
"Ayo makan malam dulu, nanti Dokter Armand akan sadar, aku rasa dia hanya terkejut saja." ajakan Dirga untuk makan malam, karena ini sudah malam dan waktunya untuk makan dan beristirahat.
Kafa mengangguk, makan bersama Dirga dan Susan.Setelahnya memilih untuk menunggu Dokter Armand tersadar, karena dia sangatlah khawatir jika terjadi sesuatu pada Dokter yang belum tersadar dari pingsannya.
Mereka bertiga lalu duduk menunggu Dokter bangun dari pingsannya.
Beberapa menit kemudian Dokter pun mulai membuka kelopak matanya dengan lebarnya.
"Ular...ular...ulaaaar...!!!" teriak Dokter Armand.
Suaranya yang kencang dan terlihat sangat shock berat,karena apa yang di lihat tadi amat membuatnya masih terkejut dan di luar nalar nya sebagai seorang dokter.
"Tenanglah Dokter anda sudah aman, disini kami akan menemani." ucap Kafa dengan lirih
"Ulaaar.... ulaaar....!!!" teriak Dokter Armand semakin kencang.
Kafa mengelus punggungnya Dokter dengan pelan, dia masih shock,Dirga lalu memberinya teh hangat agar bisa tenang.
Setelah melihat sekelilingnya Dokter Armand sudah agak sadar, dia tidak meracau lagi, kini pun sudah mendingan dan tenang.
"Dokter Anda sudah aman, dan saya mohon untuk tenang ya." ucap Kafa dengan melihat wajahnya Dokter yang masih nampak pucat .
Dokter Armand mengusap wajah, dan juga rambutnya. Lalu dia pun lemas menyandar pada belakang kasurnya. Beberapa kali dia nampak menghela nafasnya.
"Ya Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi padaku?" gerutu Dokter karena dia adalah seorang pria penakut.
Dan dengan semua kejadian itu membuat dia shock berat, tak berdaya lagi.
"Maafkan aku ya Dokter." ujar Kafa sambil menatapnya dengan nanar.
Hal mistis yang terjadi padanya itu sangatlah menakutkan baginya, Dokter pun lemas dan tidak bertenaga. Kafa, Dirga dan Susan saat ini mendekat.Memandang Dokter yang masih shock. Kafa merasa bersalah karena dirinya yang membuat keadaan semakin memburuk.
__ADS_1
"Malam ini bagaimana kalau tidur satu kamar saja,aku rasa supaya kita bisa saling menjaga kau mau Kafa??" ujar Dirga memberikan usul.
"Iya aku mau, lagipula Dokter Armand kasihan dia terlihat shock berat." ucap Kafa dan masih mengamati Dokter Armand.
"Cih, aku tak mau kenapa harus tidur bersama lagipula takut apa?" gerutu dari Susan,dia pun keluar dari kamar Dokter Armand.
"Dokter kau belum makan, bagaimana kalau aku ambilkan makan malam untuk anda ?" tanya Kafa sembari duduk di dekat Dokter .
"Aku tak mau makan, aku hanya ingin sendiri saja, kalian boleh pergi."usir Dokter pada Kafa dan Dirga dia hanya ingin sendirian saja.
"Tapi Dokter Anda tidak takut, kalau sendirian saja di dalam kamar ini?" protes Kafa sambil menatap kedua bola mata Dokter yang masih terlihat ketakutan.
"Entahlah, aku pusing dan juga ingin sendiri saja, dan aku hanya ingin ketenangan saja ." ujar Dokter Armand dengan membuang muka ke arah lainnya, dia merasa tak ingin menatap wajah Kafa saat ini.
Dokter Armand terlihat pucat pasih bibirnya bewarna kebiruan, dan pandangan matanya terlihat kosong agak melamun,Dirga dan Kafa saling menatap satu sama lain, memberikan tanda kalau dia harus segera pergi keluar dari ruangan kamar Dokter.
Akhirnya Kafa dan Dirga tak terlalu jauh dari kamar Dokter, hanya saja menunggu di depan kamarnya.Duduk di sofa dekat kamarnya saat Dokter membutuhkan bantuan dengan cepat mereka berdua bisa segera membantunya.
"Kau,mau menceritakan kejadian yang tadi padaku?" tanya Dirga dengan lirih agar Kafa tak tertekan.
