Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Dibalik Cerita


__ADS_3

Bertemu dengan mantan, akan selalu mengusik kenangan. Entah itu luka atau bahagia, tetapi rasa itu pasti masih membekas dalam ruang yang menyimpannya rapi sebagai memori. Seperti Mas Rudnya yang segera balik ke London, gadis ayu juga sudah kembali lagi ke Indonesia.


"Yangti ..." seru Di-junior begitu sampai di rumah dan disambut oleh sang mama dari gadis ayu.


Sepasang cucu dan nenek itu larut dalam pelepasan rindu karena berpisah selama dua hari. Dalam gendongan eyang putrinya, bocah cilik itu berceloteh dengan senang. Sementara sang mama segera masuk kamar.


"Yangti ... di sana Di-juniol ketemu Om Lud," cerita sang cucu yang didengarkan seksama oleh eyang putrinya.


Si abang yang duduk di sofa tak jauh dari mereka, hanya memerhatikan obrolan dua orang itu. Kristy yang notabene adalah adik dari gadis ayu ikut terdiam mengikuti celotehan keponakan tersayang. Seperti ada magnet besar dari cerita yang bocah cilik itu sampaikan.


Lelaki super bijaksana itu menelan saliva, merasa jika si kembar pemilik namanya memiliki keterikatan perasaan yang kuat dengan lelaki yang baru pertama ia temui tetapi ingatannya terus mematri. Ia yakin jika ini bukan sebuah kebetulan. Ada campur tangan Tuhan yang sedang menunjukkan kuasa.


"Mas Aryan ... siapa sih Om Lud? Antusias banget kayaknya dia cerita," selidik Kristy sambil menatap keponakannya yang menampakkan rona bahagia saat terus bercerita tanpa henti.


"Rud."


Jawaban si abang membuat Kristy tak percaya. Dia sampai harus menata hati dengan mengusap dadanya yang bergedup tak karuan secara tiba-tiba. Bahkan napasnya yang berantakan coba ia normalkan dengan membuang pandang pada sembarang arah.


"Mas Rudnya Mbak Rosa?" tanya Kristy memastikan karena ia takut hanya salah dengar.


"Bahkan kamu pun masih menganggap Rud sebagai milik Mbakmu," timpal si abang dengan senyum tipisnya.


Kristy yang menyadari omongannya yang salah segera meluruskan. "Bukan begitu, Mas. Hanya enaknya nyebut aja," kilah Kristy sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aunty ... kenal Om Lud, gak?" Pertanyaan itu membuat Kristy bingung harus memberikan jawaban.


"Sayang, makan dulu, yuk!" ujar gadis ayu yang menyelamatkan Kristy dari pertanyaan ponakannya yang susah untuk dijawab.

__ADS_1


Jika jujur, maka akan ada serbuan pertanyaan yang pasti akan menghantamnya. Bukan hanya padanya, akan tetapi pada sang mama tentunya. Dan tentu saja itu bukan hal baik untuk kondisi sekarang.


"Di-juniol mau makan sama uncle, Ma."


Tanpa berkata-kata, lelaki dewasa satu-satunya yang ada di sana itu segera beranjak. Mengambil sepiring nasi beserta lauknya yang berada di tangan sang adik. "Pesonamu kalah sama aku."


Dua pemilik nama Satya itu kemudian menepikan posisi ke sofa. Meninggalkan sang mama dan yangti yang masih mengobrol sambil berdiri.


"Mbak, kalian bertemu Mas Rud?" sergap Kristy ketika mendekati gadis ayu.


Ketiga wanita itu kemudian memilih duduk di ruang keluarga, meninggalkan duo Satya di ruang tamu. Kelihatan sekali jika akan ada obrolan serius diantara mereka. Mengenai seseorang yang terus dibicarakan oleh anak kecil di keluarga itu.


"Rosa tahu ... jika tetap berangkat ke sana kemungkinan besar akan bertemu dengannya lagi. Rosa kuat ... tetapi Rosa tidak menyangka jika Di-junior bisa seperti ini."


Gadis ayu menundukkan pandangan. Merasa jika ini adalah kesalahan yang bersumber padanya. Jika saja ia tak memutuskan ikut maka kehidupan mereka tidak akan terusik kembali dengan nama yang sudah ia tenggelamkan di dasar hati.


