Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Selimut Rasa Masa Lalu


__ADS_3

Perjalanan yang dihabiskan dalam obrolan yang mengobrak-abrik perasaan, benar-benar membuat Mas rud gamang. Sekilas, ia tatap buah hati kesayangan sang gadis yang ia cintai. Bocah kecil yang jujur membuat tembok kenarsisannya sedikit melebur.


"Mama menangis karena papa sudah pergi. Uncle Aryan yang selalu membuat mama senang. Tapi, sekarang ada Om Rud mama bisa marah, nangis, senyum-senyum. Mamaku jadi aneh, Om."


Di-junior bercerita tanpa diminta. Ia bisa menangkap perubahan emosi rasa pada sang mama. Ia bingung mengartikannya karena keterbatasan usia. Baginya itu aneh dan jawabannya nyeleneh. Namun, bagi Mas Rud itu adalah sebuah mood booster.


Mas Rud seperti tersetrum. Terkejut tetapi menegakkan lagi semangat yang sempat kusut. Ternyata hadirnya masih mengacak-acak rasa. Gadis ayu mungkin belum menyadari akan tetapi putranya justru lebih peka. Itu tidak masalah. Ia tahu benar jika hanya waktu yang akan membawanya kembali bersandar. Entah kapan, tapi ia akan terus semangat berjuang.


"Om, nanti kalau udah sampai kita telepon uncle dulu, ya?" pinta Di-junior dengan gaya polosnya.


Bocah kecil itu tidak sadar jika perasaan Mas Rud dibawa berputar-putar oleh kata demi kata yang ia sebar. Sebentar melayang, sekejap menukik tajam dan kemudian tenang di awan.


Mas Rud membelokkan mobil menuju sebuah kawasan wisata keluarga. Tempat parkir yang mulai ramai, membuatnya sedikit bersabar untuk mencari tempat agar kendaraannya mendapatkan tempat bersandar. Hingga akhirnya, ada tempat kosong di bawah pohon rindang yang menjadi pelabuhan roda-roda mobil.


"Kita sudah sampai, Boy! Saatnya, kita menyapa uncle Aryan," terang Mas Rud memperlihatkan keceriaan maksimal.


Kedua lelaki itu saling berlomba memamerkan senyum bahagia. Di-junior merasa senang berlipat-lipat. Bagaimana tidak, ia bisa jalan-jalan dengan Om Rud sekaligus akan menumpahkan rasa rindu pada uncle yang beberapa hari tidak bertemu.


Di ujung sini, Mas Rud mulai memanggil nomor yang ia beri nama uncle Aryan.


Di ujung sana, sebuah kota yang berbeda, uncle Aryan membaca nama Om Rud sedang memanggilnya. Sebentar dia abaikan pekerjaan dan segera menyambar benda pintar. Mulai sekarang prioritas penelepon yang tidak boleh ia abaikan bertambah satu yaitu Mas Rud. Oleh karenanya, meskipun sibuk dia akan tetap menyisihkan waktu.


"Uncle ... kangen!"


Suara dan rupa yang pertama mewarnai netra, membuat abang terkesiap. "Satya-nya uncle lagi sama Om Rud?"


Si abang memang terkejut, tetapi ia dapat dengan cepat mencari jawab atas apa yang ia lihat. Selalu menemani sang adik membaca novel dari sang mantan, menjadikan kebersamaan antara sang keponakan dan lelaki itu dengan mudah dapat disimpulkan sebagai salah satu wujud pendekatan tanpa niat yang perlu ia khawatirkan. Mas Rud mencintai sang adik begitu tulus, maka kembaran kecilnya sudah pasti juga akan dia jaga sepenuh jiwa dan raga.


"Aku mengajaknya jalan-jalan. Bolehkan, Uncle?" Mas Rud menyela pembicaraan Duo Satya.


"Selama mamanya tahu dan Satya-ku senang, aku mengizinkan. Tapi ingat jangan sampai ia kecapekan, kelaparan, kehausan!"


Mas Rud tersenyum mendengar kalimat-kalimat abang. "Tenanglah! Aku akan menjaga Satya-mu seperti saat aku menjadi bodyguard. Semua pasti aman."


