
Lapangan sepak bola yang panas menjadi setting latar keberadaan seorang Diozza Satya Wijaya. Kapten tim olahraga yang kental dengan adu sprint itu, sedang mengelap peluh. Sembilan puluh menit bertanding, membuatnya cukup kelelahan.
"Di, yakin kamu tidak mau mengambil kesempatan main di sepak bola profesional? Bukankah ini mimpimu?" Seorang lelaki berwajah blasteran Belanda-Indonesia menyelisik keputusan Di-junior.
"Entahlah. Aku belum meminta izin sama mama."
"Anak mama banget, kamu. PaRud pasti akan mengizinkan. Aku yakin itu," terang lelaki muda berkulit putih dengan tinggi sekitar 178 sentimeter itu. "Bukankah keluargamu itu sangat santai?"
Di-junior memandang kejauhan. "Aku tidak ingin membuat mamaku kembali mengingat masa lalu."
"Papamu sudah lama meninggal, Di. Sekarang ada PaRud yang menggantikannya. Kurasa, mamamu akan baik-baik saja." Ezrha, begitulah nama pemilik suara yang terus mengompori seorang Diozza.
Di-junior bangkit dari duduk. Ia mengambil botol minum dan berniat pergi. "Wajahku adalah Papa. Jika Mama melihatku bertanding di layar televisi, maka kenangan itu akan muncul kembali. Aku tidak akan melukai semua yang kusayangi hanya untuk ambisi pribadi."
Ezrha berusaha memahami walaupun sebenarnya ia tidak mengerti. Dia dan Di-junior berseberangan pandangan. Baginya, mimpi adalah kunci yang akan membuat hidupnya berarti. Apa pun akan ia libas demi kata berhasil. Tidak memandang begitu banyak rintangan yang menghadang, apalagi hanya karena perasaan.
Di-junior pun tidak ingin memantik selisih. Ia lebih baik pergi daripada harus berdebat dengan sang sahabat.
Lapangan dengan rumput menghijau terawat itu ia tinggalkan dengan cepat. Langkahnya menuju ke ruang ganti untuk mandi. Keringat yang mengucur harus segera ia buat melebur. Biarkan air bening meruntuhkan kekuasaan peluh dan hati yang bergemuruh.
🍁🍁🍁
"Cherr, ini jersey tim favorit, kamu. Ori."
"Elo memang bisa diandalkan Tan. Sering-sering aja, ya! Kemarin gue lihat tim official nge-launching souvenir baru. Keren banget, tau!" celoteh Cherriya berapi-api seraya mematut hadiah dari Sultan--lelaki kesembilan yang mendekatinya semenjak sebulan duduk di bangku SMA.
Remaja dengan garis keturunan Indonesia-Tionghoa-Jerman itu sudah pasti memiliki ketampanan yang tidak perlu disangsikan. "Tunggu hadiah dariku berikutnya!"
"Tengkyu, Tan. Enggak salah emang kalau gue temenan sama elo. Ya udah, gue cabut dulu!" pamit Cherriya tanpa beban. Ia tidak memandang lelaki di depannya dengan perasaan lebih. Baginya, ia menikmati semua perhatian tanpa memperhitungkan perasaan.
🍁🍁🍁
__ADS_1
"Maisee, di mana Eesha kita?" Abang mencium kening Kristy, tetapi yang ditanyakan adalah putri manisnya.
Kristy yang bersiap untuk berangkat praktik, hanya menjawab dengan senyuman tipis. "Apakah Mas tidak melihatnya di garasi? Sedari bangun tidur ia sudah mengutak-atik motor barunya. Aku sampai heran, dia punya hobi kayak begitu turunan dari siapa?"
Senyum manis menghipnotis milik abang menghias bibirnya yang berwarna cerah. "Apakah kamu mulai amnesia, Maisee? Siapa yang waktu SMP mengambil ekskul otomotif? Siapa yang suka manjat atap? Siapa yang suka mewarnai sepatu putih menjadi hijau? Siapa yang meledakkan kacaunya hatiku? Siapa yang ..."
"Itu adalah Mamai, Papai." Seorang gadis muda seusia Cherriya dengan penampilan montir cantik mendekat pada abang dan Kristy. Senyum yang terlukis di bibirnya menampakkan kilatan goda pada kedua orangtuanya.
Abang mengalahkan kemanisan senyum dari sang putri. "Apakah Maisee-ku mendengarnya? Eesha kita saja tahu ia menduplikat siapa, masa kamu lupa?"
"Sayangnya aku lupa," timpal Kristy santai.
