Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 99 "Perasaanku"


__ADS_3

"Cekrik...." beberapa rambut indah Kafa mulai terpotong.


"Atau kau, memang senang bermain dengan banyak pria?,jangan mimpi !, kami sangatlah muak dengan kepolosanmu." ujar Nada dan dia akan menggunting rambut Kafa lagi.


Saat akan meneruskan tindakkannya dia pun di tepis, tangannya oleh Dirga.


"Kalian pergilah !!" ucap Dirga lalu melihat Kafa tidak membalas ataupun membantah tuduhan Nada padanya.


"Dengarkan, aku tidak berencana memukul para gadis, tapi dia adalah kekasihku pergi dari sini !!!" ucap Dirga kesal dan memerah kedua bola matanya, nampak sangat marah.


"Tapi Dirga, kau itu kan sudah tahu gadis ini hanya berpura-pura polos saja." sanggahnya Nada, karena kesal Kafa di bela olehnya.


"Beraninya kau!!, lihatlah kauuu menggunting rambutnya !!" sambil memegang rambut Kafa yang di potong Nada.


"Ha, kau benar-benar buta , Heiii... Dirga buka matamu,dia hanya perempuan ja*ang,sadar!" seru Nada, dan pergi dari kamar mandi itu.


Kafa dan Dirga hanya diam membisu,karena melihat Kafa di rundung namun dia tak bisa menyanggah semua omongan dari Nada, dia merasa kalau Kafa saat ini merasa dirinya itu sangat menyedihkan.


"Kenapa kau hanya diam?, lihatlah rambut indahmu di potong olehnya." suara lirih Dirga membuatnya malah ingin menangis, kenapa dia malah mengingat kedua orang tua nya.


"Hiks...hiks...hiks..hiks...huu..." Kafa mulai


menangis , di lihat oleh hantu kamar mandi dan juga Dirga saat ini.


🍃🍃🍃🍃🍃


"Aina...Aina...lihat mama kesini...!" teriak ibu Kafa dan mereka bertiga berada di taman .


"Bagus... ya begitu... mama akan mengambil gambarmu...tunggu" ucap ibu Kafa yang akan mengambil gambar gadis kecil itu.

__ADS_1


"Cekrik, cekrik... cekrik..." bunyi ponsel ibu Kafa.


"Apa kau lapar?, sini Papa akan mengambil kan makananmu sayang." ujar Ayah Kafa dan mengambil cake strawberry mendekatkan ke mulut Kafa.


Kafa hanya mengangguk saja senang sekali, hari ini dia libur sekolah, hari minggu adalah akhir pekan yang sangat indah cocok untuk berkumpul bersama keluarga. Terlebih kalau menghabiskan waktu bersama keluarga yang amat tercinta. Dengan senda gurau kecil, dan menikmati pelukkan yang hangat dari orang tua kita itu adalah hal paling istimewa.


Hati merasa tenang bahkan banyak hal yang mungkin bisa di ceritakan,jika saat berkumpul dengan orang yang kita sayangi itu.


"Aku tak pernah tahu kenapa tiba-tiba hari ini aku merasa asing,dan hanya sendiri saja, jika aku ingin menangis mungkin karena aku ini mengingat kalian berdua.Walaupun aku kini beranjak dewasa aku tetap merasakan amat sangat butuh kasih sayangmu, karena hari ini aku sangatlah bersedih, maka ku tahu kalau mengingat kenangan bersama kalian akan membuatku semakin bersedih, seharusnya aku bahagia walau kenangan bersama kalian masih tetap ada di dalam hati kecilku, juga ingatanku ." batin Kafa berbicara sendiri


"Kenapa kalian berdua tega meninggalkan aku hanya sendirian, aku setiap hari harus melewati mimpi buruk ini, entah nyata atau hanya halusinasi, aku tak bisa membedakan, sekarang yang aku tahu perasaanku kacau. Jika kalian ingin kembali ke dunia ini ,aku sangat senang, apakah kalian berdua tidak merindukan aku...." batin Kafa saat ini dia sambil menangis sesenggukkan.


"Mama kenapa kita selalu piknik di taman ini?, apakah tidak tempat yang lebih indah lainnya?" tanya Kafa kepada ibunya, dia lalu mengamati wajahnya dengan seksama .


