
"Apa yang kau lakukan??" tanya Kafa dengan suara lirih takut membangunkan Dokter .
"Aku tak bisa tidur malam ini, dingin sekali aku akan bilang kalau aku menyukaimu" ujar Dirga pada Kafa dengan wajah tampan yang maksimal, dia menatap lekat wajah Kafa.
"Lantas apa hanya karena kau menyukaiku, kau bisa tidur di kamar ini??" tanya Kafa lirih.
"Bukan begitu, aku harap kau hanya mengerti perasaanku saat ini." ucap Dirga lalu memeluk tubuh kecil Kafa lalu mendekatkan ke dada bidangnya.Terdengar degup jantung berbunyi tak karuan.Kafa mendengarnya dengan jelas.
"Ayolah aku harap kau mau memahamiku." sambil memeluk erat Kafa, mereka berdua pun saat ini berpelukkan di atas ranjang yang sama dan hanya berselimutkan satu lembar.
Dirga yang notabe adalah pria normal merasa kepanasan tubuhnya saat ini.Dari kedinginan berubah menjadi kepanasan ,merasa badanya tersengat listrik ribuan ton besarnya.Saat dia memeluk gadis kecil ini serasa badanya ada yang mengendalikkan tak tentu arah.
Namun Kafa tidak menyadari akan keganjilan pada pria yang memeluknya erat, pasrah saja.
"Aduh kenapa pria seperti ini??,kalu Dokter tahu bagaimana?,aduh... harus bagaimana?" batin Kafa berkecamuk karena apa yang dia fikirkan membuatnya pusing ,di tambah lagi pelukkan Dirga yang kencang padanya jelas tak bisa melepaskan begitu saja.
"Dengar aku menyukaimu jadi aku harap kau tak menyukai pria lain selain aku ok,terlebih Dokter Armand."ucap Dirga sambil menatap lekat Kafa dalam-dalam.
"Aku juga bisa memberikan semua milikku padamu." ucapnya dengan lirih pada Kafa dan mencium keningnya.
"Dengar Kafa apa kau mau menerimaku ??" tanya Dirga pada Kafa sambil menatap lekat wajahnya yang tirus dan cantik itu,Kafa hanya bisa terdiam tidak bisa berkata-kata untuk beberapa menit.
"Ehm, gimana ya Dirga...ehm.. aku bingung." ucap Kafa kebingungan dia tidak mengetahui perasaanya saat ini.
Dirga tanpa berfikir panjang lalu mengecup bibir mungilnya yang ranum dan alami tanpa mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Kafa, karena jiwa normal sebagai pria bangkit mengh*sap, menye*ap, melu*mat ,dengan lembut tanpa aba-aba lagi, tapi dia memaksa.
Melingkarkan tangannya yang besar dan juga kekar ke pinggang Kafa yang mungil dengan erat agar tidak memberontak lagi kepadanya.
__ADS_1
Kafa mendorongnya sekuat tenaga namun karena badannya Dirga besar dan tinggi, serta tubuhnya pun sangat kekar maka tidak bisa sama sekali melawannya,akhirnya hanya bisa pasrah karena Dirga memeluknya erat sekali.
Karena dia tak bisa memberontak Kafa hanya menangis, dan meneteskan air mata.Di pipi nya yang mulus itu mengalir buliran air mata.
Membuat Dirga menyesali perbuatanya saat ini.Dia mengehentikan ciuman paksanya dan menyadari perbuatannya sangat menyakiti dan membuat Kafa bersedih.
"Maafkan aku Kafa, aku khilaf apa yang aku lakukan??" Dirga meminta maaf pada Kafa .
Dengan memegang kedua tangan Kafa dia menatapnya penuh perasaan, dia menyesal dan mengusap air mata yang terjatuh serta mengalir di kedua pipi gadis bermata biru ini.
"Aku mohon maafkan aku, aku tak bermaksud melukaimu aku hanya tidak bisa menahannya lagi,aku mohon." ucap Dirga sangat lirih pada Kafa tetap menatap wajah tirusnya sembab karena bekas air mata yang mengalir.
"Kalau kau ingin aku bertanggung jawab,aku tentu mau, tapi kau harus pindah dari rumah Dokter Armand." bujuk Dirga pada Kafa saat ini, dengan tatapan penuh kasih sayang dia menatapnya dalam-dalam.
