Mata Penembus Sang Iblis

Mata Penembus Sang Iblis
BAB 93 "Menyergap"


__ADS_3

"Ayolah Kafa,aku itu dalam bahaya,tidak ada salahnya jika mencoba jika statusku berubah maka aku akan selamat."rengeknya kepada Kafa agar menyetujui usulnya.


"Diamlah ,aku sedang membaca !!" protesnya agar Dirga menghentikan rengekkannya pada Kafa.


Untuk sementara Dirga diam namun di dalam hatinya saat ini merasa takut, nasibnya akan sama dengan Ardi anggota team basketnya.


Telah meninggal dunia secara tiba-tiba,dan dengan kejadian itu Dirga,merasa nyawanya sedang terancam. Maka wajahnya tertekuk merasa putus asa, karena incaran makhluk yang tak kasat mata itu adalah seorang pria masih perjaka dengan jantung normal yang berdegup indah.Bulu roma Dirga mulai berdiri merasa omongan Kafa sangat menakutkan.


"Haaa, sialaan...makhluk apa itu?,begitu aku mendengarnya membuat risau saja !!!" gerutu Dirga sambil mengacak-acak rambutnya .


Dirga merasa kalau dirinya seperti seorang pria pengecut,karena sudah merengek bagai anak kecil di depan Kafa,Kafa terlihat amatlah fokus sekali membaca mencari solusi untuk makhluk halus yang mengincar darah segar, dan jantung dari pria yang berstatus perjaka.


Dirga mendekatkan dirinya di dekat Kafa,dan menatap wajah gadis bermata biru itu dengan seksama,dari arah samping wajah Kafa makin terlihat tirus dan hidungnya sangat mancung.


Kafa yang berkulit putih bersih itu membuat jantung Dirga berdetak lari tak karuan,merasa kalau tubuhnya terseret oleh medan magnet yang amat besar,menariknya terus-menerus ke arah Kafa.Taka terasa tubuhnya itu sudah mendekati gadis bermata biru itu.


Kafa yang sedari tadi membaca buku dengan fokus agak terganggu karena Dirga,sangatlah dekat dengannya,terlebih lengannya di tempel kan ke dekat lengan gadis yang bewarna biru itu.Kafa menoleh dan mengernyitkan alisnya ke arah Dirga.Lalu dia pun menatap lekat pria bertubuh jangkung nan kekar itu dengan raut wajahnya yang agak curiga.


"Kenapa kau seperti itu Dirga?,aku ini sedang membaca, jangan menggangguku." ucap Kafa sambil mendorong tubuh Dirga yang kekar itu


"Aku tak mengganggumu, namun kebalikan dari itu, aku akan membuatmu lebih fokus." ucap pria itu sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Kafa,Kafa pun menutup bibirnya itu dengan buku yang di pegang olehnya,karena merasa curiga pada perlakuan Dirga .


"Dug..dug...dug.."degup jantung Kafa yang terdengar sampai telinga Dirga, berdegup kencang semakin tidak karuan.


"Kau merasakan hal yang sama bukan?, hal seperti yang aku rasakan." ucap Dirga sambil menatap lekat kedua bola matanya yang biru indah dan bercahaya itu.


Kafa tak menjawabnya, hanya diam menutupi bibirnya dengan buku yang ia bawa, kemudian Dirga melepas bukunya serta menatap lekat wajah gadis bernama Kafa itu.


"Aku akan membantu membaca dan mencari solusinya, tapi biarkan aku untuk memastikan dulu perasaanmu padaku?"bisik Dirga dengan lirih di telinga Kafa, seraya bulu romanya pun berdiri semua , merasa bisikkan itu membuat Kafa tak bisa fokus sama sekali.

__ADS_1


Dia membekap bibirnya Kafa dengan bibirnya, yang ranum bewarna pink muda, dan sedikit menye*ap, dan melu*at.Walaupun Kafa mulai mendorongnya dengan sekuat tenaga tetapi tangan Dirga pun yang kuat melingkarkan ke pergelangan tangan Kafa agar dia tidak dapat berontak, Kafa pun tak bisa menghalangi lagi tautan bibir Dirga yang seksi,dengan melu*at dan sesekali hidung mancung dirga nampak di dekat hidung Kafa yang mungil itu.


Kafa mulai menutup matanya karena tak mau menatap wajah pria yang menyergapnya dan dengan cara tiba-tiba juga tak terduga sama sekali.Sergapan yang begitu mendadak buat Kafa hal itu membuatnya kelimpungan.


