Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 72 "Taman Bunga"


__ADS_3

Namun bagi sebagian orang yang tak pernah sama sekali melihatnya, maka sangat amat menakjuban sekali,apalagi semua buahnya itu bisa di panen dengan mudah.


Semua itu membuat Kafa dan Dokter Armand menjadi lupa diri, senantiasa terus memanen tanpa henti tidak terasa keranjangnya sudah terisi penuh.Dengan buah strawberry bewarna merah matang siap di makan .


Mereka berdua celingukkan mencari dimana Dirga sedang berteduh.


Setelah tahu kalau Dirga itu sedang bermain ayunan, mereka berdua menyusulnya dengan membawa sekeranjang buah strawberry .


Dirga yang asyik bermain ayunan juga dia berteduh sedari tadi, mengamati Kafa dan Dokter belepotan tanah.


Mereka pun wajahnya merah agak kehitaman karena terkena sengatan terik sinar mentari.


Kafa sesekali mengibaskan bajunya agar tak kegerahan, begitu juga Dokter Armand.


"Wah...gerah sekali, Dirga ayo kita cari minum aku haus banget." ujar Kafa sambil menaruh keranjang yang penuh dengan strawberry .


"Ayo kita jalan ke depan situ itu, ada tempat untuk beristirahat para petani, kita bisa minta jus strawberry disana ok." jawab Dirga lalu dia pun mengajak Dokter Armand dan Kafa jalan menuju tempat tersebut .


Setelah berjalan cukup jauh mereka bertiga akhirnya sampai, di sambut dengan ramah oleh para petani yang saat ini tengah duduk beristirahat.


"Tuan Muda, mau minuman dingin??" tanya salah satu petani , dia pun segera mendekati.


"Buatkan kami jus strawberry ya, bersama kudapan juga kami kelelahan." perintah dari Dirga namun nadanya sopan serta dengan senyuman yang hangat.


"Siap..." sambil bergegas pergi ke dapur.


Tak berselang lama hanya beberapa menit saja tiga gelas jus strwaberry, dan beberapa camilan sudah terhidang di meja.


"Minumlah , ini adalah buah yang fresh tadi kau lihat sendiri buah strawberry nya merah menyala kan??" tegas Dirga sambil meminum jus itu, menatap wajah Kafa yang berkeringat.


Dirga mengambil tisu dan membersihkannya, dia pun mengamati dengan seksama kenapa gadis bermata biru ini,mengabaikan perasaan pria seperti Dirga.Padahal dia memang benar- benar menyukainya.


"Sudah bersih wajah cantikmu itu" ucap lirih Dirga sambil menaruh tisu kotor di atas meja.

__ADS_1


"Terimakasih." balas Kafa sambil menyeruput minumannya.


"Wah kau enak sekali ya ,sebagai tuan muda dan mempunyai semua kebun ini, wah..." ujar Dokter Armand, dia pun mengibas-ngibaskan bajunya.


"Kenapa Dokter??,anda mau menetap disini?" tanya Dirga yang serius dan menatap kedua bola mata Dokter Armand.


"Ow, kau mau menyombongkan diri !" protes Dokter Armand menekuk wajahnya , lalu dia pun mengernyitkan kedua alisnya.


"Aku tidak sombong, tapi jika Dokter ingin dan mau menetap boleh, karena di bawah kebun itu banyak rumah kecil." ujar dari Dirga namun dengan nada meledek.


"Tidak,aku banyak pekerjaan lagipula kenapa aku mau menetap ckk?" jawab Dokter Armand dengan sewot melihat Dirga bergaya songong


"Aku serius Dokter." ucap Dirga menggoda.


"Tidak." jawab tegas Dokter dan meminun jus strawberry miliknya yang tinggal separuh saja


Kafa pun melihat mereka berdua seperti dua anak yang sedang berebut mainan tersenyum menatap pemandangan itu, beberapa kali dia menatap kebun yang luas dari tempat itu .


Secara turun-temurun perkebunan yang luas itu, di wariskan dari generasi ke generasi, dan tidak pernah di jual.Karena berharap terus dan bisa lestari di tangan cucu cicitnya kelak.


