
Bab. 24 : Tertunda Sementara
Jumat, hari yang terasa lebih pendek dari keenam hari lainnya, kuawali dengan obrolan di meja makan. Ayah yang mendadak ke luar kota pagi ini, membuat sarapan hanya kulakukan dengan Bunda tersayang. Menu favorit membuatku makan dengan penuh nafsu.
"Rud, Ayahmu baru pulang Minggu siang. Jadi acara kita akan diundur malam Senin," ucap Bunda memberitahu perubahan jadwal kunjungan keluarga.
"Bun, nikahin langsung aja deh gak usah pakai acara lamaran! Kelamaan," celetukku yang dibalas senyuman oleh Bunda.
"Kemarin-kemarin Bunda suruh cepet nikah aja ngulur-ngulur waktu. Sekarang?" Bunda menyindir dengan ekspresi wajahnya, ada senyuman menggoda dan gelengan kepala.
"Coba Bunda nyuruh nikahnya sama Rosa, mungkin anak Rud sekarang sudah lima."
Gelengan kepala bunda terjadi berulang setelah mendengar jawabanku. Kubalas dengan cengiran senyuman. Jangankan bunda yang hanya mendengar, aku saja yang merasakan juga tak habis pikir mengapa aku bisa jadi bucin. Mencintainya seperti menjadi napas kedua.
"Segera habiskan sarapanmu! Ini sudah siang. Kalau gak buru-buru kamu jemput, takutnya dijemput duluan sama lelaki lain."
"Bunda, ngomongnya kok gitu? Rosa mana mau sama lelaki lain? Dia maunya cuma sama Rud."
"Dan Bunda juga tahu, jika Rud maunya juga cuma sama Rosa," goda Bunda yang membuat senyumku merekah sempurna.
Semua yang dikatakan bunda bukan sekadar gurauan atau bualan, itu adalah kenyataan tak terbantahkan. Semua orang juga tahu jika kami adalah pasangan yang tak bisa jika berpisah meskipun hanya sekejap mata mengerjap.
👨💻👨💻👨💻👨💻👨💻
Kerja dan cinta adalah dua hal yang biasanya membuat hubungan sepasang kekasih menjadi bersilisih. Kendala waktu adalah masalah klise. Terkadang dibumbui oleh cemburu yang tak bisa dipungkiri. Namun, itu semua tak terjadi pada kami.
"Besok ikut ke pantai, yuk! Kan lamarannya masih Minggu malam."
"Gak, ah."
"Ayolah! Gak dipingit, kan?"
"Dipingit apaan? Tadi juga berangkat bareng," jelasku sambil memeriksa berkas.
"Makanya, ayo seru-seruan!"
"Seruan juga berdua. Kalau berempat, bukan seru tapi terganggu," celetukku yang ditimpali lagi oleh Rendra.
"Ayolah, Bro! Jadi saksiku buat nembak Maya."
Kalimat Rendra membuatku menghentikan memeriksa berkas di tangan. "Ikut-ikutan?"
"Rencananya pengen satu tanggal, eh ... kamunya tertunda."
__ADS_1
"Sebenarnya aku gak rela kamu duluin, tapi ... aku ikut bahagia. Akhirnya sahabat tukang gombalku luluh juga oleh cinta seorang Maya."
Nama Maya dan Rendra akan tertulis manis di buku hijau gelap. Menjadi saksi perjalanan cinta yang panjang. Jodoh indah seorang pencinta yang akhirnya menemukan belahan hatinya. Seorang wanita yang memang ia yakini sebagai pelabuhan terakhir dari pria yang haus akan cinta.
"Anggap aja barengan," jelas Rendra dengan cengiran senyum. Tarikan dua garis alisnya juga membuat semakin menarik hati untuk mengikuti.
"Aku ikut, tapi jemput!"
"Biar Maya yang jemput Rosa. Kehadiran kita adalah kejutan buatnya. Kita buat dia kesel dulu, karena ternyata aku ikut. Eh taunya ada kamu."
"Atur ajalah!"
_______________________________________________
"Bisa barengan gini, ya?" ujar Abang kepada gadis ayunya.
"Hm."
"Kamu beneran terkejut karena keberadaannya ikut ke pantai?" selidik si abang kemudian.
"Terkejut tapi senang," sang gadis menjelaskan dengan antusias.
"Sepertinya kenangan itu akan berulang?" goda lelaki itu sok mengalihkan pandang dari adik kesayangan.
Gadis ayu memainkan pikirnya. Membuka jauh kenangan yang telah tertimbun beberapa tahun. Tentang lelaki masa lalu yang kini sedang diselami hatinya lewat novel yang ditulisnya. Goresan cerita tentang kisah yang menjadi sejarah.
Hanya sama dalam hal perjalanan. Bedanya, dulu gadis ayu bersama Mas Rudnya dan nanti ia akan bersama lelaki lain. Waktu mungkin akan bisa menjadi saksi jika Tuhan menggariskan sebuah pertemuan kembali sepasang mantan kekasih. Kala itu, liburan ke pantai adalah perjalanan terakhir sebelum tragedi itu terjadi. Lantas apakah perjalanan sang gadis esok hari juga akan menjadi akhir ? Ataukah awal untuk mengukir cerita baru yang kembali akan mengusik hati?
