Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 88 "Pertandingan Maut 2"


__ADS_3

"Bruugghhh..."tubuhnya jatuh di atas lapangan


Sontak mereka semua diam tak bersuara,dan mereka mengira Ardi hanya pingsan saja tak sadarkan diri. Beberapa saat ada seseorang yang memeriksa tubuh Ardi,meminta bantuan untuk membawa tubuh pria yang terbujur itu ke UKS. Beberapa menit kemudian dengan bantuan beberapa pria Ardi di bopong ke arah UKS, dia pun di rebahkan di atas kasur kecil.


"Bagaimana Dokter?, apa yang terjadi dengan anggota team saya ini?" tanya Dirga dengan wajah serta ekpresinya yang kebingungan .


Karena tadi tidak ada apa-apa,masih baik-baik saja ,namun secara mendadak harus terkejut akan musibah yang terjadi tanpa di duga ini.


Dokter hanya diam tidak menjawab karena ia masih tak percaya, dengan apa yang telah ia lihat hari ini,tubuh seorang pria dengan dingin sudah tak bernyawa. Tubuhnya seperti orang yang kehabisan darah.Membiru dan juga kaku begitu saja.Namun Kafa tak bergeming hanya menatap Dirga dengan pandangan sedih dan juga terkejut.


"Dokter kenapa anda hanya diam saja?" tanya Dirga dengan sedikit emosi,dia pun mendekat dan manatap lekat wajahnya Dokter itu.


"Untuk sementara saya mohon maaf ya, baru kali ini saya mendapati kasus seperti ini, dan saya masih belum bisa memastikan." ucapan Dokter tadi membuat semua orang bergunjing


Karena Dokter Ardan sudah sangatlah lama bekerja, dan dia sangatlah profesional sekali jika ada sebuah kasus yang baru dengan sulit di nalar olehnya maka berarti adalah masalah yang cukup serius.Kafa mendekat dia berbisik ke Dokter Ardan.


"Dokter apakah Ardi kehabisan darahnya, dan jantungnya tidak bekerja dengan kata lain dia seperti orang yang gagal jantung?" tanya Kafa dengan suara lembut, lirih agar tak terdengar banyak orang.


Seketika mendengar perkataan Kafa Dokter langsung menatapnya dengan pandangannya terkejut karena semua yang dia katakan benar sekali. Menelan ludahnya dengan sekuatnya.


"Ayo pergilah kalian keluar dari UKS ini !!" ucap dari Kepala Sekolah itu yang tiba-tiba datang entah dari mana.


"Pergi... pergi...pergi....!!!" usir sekali lagi dari kepala sekolah.


"Huuuu...." para siswa bubar dan menggerutu kesal, karena ingin tahu sekali, sangat kepo dengan kasus barusan.


"Aduh, gimana nich latihannya jadi nanggung? sebel dech..." ujar salah satu siswa dia sebal karena latihan hari ini harus berakhir dengan tiba-tiba.

__ADS_1


"Iya , udah nanggung lagi, tapi aneh gak sich, Ardi kan gak papa tadi kenapa dia tiba-tiba pingsan?" ujar dari siswa lainnya berjalan ke arah kamar mandi mereka pun melanjutkan ke kepoannya, membahas di kamar mandi .


Di dalam UKS hanya ada empat orang saja kepala sekolah menutup pintunya rapat-rapat.


Hanya ada Kafa,Dirga,kepala sekolah,dan juga Dokter Ardan.Mereka berempat pun saat ini sedang membahas kematian dari Ardi yaitu anggota basket team Dirga.


"Apakah Ardi benar-benar meninggal dunia?" tanya kepala sekolah dengan mengernyitkan kedua alisnya yang tebal.


"Benar Pak, dan Ardi meninggal seperti orang yang kehabisan banyak darah." tegas dari Dokter Ardan dengan jongkok mengamatinya.


"Apa kau pernah mengalami ini sebelumnya? apa ada kasus serupa sebelumnya?" cecarnya kepala sekolah karena takut sekolahnya akan mendapat berita buruk setelah kematian Ardi.


"Mohon maaf Pak, namun baru kali ini saya mengalami kasus ini." ucap dari Dokter Ardan.


Kafa dan Dirga menatap satu sama lainnya. Mereka berdua seakan gelisah akan kejadian ganjil ini, Kafa lalu menundukkan badannya di dekat mayat Ardi. Nampak tubuhnya seakan tak mempunyai darah sama sekali. Tepat di jantungnya itu terdapat bercak kebiruan dan agak memar. Tatapan Ardi juga seperti orang ketakutan matanya itu yang tak bisa di tutup membuat siapapun akan bergidik ngeri.


