampan dengan warna apapun tapi pink akan membuat kemachoanku berkurang," alasanku setelah memujinya.
Bukannya meronakan wajah, dia justru mengetuskan kalimat. "Merayuku, Mas?"
__ADS_1
"Tentu saja," jawabku yg justru membuatnya mengukir senyum senang.
Dasar wanita.
"Kenapa kamu malah senyum-senyum?" Cepat cobain sana!" aku ganti mengetusinya.
Mengapa aku melakukan itu? Aku juga gak tahu. Berada di dekatnya aku bisa berbuat semauku, menjadi diri sendiri dan sungguh itu membuatku bahagia. Aku tak perlu jaim.
Saat ia memasuki fitting room, aku pun juga melakukan hal yang sama. Namun, tentu saja di ruangan yang berbeda. Kalau mauku ya satu ruangan, dia? Dia pasti akan berang.
Setelah mematut diri dengan kemeja batik yang tadi kami sepakati, aku keluar dan menantinya di sofa. Dalam penantian, pikiranku mulai meliar. Membayangkan betapa anggunnya gadis ketusku itu. Benar saja saat aku terbawa khayal, dia keluar. Dengan senyum canggung dia mendekatiku.
"Bagus, gak?"
"Mbak tolong foto kami!" pintaku tanpa membuang waktu.
Dia mengernyitkan dahi mendengar kalimat yang kuucapkan. "Jangan modus, Mas! Fotoku itu gak sembarang orang boleh memiliki."
"Jangan Ke-GR-an, Sayang. Aku lebih suka menilai lewat foto daripada lewat cermin," kilahku sambil merangkul bahunya.
Dia berusaha menepis rangkulan di bahunya. Aku menuruti kemauannya. Sengaja, kulepaskan di bahu, kugamit di pinggang. Pintarkan? Rud selalu punya seribu cara untuk melancarkan misinya.
__________________________________________________
"Jangan bilang kalau mau minta dibeliin kebaya couple," celetuk sang lelaki mencoba membuatnya tak terbawa perasaan oleh cerita yang baru dibacanya.
Tatapan nanarnya membuat sang lelaki mengulurkan tangan kanannya dan mengusap lembut puncak kepalanya. "Aku teleponin Rud ya biar dia beliin kebaya couple lagi?"
Matanya justru berkaca-kaca. Perlahan mulai memerah dan seketika kristal bening mengintip dari kedua ujung matanya. Dia meletakkan kepalanya di paha kiri lelaki di sampingnya. Mengerti, lelaki itu kemudian menghapus air mata gadisnya. "Sudah kubilang, hati tak pernah bisa kamu bohongi."
"Waktu sudah berlalu, perasaannya pasti juga sudah berganti. Aku juga tahu, dia sudah menikah dengan saudaranya Rianti. Hanya sebatas ini aku boleh mengenangnya," ucap gadis itu sambil mencoba mengulas senyumnya.
Berusaha tegar. Dia kembali membuka novel di tangannya. Namun sang lelaki menutupnya pelan.
"Jangan dilanjutkan kalau hanya akan membuat semakin terluka!"
Gadis ayu itu menunjukkan kekeraskepalaannya. "Kalau sakit, biar sekalian sakit. Nanti tinggal aku sembuhkan."
Lanjut Membaca.
Malam pertunangan itu tiba. Kujemput dia dengan penuh rasa bahagia. Malam ini dia nampak begitu memancarkan pesona ayunya. Tidak berlebihan tapi sangat menawan. Hingga mataku tak rela untuk tak terus-terusan menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa melihatku seperti itu, Mas? Ada yang salah?" tanyanya dilanda penasaran karena sedari melihatnya menemuiku, pandang mataku tak sedikitpun lepas dari wajahnya.
"Kita sudah couple-an gini, kalau ditanya temenmu hubungan kita, kamu jawab apa?" tanyaku balik.
"Kenapa aku harus memusingkan jawaban, tinggal bilang aja atasan dan bawahan. Gampang, kan?" jawabnya tanpa beban.
"Haruskah aku bersandiwara menjadi pacarmu?" tawarku semakin tak terduga.
"Aku tak butuh pacar," jawabnya sok kuat.
"Kamu gak butuh pacar, tapi mantanmu harus nyesel karena udah meninggalkanmu," jelasku sebenarnya penuh modus.
"Kenapa harus bahas mantan sih, Mas?"
"Pacarmu ada disana, kan?"
Dia menggeleng. Tak menatapku dan malah memilih menatap hujan yang semakin deras dari jendela sebelah kirinya. Ada butir air mata yang sengaja ia sembunyikan. Terbersit rasa sesalku karena telah mengingatkan sesuatu yang telah membuatnya bersedih.
"Antingmu bagus," ucapku sok gak tahu apa yang terjadi padanya dan mencoba untuk mengalihkan suasana.
Dia hanya diam dan setia dengan posisinya.
"Aku akan suka, kalau kamu memakainya ke kantor," tambahku lagi.
Dia tetap diam. Hanya matanya yang ia kerjapkan berulangkali. Memaksa kristal bening yang akan keluar untuk berbalik arah kembali. Aku menangkap ketidakberesan pada perasaannya.
"Sa," panggilku lembut.
"Apa ada yang salah dengan kata-kataku?"
Dia mengatakan tidak. Namun air mata yang disekanya tak bisa membohongiku. Dia sedang menangis. Dan aku yakin itu pasti karena kalimatku yang mengungkit tentang mantannya. Apakah ia masih cinta?
Segera kutepikan mobil. Melepas seat belt dan memutar badan hingga berhadapan dengannya.
"Bicaralah! Jangan kau simpan sendiri!" pintaku berikutnya.
Tak ada kata yang dia ucapkan. Hanya air mata yang perlahan mengalir di sela pipinya. Ingin aku mengusapnya, tapi kekuatan yang coba ia bangun membuatku mengurungkan niat. Kubiarkan dia menguasai hatinya.
"Ayo, jalan lagi mas!" pintanya setelah tak ada lagi air mata yang mengalir kembali.
"Apa kau yakin?" tanyaku meyakinkan hatinya bahwa dia sudah lebih baik.
__ADS_1
"Iya," jawabnya dengan sedikit senyuman.
Kubalaskan senyuman untuknya. Tanganku secara tak sadar membelai rambutnya perlahan. Dia hanya menunduk. Kuraih jemarinya. Percayalah aku tulus kali ini. Hanya ingin menguatkan seorang wanita yang tengah rapuh hatinya. Karena diterpa lara hati itu sakit. Dan aku tak mau melihat rasa itu menerpanya. Inginku selalu melihat bahagianya. Tersenyum.