
Pagi pun mengusir malam dengan seenaknya hawa dingin bercampur embun basah,sisanya menmpel di ujung rumput dan juga dedaunan. Hawa dingin namun segar mulai terasa pagi ini. Kafa membuka kelopak matanya, melihat jam di ponsel miliknya. Hari ini minggu tepat pukul 06.00 wib Kafa pun mulai bangun dari mimpi buruknya, karena semalam ia pingsan, tidak sadarkan diri. Seingatnya tadi malam ia telah di tusuk seorang pencuri di jalan raya.
Setelahnya pandangannya kabur dan mulai menghitam tidak ingat lagi apa yang terjadi padanya malam kemarin.
"Apa yang terjadi padaku?" gumamnya sambil mengamati satu ruangan yang bisa di bilang sangat luas, dan ternyata ada Dirga di dekat nya,yang masih terlelap dengan duduk lalu kepalanya bersandar di kamarnya.
"Kenapa dia tak membawaku ke rumah sakit, malah membawa ke rumahnya lagi?"tanyanya dengan lirih, dia mengamati Dirga masih juga terlelap. Kafa melihat tangannya yang masih di beri selang infus juga ada bekas jahitan di pinggangnya, setelah ia tertusuk pisau belati tadi malam.
"Ah...sakitnya..." erang Kafa obat pereda rasa nyerinya sudah mulai hilang.
Suaranya yang lembut itu pun membuat Dirga bangun dan membuka kelopak matanya saat ini. Dia pun sangat senang karena dia sudah bangun dari tidur panjangnya tadi malam.
"Kau sudah bangun?,syukurlah aku sangatlah khawatir sekali, Dokter bilang jika luka tusuk lebih dalam kau tak pernah bisa mempunyai anak kelak." ucap Dirga dan masih berusaha membuka kedua kelopak matanya itu dengan sempurna. Masih belum sadar sepenuhnya.
"Benarkah?,sakit sekali Dirga,dengar kenapa kau mengikutiku?, jika tadi malam kau tidak ikut, maka ini tak akan terjadi." ujar Kafa pada Dirga dan meringis menahan sakit pinggang nya, dia melihat sekeliling ruangan ini.
"Ini kamarku, jika aku tidur di kamarmu yang kecil itu tak muat ,makanya aku merebahkan mu di kamarku." ucap Dirga lalu ia tersenyum menatap Kafa.
"Kenapa tak membawa ke rumah sakit saja? kan ada rumah sakit dekat rumahku?" gerutu Kafa pun sebal karena Dirga membawanya ke rumah ini lagi.
"Aku takut jika nanti di rumah sakit itu banyak makhluk halusnya." guman Dirga menggerutu karena sebelumnya mereka berdua itu harus berhubungan dengan banyak makhluk halus.
"Argh.. Kenapa bekas jahitannya masih perih ya??" gumam Kafa lalu ia membuka bajunya terlihat bekas jahitannya tidak di perban agar cepat kering.
"Jangan mandi dulu biar lukamu cepat kering maafkan aku yaaa." Dirga meminta maaf dan beberapa kali menghela nafasnya panjang.
"Bagaimana kalau aku , membantumu untuk membersihkan badan??" usul Dirga dengan tersenyum ke arah Kafa.
__ADS_1
"Tak mau, aku bisa sendiri lebih baik infusnya di lepas saja biar tak menghalangi." Kafa pun menolak usul Dirga karena dia memilih akan membersihkan badannya sendiri.
Setelah ia melepas infusnya juga membersih kan semua badannya, Kafa memakai bajunya yang baru. Dia memakai baju Susan karena bajunya semua di bawa pulang kemarin oleh Kafa. Untung saja badanya kecil jadi bajunya Susan muat untuk Kafa.
"Tuan muda sarapannya ini mau di taruh di mana?" tanya pemabantu itu dan menunduk ke arah Dirga.
"Kau mau makan di kamar atau di taman?" tanyanya kepada Kafa dengan menatap lekat wajahnya yang tirus dan agak pucat.
"Disini saja, lukaku masih sakit." ucap Kafa sambil meringis menahan rasa perih bekas jahitan di pinggang.