"Jangan sampai kejadian seperti saat lelang amal berulang. Siapa yang seharusnya kamu jaga, siapa yang kamu selamatkan tetapi siapa pula yang terluka?"


"Uncle ... Om ... kalian ngomong apa, sih?" Di-junior menyela pembicaraan dua lelaki dewasa yang melantur ke mana-mana.


Abang menyadari jika ia telah mengabaikan sang keponakan. "Uncle sedang meminta Om Rud untuk menjagamu. Selamat jalan-jalan Satya-nya uncle! Jangan lupa beri kabar sama mama, ya!"

__ADS_1


Semua yang menjadi pesan sang uncle, disimak dengan cermat. "Siap! Uncle, selamat bekerja! Nanti kalau udah balik, kita jalan-jalan berdua, ya?"


"Iya, Sayang. Ya udah, uncle kerja dulu. Kamu jalan-jalan sama Om Rud."


Video call itu diakhiri ketika semua melambaikan tangan dan mengucapkan salam berbalut senyuman. Bahagia.


Hari yang dipenuhi tawa yang diukir tiga lelaki berbeda usia berbanding rasa dengan risau yang mendera gadis ayu. Kegamangan terbaca dari perlakuannya terhadap novel yang ada di tangan. Sebentar didekatkan, sekejap kemudian hendak diletakkan tetapi kembali diraih lagi.


"Mas," Panggilan itu entah ditujukan kepada lelaki halalnya ataukah pada lelaki yang bersikeras untuk menghalalkannya.


Sekian waktu dibelenggu ragu, akhirnya novel cinta itu ia buka. Bukan pada lembar selanjutnya dari bab yang terakhir ia baca, akan tetapi justru memilih bab terakhir.


_______________________________________________


Bab. 85 : Bahagialah Dengannya


Kupandang lekat novel yang terpaksa kulabel end seperti kisah yang sengaja kubuat tamat meskipun sesungguhnya rasanya teramat berat. Ini semua demi mengekang kenekatan yang sudah kumulai di Jogja kemarin. Jika mengingatnya membuatku gila, tetapi harus melupakannya rasanya aku tidak bisa. Biarlah perih ini kusimpan sendiri untuk menemani hari.


"Aku tidak menyesal telah menciummu karena aku tahu kamu menikmatinya. Yang aku sesalkan karena telah membawamu terbelenggu dalam rasa terlarang yang seharusnya tidak kutawarkan. Meskipun sesungguhnya yang kumau adalah kamu, akan tetapi kini sudah ada dia yang telah kamu pilih. Aku tahu kamu membohongi perasaan. Cintamu padanya tidak sebesar rasa yang kamu berikan padaku. Akan tetapi kuhargai jalan yang telah kamu jadikan tujuan. Karena aku tahu, dia akan bisa membahagiakanmu."


Tiba-tiba saja bening kristal kesedihan berderai tak terlerai. Aku menangis. Kubawa netraku menatap langit-langit agar sakit ini tidak kembali membuatku ragu untuk melepaskan apa yang seharusnya kulepaskan.


Kuhela napas panjang nan mendalam. Kuredam buncahan perasaan agar aku sanggup menemui pemilik baru dari novel yang khusus kubuat sebagai wujud cinta yang tulus.


"Rud, sekaranglah saatnya!" Suara dari kedalaman batin memerintah agar aku tak lagi menunda langkah, menepati janji dengan berkebalikan situasi. Seharusnya aku yang menjabat tangan dan mengucapkan akad penghalalan, kini aku harus terima datang mengucapkan selamat atas pernikahan.


Kubawa langkah berseragam kepedihan meninggalkan kediaman keluarga Kemal Malik menuju apartemen milik sepasang suami istri yang sedang aku cari. Sepanjang perjalanan obat luka kutaburkan, pil pahit aku telan, sirup beraneka rasa aku teguk, bermaksud untuk menutup tangis agar nanti tidak berderai.


Jika situasi begini, waktu rasanya berlari dan jarak seolah terpangkas dengan cepat. Baru saja pedal gas kuinjak, kini mengharuskan memeluk rem cakram. Hatiku berdetak tak karuan, sanggupkah aku melihatnya dengan menunjukkan wajah bahagia. Ah, bukan! Wajah datar tanpa perasaan, itu mungkin akan sulit, apalagi berusaha menarik lengkungan garis penanda hati sukacita.