"Sialaan,kenapa aku hanya pasrah saja????, kenapa tubuhku tidak bisa di gerakkan."batin Kafa sembari menciumi aroma tubuh Dirga ber aroma parfum pria, serta bau mint yang berasal dari bibirnya Dirga membuat Kafa tak berkutik lagi.


"Hmmp..."


"???????"


Kafa hanya bisa pasrah dengan serangan tak terduga,Dirga pun memerah pipinya lalu dia berbisik lembut di telinganya gadis bermata biru itu.Dengan menatap mata Kafa sembari melihat wajahnya yang memerah seperti satu kuntum mawar merah yang merekah,setelah terkena embun pagi, merekah bewarna merah indah harum,serta sangat memanjakkan mata


"Ini berarti, kau mempunyai perasaan yang sama denganku, jadi jangan terus menolak." bisik pria itu sembari membenamkan wajah tampannya di tengkuk Kafa.


"Claaap...."


"Claaap..."


"Claaap..."


Suara gemuruh guntur dan juga kilat masih tetap bersahut-sahutan.


"Thok...thok..thok...., tuan muda bolehkah saya masuk?" tanya salah satu pembantu Dirga dengan mengetuk pintu ruang baca.


"Haaa, sialaaaan kenapa harus sekarang?" umpat Dirga sembari menatap wajah Kafa memerah,dengan tatapannya canggung dan meresahkan Dirga.


"Kau ini, sebentar bacalah bukumu aku akan menemui pembantuku dulu ya." bisik Dirga dan membuat Kafa tak berkutik hanya patuh dan pasrah padanya, seolah kata-kata yang keluar dari bibirnya itu adalah mantra yang mampu menghipnotis gadis bermata biru itu.


"Iya," jawab Kafa dengan pipi yang memerah, semerah warna bunga mawar di pagi hari .

__ADS_1


Dirga berjalan sembari membuka pintu ruang bacanya.Dan mendapati sang pembantunya sudah menunggunya, dengan raut wajah yang agak masam,menundukkan wajahnya ke arah tuan muda agar tidak terlihat.


"Ada apa?, kau malam-malam pergi ke ruang bacaku?!" tanya Dirga dengan kasar melihat wajah sang pembantu agak gugup .


"Jika tak penting kau akan ku pecat !!!, ingat!" ancam tuan mudanya dengan tatapan tajam serta agak emosi,karena sudah mengganggu.


"Maaf tuan muda, anda mendapat telepon dari Nyonya besar ." ucap sang pembantu itu dan menyarankan agar segera menerimanya.


"Kenapa tak menelpon di ponselku saja?, ahh merepotkan saja sialaaan..." umpat Dirga lalu dia turun ke lantai bawah untuk menerimanya


Sedangkan Kafa saat ini kebingungan kenapa dia tak bisa menolak sergapan dari pria yang tampan,kekar dan bertubuh jangkung itu pada nya,membuat jantungnya masih berdegup tak aman.Kafa kebingungan dengan perasaannya pada Dirga,karena setelah Kafa itu mendapat sergapan yang dengan tiba-tiba membuatnya berfikir macam-macam.


"Aduh, kenapa aku bodoh sekali?,dan kenapa aku hanya bisa pasrah saja." gumam gadis yang bermata biru dengan meletakkan tangan di dadanya yang masih berdegup tak karuan.


"Hmmm aaaah... siaaal, aku akan membaca buku di kamar saja, kalau tidak aku semakin canggung jika bertemu dengannya." gumam Kafa sambil keluar ruang baca dan membawa buku di tangan kanannya.


Saat keluar kamar Kafa secara tidak sengaja menabrak Susan,hingga bukunya itu yang di bawa olehnya jatuh ke lantai bawah.


"Maaf Kafa, aku tak sengaja memang buku apa itu tadi?" tanya Susan kepo pada Kafa.


"Ehm, itu buku tentang film horor Susan." ucap Kafa yang membohongi Susan, agar ia tidak bertanya lebih jauh lagi.


"Benarkah aku rasa sepertinya bukan,ehm aku bantu ambilkan ya." ucap Susan sembari akan turum ke lantai bawah.


"Aduh, nanti kalau dia tahu judul bukunya dia akan tanya lagi nich..." gerutu dan gumamnya agak kebingungan karena Susan sudah turun untuk mengambil buku yang di baca Kafa.


Kafa amat kebingungan karena buku yang ia baca itu tentang makhluk halus menghisap darah perjaka, dan memakan jantungnya juga. Susan akan bertanya lebih dalam jika dia itu tahu buku yang di ambil olehnya saat ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2