
Saat kalut mulai meletup, Abang datang menjadi penenang. Tiga hari yang terasa panjang akhirnya terlewati juga. Ketika malam sudah menunjuk pukul delapan, ketukan pintu utama membuat sang gadis diharuskan untuk membuka. Tak disangka Abanglah yang datang dengan muka capek yang disembunyikan di balik senyuman.
"Aku lega kamu baik-baik, saja."
Lelaki itu mengacak rambut pada kepala si gadis. Mengangkat sesuatu yang ada di tangannya dan menyerahkan pada wanita di hadapannya. Ia memilih untuk menarik kopernya menuju kamar di lantai dua. Membuka pintu dan masuk tanpa diikuti sang gadis. Entahlah kapan wanita itu membelokkan langkah.
Beberapa detik selanjutnya, dua orang yang sama-sama penghuni kamar di lantai dua itu sibuk dengan kegiatannya sendiri. Si gadis membuka oleh-oleh sementara Si Abang sedang membersihkan diri. Mereka baru disatukan lagi setengah jam berikutnya di ruang keluarga.
"Kok sepi?" tanya lelaki yang nampak segar dengan tetesan air yang bersumber dari ujung-ujung rambutnya itu.
Si gadis yang sedang melahap kue basah itu menunggu makanannya tertelan sebelum memberikan jawaban. "Ke luar kota."
"Satyaku?"
Lelaki itu buru-buru melangkah lagi. Kembali ke lantai dua, di mana lelaki kecil kembaran namanya sedang terlelap. Gadis ayu mengekor kepergian Abangnya. Memerhatikan dari pintu apa yang sedang lelaki itu lakukan. Mengulas senyum saat merasakan ketulusan kasih yang dia tujukan pada buah hatinya yang kini berusia dua tahun lebih itu.
Lelaki itu memutar badan setelah mencium kening kembaran kecil kesayangannya. Memberi senyum pada sang gadis yang berdiri menghalangi jalan.
"Ngapain ngintip? Mau dicium juga?" goda Si Abang melewati adik kesayangan sambil mengacak lembut rambutnya.
Si gadis kembali mengekor lelakinya. Mereka kembali ke ruang keluarga dan berbincang di sana. Membahas banyak hal. Mulai hari yang dilalui si gadis bersama buah hati lucunya, kerinduan sang uncle, hingga berujung pada novel yang selalu mereka baca bersama.
"Bang, ternyata Mas Rud mendapatkan banyak ancaman," cerita gadis itu menampakkan ekspresi kepedihan.
"Seperti apa?" selidik lelaki itu dengan memerhatikan gadisnya.
"Aku baru membaca awalnya saja, dia di teror lewat sms untuk menjauhiku waktu itu. Bahkan dia sengaja mau diserempet motor juga."
"Apa dia pernah bercerita padamu tentang masalah itu?"
Si gadis menggeleng. Karena itulah dia merasa sangat kaget. Sang mantan yang meninggalkan luka itu ternyata menyimpan sakitnya sendiri. Ini baru awal tapi rasanya sudah dapat merasakan sesak yang berlebihan. Sepertinya bab berikutnya akan semakin menoreh luka.
__ADS_1
"Jangan diteruskan kalau kamu belum sanggup baca!"
"Aku hanya takut jika terbawa lukanya."
"Perlukah aku mencarinya untuk mengobati lukamu jika itu terjadi?" tawar Abang memberikan pilihan.
Si gadis terdiam. "Bang, waktu sudah berlalu empat tahun. Perasaan pasti juga sudah berubah. Aku bukan Rosa yang dulu lagi. Dia pun juga pasti sama. Aku seorang janda beranak satu, siapa yang mau?" celoteh gadis ayu dengan senyum mengejek diri sendiri.
Situasi seperti apa yang semestinya tercipta? Sedih, bahagia atau diantaranya? Entahlah. Gadis itu tak memedulikan itu. Dia hanya ingin membaca. Tidak memiliki niatan lebih apalagi harapan untuk kembali.
"Kita tidak akan pernah tahu takdir kita seperti apa. Jalani setiap detik yang berganti dengan bahagia. Hanya itu yang perlu kita lakukan sebagai manusia."