Perasaan yang sulit kukendalikan seolah dimudahkan Tuhan untuk melepas perpisahan. Baru saja kumeninggalkan parkiran, secara tidak sengaja kudapati dirinya tengah duduk di sebuah bangku taman bersebelahan dengan gerobak makanan.


"Rud, kuasai hati!" Penguatan lewat ucapan lirih kuciptakan untuk diri sendiri.


Kaki kuayun dalam senyum yang kupaksa mengulum. Ketenangan yang kumaksimalkan rasanya merosot tajam. Dia benar-benar sanggup membuat kekuatanku meluruh. Seorang Rud bisa menghadapi peluru dan pisau, akan tetapi jika menatap gadis ayu maka aku tak mampu.


"Mengapa sendirian? Di mana suamimu?" tanyaku dari arah samping.


"Suamiku mencari nafkah," jawaban tenang itu melekat di pendengaranku dengan sangat datar. Tidak ada semburat raut terkejut meskipun senyum tiada menyambut.

__ADS_1


Langkah yang sempat berhenti sesaat, kini benar-benar kubawa duduk di bangku sebelah gadis ayu. Kuberusaha menciptakan suasana santai dengan menyilangkan tangan di dada dan punggung menyandar. "Tentu saja, dia sudah punya tanggungan untuk menghidupimu."


"Jangan pergi! Aku tak akan mengganggumu. Aku hanya menunggu makananku yang juga sedang aku pesan," perintah dan penuturan kuucapkan karena ia segera beranjak.


Aku tahu gadisku sedang menghindar dari gelembung rasa yang sudah di pecahkan dalam hatinya. Ia tak ingin aku kembali berpikir jika aku masih bertahta sejajar dengan suaminya.


Sempat ragu, tetapi akhirnya dia duduk kembali. Sengaja memilih ujung bangku, kutahu dia menjaga jarak dariku.


"Selamat untuk pernikahanmu!"


Kalimat berat itu bisa juga kuungkap. Tanpa bisa menatap, kulajukan kata yang sempat tarik ulur dan tercekat di mulut.


"Terima kasih, Mas," balasan singkat ia ucap tak juga dengan menatap.


Gejolak. Ada rasa yang mendera tetapi sengaja dibuat seolah tak ada, dihatiku dan entah bagaimana di hatinya.


"Maaf, aku hanya bisa memberi ini. Janji yang harus kutepati." Aku menyerahkan sebuah kotak hitam polos yang tergembok tanpa ada kunci yang kuserahkan.


"Apa ini?" tanyanya penasaran karena kalimat yang kusampaikan.


"Simpan saja, kuncinya ada padaku!" perintahku seraya berdiri dan melangkah pergi begitu saja.


Sungguh, aku sudah tidak sanggup untuk berbicara. Jiwaku meronta. Rasaku menjerit menahan sakit. Di dekatnya, ingin kupeluk tubuhnya tanpa jeda. Sayang, dia bukan milikku. Raganya milik suaminya meskipun hatinya mungkin masih menyimpan rasa.


"Aarrgghh!"


Tuhan ... sakit! Ini sangat perih. Dia milikku. Seharusnya di sisiku.


Luruh. Kristal bening kembali mengalir. Ini sangat berat. Atribut bodyguard ternyata tak membuat hatiku menjadi kuat. Pencinta ini kalah.


Derai semakin tak terlerai. Langkah semakin lunglai. Mobil menjadi saksi bahwa aku tak lagi bisa berdiri tanpa ada dia di sisi. Dia nyawaku. Napasku. Ingatanku. Hidupku. Bahagiaku. Duniaku.


_______________________________________________


Gadis ayu terpaksa menutup novelnya. Ia terisak. Matanya sembab. Tulisan itu menusuk dalam perasaan. Ia terbawa dalam kubangan kepedihan yang sama.


"Mas Rud." Nama sang mantan ia ucapkan di sela tangis yang tidak kunjung mereda.


Sebuah pelukan tiba-tiba menghangatkan perasaan gadis ayu yang membeku. Spontan ia menoleh dan ...

__ADS_1


__ADS_2