"Mamai, Papai, kalian terus saja berpapasan. Kapan aku punya adik?" celetuk Eesha, si gadis tomboy yang cantik. Hidung mancung yang diwarisi dari Kristy dan postur menjulang warisan abang, membuatnya puluhan kali ditawari untuk menjadi model. Sayang, dunia otomotif lebih menarik baginya. Bahkan, lebih memikat daripada godaan cinta dari malaikat-malaikat yang menembaknya.
"Cherriya itu adikmu," balas abang seraya mengusap mahkota sang putri yang dikucir tinggi.
"Cherriya kakaknya Eesha, jangan merusak silsilah keluarga, Papai Aryan." Kristy tidak terima. Hal itu lantaran mengingatkan pada kedekatan sang suami dan sang kakak yang selalu saja memantik cemburu walaupun tidak sebesar dulu.
"Cewek tanpa cowok itu ibarat Mama Rosa dan PaRud, dunia akan terasa tidak bernyawa."
Suara yang datang dari arah pintu masuk itu membuat keluarga kecil abang menoleh bersamaan. Walaupun mereka tahu itu siapa, tetapi tetap saja keinginan untuk menjemput generasi kedua Mas Rud itu begitu menggebu.
Cherriya segera mendekati abang dan segera menjatuhkan diri dalam pelukan. "Uncle, Cherri benar, 'kan?"
Senyum itu lagi-lagi terjatuh. "Iya, benar. Orang tuamu itu adalah simbol kebucinan hakiki. Uncle rasa, keponakan cantik Uncle ini sudah mewarisinya."
"Itu harus, Uncle. Tapi, Cherri enggak mau seperti generasi pertama yang bucin, maunya Cherri dibucinin, aja."
"Siapa lagi yang jadi korbanmu Cherry, Sayang?" abang menyelisik lelaki selanjutnya yang bertekuk lutut pada pesona Cherriya.
"Sultan, Pai. Dia anak bungsu ketua PSSI." Eesha bantu menjawab.
__ADS_1
"Pantas saja, aunty lihat koleksimu sudah seperti pajangan di museum. Kamu keren, Cher! Ajarin Eesha agar bisa digilai cowok, jangan sampai terus-terusan menggilai motor."
Kristy terang-terangan berkeinginan agar sang putri terjebak dalam dunia percintaan. Ia tidak mau jika nantinya kisah cintanya dan sang suami menjadi warisan perasaan.
Keluarga Atmadja generasi pertama adalah generasi pencinta yang tidak bisa mendua. Jangan sampai generasi kedua pun sama. Kerumitan rasa di antara mereka tidak akan mampu untuk diturun takhtakan.
Permintaan aneh Kristy menjadi percabangan jalan yang akhirnya memisahkan obrolan dua generasi itu. Ia bergegas keluar rumah, sementara abang segera menuju kamar.
Tinggalah Cherriya dan Eesha--dua remaja cantik dengan karakter unik--yang menatap ke arah luar ketika terdengar suara motor ber-cc tinggi mulai terparkir.
Tak berselang lama, seorang pria muda penuh pesona, terlihat mendekat ke arah mereka. Tas ransel yang talinya menyelempang di dada semakin membuatnya tampan penuh kharisma.
"Kakak," teriak dua remaja cantik sembari menghambur dalam pelukan sang lelaki yang tak lain adalah Di-junior.
Dua jemari itu terbagi adil pada masing-masing surai remaja cantik. "Apakah kalian begitu merindukanku?"
"Iya, Kak. Tentu saja. Kakak adalah rindu yang Dilan katakan, beraaaaaaaattt," seru Cherri dan Eesha bersamaan.
"Jangan terlalu berat merindukanku, aku tidak ingin pasangan kalian nanti mencemburuiku berlebihan."
"Kami mau jadi pasangan Kakak, aja."
Kedua adik cantik itu terus bergelayut manja pada Di-junior. Tampak jelas jika kasih sayang diantara mereka begitu besar. Terbaca juga kalau si sulung begitu tulus mencintai kedua adiknya.
Di-junior mencium kening sang adik bergantian, berawal dari Cherri dan berakhir dengan Eesha. "Kalian harus bersiap-siap patah hati dari sekarang! Lelaki tampan ini hanya akan setia pada satu wanita. Tidak akan ada cerita untuk mendua, apalagi merusak hubungan dua remaja cantik yang manja."
🍁🍁🍁
Hai, bagaimana bonchap kali ini? Suka, enggak? Menurut kalian sifat Di-junior akan seperti siapa ketika menjadi seorang pencinta? Dion, Mas Rud, atau abang?"
Komen, yuk! 🥰🥰🥰
__ADS_1
Aldekha Depe menyapa kalian lagi dan meminta maaf atas segala khilaf. Jika ada canda yang melukai rasa, bolehkah mengharap kata maaf?🥰🥰🥰