"Tadi sore kami berniat pergi ke panti asuhan namun kejadian aneh, sama seperti saat kita ke rumah sakit angker."ujar Kafa dan sedikit melamun, karena masih terbayang jelas ular besar dengan kedua mata merah menyala itu.
"Bertemu makhluk halus lagi?"tanya Dirga dan menatap lekat wajah Kafa yang sedikit pucat.
"Iya, dan lebih parahnya, semua anak kecil di sana berubah menjadi ular kecil-kecil." ucap Kafa sambil menghela nafas sangat panjang.
"Hemmm, haaaaa."menghela nafas panjang.
"Lalu,apakah semua ular itu menggigit?" tanya Dirga dengan menyimak Kafa, sambil melihat mata Kafa yang bewarna biru mengeluarkan sinar cahaya sesekali.
"Mereka tak menggigit ,namun ada seorang wanita yang berada dalam mimpi, kalau dia mengaku IBLIS." ujar Kafa terlihat ketakutan.
__ADS_1
Tanganya bergetar, dan juga bibirnya walau dia sudah menahannya sekuat tenaga,namun nyatanya rasa ketakutan yang sangat dahsyat saat dia menatapnya. Masih tergambar jelas di benaknya .Kedua sorot mata tajam merah menyala,dengan lekukan tubuhnya yang amat besar serta menggeliat di atas aspalt itu.
Seekor ular besar IBLIS dengan sisik seperti cangkang kerang dengan amat kasar,sungguh mengerikan jika melihat dengan kedua bola mata langsung bisa di pastikan akan pingsan.
"Kau melihatnya kafa?,apakah wanita itu juga berubah menjadi seekor ular?" tanya Dirga dengan mengernyitkan kedua alisnya yang amat tebal. Menekuk wajahnya yang tampan seketika dia terlihat terkejut, dan ia menelan salivanya dengan kasar.Setelah itu dia mulai menggaruk rambutnya masih tidak percaya .
"Benar, dengan tubuhnya menggeliat panjang dan besar sekali, matanya seperti senter dan dengan warna merah menyala." ujar Kafa dia sambil membayangkan sosok ular besar itu .
Tubuhnya bergidik ngeri dan bulu romanya itu mulai meremang ,karena saat ekor tadi mulai di gerakkan satu kali tebasan satu pohon bisa tumbang menghalangi jalan itu.
"Apakah Dokter melihat ular besar itu?" tanya Dirga sambil menelan salivanya dengan kasar
"Tidak Dirga,dan sebelum melihatnya Dokter sudah pingsan." ujar Kafa dan menatap wajah Dirga. Dan terdiam untuk beberapa detik saja.
Diga ketakutan hawa dingin membuatnya ikut membayangkan, kejadian yang di alami oleh Kafa dan Dokter Armand tadi, dia pun merasa tubuhnya ngilu dan tidak dapat bergerak .
Membeku karena memang menakutkan jika mereka berdua benar-benar melihat dengan kedua bola mata sendiri, dan beruntungnya
mereka berdua bisa selamat tidak menjadi mangsa ular besar itu.
"Astaga...sungguh mengerikan tapi kenapa semua hal aneh ini terjadi pada kita?" tanya Dirga sambil mengamati wajahnya Kafa yang ketakutan dan tangannya mulai dingin lagi .
"Aku rasa IBLIS itu menginginkanku." ucap Kafa sambil meremas bajunya dengan kedua tangannya. Dengan menghela nafas panjang beberapa kali dia sangat gamang dan amat bimbang ketakutan seketika menyergapnya.
"Aku seharusnya tidak terlalu dekat dengan kau dan Dokter Armand, karena aku kalian berdua dalam bahaya." ucap Kafa tertunduk wajah cantiknya tertekuk, dengan raut wajah sendu. Kenapa semua hal mistis terjadi pada dirinya , karena semua hal yang menakutkan membuat banyak orang dalam bahaya.
"Kau jangan bilang begitu Kafa ."Dirga sambil menggenggam erat jemari Kafa yang dingin.
Kafa tidak melihat ekspresi wajah Dirga yang sangat prihatin dan bersedih dengan semua hal yang di alami gadis bermata biru ini.
Kafa merasa sangat bersalah dengan semua hal yang menimpanya, juga pada Dirga dan Dokter Armand saat ini.
__ADS_1
Bersambung...