"Mungkin ini memang sudah dituliskan oleh Tuhan, Nak. Jangan menyalahkan diri sendiri," hibur sang mama seraya mengusap lembut punggung putri sulungnya.


"Ma ... Rosa merasa jahat sama Mas Dion. Seandainya hati bisa Rosa kuasai, pasti Rosa memilih untuk tidak terpengaruh lagi oleh semua ini. Namun ..." gadis ayu menjeda kalimatnya.


Ada rasa yang tak bisa ia ungkap. Tak ingin tetapi semua itu melenggang sendiri. Mendekat, merapat, mendekap dan kemudian mengikat.


Helaan napas panjang sekaligus dalam ia lakukan. Sesak yang mencekat ingin ia sikat. Namun lagi-lagi sang pemilik hati selalu membolak-balikkan perasaan. Ia lemah. Tak berdaya untuk menguasai perasaannya.


"Tenangkan hatimu, Sayang! Semakin kamu pikirkan maka rasanya semakin mengganjal di pikiran. Cuci muka, dulu!"


Gadis ayu menuruti perintah sang mama. Beranjak dari duduk dan segera melantaikan kaki. Menghapus jejak agar topeng cinta masa lalu tidak menutup hatinya lagi.

__ADS_1


🍂🍂🍂🍂🍂


"Ma, ada apa? Aryan perhatikan, Mama sepertinya sedang memikirkan sesuatu," ucap lelaki yang sudah dianggap sebagai putra sulung keluarga Atmadja itu.


Wanita paruh baya itu nampak sekali sedang digeluti pikiran kalut. Melesatkan pandangan pada sang cucu yang tengah bermain dengan putri bungsunya di halaman depan rumah. Tatapan nanar, ia pasrahkan pada lelaki kecil penerus trah Wijaya.


"Mungkin sudah saatnya buat Rosa tahu semuanya," ucap sang mama dengan pandangan kosongnya.


"Tahu masalah apa, Ma?" Lelaki bernama Aryan yang biasa dipanggil abang itu diserbu penasaran yang menggebu.


Sang Mama terlihat berat ketika harus berbicara. Berulang kali ia harus mengatur napas. "Sejauh mana dia sudah membaca novelnya?"


Entah mengapa wanita itu membicarakan tentang bacaan yang beberapa waktu terakhir ini menemani hari sang putri. Biasanya ia tak pernah peduli. Bahkan ketika banyak waktu dihabiskan untuk menyelami masa lalu itu, beliaulah yang menjaga cucu semata wayangnya.


"Aryan menemani Rosa membaca sampai pada bab Rud bersiap untuk melamar, Ma."


Lagi-lagi pandangan sang mama menerawang jauh. Sekejap kemudian memejamkan mata. Menahan sesak agar cerita bisa ia sampaikan dengan tepat. Anak sulung lelakinya semakin diterpa ketidaksabaran. Apa yang sebenarnya disembunyikan?


"Pantas saja," jelas singkat sang mama yang justru menambah beban telinga untuk terus ingin mendengar.


"Jika dia sudah membaca bab selanjutnya, Mama rasa dia akan lebih galau daripada ini."


Sepotong kalimat itu, belum juga menjawab rasa penasaran si abang. Namun ia setia mendengarkan. Dia paham, dengan beratnya sang mama mengutarakan cerita, pasti ada dilema.


"Mereka seharusnya bersama."


Bersamaan dengan jatuhnya kalimat itu, melelehlah air mata sang Mama. Lelaki sulung itu mengambil tisu dan menyerahkan pada wanita yang dihormati selayaknya ibu kandungnya itu. Ingin memeluk tetapi itu tak pantas ia lakukan. Ada batasan yang ia tahu pantang untuk dilanggar.

__ADS_1


"Maksud, Mama?" Si abang akhirnya memotong penjelasan sang mama.


Dalam isak yang masih terus membuat dada sesak, bergemuruh hingga ketegaran itu luruh, Mama menguatkan hati untuk memecah misteri. "Semua ini karena ulah pak dhe Haryo."


__ADS_2