
"Apakah kau tak lelah?, jika kau mengantuk tidur saja di ranjang situ." ujar Ayah Kafa.
"Iya terimakasih ,aku hanya ingin mengobrol bersamanya sebentar lagi." jawab Kafa dan dia menatap ayahnya itu dengan tersenyum amat tulus. Lalu mengalihkan tatapannya ke arah Kafa kecil.
Namun Ayah Kafa hendak berniat buruk pada gadis itu, karena hari ini kedua orang tuanya itu akan berencana membunuh gadis bermata biru itu. Apapun yang terjadi, mereka berdua sudah menyiapkan rencana untuk membunuh nya. Karena waktu yang tepat sekali jika Kafa mati maka dia tak akan pernah bisa kembali ke masa depan lagi.
"Aku harap kau beristirahat, karena aku lihat kau amat kelelahan." bujuk ibu Kafa dan dia berpura-pura tersenyum amat lembut pada Kafa, agar dia mau termakan bujukan dan rayuannya juga.
"Sebentar lagi, aku pasti akan beristirahat." jawab Kafa, pada ibunya dan melanjukan mengobrol dengan Kafa kecil.
"Ya sudah , ibu dan ayah pergi kedalam dulu nanti kau istirahat juga ya." kata ibu Kafa dan berpura-pura memasang wajah senang pada gadis itu,sebenarnya ingin sekali menghabisi nyawa Kafa saat ini.
Setelah selesai mengobrol dengan Kafa kecil, dia akan merebah di atas kasur yang nyaman. Namun saat akan mengistirahatkan tubuhnya untuk beberapa detik ia mengingat wajahnya Dirga, dia menatap Kafa dengan pandangan teduh, tersenyum dengan senyumannya yang manis. Tergurat jelas Dirga amat menyayangi Kafa dengan tulus. Kafa pun ingat jika hanya berada di dalam masalalu saja. Seharusnya ia tidak terbawa suasana, dia hanya ingin sekali mengetahui kapan kedua bola matanya itu berubah menjadi kecoklatan.
Kenapa saat kedua bola matanya bewarna biru, dia bisa melihat semua makhluk halus.
"Kafa, aku selalu ada di sampingmu, ingat." ujar Dirga lalu ia tersenyum hangat pada Kafa dalam ingatannya.
"Oh benar, aku disini hanya untuk menyelidiki kalau sejak kapan kedua bola mataku bisa melihat makhluk halus??" batin Kafa dan dia mengingat wajah Dirga yang tersenyum pada nya, membuat ia sadar kalau dirinya seharus nya tak terjebak dalam masalalunya sendiri.
Dia pun tak jadi merebah di atas ranjang, dan pergi ke depan ruang tamu. Kebetulan kedua orang tuanya berada disana. Lalu Kafa pun ikut duduk bersama kedua orang tuanya.Saat Kafa kecil tersenyum ke arahnya dan mulai menggelengkan kepalanya, seakan memberi tanda padanya.
__ADS_1
"Minumlah teh hangat ini, ibu sudah membuat untukmu ." ujar ibu Kafa membujuknya lalu ia mendorong secangkir teh hangat di depannya
"Tapi aku tak haus ibu, bolehkah aku bertanya satu hal pada Ibu??" tanya Kafa pada ibunya sambil memandang wajahnya.
"Memang kau mau bertanya apa?" tanya balik ibu Kafa.
"Sejak kapan kedua bola mataku ini bewarna biru ibu?, aku lihat dia masih bewarna coklat." sambil melirik Kafa kecil, dan tersenyum ke arahnya.
"Kenapa kau bertanya demikian?, aku tidak mengerti apa maksudmu.. Heheheh..." jawab ibu Kafa dan meringis.
"Kenapa kau kepo sekali?, awas saja habis ini kau tak akan melihat sinar mentari dan udara sejuk lagi..!!" batin ibu Kafa, dia menyeringai dan tanpa di ketahui olehnya.
"Baiklah, makasih ibu." jawab Kafa tersenyum, lalu ia hendak meminum teh itu.
"Minumlah anak pintar bagus, kau akan tidur untuk selama-lama nya, ha..ha..ha..." batin dari ibu Kafa lalu ia pun menyeringai tanpa di ketahui oleh Kafa.
Kafa kecil pun menyenggol tangan Kafa, dia memang sengaja agar teh nya yang akan di minum, jatuh dan tak di minum Kafa dewasa.
"Pyaaar...." cangkir pun jatuh berserakan di atas lantai.
"Sialaan, kenapa anak kecil ini berbuat ulah?" batin ibu Kafa dan memberi tanda pada ayah Kafa agar segera membereskannya.
__ADS_1
"Maaf bu, biarkan aku membereskannya." ujar Kafa dewasa, lalu ia hendak menyapu lantai agar pecahan kaca cangkir segera bisa di bersihkan.
"Tak usah nak, biar aku saja." ujar ayah Kafa.
"Jangan, biarkan aku saja." Kafa tak mau, dia merasa tak enak karena sudah memecahkan cangkir teh yang hendak ia minum.
Setelah beberapa menit Kafa membersihkan sendiri, dan membuang sampahnya di depan rumahnya, lalu ia pun memasukkan potongan cangkir di dalam sakunya untuk berjaga-jaga.
Kafa mengingat Kafa kecil memberinya tanda agar dia segera pergi dari rumah itu, dia pun mengetahui kalau ada bahaya yang saat ini diam-diam mengintainya. Terlebih saat tadi cangkir yang berisi teh itu di senggol dengan sengaja oleh Kafa kecil menandakan kalau itu pasti ada racunnya. Dia tersadar kalau kedua orang tuanya bukannlah yang sesungguhnya dan hanya tipuan saja. Mereka berdua sedang menyamar untuk mencelakai Kafa.
"Siapa mereka berdua?, kenapa dalam masa lalu mereka bisa ada?, juga bisa menyamar ." batin Kafa curiga pada kedua orang tuanya yang hanya samaran.
"Aku tak akan terkecoh lagi, ha... aku harus tahu sejak kapan kedua bola mataku bisa berubah warna menjadi biru?" batin Kafa lagi.
Saat ini di ruang Dokter bingung karena Kafa masih belum sadar, dan dia belum kembali ke masa sekarangnya. Dirga memegang tangan Kafa yang memucat bewarna kebiruan, dan bibirnya terlihat bewarna putih pucat seperti anak yang sedang sakit.Tubuhnya pun terasa dingin sekali.
"Bagaimana ini Dokter?, lihatlah, kau harus tanggung jawab jika terjadi sesuatu kepada Kafa!" hardik Dirga sangat kesal pada Dokter karena sampai detik ini Kafa masih sadarkan diri.
"Maafkan aku, baru kali ini ada pasien seperti ini, biasanya mereka akan mudah sadar jika aku membunyikan ini." ujar Dokter itu terlihat makin gugup karena wajah Kafa sudah pucat.
Bersambung...
__ADS_1