Saat mereka berdua sarapan di dalam kamar Dirga ada suara getar ponsel milik Dirga saat ini, namun dia mengabaikannya.
"Drrt...drrt...drrt..." getar ponsel Dirga sudah beberapa menit.
"Angkat saja siapa tahu itu penting iya kan?" ujar Kafa sambil memakan sarapannya.
"Hallooo, iya ,baiklah sebentar lagi aku akan kesana." ujar Dirga lalu menutup ponsel milik nya dan memasukkan kembali ke dalam saku celananya.
"Ehmm, ini orang yang tadi malam menusuk kamu sudah tertangkap, dia di kantor polisi sekarang." ucap Dirga lalu ia pun memakan sarapannya dengan tersenyum lega.
"Wah, cepat sekali tertangkap. Apa kau yang menyuruh orang untuk menangkapnya???" tanya Kafa dan memandang wajahnya yang sumringah dan terlihat sangat lega tak punya beban sama sekali.
"Sudahlah jangan di fikirkan ok, nanti kita ke kantor polisi untuk memberi kesaksian." ucap Dirga masih dengan tersenyum manis, terlihat wajahnya masih tampan dan merasa lega .
"Kau ini ,aku kan bertanya?, kenapa kau tidak mau menjawabnya Dirga??" tanya Kafa masih merasa penasaran kenapa cepat sekali sang pelaku itu bisa di ringkus oleh polisi.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Flas back
Tadi malam saat Kafa pingsan dan Dirga itu membawa ke rumahnya dengan naik taksi.
Dirga menghubungi seseorang agar ia segera meringkus orang yang di katakannya di dalam ponsel miliknya, dengan ciri-ciri memakai topi dan bercelana hitam, dia mempunyai luka di wajahnya , dan Dirga juga mengirimi gambar sang pelaku kepada orang suruhannya.Tetapi yang lebih berjasa adalah arwah anak kecil itu karena dia membuat pingsan pelaku dengan menjatuhkan sebuah kardus yang besar berisi benda berat. Seketika pelaku pun pingsan di tempat.Maka orang suruhan dari Dirga lebih mudah meringkusnya dan membawanya ke kantor polisi. Dirga tidak tahu akan kejadian sesungguhnya, namun mengira kalau orang suruhannya sudah melaksanakan tugasnya dengan cepat.
Dan sekarang orang itu sedang di tahan di kantor polisi terdekat. Menunggu kesaksian dari Kafa dan juga Dirga .
🍃🍃🍃🍃🍃
Di kantor polisi saat ini, pelaku itu yang sudah berani menusuk Kafa saat ini meringkuk di sel tahanan, karena dia hanya sendiri maka tidak ada yang membully nya, beruntuk jika dia saat ini di masukkan kedalam sel banyak tahanan lainnya maka dia akan di hajar habis-habisan oleh tahanan lainnya, apalagi dia berani sekali menusuk seorang gadis dan mencuri tas dari seorang wanita.
Pak polisi yang sedang bertugas sekarang ia berbincang dengan orang suruhan Dirga. Dan mereka berdua saat ini menunggu kehadiran dari Dirga juga Kafa.
🍃🍃🍃🍃🍃
"Sudahlah makanlah sarapanmu, dan setelah ini kita ke kantor polisi." ujar Dirga mengelus rambut Kafa yang panjang terurai.
Kafa heran kenapa Dirga sangat bersemangat juga amat sumringah, aneh sekali jika setelah kejadian tadi malam seharusnya dia merasa agak khawatir juga sedih, Kafa menatapnya lekat-lekat apa gerangan yang sudah terjadi pada pria ini yang tiba-tiba sangat semangat.
"Kenapa kau menatap seperti itu?" tanyanya.
"Aneh, kenapa kau mencurigakan sekali?" tanya Kafa.
"Aku lega, pelaku yang berani menusukmu itu sudah tertangkap, kenapa kau itu manatapku seperti seakan aku ini aneh??" gerutu Dirga,ia pun menatap balik Kafa dan menggodanya dengan mengetipkan matanya yang sebelah.
"Ting..."
__ADS_1
"Dasar kau ini Dirga aneh..." ujar Kafa lalu dia menggelengkan kepalanya ke arah pria itu.
Bersambung...