Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Bahagianya menggodamu


__ADS_3

Malam yang dilalui dengan air mata, telah ditenggelamkan oleh datangnya pagi. Sang mentari menyapa melewati celah dedaunan yang masih menampakkan butiran-butiran embun di sisi terluarnya. Di sebuah meja taman belakang yang dihiasi oleh suara gemericik air dari sebuah air terjun buatan, seorang gadis tengah terduduk di sana.


Kali ini raut muka gadis itu sedikit lebih cerah, ada sedikit senyum di kedua sudut bibirnya. Lagi dan lagi, novel yang semalam dibacanya pun telah ada di tangannya. Jemarinya terlihat mulai menempel manis di sudut kiri bawah novel tersebut. Mulai membaca!


Bab. 4 : Akhir sebuah Deja vu


Mengakhiri status sebagai mahasiswa pasca sarjana, aku menerjunkan diri pada bidang yang kugemari, dunia literasi. Menulis adalah hobiku yang bertolak belakang dengan hobiku yang lain, bela diri. Aku adalah Ksatria romantis, mungkin itulah sebutan lain untuk pahlawan tampan sepertiku.


Ah ... jatuh cinta membuatku gila. Beginilah ternyata rasanya saat hati berjalan sendiri menemukan bahagia. Tak terikat oleh logika dan sepenuhnya dikuasai oleh perasaan yang bertahta. Bahkan senyum pun tak bisa kukendalikan. Mengembang sendiri tanpa memandang sekitar, apakah ini wajar?


Ini adalah hari pertamaku menyandang status baru, seorang manajer yang membawahi tim editor. Sebagai salam perkenalan, diadakan acara makan-makan yang akan mengambil tempat di kantin kantor. Silaturahmi diantara karyawan itu penting dan yang lebih penting adalah modusku untuk mendekati seorang gadis ayu yang membuatku percaya jika cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada.


Ya ... aku sudah berhasil menemukan siapa gadis yang sanggup membuat duniaku dipenuhi cinta beberapa waktu terakhir. Bagaimana aku bisa menemukannya? Rasanya aku tak perlu menceritakannya. Karena cinta akan sanggup menemukan pasangannya meskipun itu di ujung dunia.


Berlebihan? Tentu saja tidak. Getar cintalah yang membawaku menemukannya.


Aarrgghh!


Kusugar rambutku. Tak habis pikir dengan kegilaan yang tercipta karena jatuh cinta. Rasanya inginku meneleponnya, memujanya dengan ribuan kata rayuan yang akan kutawarkan sebagai awalan lamaran.


Melamarnya, mengucap ijab qabul untuk menghalalkannya dan aku bisa memiliki seutuhnya. Mencumbu sebagai kekasih dalam tebaran pahala. Pikiranku sepertinya terlalu jauh melanglang buana. Namun memang begitulah yang kurasa. Debar ini membuatku tak sabar, bukan sekadar menjadi pacar tetapi melamar dan sesegera mungkin memberikan mahar. Ah ... gilanya aku!


Segera kukuasai pikiranku. Menatap nyata seseorang yang selama ini aku inginkan.


Dia ... gadis dengan tatapan penuh belenggu itu sedang berdiri tepat di hadapanku dalam jarak yang tak lebih dari setengah meter. Sesempit inikah dunia?


Tuhan yang membuatnya sempit. Dan tentu saja ini adalah takdir cinta yang bahagia. Aku meminta langsung pada pemiliknya dan dituliskan secara indah, tak terduga.

__ADS_1


Kemarin ... ya ... kemarin waktu aku sedang interview di kantor ini, tak sengaja kumenemukannya. Sedang terpaku dengan laptop, hingga tak menyadari seseorang yang sedang memperhatikan mendalam, aku. Luar biasa bukan jodoh itu dituliskan? Aku yang mendamba, didekatkan dengan sempurna. Tersenyum, kan kujemput cintaku. Besok ... ya ... besok!


Dan hari ini ...!


Buncahan rasa yang sudah menebar di seluruh ruang hati, membuatku tak sabar untuk mengenalkan diriku padanya. Bibir hendak mengucap tapi terhenti, saat kudengar lirih nama Dion disebutnya.


"Dion siapa?" sebutku kemudian yang membuatnya menoleh ke arah hadirku.


Tatapan penuh tanda tanyanya, membuatku harus menahan diri untuk tidak banyak berucap. Bersikap sok cool padahal rasanya aku sudah ingin memutar ribuan kata untuk menyapanya, saling bicara, memutar cerita atau bahkan langsung kupinta dia untuk menjadi istriku, ibu anak-anakku dan wanita istimewa dalam keluarga kecilku yang bahagia.


Pikiranku semakin meracau tak tentu arah. Padahal hatiku juga berdegup tak menentu. Cinta ini sungguh merayuku, terlalu.


Rud, kuasai dirimu!