Tubuhnya sudah terbujur kaku tak bernyawa, dan agak menyeringai serta mata terbelalak tidak dapat di katupkan lagi.


Di rumah Dirga Dokter Armand kelaparan dan mengambil beberapa makanan untuknya di santap di atas meja makan. Susan sepertinya masih belum patah arang dengan usahanya yang menggoda pria dengan usia 42 tahunan.


"Dokter, apa kau memang benar-benar lugu?, aku kira dengan tampangmu itu, kau adalah seorang playboy." ucap Susan dan menggigit bibirnya yang bawah dia duduk mendekati Dokter Armand, yang sedang makan siang .


"Benar sekali aku ini pria lugu, tapi aku juga pria yang normal." ucap Dokter Armand lalu ia menyeringai ke arah Susan dengan tatapan yang tajam seperti pria yang siap menerkam korbannya.


Dengan tatapan Dokter Armand pada Susan, dan dengan matanya yang indah itu. Gadis itu nampaknya terkejut dengan ucapan baru saja ia dengar. Susan pun merasa Dokter adalah benar-benar seorang pria yang jantan.


Membuat Susan panas dingin tidak karuan.

__ADS_1


"Benarkah?, ehmmm bagaimana kalau Dokter menunjukkan padaku?" ucap Susan dengan nada menggoda ke arah Dokter Armand dia menatapnya intens.


"Oh, kau ini gadis merepotkan kau tak lihat aku sedang makan." protes Dokter Armand dengan ketus dan menikmati makan siang.


"Kalau begitu setelah makan ya, mau tidak?" tanya Susan dengan menatap wajah Dokter yang belum mandi, dan terlihat agak kusam.


"Ehm, entahlah kenapa aku harus menunjuk kan padamu, aku tak mau." tolak dari Dokter Armand dia meneruskan makan siangnya .


Menikmati semua makanannya yang sudah terhidang di meja makan, dia sangat nyaman dan juga merasa kalau saat ini rumah Dirga adalah rumahnya. Dokter Armand merasakan hidup di surga. Dan melupakan kejadian yang sudah terjadi padanya kemarin. Serta rumah mungilnya merasa sangat krasan di rumah ini dia akan berencana tinggal di sini saja untuk sementara waktu .


Susan memandang Dokter seperti seorang anak kecil, yang sedang menikmati makan siang dan tak menghiraukan godaan Susan.


Setelah memandang wajah Dokter yang polos dan lugu itu,Susan menjadi gemas melihatnya


Mulut Dokter Armand belepotan saus pasta, dan tidak di seka.Dia masih tetap saja makan memasukkan tiap suap pasta di piring sambil menikmatinya dan menggelengkan kepalanya


Susan yang ingin mengelap bibirnya Dokter karena kotor terkena saus pasta, mendekati Dokter dan dia duduk di atas meja makan dan sontak paha yang mulus mengenakan span mini itu seketika terangkat. Membuat Dokter menelan ludah dengan kasar. Nafasnya agak memburu dia menaruh sendok dan garpunya.


Susan melihat wajahnya Dokter Armand yang saat ini memerah seketika,langsung menyeka lembut bibirnya dengan tisu dan menatapnya.


Sambil membungkuk ke arah wajah Dokter seketika tubuh ramping Susan menggodanya.


Dokter mendorongnya agar Susan tak terlalu dekat dengannya, karena kebetulan aromanya parfum Susan yang menyengat itu membuat Dokter agak pusing. Karena dorongan tidak sengaja malah membuat tubuh ramping dan molek Susan malah jatuh di pangkuan Dokter Armand.Susan memanfaatkan waktu yang tepat itu dengan memeluk erat tubuh kekar Dokter Armand dengan melingkarkan tangan mulusnya itu ke pinggang Dokter.


Dengan tatapan intens Susan menatap wajah Dokter Armand yang tampan dengan usianya yang tak lagi muda ,namun karena Dokter itu selalu menjaga kesehatan dan selalu makan makanan yang sehat membuat wajahnya itu tetap awet muda. Bagaikan seorang pria yang berumur masih belasan tahun.


Dan juga sikapnya yang masih saja seperti anak-anak.

__ADS_1


"Ayo Dokter tunjukkan padaku, katanya kau tadi setelah makan mau memperlihatkan itu kepadaku?" Susan menggoda Dokter Armand.


Bersambung...


__ADS_2