
"Ini, aku kembalikan!" si abang menyerahkan novel sang adik sebelum ia pulang.
"Terimakasih, Abang," balas gadis ayu dengan ukiran senyuman.
"Bacanya besok aja aku temani! Sekarang nggak ada orang di rumah, aku takut kamu meraung seorang diri," ujar si abang sambil mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja.
"Abang, sibuk?"
Abang menghentikan langkah yang hendak diayunnya. "Ada apa? Mau ikut? Ayo!"
"Boleh?" balas gadis ayu menampakkan rona ceria.
"Tentu saja."
Gadis ayu pun segera berlari menuju lantai dua. Tak berapa lama dia kembali dengan sweater hitamnya dan sling bag warna senada.Tak lupa ia memasukkan novelnya ke tas yang ia bawa. Menemami dompet dan gawai yang telah lebih dulu menjadi penghuninya.
🍃🍃🍃🍃🍃
"Non, mana Den Satya?" tanya Bi Iyah seraya meletakkan segelas air putih di hadapan gadis ayu.
"Pergi sama yangti dan tantenya, Bi."
"Padahal Bibi kangen, Non. Kalau Den Satya main ke sini, rumah ini jadi ramai. Tuan juga sangat senang."
Apa yang dikatakan Bi Iyah adalah kebenaran. Putra semata wayang gadis ayu memang sering menginap di rumah si abang. Keakraban dengan penghuni rumah itu pun sudah selayaknya dengan keluarga kandungnya.
"Sa, sudah lama? Mana cucu Papa?" tanya Tuan Najendra Dharma begitu keluar kamar dan mendapati gadis ayu tengah berbicara dengan asisten rumah tangganya.
Dengan segera, gadis ayu bangkit dan mencium punggung tangan lelaki paruh baya yang masih nampak muda itu. "Baru datang kok, Pa. Di-junior pergi sama mama dan Kristy."
Papa kedua gadis ayu itu menganggukkan kepala tanda mengerti. "Di mana Aryan?" tanya beliau berikutnya.
"Ada apa, Pa?" tanya balik seseorang yang baru saja dicari keberadaannya.
"Tidak ada apa-apa. Kebetulan kalian di sini. Papa ada acara jadi tunggulah rumah, takut diangkut semut," gurau papa seraya mengulas senyumnya.
__ADS_1
"Tuan rumah malah pergi, bagaimana nasib tamunya ini?" timpal si abang dengan sok sedih.
"Bersantailah! Anggap rumah sendiri. Sa, temani abangmu sampai papa pulang. Kasihan sekali bujang lapuk ini, selalu kesepian kalau papa tinggalkan."
Dengan rona ceria gadis ayu malah semangat menggoda abangnya. "Paksa nikah aja, Pa!"
"Apakah menurut kamu harus begitu?" telisik sang papa yang kembali memutar badan dan memilih duduk untuk melanjutkan obrolan.
"Hm," gumam gadis ayu penuh keyakinan dibarengi dengan anggukan.
"Ayo, kita berburu calon istri abangmu!" ucap sang papa penuh semangat.
Sang gadis ayu nampak sekali begitu yakin untuk membantu si abang menemukan pelabuhan cintanya. Bukan sekadar sebagai godaan seperti niatan awal, akan tetapi ini adalah kesungguhan yang tak bisa diragukan. Sang papa dan putri barunya berbicara ke sana kemari diselingi tawa di antara obrolannya.
Si abang membiarkan dirinya dijadikan target. Bukan tanpa sebab, karena bahagia sang adik lebih utama dibanding perasaannya. Apalagi melihat sang papa juga begitu bahagia, sempurnalah dunianya.
"Mana gadis yang ingin kalian nikahkan paksa denganku?" Si abang justru menggoda dua orang yang tengah asyik mencari kandidat itu.
"Sabar dong, Bang!" timpal gadis ayu seraya mendekat ke arah si abang dengan benda pintar di tangan.
Memilih duduk di samping kiri si abang, sang adik menggiring mata lelaki di sampingnya untuk melihat benda pintarnya.
"Dia sibuk ngurus bisnisnya, kapan ngurusin aku?"
"Hei, Abang! Ngapain pengen kurus? Badanmu juga gak ada gemuk-gemuknya," timpal gadis ayu seraya memukul pelan perut si abang.