"Tapi Dirga jangan seperti ini, apakah ini yang kau maksud suka??" ucap lirih Kafa dengan suaranya yang lembut, akan tetapi Dirga tak mau melepaskan Kafa, tetap memelukknya erat sekali.
"Aku bahkan tidak bisa mengendalikkan diriku aku mohon tetap seperti ini, jika kau tak mau ku cium setidaknya kita begini saja."ujar dari Dirga sambil memeluk erat Kafa yang sedari tadi tak bisa bergerak.
"Lepaskanlah Dirga jangan seperti ini." ucap Kafa memohon dengan memelas, namun dia tetap melingkarkan tangannya yang kekar di pinggang kecilnya tak mau melepaskannya.
"Tak mau,sudahlah kita tidur seperti ini saja, aku tak akan mengganggumu." ucap Dirga pada Kafa berjanji dengan suara lembut, dia menahan degup jantung dan hasratnya saat ini sebagai pria normal, memeluk Kafa dan semakin erat.
"Aku tak bisa tidur jika seperti ini." ucap lirih Kafa pada Dirga agar melepas tanganya pada tubuh Kafa.
"Kalau begitu bolehkah aku melakukannya lagi tapi kau jangan menangis??" Dirga pun memohon pada Kafa agar mau di cium lagi olehnya.
Mereka saling menatap satu sama lainnya, Dirga tubuhnya semakin terasa panas saling memandang satu sama lainnya hampir tidak bisa mengendalikkan lagi hasrat pria normal nya saat ini.Untuk beberapa kali dia menghela nafasnya panjang.
__ADS_1
"Hemmm... haaa..." menghela nafas panjang.
"Kenapa wajahmu memerah??" tanya Kafa yang polos sambil memegang pipi Dirga.
"Aish... ya karena aku sudah tidak tahan." ujar Dirga sambil menahannya sekuat tenaga.
"Sudahlah ayo kita tidur, dasar kau ini gadis tak paham kesulitanku." ujar Dirga semakin gemas ,karena Kafa tidak tahu kalau Dirga merasakan pusing dan semakin kepanasan.
"Tapi apakah kita bisa tidur seperti ini?" tanya Kafa kepada Dirga dengan polosnya sambil menatap wajah Dirga yang semakin tampan jika di lihat dari dekat.
"Tentu saja bisa, tapi sebelum itu aku akan.."
Lalu Dirga pun mencium lagi bibir Kafa yang bewarna merah muda, ranum dan alami itu.
Melum*tnya dengan lembut dan memegangi tengkuknya agar dia tak berontak, nafas Kafa yang harum membuat pria normal itu merasa kebakaran dalam tubuhnya saat ini,dan degup jantung tak beraturan sama sekali mengiringi perasaannya malam ini.
Ternyata Kafa tidak mendorongnya ataupun menangis kali ini, dia pun mematung pasrah akan tindakkan Dirga padanya.Dirga berhenti sejenak dan memandang wajah cantik Kafa.
"Aku mohon tetap diam, aku tak akan melukai dirimu aku berjanji." bisikkan maut Dirga pun di layangkan Kafa mengangguk pasrah pada pria tampan berbadan tinggi besar dan kekar ini.Hanya bisa diam karena perlakuan manis Dirga malam ini membuat jantungnya Kafa berdegup tak beraturan juga.
Dirga pun memelukknya erat seraya menaut kan bibirnya yang seksi kepada Kafa, mereka berdua berpagutan di malam yang dingin ini.
Entahlah Kafa hanya bisa pasrah mendapat perlakuan hangat Dirga, mereka berdua tidak bisa tidur dan melanjutkan kegiatannya.
Menutup dengan selimut di atas ranjang yang sama, saling berpelukkan erat dengan hangat melanjutkan meny*sapnya, *******, dan juga bertautan dengan lembut nya serasa mereka berdua tak bisa lagi mengendalikan keadaan.
mereka berjiwa muda terbakar api di bawah selimut yang sama saat ini,merasakan hangat nya berbeda sama sekali dengan malam yang lainnya.
__ADS_1
Bersambung...