Perkebunan yang terhampar memanjakan mata, dengan segala keindahan kesegaran semua tumbuhan yang hidup di atas tanah.


Kafa pun mengamatinya itu semua, merasa sangat bersyukur karena, dapat menikmati bersama kedua pria yang duduk di samping nya saat ini.Dia terlihat agak melamun.


"Kafa kau melamun." sapa Dirga lalu dia pun mencolek pipi Kafa.


"Tidak, aku hanya sangat senang berkunjung di daerah yang seperti ini." sambil menoleh ke arah wajah Dirga mereka saling memandang satu sama lainnya.


"Ehm,ehm..." Dokter Armand berdeham.


"Kalian ini aish, mentang-mentang aku pria tua mau meledek." Dokter Armand merasa kalau dirinya hanya jadi obat nyamuk bagi Kafa dan Dirga.


Dirga tak menggubris Dokter Armand, namun Kafa itu hanya tersenyum menanggapi protes Dokter Armand.

__ADS_1


"Kafa kau mau aku ajak ke sana kebun bunga mawar mau tidak??" tanya Dirga kepada Kafa sembari menatap lekat kedua bola matanya yang bewarna biru itu.


"Boleh, apakah sangat cantik??" tanya balik Kafa dengan antusias sambil celigukkan.


"Tentu saja, sebenarnya banyak kebun bunga tetapi aku akan menunjukkan bunga mawar saja kepadamu ok." ucap Dirga pada Kafa dia pun segera meminum satu gelas jusnya.


Beberapa menit kemudian mereka bertiga itu sudah berada di hamparan kebun bunga yang terhampar luas dengan beraneka macam.


Sungguh mata akan langsung di manjakan dengan aroma bunga mawar, yang sedang bermekaran.Kebetulan karena di kebun ini ada banyak bunga mawar dengan berbagai warna, maka Dirga mengajak tepat di kebun bunga mawar warna pink.



Bunga mawar di gunakan di semua acara dan juga sangat harum baunya,ciri khas bunga ini yaitu kelopak bunganya yang bagus , tidak itu saja semua pasangan akan menghadiahkan sekuntum bunga warna pink dengan nuansa romantis.


Warna pink dengan identik anggun, tenang, dan sangat romantis sangat cocok di berikan pada sang kekasih ataupun, juga bisa di buat hiasan di meja tamu dalam vas kaca .


Terkadang pula bunga mawar pink di kenakan untuk dekorasi pengantin,karena ciri khas dari bunga yang indah ,harum dan harganya yang tidak terlalu mahal maka dia adalah favorit dari bunga-bunga lainnya.


Selain bunga mawar merah tentunya maka dari itu semua perkebunan yang dimilikki oleh keluarga Dirga, semuanya itu menghasilkan banyak pundi-pundi rupiah.


Karena usaha keras dari para petani, semua ini secara tidak langsung mensejahterakan warga di sekitar bukit ini.Dirga jarang sekali pergi ke perkebunan milikknya ini dia lebih suka hidup di kota. Karena menurutnya akan lebih menyenangkan dengan segala fasilitas dan rumah mewah yang dia milikki.


Karena hari ini dia membawa turut Kafa maka dia memetik sekuntum bunga bewarna pink itu, lalu hendak memberikannya kepada Kafa.


Kafa dan Dokter Armand sangat menikmati pemandangan yang sejuk di mata, bermandi kan semua kelopak bunga mawar yang mulai bermekaran membuat suasana hati semakin tentram dan damai.


"Wah... enak sekali kalau jadi anak orang kaya kebunya saja seperti ini." gumam Dokter dan di merebah tepat diatas rumput ber atapkan langit biru menghampar luas seluas samudra.


Kafa pun saat ini di dekati pria tampan dan tinggi menjulang seperti pohon, dia berbadan tegap dengan kulit sawo matang.Dia pemilik semua kebun nan luas yang terhampar nyata di kedua pelupuk mata .


Tak sedikit dari hewan kupu-kupu dan capung yang berterbangan, hinggap dari kelopak satu ke kelopak lainnya, sambil menikmati sari dari bunga mawar yang menyembul indah .


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2