
"Aku Susan, kau lupa lihatlah baik-baik." ujar dari gadis yang bernama Susan itu, lalu ia pun menatap ke arah Kafa dengan heran.
"Dan kau perempuan udik, kenapa berani kau mengganggu kami?" hardik dia pada Kafa dan berbicara sembarangan.
"Maksudmu apa?, kau lah yang mengganggu kami kenapa kau kemari?"tanya Dirga melihat Susan dengan pandangan aneh.
"Baca dulu pesanku di ponsel milikmu cepat." ucap Susan dengan tersenyum miring dia pun menatap lekat Kafa yang memakan sarapan.
"Aku lupa ponselku ketinggalan di Villa, dan aku tak membawanya." jawab Dirga sambil memakan sarapannya.
"Oh, benarkah aku baru pulang dari luar negeri dan aku rasa aku mau tinggal disini." ucapnya dengan enteng dan duduk di meja makan.
Rok mininya terangkat, membuat paha yang mulus terekspos sempurna, Dirga terkejut dia tersedak roti bakar, karena melihat paha milik Susan yang mulus itu, dengan di iringi gadis itu bilang kalau ingin tinggal di rumahnya.
"Uhuk...uhuk...uhuk..." tersedak.
Susan pun memukul beberapa kali punggung dengan pelan, dirga menepisnya lalu dia pun meminum air putih dengan cepatnya.
"Pelan-pelan saja." ucap Susan dengan genit.
Kafa yang sudah selesai sarapan itu menaruh piringnya di wastafel dan dia berjalan keluar.
Dirga pun dengan cepat menyusul Kafa saat ini, melihat ekspresi wajah Kafa yang datar.
"Apa kau cemburu?" tanya Dirga kepadanya.
"Tidak,lagipula ini sudah jam berapa kita akan terlambat Dirga, ayo buruan nanti macet lho." ajak Kafa , mereka berdua pun segera keluar dan tak mengindahkan Susan lagi yang akan mendekati Dirga.
Mereka berdua menaikki motor hitam milik Dirga, dan mengarahkan ke arah sekolahan.
Setelah beberapa menit mereka berpisah saat ini ,karena kelas mereka berbeda.
Kafa tak terlalu konsentrasi dengan pelajaran hari ini, entah apakah yang membuatnya tidak bisa fokus .
"Kafa, Kafa, Kafa coba kerjakan soal di depan aku lihat kau melamun!!" kata Bu Guru yang menyuruh Kafa mengerjakan soal di depan papan tulis saat ini.
"Baikla Bu, maaf saya agak tidak enak badan." ucap Kafa dan berjalan ke depan papan tulis.
__ADS_1
Dia mengerjakan tugas dengan benar, namun di fikirannya sangat kacau melihat gadis yang bernama Susan itu masih terbayang di fikiran.
"Kenapa aku seperti ini?" batin Kafa berjalan kembali ke arah mejanya dan kaki temannya yang berada di bawah kursi itu, tidak sengaja menjegal Kafa.
"Maaf Kafa aku tak sengaja." ucap salah satu taman Kafa.
"Iya tidak apa-apa," beruntung dia tidak jatuh.
Pelajaran demi pelajaran pun silih bergantian dan akhirnya jam istirahat telah tiba.Seperti biasa semua murid keluar.
Terlihat Miko dan Nada beriringan masuk ke dalam kelas. Mereka berdua menyeringai ke arah Kafa berniat buruk seperti biasa mereka akan mengerjai Kafa.
"Hei, kau mau aku ajak berkencan nanti sore." ucap Miko sambil duduk di sebelah kanannya
Dan Nada duduk di sebelah kirinya,maka Kafa tidak bisa keluar di apit oleh siswa yang akan berniat buruk padanya.
"Mohon maaf karena aku sibuk, aku bekerja jika sore, dan tolong menyingkirlah ." Kafa pun memelas agar Miko dan Kafa melepaskannya
"Oew, sok jual mahal." mencolek janggut Kafa.
"Dia ini selalu keluar dengan om, om, kau tak tahu,dia ini hanyalah seorang gadis sok suci, cih.." ucap kasar Nada melipat kedua tangan sambil menyeringai.