"Karena taman ini adalah taman favorit dari Mama.., jika mama tidak ada kau pasti akan mengenang tempat ini." jawab ibu Kafa dan tersenyum sangat sumringah saat itu.


Paras dari ibu Kafa hampirlah mirip dengan gadis yang bernama lengkap Kafara Aina itu karena ibu Kafa yang berwajah bersih, putih, dan juga tirus ,dengan hidung kecil tapi juga mancung. Rambutnya panjang sama dengan putrinya. Namun kedua bola matanya hanya bewarna hitam, tak sama dengan kedua bola mata Kafa yang biru langit itu.


"Baik Ayah... Haaaa..." Kafa membuka mulut nya, dan di suapi kue Ayahnya.


🍃🍃🍃🍃🍃


"Kafa kenapa kau melamun?" tanya Dirga dan menggoyangkan tangannya ke wajah Kafa.


"Huuuuu... hiks...hiks... hiks..." tangis Kafa semakin keras dan tersedu-sedu.


"Ha... aku ingin pergi ke makam orang tuaku, aku merindukan merekaaaa...huaa..." sambil mengusap kedua pipinya itu yang berderai air mata .


"Baiklah, kita pergi kesana, tapi diamlah dulu lihat wajahmu itu..." ujar Dirga melihat wajah Kafa yang sembab terkena air matanya.

__ADS_1


Hantu kamar mandi itu melihat Kafa juga ikut bersedih, dia pun menatapnya sendu amatlah perih dan juga pedih kenapa perasaan Kafa itu terasa olehnya juga.Setelah melihat Kafa lebih baikkan dia pun pergi dari hadapannya.


Menghilang hanyalah tinggal Dirga dan juga Kafa saat ini di dalam kamar mandi.


"Ayooo kita keluar dari sini, aku pria jika kita dalam kamar mandi berdua seperti ini kau lah yang akan di bicarakan banyak orang." saran Dirga untuk mengajaknya keluar dari kamar mandi itu.


Beberapa menit kemudian mereka berdua itu, sudah berada di sebuah tempat pemakaman. Pemakaman dimana orang tuanya Kafa yang sudah bersemayam lama sekali.


Bertahun-tahun lamanya Kafa yang di tinggal oleh kedua orang tuanya, kini dia merasakan sangat kehilangan sosok kedua orang yang paling menyayanginya. Tidak bisa di ungkap kan dengan hanya kata-kata saja jika sudah berhubungan dengan kata orang tua.


Kafa yang masih sembab, dengan deraian air mata yang mengalir di kedua pipinya yang bersih dan putih itu. Kini menggenang lagi.


Tak mau berhenti mengalir dengan seenaknya Kafa saat ini duduk di samping makam kedua orang tuanya. Sambil memanjatkan doa yang tulus dari putrinya. Karena air mata yang tidak bisa di bendung lagi maka Kafa hanyalah bisa menyekanya dengan sedikit mengalir ingus di lubang hidungnya. Hidungnya kini memerah.


Seorang anak perempuan yang tidak punya saudara lagi,hanya mempunyai kedua orang tua yang kini sudah tiada. Setelah Kafa puas melepas kerinduan dan juga keluh kesahnya.


Dia bangkit dan berpamitan kepada kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia.


Dirga pun juga menundukkan tubuhnya yang tinggi menjulang. Kafa dengan wajah masih memerah sembab, dan penuh kesedihan dia harus merelakan, dan pulang ke rumahnya.


"Kau mau kemana sekarang ?,agar kau tak bersedih lagi..." tanya Dirga sambil melihat wajah Kafa yang memerah.


"Aku mau pulang kerumahku,aku mau tinggal disana lagi..." ucap Kafa dengan nada yang sedih terdengar, agak putus asa.


"Apakah karena omongan Nada kau berubah seperti ini??" tanya Dirga pada Kafa ,dia pun merasa iba pada gadis itu.


Nada memang benar keterlaluan, namun dia juga secara tidak sengaja memanglah benar jika tinggal dengan seorang pria membuatnya akan di cibir banyak orang.


Apalagi Kafa hanyalah seorang gadis yatim piatu, dengan seperti itu akan menimbulkan hal lebih buruk lagi anggapan banyak orang kepadanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2