
Bab. 27 : Nekat?
Kemeja rapiku kini berantakan. Kancing atasnya terbuka dan ikat pinggang tak lagi menjadi penguncinya dalam celana. Sesak yang menghimpit membuat pikiran tenangku melayang. Yang ada hanyalah amarah.
"Rud, tenanglah," nasehat bunda seraya mengusap lembut punggungku.
Aku dudukkan diri dalam hati yang dipenuhi emosi. Ucapan demi ucapan dari pak dhe Haryo dan Ardi terngiang memb*bi buta dalam pikiran. Meluapkan geram dan logika tak lagi dapat berbicara.
"Bunda ... menyerahkan keputusan ke tanganmu, Nak. Namun bukan hanya mengingatkan ... keputusanmu akan menyangkut kehidupan banyak orang. Kita bisa kehilangan semuanya. Dan begitupun dengan keluarga Rosa. Bunda tahu ini sangat sulit bagimu."
Kuraup wajahku dengan kasar. Sebuah tinju aku hantamkan pada sofa yang tengah aku duduki. Melepaskan emosi karena dihadapkan pada situasi yang sangat sulit kuambil keputusan.
Bukan sekedar takut ancaman akan kehilangan kekayaan, akan tetapi lebih dalam dari itu. Jika aku terus memaksa, banyak orang yang akan menanggung akibatnya. Haruskah aku egois?
Aarrgghh!
Entah sudah berapa puluh kali teriakan itu aku lontarkan. Melepas amarah karena aku tak mau menyerah. Ingin menerjang tapi aku masih memikirkan bagaimana nasib mereka ke depan. Ayah, bunda dan keberlangsungan kebahagian dia dan keluarganya.
Dalam ketidakberdayaan, aku memilih pergi. Meninggalkan rumah dan entah kemana kakiku hendak melangkah. Suara panggilan bunda pun tak kuhiraukan. Telinga kutulikan dan bahkan rasanya waktu ini ingin kuhilangkan.
Aku tak bisa memilih. Kehilangan harta aku tak apa asal dia ada disisi. Namun jika aku harus menggadaikan cinta dengan kebahagiaan mereka semua, apa aku bisa? Meretas bahagiaku sendiri dan melupakan kesedihan yang akan mereka tanggung kemudian.
Aarrgghh!
Lagi-lagi, teriakan itu menggema di mobilku. Kecepatan kubuat diatas normal, keselamatan kunomorsekiankan. Pikiranku hanya dipenuhi oleh manusia keji bernama Ardi. Mencarinya, itulah hal utama.
Kuputar balik mobil ketika tanpa sengaja kumelihat sosoknya sedang tertawa bersama kawan-kawannya di tongkrongannya. Tanpa menunggu waktu, kudekati keberadaannya. Memukul keras pada wajahnya dengan memb*bi buta. Satu, dua dan berulang kali terjadi.
"Kalau kamu memang lelaki, jangan main ancaman!"
Kuhantamkan lagi sebuah tinju ke perutnya. Perlawanannya sia-sia karena kekuatanku lebih besar darinya. Lelaki yang hanya sanggup berdiri di belakang bodyguard bayaran itu, mana mungkin bisa melawanku yang memiliki sabuk hitam.
"Berani kalian melangkah ... kupastikan akan lebih parah dari dia!" ancamku pada beberapa lelaki yang kutahu penjilat agar bisa menikmati hidup enak dari sang putra yang katanya terhormat padahal aslinya b*ngsat.
__ADS_1
Tawa keluar dari mulut Ardi. Namun itu tak menghentikan langkahku. Sudah cukup aku meluapkan amarah dengan menghajarnya. Tak akan terpancing untuk terus berbuat nekat. Otakku masih bisa mencerna akibat apa yang akan aku terima jika memberinya luka lebih.
"Rud ... kupastikan kamu akan menyesal telah melakukan ini padaku!"
Teriakan Ardi sambil memegangi perutnya itu hanya kubalas dengan tatapan mata yang tajam menghujam. "Lakukan! Aku tidak takut ancaman lelaki cemen sepertimu."
Kuulaskan senyum miring. Meremehkan kekuatan lelaki yang hanya bisa bersembunyi di balik kekuatan uangnya itu. Tanpa menunggu waktu, kuputar stir bundar untuk segera berlalu dari hadapan si berandal.
Kuusap darah yang sedikit mengalir di ujung bibirku. Pergulatan singkat tadi, meskipun aku menang telak, akan tetapi Ardi sempat membalas sekali. Tidak seberapa, hanya sedikit perih saja.