Kusunggingkan senyum untuk menutupi getar rasa di relung jiwaku. Bukannya dia balas hal sama tapi malah dia balikkan lagi pandangannya ke arah sebelumnya. Spontan ku langkahkan kaki dan berdiri tepat dihadapannya. Mengambil sepotong melon dari piring kecil yang kubawa dan siap kusuapkan padanya. Rasanya aku sudah tak bisa menahan diri untuk menyentuhnya, memanjakannya dan ah ... aku tak kuasa menahan gejolak rasa.


"Ini makan," pintaku dengan senyum ramah dan gaya sangat santai. Padahal di dalam dada, getaran itu sangat nyata.


"Kenyang makan cinta dari Dion?" pertanyaanku yang muncul begitu saja. Nama Dion yang keluar lirih dari bibirnya tadi, rupanya tertanam kuat dalam ingatanku. Siapapun dia, kuyakin punya tempat istimewa dihatinya. Penyebutan dalam kesendirian adalah wujud nyata dari keinginan mendalam dari alam bawah sadar.


Dia hanya diam tak membalas pertanyaanku. Entah kalimat apa yang sedang memenuhi ruang hatinya, berkata dengan dirinya sendiri. Yang jelas, dia membekukan pandang pada bening mataku. Kubalas dengan kelembutan tatapan, mencoba menelusuri kedalaman perasaan gadis yang membuatku tak berkutik ini, dicengkeram hangatnya cinta.


Detik demi detik berlalu, kami masih menyatukan garis pandang. Entah aku yang terlalu percaya diri atau memang itu yang terjadi. Kurasa gadis ini juga terpesona oleh wajahku. Karena sesungguhnya ketampanan raut mukaku ini memang di atas level rata-rata.


"Permisi, Pak!" akhirnya dia berinisiatif meninggalkanku lebih dulu, saat pikirannya sudah berhasil ia kuasai.


"Pak? Apa aku nampak setua itu hingga kau panggil pak?" tanyaku sambil menundukkan kepala berusaha mensejajarkan wajahnya dengan wajahku.

__ADS_1


Dia kelimpungan. Nampak jelas terbaca, ia kikuk dengan jarak pandang yang aku minimalkan. Aku rasa dirinya sedang membatinku, mengguman kesal kenapa aku mempermasalahkan panggilkan Pak yang ia berikan.


"Iya itu," ucapku kemudian yang membuatnya membelalakkan mata. Tertebak. Pasti ia sedang membatin aku ingin dipanggil apa. "Sayang?" pasti pertanyaan itu menggantung di benaknya. Dan saat aku mengucap kata "Iya itu", tersentaklah dia.


Sayang, kamu lucu sekali! Ekspresimu yang tak bisa menyembunyikan keterkejutan nampak sangat menggemaskan di mataku. Rud ... kamu menang! 1-0 untuk kelihaian menggodanya.


Berusaha tak terhanyut oleh arus godaanku, dia melemparkan pandang pada sembarang arah. "Apa?" tanyanya balik pada kalimatku yang tidak utuh tadi.


Semakin kudekatkan wajahku, sedikit menyamping ke arah daun telinganya. "Kamu, lupa sama aku?"


Kami terpaku dalam posisi sedekat ini. Sehingga kernyitan di keningnya jelas tertangkap oleh kedua bola mataku. Dia lupa? Benarkah? Atau dia hanya tidak yakin? Aku saja merasa ini seperti mimpi. Mungkin dia juga merasakannya begitu juga.


"Hai bro, akhirnya kita ketemu lagi," sapa Rendra yang memecah kebekuan yang menyelimutiku dan dengannya.


"Akrab nih," tanya Rendra karena melihat kami berhadapan dalam jarak dekat, sangat dekat bahkan untuk ukuran pasangan, posisi kami terlalu intim apalagi di tempat umum.


" Dia melupakanku," ujarku dengan meloloskan senyumku yang paling sempurna untuk menggodanya.


Kubiarkan dia bermain dengan kalimat-kalimat pertanyaan panjang yang bermain di pikirannya. Menyibukkan diri bercanda dengan Rendra dan sengaja kubiarkan dia pergi dalam rasa penasaran.


Tarik ulur, Rud. Kamu punya banyak waktu dan kesempatan untuk mendekatinya. Woles, aja!


Kepergiannya hanya kuikuti dengan lirikan dari ujung mataku.


" Naksir?" Rendra mengulik.


"Dia!" jawabku yakin tanpa menambahkan kata penyerta.

__ADS_1


Kebersamaanku dengan Rendra, membuatnya cukup memahamiku. Satu kata dariku dengan mudah dijabarkan oleh pemikirannya. Tertangkap jelas dari senyumnya yang terkembang sempurna menyertai tepukan pada bahuku. "Perjuangkan!


Itu pasti! Wahai gadisku, tunggu aku merayu cintamu dengan caraku.


__ADS_2