"Enteng sekali kamu ngomong, Bang."
"Karena aku menjalaninya begitu."
Senyum smirk disunggingkan gadis itu menanggapi kalimat lelaki di sampingnya. "Curhat, Bang? Dikata aku Mamah kali," ejek gadis itu.
"Curcol, Mah."
Mungkin kedekatan dua manusia berbeda keturunan itu memang berlebihan. Lelaki perempuan berlandaskan hubungan adik abang tanpa ikatan darah, sering berlalu-lalang di rumah, sudah pasti omongan negatif itu menjadi gosip. Mereka tidak peduli. Selama itu membuat bahagia dan tidak menyalahi norma, silakan orang berkata apa. Toh keduanya cari makin sendiri. Tidak menggantungkan kenyang pada pemberian orang.
"Aku tidak menerima curhatan, Bang."
"Lalu menerima apa?" tanya sang lelaki sambil ikut menikmati cemilan klanting, pemberian tetangga yang baru pulang kampung dari Pacitan.
"Transferan," celetuk gadis ayu sambil tersenyum nakal.
Abang segera mengambil benda pipihnya. "Mau berapa?"
"Jangan sok kaya!"
__ADS_1
"Aku memang kaya."
"Kaya apa?" goda sang gadis sambil terus berlomba dengan sang lelaki menghabiskan klanting yang masih menyisakan setengah toples kecil.
"Kaya apa aja yang penting kamu senang."
Gadis itu mencebik. Lelakinya selalu begitu. Tak pernah marah dengan semua perlakuan sang gadis padanya. Godaan, ejekan, sindiran bahkan kemarahan pun hanya ia balas dengan senyuman. Abang selalu menemani sang adik pada saat tersulit.
Oleh karenanya, kedekatan mereka begitu nyata. Berlatar belakang saling memahami yang akhirnya benar-benar saling mengerti. Bukan cinta, hanya kasih yang sudah membatu menjadi perasaan sayang. Setidaknya begitulah yang dirasakan oleh gadis ayu. Abang? Semua tahu bahwa dia memang menyimpan rasa. Namun berhasil dia kelola sedemikian rupa hingga cinta yang tak tersentuh itu tak membuatnya menjauh tetapi malah menjadi jalan yang setia ia tempuh.
Melewati hari bersama sebagai saudara. Memijar bahagia dari kisah dua orang yang kesepian dari cinta. Berbagi kasih untuk menjalani hari agar tiada merasa perih. Karena sesungguhnya manusia saling membutuhkan untuk terus bisa menguatkan.
"Masih yakin untuk pergi weekend nanti?"
"Aku pergi ataupun tidak, tak ada pengaruhnya pada kisah kami yang sudah usai."
"Kalau ada yang terpengaruh, bagaimana?" selidik lelaki itu lagi dengan gaya santainya agar sang gadis tidak terbawa rasa.
"Kan ada, Abang!" gadis itu mencoba untuk tegar dengan membalas candaan.
Meskipun sebenarnya ada rasa yang tak bisa ia jabarkan. Jika sedang bicara seperti ini, seolah sedang menata masa depan dan melupakan masa yang telah tertinggal di belakang. Padahal obrolan ini sekadar penghilang kepenatan dari beban yang terus-terusan menghantam. Menelusuri jejak rasa yang menjadi perjalanan hidup mereka. Kisah si gadis yang juga diwarnai oleh kehadiran Abangnya.
"Kamu memang harus selalu mengandalkanku."
Sang Abang menunjukkan kesombongan untuk membuat gadis itu melupakan hal sedih dan bisa mengembalikan amarah dan keketusannya. Karena itu adalah tanda ia baik-baik saja dengan hidup yang kini harus ia jalani. Sendiri tanpa suami.
"Aku akan melakukan itu untuk menolongmu dari kehampaan." Gadis itupun tak mau mengalah dengan ejekan.
"Kita sepertinya memang dua orang yang harus saling menolong," ucap lelaki itu yang diiyakan oleh gadis yang ia ajak berbicara.
💋💋💋💋💋
__ADS_1
Walingmi selalu menanti. Mampir yuk!