"Jika tidak ingat penjara itu hanya akan membuatku rugi, sudah kupastikan dia mati."
Dalam mobil yang melaju, emosiku pun terus memburu. Umpatan demi umpatan kulontarkan dengan penuh kekesalan. Sejalan dengan fokus pada jalanan, bibirku terus merutuki semua yang terjadi.
"Bunda ... ayah ... maafkan Rud! Anakmu ini menjadi durhaka, dibutakan oleh cinta. Sungguh ... ini berat ... sangat berat!"
Aarrgghh!
Entah untuk kali keberapa teriakan itu kukeluarkan. Keadaan yang memaksa, membuatku tak berdaya. Dalam kelemahan, aku hanya bisa mengeluarkan keresahan lewat suara yang tak jelas artinya.
Pertanyaan itu meluncur berbarengan dengan roda mobil yang berhenti berputar. Sebuah pukulan tanpa kekuatan besar kusapukan pada pengendali arah mobil yang baru saja kumatikan mesinnya. Kepala kugeletakkan pada kemudi sebentar.
Helaan napas penuh keresahan mengular. Meredam geram yang melambung bersama bingung. Langkah yang ingin terus kuterobos maju, akan tetapi lajunya terseok oleh sesuatu yang membuat ragu. Antara cinta yang ingin terus kuperjuangkan ataukah keberlangsungan kebahagiaan orang tua yang amat kusayang. Aku benar-benar bimbang.
🍂🍂🍂🍂🍂
"Rud, lu kenapa?" selidik Rendra begitu ia membuka pintu apartemennya dan mendapatiku dengan kekusutan luar biasa.
Tanpa menjawab rasa penasaran Rendra, kubawa tubuh tanpa semangatku merangsek ke dalam ruang bersofa yang biasa aku tempati saat kami tengah bersantai. Di sana, kulemparkan ragaku begitu saja.
"Apa yang terjadi? tanya Rendra lagi sambil meletakkan tangannya di daguku.
"Lu berantem?"
__ADS_1
Aku diam. Terus diam. Dan masih memilih diam.
"Bukankah malam ini lu lamaran? Mengapa malah seperti ini? Rud! Cerita sama gue!" cerca Rendra dengan segala keingintahuannya.
Aku ingin berbicara, akan tetapi bibirku tak bisa. Tercekat, kata yang ingin kuucap melekat dan tak bisa kulepas dengan ikhlas. Yang ada, justru derai airmata yang meleleh begitu saja. Menangis.
Kristal bening terus meluruh. Mewakili buncahan perasaan yang tak bisa aku ceritakan. Sangat dalam hingga aku terjatuh dalam rapuh.
"Ren ..." Kalimat yang ingin kuucap panjang, nyatanya hanya sampai di situ bisa melaju. Berhenti sebelum aku memulai memutar kata.
Seketika kurasakan ruangan terasa lebih sunyi. Rendra menungguku melanjutkan kata, sementara aku masih disibukkan untuk menata rasa.
Kuembuskan napas kasar saat kurasa mulai bisa menguasai keadaan. Pikiran kuterawangkan sejauh angan yang bisa kulayangkan. Menembus batas waktu hingga adegan demi adegan yang ingin kuceritakan tergambar dengan begitu gamblang.
"Lamaran gue gagal, Ren."
Hening.
"Ardi mengancam keberlangsungan perusahaan ayah jika gue memaksa untuk terus melamar Rosa."
"Karena keluarga Ardi adalah pemegang saham tertinggi kedua di perusahaan ayah lu?" selidik Rendra memastikan.
Kuanggukkan kepala untuk mewakili kata iya. "Selain itu, pak dhenya Rosa juga memberikan ancaman yang sama kepada keluarga Rosa. Gue bingung, Ren."
Kalut itu semakin merenggut pikiran jernihku. Menceritakan yang terjadi ternyata tak bisa mengubah situasi. Rendra juga tak bisa banyak memberikan nasehat. Kekuasaan susah ditaklukan.
"Rud ... tenanglah dulu. Saat ini keadaan masih memanas. Tak ada guna menyelesaikan masalah saat pikiran masih dipenuhi amarah."
"Dia hidup gue, Ren. Bagaimana mungkin gue melepaskannya begitu saja."
Aarrgghh!
Kuhantamkan pukulan pada sofa. Rambut kuacak kasar dan kembali berteriak kesal.
__ADS_1
Aarrgghh!
"Rud, cukup! Kalau lu seperti ini, gimana dengan rosa? Siapa yang akan menjaganya kalau lu aja gak bisa menjaga diri lu sendiri?"