"Sakit, tau!" ujar si abang seraya mengusap bekas pukulan gadis ayu.
"Ya iyalah sakit, perut tulang semua. Ohya ... aku tau. Gadis ini nih cocok sama abang. Dia pinter memasak, Bang. Dijamin abang bakalan tercukupi gizi."
Si abang tak sedikit pun melirik foto gadis yang ditunjukkan sang adik. Dia malah mematikan gawai itu dan dan menatap sang adik dengan penuh senyum. Tangannya mengulur pada surai panjang sang adik dan membelainya perlahan.
"Papa gak jadi berangkat?"
Entah apa yang ada di pikiran si abang. Matanya menusuk sang adik tapi bibirnya menyapa sang papa. "Kalian tidak perlu mencarikanku wanita. Bukankah jodoh itu akan datang pada saat yang tepat?"
__ADS_1
"Jodoh datang tapi tidak kamu sambut, dia juga bakalan kalang kabut," timpal sang papa bersamaan dengan bangkit berdiri.
"Tau nih, Abang. Padahal menikah itu enak. Ya nggak, Pa?" Gadis ayu memanaskan suasana.
Sang papa pun menambahkan suhu udara. "Dia belum merasakan sih, Sa. Coba kalau udah, pasti nyesel karena kekeh gak pengen cepet nikah."
Mendengar penuturan sang papa, gadis ayu merasa malu-malu. Ia tau ke arah mana pembicaraan itu menuju. Ada canggung yang membuatnya bingung untuk terus membuat si abang tersinggung.
Abang yang mengerti situasi segera mengambil langkah menengahi. "Papa ... kapan berangkat? Nggak takut telat?"
Lelaki paruh baya itu segera melihat benda yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dengan cekatan ia bangkit dari duduk. Memaku sebentar sebelun berjalan keluar.
"Kalian baik-baik di rumah! Jangan berantem!" pesan papa seolah kakak adik itu anak kecil yang sering berebutan maianan.
"Tenang, Pa. Kami akan berantem, kok," ujar si abang yang ditanggapi pelototan oleh sang adik tersayang.
Sang papa yang sudah hafal tingkah kedua buah hati besarnya itu memilih untuk pergi. Jika terus ditanggapi waktu yang sudah terjeda akan semakin lama terpangkas sia-sia. Namun, justru itulah yang membuat lelaki yang tak lagi muda itu tersenyum bahagia. Rumahnya yang sepi, berubah penuh tawa dengan kehadiran gadis ayu dan putranya di kehidupan mereka.
Kakak beradik itu masih terus saling berdebat. Pukulan di paha dan acakan di puncak kepala mewarnai perhelatan mereka. Tingkah kekanakan itu baru berhenti ketika ada dering yang berasal dari gawai si abang.
Tak seperti biasanya yang mengangkat tanpa berpindah tempat, kali ini si abang meminta izin untuk pergi. Gadis ayu sempat merasa aneh tetapi kemudian ia menganggap itu adalah hal yang remeh.
Menanti si abang kembali, sang adik membuka tas mungilnya. Niatan awal mengambil benda pintar, tetapi pandangan justru terganggu oleh novel yang beberapa waktu tak ia sentuh. Ada keraguan untuk meraih.
Tuhan ... apakah aku harus meneruskan membacanya? Mana yang lebih baik untukku, menyelesaikan yang sudah aku awali ataukah berhenti agar semakin tak tersakiti?
"Mau baca novel lagi?" selidik si abang yang baru datang.
Gadis ayu yang terkesiap, tak sadar jika berkas masa lalu itu telah terperangkap dalam dekap telapak tangannya penuh lekat. Dengan ragu, ia melontarkan kata tanya pada abangnya. "Boleh?"
Si abang yang tau sampai mana novel itu telah dibaca gadis ayunya, menghela napas sebentar. Ia yang lebih dulu mengetahui cerita selanjutnya, bisa memastikan apa yang akan terjadi dengan hati wanita yang ia sayangi.
Sang adik menatap abang tersayang. Ada harap yang coba ia sampaikan lewat netra yang melekat. "Boleh nggak, Bang?"
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Ayo kakak coba mampir novel kolaborasi kami!