"Ayolah jangan mengangguku, atau aku akan membalas kalian!!" Kafa pun berdiri di antara mereka berdua.
Namun tiba-tiba masuk seorang gadis seksi sekali,dengan rambut tergerai dan tersenyum
"Inikah kelasmu itu, siapa mereka berdua??" tanya Susan sambil celingukkan melihat ke arah kanan dan kiri.
"Wah, temanmu boleh juga." Miko melirik dari bawah sampai ke atas,karena Susan saat ini memakai baju mini maka badannya terlihat seksi dengan pinggangnya yang kecil.
Miko pun melirik ke arah Susan dan mencium, aroma parfumnya sesekali matanya terpejam. Namun Susan hanya menyeringai menatap wajah Miko dengan seksama.
"Pria me*um!!, menjengkelkan!" mengumpat dia menarik lengan Kafa menjauhi kedua anak yang tidak baik itu.
Mereka berdua pun duduk di bawah pohon kelengkeng, berteduh dan mengobrol .
"Hei, namamu Kafa ya, kenalkan aku Susan." sambil mengulurkan tanganya kepada Kafa.
__ADS_1
"Iya, tahu darimana?" sambil bersalaman.
"Tahu saja, aku adalah teman Dirga waktu dia kecil, aku kembali dari luar negeri."ucap Susan
"Aku sudah tahu, kemarin Dirga itu bercerita padaku." jawab Kafa dengan menundukkan wajahnya yang cantik.
"Oh, benarkah?, dan apakah kau menyukai Dirga?" tanya Susan dengan ceplas-ceplos.
"Ehm, kami hanya berteman saja." jawab Kafa.
"Baguslah kalau begitu, kita berteman ya." ucap Susan dengan tersenyum manis sekali.
Kafa heran kenapa gadis ini bisa bertindak seperti ini, dengan wajahnya yang agak jutek ternyata Susan anak yang supel dan baik.
Tidak ada salahnya Kafa mempunyai teman. Mereka berdua akhirnya mengobrol dengan hangat, lalu Kafa yang merasa nyaman jika berteman dengan Susan , tidak terasa bel itu berbunyi tanda kalau masuk istirahat sudah berakhir.
"Aku masuk dulu ya, jam istirahat sudah usai." pamit Kafa , Susan hanya mengangguk saja.
Kafa pun masuk kedalam kelasnya dengan tersenyum manis.Dan tepat di jalan saat ini berpapasan dengan Dirga.
"Kau darimana Kafa ?,aku sudah mencarimu kemana-mana." ucap Dirga dengan khawatir.
"Aku mengobrol dengan Susan saja,di bawah pohon itu." sambil menunjuk ke arah Susan.
"Kenapa gadis itu kemari?, sebaiknya kau itu tidak terlalu dekat dengannya." Dirga merasa khawatir karena kenapa tiba-tiba gadis yang bernama Susan itu muncul di kehidupannya.
Saat dia sudah membuka hatinya pada Kafa, dulu itu dia tak pernah sama sekali menyapa, bahkan menatap wajah Dirga, padahal dahulu Dirga sangat menyukainya namun tak pernah di anggap olehnya.
"Ayo kita masuk kelas, lagipula belnya sudah berbunyi"ajak Kafa sambil menarik lengannya
Waktu terus bergulir pelajaran sudah berakhir.
Dan kini saatnya Kafa pulang dan bekerja di klinik Dokter Armand,karena jika tidak mandiri maka Kafa tak akan bisa menggapai cita-cita sebagai seorang Dokter Anak kelak.
Cita-cita yang tiba-tiba muncul membuatnya semangat menjalani hari-harinya.Jika dewasa setelah lulus kuliah dia akan mengabdi untuk menyembuhkan banyak sekali penyakit pada anak-anak, karena menurutnya banyak anak kecil yang membutuhkan pertolongan terlebih dengan intensif dan secepatnya.
Karena melihat Dokter Armand yang sangat telaten, dan sabar sekali menghadapi semua pengunjung serta pasien. Membuatnya ingin seperti itu suatu hari nanti. Karena menjadi seorang Dokter itu pekerjaan sangatlah mulia bisa membantu sesama.
__ADS_1
Bersambung...