"Bang," sapa gadis itu asal.
Lelaki tulus itu mengacak puncak kepala adiknya. "Tidurlah, sudah malam. Bapernya jangan dihabisin sekarang. Di Hongkong nanti, sepertinya akan lebih nyesek lagi."
"Jangan dong, Bang!"
"Doaku juga jangan tapi kan perasaan itu milik kalian. Iya, gak?" goda si Abang seraya meneguk sebotol minuman dinginnya.
Gadis ayu menarik kaos abangnya hingga melar. "Bang ...."
Mata nanar sang gadis, membuat lelaki yang dipanggil manja itu tak berdaya. Segera diraihnya tubuh gadis itu ke dalam pelukan. Mengusap rambutnya pelan penuh kasih sayang. Wanita yang berada dalam dekapan itu memejamkan matanya. Menormalkan hati yang tiba-tiba membuncah tak bertepi.
"Percuma aku di sini, kalau kamu masih menangis. Katakan maka aku akan memberikan kebahagiaan yang kamu inginkan!"
Gadis ayu menunjuk novelnya yang tergeletak. Abang mengerti. Dia membimbing sang adik untuk menyamankan posisi dan membuka novel itu lagi. Sesaat kemudian dia tutup kembali.
__ADS_1
Tangan lelaki itu menghapus butir bening di pipi sang gadis. "Masa mau menemui mas mantan nangis? Yang cantik, dong."
"Abang ... jangan mulai, deh."
"Malah cemberut ... senyum!"
Gadis ayu merebut novel dari lelaki yang selalu menggodanya agar bisa terus tertawa itu. Beberapa detik menata hati, kemudian matanya mulai berjalan menyusuri rangkaian kata yang mantannya tuliskan.
______________________________________________
Bab. 25 : Cerita Hati
Semilir angin manja, membelai dua hati yang tengah jatuh cinta. Benda yang digambarkan dengan jari jempol dan telunjuk yang ditekuk, disatukan antara milik lelaki dan perempuan itu adalah aku dan kekasihku.
Kami tengah duduk di hamparan pasir pantai yang diterpa cahaya senja. Kuhangatkan ia dalam dekapan, mengabaikan mata-mata yang melihat dengan lekat. Dunia ini milik kami berdua.
"Sayang," sebut lirihku sambil meletakkan dagu di bahunya.
Tatapan kami lurus, menggerus angin yang berembus mengikuti deru ombak yang datang dan pergi silih berganti. Membiaskan resah yang bergelayut, memagut bahagia dan meninggalkan bekas luka.
"Percayalah padaku! Kamu akan kuperjuangkan meskipun aku harus menghadapi keluarga besarku sendiri."
"Mas ... jangan tinggalkan, aku!"
Kueratkan dekapan. Rambutnya yang melambai diterpa angin, kurapikan mengalung di lehernya sebelah kiri. Kuciumi rambutnya dengan penuh cinta. "Aku hanya akan pergi jika hadirku akan menghilangkan bahagia dari hidupmu, Sayang."
"Kamu adalah bahagiaku, Mas. Aku bisa kehilangan semua, tetapi tidak dengan kehilanganmu."
Suaranya melirih, ada serak yang menganak. Kutegakkan badan. Bahu indah itu kuputar. Nampaklah ada kristal bening yang membasahi pipi gadis ayuku.
"Jangan menangis. Aku tidak bisa melihat matamu berkaca-kaca. Beri aku cinta, tapi jangan air mata. Aku tidak sanggup, Sayang," akuku dengan mata yang mulai memerah juga.
Entahlah ... jika bersamanya yang ingin kulihat hanya ulasan senyum bahagia. Meskipun aku tahu jika hidup bukan hanya tentang tawa, tetapi sedih adalah pantangan untuk gadis yang kucintai. Rosaku harus selalu mendapatkan kasih sayang ditengah perjalanan yang panjang.
Kuusap butir kepedihan itu. "Gadis ayuku, Mas mencintaimu. Dalam ... sangat dalam ... sampai Mas sendiri tidak tahu apakah akan sanggup kembali berenang ke daratan. Rasa ini bisa saja membunuhku tetapi kupastikan jika cintaku tak akan mati atas namamu."
Mata kami kembali berkaca-kaca. Namun bukan karena kesedihan, melainkan gelombang kebahagiaan atas pengakuan rasa yang sama-sama membuncah tak terarah. Meleburkan cinta menjadi satu dalam kalbu.
"Ardi, boleh memaksa kamu sebagai jodohnya. Namun yakinlah jika aku adalah jodoh yang telah Tuhan persiapkan untukmu. Kita akan menua bersama."
Kupeluk gadisku. Kepalanya ia rebahkan di dada yang memang hanya kupasrahkan sebagai sandaran kala ia merasa lara. Kami menatap senja, berkata dalam hati semoga di usia senja kami nanti kami masih tetap seperti ini.
💞💞💞💞💞💞
__ADS_1
Kunjungi Walingmi jika ingin tertawa tanpa henti!